Perencanaan

1271 Kata
Duduk berduaan di gazebo, Ardin dan Mona melahap pentol rebus dan es jeruk yang baru ia beli dari pedagang asongan. Santapan sederhana menemani waktu mereka berdua, di kala matahari masih terik menampakan sinarnya. Rupanya, Ardin dan Mona memang pecinta pentol sejak zaman Sekolah Dasar (SD). Hal itu terlihat dari lahapnya mereka mengunyah. Tidak percaya? Yuk buktikan dari obrolan ini, hehe. “Kak,” sapa Mona pada Ardin yang masih mengunyah pentol rebus. “Hmm?” balas Ardin masih sibuk denga kunyahan di dalam mulutnya. “Suka pentol?” tanya Mona singkat. “Suka, apalagi kalau pedas-pedas terus diguyur saus kacang kayak gini,” jawab Ardin sambil mengangkat plastik yang berisi setelah pentol rebus. Mona tersenyum, “Sama dong kita, gue memang pecinta pentol sejak kecil, mau pentol rebus, goreng, dan diapain pun tetep suka,” balas Mona. “Oh gitu, pantes pipi kamu kayak pentol!” celetuk Ardin sambil memandang pipi Mona yang agak tembem. “Ah Kakak!” Mona memukul pelan pundak Ardin. “Kak, mana janji Kak Ardin?” tanya Mona lagi. Pikiran Ardin sudah mengira bahwa soal model-model yang akan melakukan photoshoot di taman kota ini. Ardin mengunyah pentol lagi sambil memikirkan jawaban yang dirasa tidak menyakiti perasaan Mona, apalagi kalau ketahuan ia berbohong. “Tunggu aja, biasanya ada kok,” ucap Ardin santai tanpa memperlihatkan gelagat aneh. “Nih, habisin aja dulu pentolnya, sayang sudah dibeli,” Ardin mengalihkan konsen Mona dengan menyodorkan seplastik pentol. Sepuluh menit … Dua puluh menit … Tiga puluh menit … Hingga satu jam kemudian … “Kak!?” seru Mona dengan nada sedikit meninggi. “Mana?!” seruannya tepat di telinga Ardin. Ardin mencoba stay cool sambil menghabiskan es jeruk yang tersisa setengah gelas, ia menatap jam tangannya. “Hmm, sudah jam setengah enam,” batinnya. “Oh berarti model-model itu sudah pindah tempat pemotretan,” jawab Ardin dengan santainya. Mona tersentak, ia memandang Ardin dengan tatapan tajam. “Kak Ardin beneran bohongin gue, kan?” tegas Mona. “Hah? Ya enggak Mon. Lo kayak gak kenal gue aja, mana mungkin gue bohongin lo,” timpal Ardin. “Buktinya, gak ada model satu pun yang lagi melakukan pemotretan. Kalau begitu caranya, kenapa tadi enggak langsung ke rumah Kak Ardin aja? Gue jadi gak enak sama papanya Kak Ardin karena sudah janji ke rumah. Apalagi, papanya Kak Ardin mau cerita banyak loh,” Mona lesu, ia menopang dagunya dengan tangannya. “Sebel ah!” serunya. Ardin melirik sedikit ke Mona yang memurung, sambil memanyunkan bibirnya. “Sekarang lo mau ke rumah gue?” tawar Ardin. Tiba-tiba saja Mona langsung semringah, “Ay—“ “Tapi, ini sudah mau senja, sudah jam setengah enam lebih. Lo yakin malam-malam mau ke rumah gue? Jauh loh rumahnya, dan … apa kata orang kalau perempuan bertamu ke rumah laki-laki di kala malam?” Ardin seperti menjatuhkan lagi penawarannya. Mona menghembuskan napasnya panjang. Ia berdiri dan menatap jam tangannya pula. “Ya udah kalau gitu kita pulang!” ketus Mona. Ardin berdiri jua, berusaha sejajar dengan Mona. “Lo marah?” tanya Ardin yang melihat mata Mona yang sinis ke arahnya. Akan tetapi, Mona menggeleng. “Kenapa wajahnya cemberut gitu?” tanya Ardin lagi. Mona menyilakan kedua tangannya di depan dadanya, dan menatap Ardin, “Kak Ardin ini sok gak tau ya! Udah ya, kita pulang!” pinta Mona kedua kalinya. “Ya udah deh iya, ayo,” Ardin mengulurkan tangan kanannya ke Mona. Telapak tangannya yang membuka, membuat Mona bingung. “Kenapa tangannya? Ada apa dengan tangan lo?!” tanya Mona masih terbawa suasana ketus. “Pegang,” ucap Ardin santai. “Hah?!” Mona pun terbelalak kaget. “Yang bener aja lo Kak!” Mona menepis tangan Ardin dan ia pun sengaja berjalan ke depan mendahului Ardin. Tak … Tak … Tak … Hentakan kaki Mona yang menciptakan bunyi, cukup memberi tanda bahwa dia sedang tidak baik-baik saja, alias badmood. Ardin tersenyum kecil dari belakang Mona, sambil mengikuti langkah kakinya. Ardin pun berbatin, “Gak masalah lo marah atau cemberut gara-gara gue bohongin, itu lebih baik daripada lo ke rumah gue dan bertemu dengan Papa.” *** Wira merebahkan dirinya ke atas tempat tidurnya yang mahalan itu, seharga satu milyar. Entah, Wira juga tidak menyangka kalau kedua orang tuanya sangat hedon membeli barang-barang apapun. Kedua orang tuanya hampir bisa disandingkan dengan orang tua dari selebgram terkenal, Siska Kohl. Tapi, kemewahan itu tak membuat Wira terombang ambing tinggi. Wira tetap menjadi Wira yang sederhana, baik, dan mau berbagi pada sesama, khususnya teman-teman tongkrongannya seperti Ardin dan Jacob. Dua hari ini, Wira mendengar gerudukan dari kamar orang tuanya, tepat di sebelah kamarnya. Namun, kali ini tanpa ada ucapan-ucapan yang jelas atau terdengar ke telinga Wira. “Ah mungkin kucing nakal yang berhasil masuk kamar tuh,” tebak Wira yang berusaha berpikir positif. “Atau burung peliharaan Ayah lepas,” Wira meragukan tebakannya yang ini. “Hmm … atau ada biawak masuk ke dalam kamar?” lagi-lagi tebakan Wira semakin ngelantur. Wira menancapkan pada pikirannya untuk membebaskan segala negatif dari dalam kepalanya. Wira memasang earphone di telinganya, dan memutarkan sebuah musik dari ponselnya. Kamu adalah bukti … Dari cantiknya paras dan hati … Kau jadi melodi saatku bernyanyi … Alunan nada yang berderu di balik telinga Wira, membuatnya nyaman, dan menutup kedua matanya. Tanpa terasa, khayalan Wira pun bermain-main. Lagu tersebut tiba-tiba saja mengarahkan dirinya pada sosok perempuan yang akhir-akhir ini dekat padanya, Lusi. “Oh Lusi … lo menarik banget. Padahal badan lo mirip Virgoun. Ah gak peduli! Gue kan manusia-manusia gak peduli fisik. Banyak perempuan yang parasnya cantik, tapi hatinya tidak ada yang secantik lo, Lus,” seru Wira membenarkan kepercayaannya untuk mengagumi Lusi. *** Berbeda dengan Wira yang membayangkan sosok Lusi, mengaguminya seraya lagu berputar lewat ponselnya. Lusi yang tiba-tiba di kamarnya seorang diri, merenung di kursi belajarnya sambil menopang wajahnya. “Kayaknya ada masalah serius antara orang tua Wira dan Bu Andya. Gue penasaran banget sih … tapi apa gue bisa menyelesaikan masalah Wira hanya bermodalkan penasaran?” ucap Lusi galau. Beberapa kali ia mengkaji ulang ajakan Wira untuk terjun ke permasalahan Bu Andya dan kedua orang tuanya. Merasa rasa ingin tahunya tentang Bu Andya cukup meronta, Lusi terlebih dahulu mencari fakta lewat teman-temannya yang berada di komunitas pencak silat kampus. Terutama, mencari informasi lewat Ribka. “Ah gue yakin nih pasti Ribka tau betul siapa Bu Andya. Secara, dia kan pemain lama di komunitas pencak silat,” pikiran Lusi kini mengarah pada Ribka untuk mencari informasi lebih. Drrttt … dddrrrttt ... dddrrttt … Lusi calling. “Hallo, Lus?” Ribka mengangkat telepon itu dengan cepat. “Hai, Rib! Lo sibuk nggak sekarang nih?” tanya Lusi diawali dengan perbasa-basian. “Gak juga sih, kenapa emangnya malam-malam gini nelp? Tumbenan banget deh!” jelas Ribka. “Gini Rib, sebelumnya gue mohon maaf ya sudah mengganggu waktu istirahat lo mala mini. Tapi, batin gue sangat meronta-ronta untuk menanyakan hal ini sama lo. Hmm … lo kenal dekat nggak sama Bu Andya? Maaf banget kalau pertanyaan gue lancang. “Bu Andya? Yang biasanya donasi ke komunitas pencak silat kampus?” Ribka menjelaskan lagi maksud Lusi. “Iya … iya benar banget! Kenal dekat kan lo?” Lusi mengulang. “Kenal sih, tapi … Hm … Hm … “ ucapan Ribka tampak terbata-bata dan enggan menjelaskan dengan spontan. Satu menit … Tiga menit … Hingga lima menit pun Ribka tidak menjawab pertanyaan Lusi dengan sigap. “Rib? Halo? Ribka??? Lo gak ketiduran kan di sana?” seru Lusi yang tak mendengar sahuta n sedikitpun dari Ribka. “Ribka?” “Oy?” “Jawab dong pertanyaan gue, bikin makin penasaran aja deh ya!” tukas Lusi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN