Pak Comblang

1214 Kata
Mengitari sebuah jalanan kota yang cukup ramai, membuat Ardin dan Mona betah di atas motornya. Memandang pemandangan sekitar yang padat akan kendaraan dan debu, membuat Mona berkali-kali menutup hidung dan bibirnya menggunakan tangannya sendiri. Pada hari itu, tidak ada obrolan yang intens antar Mona dan Ardin di atas motor. Yang ada hanya …. Diam-diaman antar mereka yang menjadi situasi sangat langka. “Kak Ardin?” tegur Mona yang tidak betah diam-diaman begitu dengan Ardin. “Ya?” balas Ardin singkat. “Kak Ardin kenapa? Kebelet beowl ya?!” tanya Mona tak pakai logika. “Hah? Kagak,” balas Ardin dengan santuy. “Kok dari tadi diem mulu, terus wajahnya tegang gitu,” terang Mona yang sedari tadi memandang paras Ardin yang berdiam dari balik kaca spionnya. “Ah enggak ah, lo ada ada aja deh, Mon!” ucap Ardin. “Kak Ardin … ngomong dong, apa gue ada salah sama Kak Ardin?” Mona menempelkan badannya lebih erat ke Ardin, wajahnya menegok dari samping kanan wajah Ardin. Seketika saja hati Ardin begitu deg-degan dan tak kuasa melirik Mona yang masih menongolkan wajahnya, dekat dengan bibirnya. “Civok … engga … civok … engga … civok … ?!” batin Ardin terus meraung untuk mengecup bibir Mona yang mengkilap merah muda itu, berkat lipstick yang ia gunakan. “Wajah lo jangan begitu, ntar kebentur sama helm gue,” Ardin member isyarat Mona untuk mengalihkan wajahnya. Mona kembali memundurkan wajahnya, dan memundurkah pula badannya yang sempat menempel di punggung Ardin. Mona menghembuskan napasnya panjang, melihat tingkah laku Ardin yang tidak seperti biasanya. Rasa antusias yang mendarat di badan Ardin tempo hari jika bertemu dengan Mona, malah makin memudar. Mona pun tak mengetahui apa penyebabnya. Satu jam lebih perjalanan panjang yang dilalui Ardin dan Mona, kini mereka tiba juga di depan rumah Ardin. Papanya Ardin, sudah lebih dulu duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Ardin dan Mona datang, Papa Ardin sigap berdiri dan meliukan senyuman di bibirnya. “Halo Mona, halo Ardin!” ucap Papanya Ardin disertai senyuman. “Halo, Om!” balas Mona tersenyum malu dan menunduk, memberikan kode hormat. “Hai Pa!” ucap Ardin dengan nada lirih, sambil melepas helm dari kepalanya. Mona yang menggapai tangan Papanya Ardin untuk berjabat tangan, tidak dengan Ardin yang langsung masuk ke dalam rumahnya. Wajah lesu yang ditampilkan Ardin, rupanya membuat papanya itu memiliki perasaan tak enak. “Mon, itu Ardin kenapa?” tanya Papanya Ardin pada Mona. “Entah, Om, saya juga nggak begitu tau,” jawab Mona. “Di motor tadi ada ngobrolin apa kalian? Kali aja ada obrolan yang salah, tuh,” terka Papanya Ardin. Mona menggeleng, “Gak ada kok Om, malahan selama perjalanan tadi saya dan Kak Ardin gak ada ngomong hal yang serius, kok. Lebih banyak diem,” ungkap Mona. Papanya Ardin mengerutkan dahinya, “Bukankah Ardin selalu senang dan agresif ya kalau dekat perempuan yang dikaguminya? Perempuan model-model Mona kayak gini selera Ardin banget … Apa Ardin sudah tidak memiliki perasaan ke Mona, ya?” batin Papa Ardin meriuh tak karuan. “Entah, mungkin ada masalah di perkuliahannya kali, Om,” Mona ikut menebak. “Mungkin … biasanya dosen sering telepon Om karena nilai Ardin gak ada yang tuntas, dan kalaupun tuntas pasti nyalin punya temannya, ehehe,” jelas Papanya Ardin sambil terkekeh. “Oh ya? Berarti kebiasaannya Kak Ardin begitu, ya!” kekeh Mona. “Ya kamu bisa nilai sendiri, lah! Hahaha, mari mari duduk di dalam saja,” ajak Papanya Ardin. Kini, Papanya Ardin dan Mona sudah berada berdua di ruang tamu. Ruang tamu yang dipenuhi foto masa kecil Ardin dan papanya, membuat Mona tersenyum lebar. “Kak Ardin ternyata lucu juga ya masih kecilnya,” seru Mona ketika melihat beberapa foto yang tertera di dinding ruang tamu. “Iya … dulu Ardin itu mau Om ikutkan modeling, tapi dianya pemalu banget, ya gak jadi deh,” kata Papa Ardin tersenyum mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. “Hah? Kak Ardin pemalu? Masa sih Om? Sekarang loh Kak Ardin jadi pemimpin organisasi tertinggi di kampus, dan sering tampil di manapun. Berarti, masa kecil itu berbanding terbalik dengan Kak Ardin masa kecil, ya,” terang Mona. “Iya, Om juga gak nyangka ketika Ardin terpilih menjadi pemimpin organisasi kampus. Om pahamnya, dia anak yang pemalu, dan sama sekali enggan tampil di manapun.” Pembicaraan dari ruang tamu antara papanya Ardin dan Mona, terdengar jelas dari bilik kamar Ardin yang letaknya di samping ruang tamu. Ardin tidak tinggal diam dan penasaran juga dengan pembicaraan yang disampaikan antar dua orang itu. Ardin yang sempat membuat lubangan kecil dari pintu kamarnya, segera mengintip ke ruang tamu. “Hmm, sejauh ini obrolannya masih normal, ya … “ tutur Ardin yang mengintip lewat pintunya yang terdapat bolongan itu. “Jadi gimana Nak Mona, yakin sama anak saya?” tanya Papanya Ardin. Mendengar namanya disebutkan, Ardin lantas memfokuskan lebih pendengarannya itu, hingga lebih menempelkan telinganya. Tampak Mona tersipu malu, ia tersenyum dan menundukan kepalanya. “Saya masih bimbang, Om. Saya pun gak tau apa Kak Ardin suka sama saya atau tidak,” tukas Mona. Papanya Ardin tersenyum, “Nak Mona jangan pesimis gitu. Coba lihat diri Nak Mona, Nak Mona ini benar-benar perempuan ideal yang diinginkan Ardin. Om tau betul kok seleranya anak sendiri, hehehe,” Papanya Ardin memberi semangat secara tak langsung. “Ehehehe,” balas Mona menyeringai. “Nak Mona, lanjutkan saja hubungan kalian, Om rasa kalian berdua ini cocok, kok,” Papanya Ardin terus memberikan dorongan untuk Mona dan Ardin agar bisa mengubah status mereka. “Sebenarnya Mona mau sih, cuma takutnya—“ “Takut kenapa Mon? Lo terus terang aja sama gue, gue gak gigit kok!” ucap Ardin yang tiba-tiba keluar dari balik kamarnya. Mona yang terbelalak kaget, langsung salah tingkah mencari-cari di mana ponselnya. Dengan sigap, Mona memainkan ponselnya. “A… da apa, Kak?” ucap Mona. “Ahahaha, sepertinya lo salah tingkah ya? Gue udah dengar semua obrolan lo sama papa, kali,” terang Ardin. Mona membesarkan kedua bola matanya, kepalanya terasa pusing karena mengetahui bahwa Ardin telah menguping pembicaraannya. “Ja … Ja … jadi … Kak Ardin?” ungkap Mona terbata-bata. Papanya Ardin dan Ardin pun tertawa, hanya ada Mona yang gugup sambil memegang ponselnya yang bergetar beberapa kali. Lusi calling. “Tuh, Lusi sampai nelpon gak lo angkat, heheh,” celetuk Ardin sengaja membuat Mona malu. “Em .. Em .. sebentar ya, mau angkat telepon dulu,” pinta Mona dan langsung menuju teras rumah Ardin. Melihat Mona yang sangat gelabakan itu, Ardin melirik papanya. “Pa kerja bagus! Baru kali ini Ardin lihat papa tuh sebagai malaikat banget!” ucap Ardin berterima kasih. “Iya, itu salah satu rencana papa sih, mau membuat kalian berdua pacaran,” bisik papanya Ardin. “Terima kasih banyak ya Pa! Aku kira Papa malah mau menjebak Mona, sampai nyuruh ke sini,” tukas Ardin. “Ya enggak lah!” Papanya Ardin menepuk bahu Ardin. Dan sontak papanya Ardin berkata dalam hatinya, “Ya nggak salah lagi! Hahaha.” Namun, di dalam lubuk hati papanya Ardin yang paling dalam, terdapat perasaan yang sulit ia hentikan. Perasaan yang mungkin membuat perpecahan antar dirinya dan anaknya, Ardin. Gejolak yang makin menendang dalam jiwa papanya Ardin, membuat sebuah pilihan pilu. Apakah itu? Ada apa dengan Mona dan Ardin selanjutnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN