“Kak Ardin, pemotretan gue udah selesai nih, bisa jemputin gue, gak?” Mona mengirimkan pesan singkat untuk Ardin. Mona yang sudah duduk di depan teras Butik Nyonya Endah, menunggu kehadiran Ardin yang menjanjikan untuk menjemputnya pulang.
Ardin yang masih berada di dalam kelas, merasa ada kejutan membara setelah mendapat pesan dari Mona, “Hmm rupanya Mona menunggu gue nih, seharian lagi bareng doi,” ucapnya dalam hati disertai dengan kesemsem yang tergambar di wajahnya.
Bapak dosen yang berumur hampir lima puluh tahunan itu, masih asyik memaparkan materinya di depan kelas. Banyak mahasiswa yang memperhatikannya dengan jeli, namun Ardin yang memang bukan anak “jenius” memilih memperhatikan cara bicara Bapak Dosen itu saja, tidak untuk mencerna materinya.
“Pak, maaf!” Ardin mengangkat tanganya disaat Bapak Dosen masih bergelut dengan materinya.
Bapak Dosen pun sontak mengarahkan pandangannya ke Ardin, beberapa mahasiswa pun begitu.
“Iya, ada apa, Din?” tanya Bapak Dosen.
“Saya izin ke kamar mandi!” jawab Ardin.
“Oh, silakan,” ucap Bapak Dosen dan kembali menghadap ke papan tulis untuk meneruskan penjelasannya.
Bukan namanya Ardin yang benar-benar mematuhi apa yang diucapkan dosen, ia malah membereskan semua barangnya yang berserakan di atas meja. Setelah itu, ia merangkul tas ranselnya dan berjalan mundur, menyembunyikan tasnya di belakang pinggangnya.
Satu langkah … dua langkah … tiga langkah … Ardin berhasil juga melarikan diri dari kelas itu dengan menggondol tasnya. Yap! Tasnya pun disangklukan di bahunya. “Akhirnya … “ seru Ardin.
Ardin melihat suasana sekitarnya, kali aja Bapak Dosen yang sempat diingkarinya itu membututi dirinya. Akan tetapi tidak, Ardin merasa aman hingga mengelus d**a bidangnya. Segera ia langkahkan kakinya menuju parkiran motor yang terletak agak jauh dari kelasnya kini.
“Yap! Mona, im coming!” seru Ardin dan menyalakan mesin motornya, kemudian tancap gas! Ngeng …
***
Mona yang sudah samar-samar mendengar suara motor Ardin telah tiba, segera berdiri dari duduknya dan memperbaiki roknya yang sempat terlipat karena duduk. Ia pun mengibas kemejanya barangkali ada sesuatu debu yang mengotori kemejanya. Menampilkan wajah yang semringah, Mona berdiri menunggu Ardin benar-benar tiba di hadapannya.
Tin … Tin … Tin …
“Mon!” teriak Ardin dari atas motornya, dan kini benar-benar tiba di depan Mona.
Tanpa membuka kaca helm, Mona sudah paham kalau itu adalah Ardin. Ia langsung menuju tempat Ardin berada dan naik ke jok belakang motor Ardin. “Siap!” balas Mona.
“Berangkat, ya. Kita pulang ke rumah lo, kan?” kata Ardin.
“Hmm … rupanya Kak Ardin lupa sama janjinya, ya,” Mona gelisah.
Ardin pura-pura tidak paham saja, pasti ini soal papanya. “Janji apa ya Mon? Maaf ya di otak gue masih berputar-putar materi yang disuguhkan sama dosen. Dan, janji yang lo maksud, gue bener-bener gak ingat sama sekali!” tukas Ardin yang mencoba mendramatisir ingatannya. Padahal, materi Pak Dosen gak pernah masuk di dalam otaknya, apalagi kalau sudah bercampuran urusan soal Mona.
Mona menghadapkan wajahnya ke Ardin. Bibirnya yang memerah karena terkena silau matahari, sangat dekat dengan wajah Ardin, begitu pula dengan bibirnya. “Gue ingetin lagi, ya Kak. Gue mau ke rumah Kak Ardin aja, gak mau pulang ke kos,” jelas Mona.
Ardin yang wajahnya masih tertutup kaca helm gelap, sigap menelan ludahnya banyak-banyak. Ia tidak siap untuk mengajak Mona ke rumahnya, apalagi bertemu dengan papanya tanpa alasan yang jelas.
“Ngapain deh ke rumah gue? Gak ada orang sama sekali, loh,” larang Ardin.
“Ada, tadi papanya Kak Ardin bilang ada di rumah, kok,” balas Mona.
“Gak ada, aduh lo ini percaya dari mana … “ Ardin meyakinkan Mona.
“Nih nih, liat!” Mona menarik ponselnya dari dalam tas dan memperlihatkan pesan yang baru saja dibalas oleh papanya.
Iya Mon, Om ada di rumah nih, main ke sini aja sama Ardin J
Membaca pesan singkat itu, lubuk hati Ardin pun berkata, “Dih, apa-apaan sih Papa pakai sms Mona begitu, pakai emot-emot senyum segala, lagi. Geli!” protesnya.
“Ayo … Ayo Kak Ardin, ke rumah Kak Ardin sekarang juga!” Mona menggoyang-goyangkan bahu Ardin.
Ardin berdecak pelan, “Kita jalan ke taman aja, yuk!” serunya seketika.
Mona menyeritkan dahinya, “Ngapain siang-siang begini ke taman? Panas tau! Nanti kulit gue … “ Mona memandang kulit tangannya yang putih cerah. “Ah tidak, gue gak akan membiarkan kulit cantik gue terbakar panasnya sinar matahari siang ini,” Mona manyun.
Ardin terkekeh, “Mon, ya kali di taman gak ada tempat berteduhnya. Pasti adalah! Lo kayak gak tau gimana taman kota, lebih banyak tempat berteduh dan duduk-duduknya daripada pohon hijaunya! Hahaha,” lawak Ardin.
“Hahaha, iya juga ya,” Mona angguk-angguk.
“Dan, di sana tuh ya kalau jam-jam segini pasti banyak banget model yang lagi hunting. Kali aja lo bisa kenalan sama mereka, menambah relasi, dan sambil belajar bareng kan di dunia pemotretan?” ungkap Ardin.
“Ah, serius di sana ada model-model yang lagi foto? Ah mauuuuu!” seketika saja keinginan Mona berhasil dihancurkan Ardin.
Ardin tersenyum kecil, “Ya pasti adalah, lo ini sebagai model kota kok gak tau sih. Gue aja hanya pengurus organisasi kampus tau kok!”
“Mau … mau … mau … kita ke taman kota aja deh, gue masih kaku banget kalau difoto, barangkali ada pencerahan ketika nimbrung ke mereka,” balas Mona.
“Gimana, lo menerima tawaran gue, nih?” Ardin terus mengalihkan Mona agar tidak jadi ke rumahnya.
“Tapi … gue udah janji sama papanya Kak Ardin, gimana dong? Masa iya gue mau ingkar? Nanti gue dicap sebagai anak pengkhianat, lagi,” Mona lirih.
Ardin membalikan tubuhnya ke Mona dan Ardin menepuk bahu Mona. “Mon, denger ya … kalau memang lo minat ke taman kota, gue ajak. Soal papa gue, biar jadi urusan gue,” ucap Ardin pelan.
Mona berpikir sebentar, ia melirik Ardin dan layar ponselnya secara bergantian. Ardin langsung mengucap, “Udah, gak usah dipikir berat-berat soal papa gue. Semua aman terkendali. Oke deh kita melaju ke taman kota sekarang!” tutur Ardin yang belum saja mendengarkan persertujuan dari Mona.
“Em … em … iya deh iya,” Mona mengikut.
Ardin segera menancapkan gas dari motor matic-nya, ditakutkan Mona akan membatalkan permintaannya untuk ke taman kota.
Di perjalanan ke taman kota, Mona dan Ardin membuka obrolan yang ringan-ringan. Namanya Ardin, selalu duluan membuka obrolan untuk menarik perhatian perempuan yang ia sukai.
“Gimana tadi pemotretannya?” tanya Ardin.
“Lancar aja sih, fotografernya enak banget pengarahannya. Gue yang masih model baru, fotonya udah kayak model professional aja. Dan, Bu Endah juga baik banget sumpah! Dikit-dikit gue dibaiki mulu bajunya, pose wajah gue dan badan gue. Yang paling gue suka sih, Bu Endah selalu meneriaki semangat pada kita-kita yang sebagai model,” cerita Mona.
“Ah, syukurlah kalau begitu. Berarti lo benar-benar nyaman ya kerja bareng Bu Endah?” tanya Ardin lagi.
Mona mengangguk, “Sepertinya begitu.”
“Sip deh! Ternyata gue gak salah ya masukin lo jadi model di Butik Nyonya Endah? Hahaha,” tukas Ardin.
“Iya, gak salah banget, Kak! Paling terpenting sih, suasana kerja yang nyaman, suportif, dan gak toxic!” terang Mona.
“Betul betul betul!” ucap Ardin dengan nada “Ipin” yang membuat Mona terkekeh.
***
Sesampainya di taman, siang hari itu masih belum dipenuhi orang-orang. Hanyalah ada sedikit pedagang asongan, mie ayam, minuman dingin, dan pengamen cilik. Namun, taman kota yang terbilang luas itu, masih memiliki space yang bisa Mona dan Ardin tumpangi. Terlebih, gazebo yang belum diisi orang-orang.
“Kok gak ada orang … cuma pedagang-pedagang doang,” ujar Mona setelah tidak menemukan model-model yang sedang hunting, seperti yang diucapkan Ardin sebelumnya. “Kak Ardin bohong, ya?” Mona langsung menembak dengan wajah polosnya.
“Belum, Mon, modelnya masih berada di dorm masing-masing. Tunggu aja, paling tiga puluh menit lagi bakal gerudukan ke sini kok,” ungkap Ardin sambil melirik jam tangannya.
“Beneran? Ya udah deh kita tunggu aja dulu di sana,” balas Mona sambil menunjuk gazebo yang kosong.
Ardin ketawa kecil tanpa bersuara, “Hihihi semoga saja Mona tidak tau kalau gue lagi berbohong,” ucap Ardin sambil mengikuti langkah kaki Mona yang berada di depannya.