Tut … tut … tut …
Sambungan telepon antara Ribka dan Lusi pun tiba-tiba terputus. Lusi langsung menengok layar ponselnya, dan berseru, “Aaaarrrgghhh … “ sambil mengeraskan gigi-giginya.
Rasa penasaran yang masih tertinggal di dalam benak Lusi, cukup membuat dirinya tertantang. “Ada yang aneh, ini telepon tiba-tiba terputus atau sengaja diputus sama Ribka, ya?” terka Lusi.
Lusi pun menyenderkan tubuhnya ke kursi, “Gue harus berusaha membongkar semua ini, abisnya semua kayak menyimpan sebuah rahasia!” tegas Lusi.
“Tapi, sebelum itu gue mau istirahat dulu lah ya, tidur nyenyak, dan bermimpi seperti putrid tidur dulu,” katanya sambil melangkahkan kaki ke tempat tidurnya yang tergolong mewah itu.
***
Esoknya, trio wek-wek sedang berkumpul di kantin seperti biasanya. Belum saja dipanggil untuk ke sini, Mona sudah celengak-celinguk mengintip dari balik jendela. Ardin yang membelakangi pandangan itu, pastinya tidak melihat apa yang dilakukan Mona. Namun, Jacob yang melihat jelas itu, langsung membisikan sesuatu ke Ardin.
“Din, cewek lo, noh!” bisik Jacob.
“Hmm?” balas Ardin bingung sambil mengerutkan dahinya.
“Iya, Mona, noh,” Jacob melirik ke posisi jendela kantin.
Ardin pun langsung membalikan badannya, sekarang jelas ia melihat sosok Mona yang mengintip dari balik jendela kantin, dan memberikan senyum padanya. Spontan, Ardin memberikan senyum jua.
Ardin menggelengkan kepalanya, “Mona … Mona … lo ada-ada aja,” katanya pelan.
Mona yang sudah kepergok, lantas melambaikan kedua tangannya. Ia langsung masuk ke dalam kantin menuju meja yang sudah diduduki trio wek-wek.
“Hai!” seru Mona dengan wajah yang semringah.
“Hai, Mon, kenapa lo ke sini? Kan lo gak diundang,” timpal Ardin.
“Ye! Kak Ardin jahat banget, dah!” Mona manyun.
“Eh .. eh .. jangan manyun, nanti—“ Wira pun menghentikan ucapan Ardin.
“Nanti Ardin bakal cium lo!” celetuk Wira.
Mona menggelengkan kepalanya, “Dih, jijik!” serunya spontan.
Wira dan Jacob saling berpandangan dan tertawa.
“Bercanda … yang Wira bilang itu gak bener, loh!” Ardin berusaha menepis.
“Masa bohong, Din?” Wira menyipitkan kedua matanya.
“Iya, lo jangan ngadi-ngadi ya di depan Mona. Sengaja kan lo mau jatuhin gue?!” tukas Ardin.
“Iye dan iye … gue percaya mah sama lo!” jawab Wira terkekeh.
“Ya udah, bagus! Eh Mon, ada apa ke sini?” tanya Ardin.
“Hmm … mau nagih janji Kak Ardin yang kemarin itu,” jawab Mona.
Ardin memincingkan kedua matanya, menatap wajah yang semringah di hadapannya. Mona yang kedua pipinya memerah secara tiba-tiba, membuat Ardin lupa akan segala janji yang ia pernah lontarkan pada Mona.
“Apa ya janji gue?” Ardin bengong.
“Kok lupa sih,” Mona menepuk pundak Ardin agak keras.
“Iya serius, gue lupa,” timpal Ardin.
“Maaf ya Mon, Ardin memang orangnya kayak gitu. Suka lupa sama janjinya sendiri, tapi tenang kalau soal perempuan yang ia cintai, ia gak bakal lupa, kok!” kali ini Jacob membuat celetukan.
“Heh! Lo juga kok ikut-ikutan kayak Wira sih!” Ardin protes.
“Santai … gue di sini mencoba memberi aura positif ke Mona soal lo!” tepis Jacob.
“Oh … “ Ardin menganggukan kepalanya.
“Gimana, Kak?!” tagih Mona.
Ardin tersentak, kali ini ia paham kenapa Mona ingin menagih janjinya.
“Pasti ini gara-gara papa!” batin Ardin terkoyak dengan bayangan itu.
“Gimana deh, coba lo perjelas lagi apa maksud lo Mon. Janji soal apa? Gue gak inget sama sekali,” Ardin menutupi ketidak tahuannya.
“Ke rumah Kak Ardin, ketemu Papanya Kakak!” respon Mona cukup cepat.
Tidak hanya Ardin yang terbelalak mendengar ucapan Mona, Jacob dan Wira yang kebetulan ada di tempat itu pun ikut membesarkan kedua bola matanya. Ardin yang tidak dapat membalas perkataan Mona, tampaknya diam saja. Sementara itu, Jacob dan Ardin tertawa ngakak dan berusaha meredamnya dengan menutup mulut mereka menggunakan kedua tangannya.
“Gimana, Kak? Hari ini boleh?” tagih Mona lagi sambil menatap tajam ke Ardin.
“Mau ngapain ke rumah gue?” tanya Ardin.
“Tadi kan udah gue bilang, ketemu Papanya Kak Ardin!” tegas Mona dengan nada yang sedikit meninggi. Hal itu mengundang tawa Wira dan Jacob lagi.
“Ssssttt! Diem lo pada!” Ardin dengan sigap menaruh telunjuknya ke bibir Wira dan Jacob.
“Hmm, Mon, seriusan lo mau ke rumah gue panas-panasan gini? Nanti kulit lo yang bersih itu jadi berdaki karena debu-debu nakal, loh!” tukas Ardin.
“Gak masalah, kan bisa luluran lagi. Stok lulur gue di rumah banyak kok, tenang aja,” terang Mona.
“Nah! Hayo loh!” celetuk Wira lagi.
Ardin menelan ludahnya banyak-banyak.
“Udah lah Din, kalau Mona minta kayak gitu, turutin aja. Mana tau bokap lo cocok sama Mona terus—“ tiba-tiba ucapan Wira dibatalkan oleh Ardin.
“Mon, maaf, bokap gue kayaknya lagi gak ada di rumah. Doi lagi kerja, atau mungkin ke rumah temannya yang janda itu,” kata Ardin.
“Hah? Siapa bilang? Papanya Kak Ardin tadi nge-sms gue kok, katanya di rumah terus hari ini,” balas Mona sambil membaca ulang sms yang dikirimkan oleh Papanya Ardin.
“Wow! Ternyata sudah sms-an!” sentak Jacob sambil menepuk tangannya keras-keras. Begitu pula dengan Wira yang menyumbang tepuk tangan lagi, semakin keras.
“Mon, ayo kita keluar!” kata Ardin langsung menarik tangan Mona menuju pintu keluar kantin.
Wira dan Jacob masih menepukan tangannya. “Eh, bro, akankah masa lalu terulang lagi?” bisik Wira.
“Sepertinya begitu, hahaha,” balas Jacob dengan bisikan pula.
***
“Kak! Kak! Lepasin deh,” Mona menepis tangan Ardin yang mencengkram tangan kanannya. “Sakit tau!” jeritnya sambil mengusap tangannya yang tampak merah. “Ini namanya kekerasan pada teman!”
“Maaf Mon, gue sengaja ngajak lo keluar biar pembahasan ini gak kedengaran sampai telinga Jacob dan Wira,” ucap Ardin dengan wajah yang sendu.
“Emangnya kenapa kalau sampai kedengaran Kak Jacob dan Kak Wira?” Mona bertanya.
“Ya … “ Ardin mencari jawaban terbaik dan tidak ambigu.
“Ya gak kenapa-kenapa, gue gak suka aja obrolan kita berdua didengar sama mereka. Kan rahasia, hehe,” jelas Ardin.
“Oh begitu … “ Mona yang asal percaya nan polos itu, langsung menganggukan kepalanya paham.
“Jadi, ke rumah Kak Ardin sekarang, ya?” Mona menagih untuk kesekian kalinya.
Ardin menepuk jidatnya dengan tangannya, “Bisa dibatalin, gak?”
Mona menggelengkan kepalanya cepat, “No … no … no… !” tegas Mona.
Ardin yang melihat Mona berkali-kali meminta yang sama, akhirnya dengan berat hati Ardin harus mengiyakan ajakan Mona pada hari itu.
“Ayo deh, sekarang kita ke parkiran,” kata Ardin dengan lirih.
Mona berjalan dengan hentakan kaki yang sangat antusias, diselingi dengan senyuman yang merekah. Sementara Ardin, malah kebalikan dari Mona. Langkahnya terbata-bata menuju parkiran, bahkan berharap rencana ke rumahnya bisa digagalkan. Wajah Ardin sontak memelas, bibirnya manyun, serta kantung mata hitamnya yang semakin jelas.
“Kak!” tanya Mona. “Kenapa wajahnya gak bersemangat gitu, sih?”
“Ya emang lagi gak semangat aja. Mungkin asupan gizinya kurang,” jawab Ardin. Padahal, di dalam hatinya Ardin, ia tidak ingin sekali menemui Papanya dengan Mona.
“Padahal mau ketemu sama papanya sendiri loh, bukannya bertemu orang tua itu sangat menyenangkan dan bisa menambah imun tubuh, ya?” ungkap Mona.
“He he he … “ Ardin malah menyeringai tanpa menjawab pertanyaan dari Mona.
“Nah, gitu dong senyum, senang kan bertemu sama papanya?” pertanyaan Mona kali ini sangat tidak disukai Ardin.
“He he he eh eh he … “ gigi-gigi Ardin merekah seiring pertanyaan it uterus dihaturkan.