Tanda Tanya

1302 Kata
Ceklek … ceklek … ceklek … Tiga pose pemotretan yang dibuat Mona di butik saat itu, membuat Bu Endah terus mengacungkan jempol pada Mona. Pasalnya, Mona sangat lihai membuat pose yang cukup anggun untuk gadis model seusianya. Tatapan matanya yang besar, mengadu pandangan pada lensa kamera yang mengarah padanya. Belum lagi tubuh gemulai Mona yang pandai sekali memainkan kain yang membalut tubuhnya. Batik modern ala Jawa Timur yang melekat di tubuh Mona, dengan sentuhan gaya model yang sudah terlatih. “Keren Nak Mona! Keren!!!!” seru Bu Endah menepuk tangannya antusias sekali. Mona memberikan senyuman paling indahnya, “Terima kasih Bu Endah, padahal saya kurang percaya diri bisa bergaya indah,” Mona nyengir. “Ah kamu itu merendah, Nak Mona. Tiga gaya tadi, semuanya saya sangat suka!” ungkap Bu Endah yang berkali-kali melihat hasil foto Mona dari computer fotografer. “Oh ya, terima kasih ya Bu. Pasti foto itu bagus karena baju batik yang Bu Endah buat nih, bukan karena modelnya,” Mona merendah. “Dasar kamu itu ya … “ Bu Endah menjawil pipi putih Mona. “Ya udah kamu istirahat dulu, Nak Mona. Sebentar lagi ada pemotretan sekali lagi, persiapakan dirimu!” ucap Bu Endah. “Baik, Bu!” Mona langsung mengambil tempat duduk pada kursi rotan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Di sebelahnya sudah ada meja yang tersedia jus jeruk di sana, Mona melirik jus jeruk yang sudah melelehkan es batunya. Ia menelan ludahnya beberapa kali, rasanya segar meneguk jus jeruk ini untuk mendinginkan dahaga gue. “Nak Mona! Kamu mau jus jeruk itu? Ambillah Nak!” seru Bu Endah yang memperhatikan Mona. Mona terkekeh, “Iya, Bu, saya ambil ya,” jawab Mona. “Hmm, Bu Endah ngerti aja kalau kerongkongan gue ini lagi pengen dibasuh sama jus jeruk ini,” bisik Mona seraya mengambil segelas jus jeruk yang sengaja disediakan untuknya. Ddrrrttt … ddrrttt …. Ddrrttt … One message received. New number. Mona merasakan getaran dari tasnya yang diletakan di atas meja. Ia mengambil ponselnya yang ternyata bergetar. “Hah? Nomor baru? Siapa ya?” tukas Mona setelah melihat nomor baru yang nyasar ke ponselnya, memberikan sebuah pesan. Hallo Mon, ini saya Papanya Ardin. Setelah membaca pesan itu, Mona tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya. “Oh ternyata Papanya Kak Ardin,” seru Mona pelan. Iya, Om. Ada apa ya? J Mona membalas dengan emotion senyum, pertanda sebuah kesopanannya pada Papanya Ardin. Tidak apa-apa, Om mau member tahu saja kalau ini nomor Om. Mona tersenyum. Oke, Om. Akan aku simpan nomornya J Lagi-lagi Mona membalas pesan itu dengan tanda senyumnya. “Nak Mona ….. Nak … “ seru Bu Endah sambil melambaikan tangannya ke Mona. Tatapan Mona yang semula pada ponselnya, kini mengarah pada suara Bu Endah. “Iya, Bu?” sahut Mona, ia meletakan kembali segelas jus jeruk itu ke atas meja dan berdiri dari duduknya. “Sini … sini … langsung photoshoot selanjutnya saja ya, waktunya mepet banget, habis ini kamu harus fitting baju!” Bu Endah menyuruh Mona melanjutkan agenda hari ini. Mona dengan sigap melempar ponselnya ke dalam tasnya, dan berlari ke Bu Endah. Bu Endah sudah memegang gaun berwarna cokelat muda dengan corak batik Jawa Timur di bagian dadanya. “Baju untuk photoshoot kali ini pakai baju ini, ya,” Bu Endah memberikan gaun cokelat yang tadi dipegangnya ke Mona. Mona mengambil gaun itu, diliatnya batik-batik buatan Bu Endah yang sangat megah dan menarik. Mona sempat terpana dan matanya tercengang melihat karya indah tangan Bu Endah. “Ayo … cepat Nak Mona,” Bu Endah menepuk pundak Mona dan membuyarkan lamunannya. Mona tersenyum kecil, Mona melangkah cepat menuju ruang ganti baju yang berada tidak jauh dari tempat pemotretan. *** “Papa!” tegur Ardin pada papanya yang sedang bersantai di ruang tamu, memainkan ponsel. “Loh, Ardin? Kamu ngapain ke sini siang-siang gini?” Papanya terkejut melihat Ardin yang tak biasanya pulang ke rumah. “Papa ngomong apa sama Mona?!” cerca Ardin yang masih mengenakan helm di kepalanya. Papanya terkekeh, “Kamu kenapa sih? Santai … santai … mau Papa buatkan minum, kah?” “Udah ah, gak usah banyak bicara, Pa! Papa ngomong apa sama Mona?!” Ardin mengulang pertanyaannya. “Papa ceritain ke Mona, kalau kamu itu—“ “Hah?! Papa ceritain tentang aku ke Mona?! Bullshit tau gak!? Gak mungkin deh, paling tuh ya Papa cerita bagaimana berkharismanya Papa dan betapa tampannya Papa di depan para perempuan!” Ardin langsung mengelak pertanyaan papanya yang belum usai bicara itu. Bukannya Papa merasa takut dicerca Ardin seperti itu, tapi malah tertawa lagi. “Ardin … Ardin … selalu saja kamu punya firasat buruk sama Papa. Padahal, Papa itu bercerita tentang kamu, Nak … begitu baik mulianya anak Papa kepada seorang perempuan,” Papa Ardin menerangkan. “Bohong banget!” tegas Ardin dan langsung melempar helmnya. “Din … kamu cuci kaki dan tangan dulu deh, kayaknya itu setan-setan yang ngikuti kamu di jalan masih nempel di badan kamu,” terang Papanya. Ardin menyenderkan badannya ke sofa empuk itu, ia menyilakan kedua tangannya di depan dadanya. Bibirnya menggerutu sambil menatap tajam ke arah Papanya. “Aku gak percaya seribu persen sama Papa!” “Ya terserah kamu kalau tidak percaya, Papa gak bisa memaksakan kamu untuk percaya sama Papa,” balas Papanya santai dan melanjutkan bermain dengan ponselnya. “Pa, Papa denger ya, kalau sampai Papa ngapa-ngapain Mona atau cuci otak Mona, awas aja!” Ardin menegaskan. Papanya melirik ke Ardin dan berdecak, “Ngomong apa sih kamu Din,” ucap papanya sambil menggelangkan kepala. Ardin kembali mengambil helmnya yang sempat dilempar, dan keluar menuju teras rumah. “Aku balik kos dulu!” pamit Ardin. Papanya Ardin menggelengkan kepalanya, “Duh, anak zaman sekarang ya, sukanya bentak-bentak orang tua dengan alasan yang jelas.” *** Lusi dan Wira masih asyik menyantap santapan makan siangnya di kafe monokrom tadi. Suara melodi yang didendangkan ala Eropa itu, menambah kenyamanan makan siang saat itu. Wira dan Lusi saling berdiam diri, memakan sesuap demi sesuap nasi yang mereka masukan ke dalam mulut. Sesekali mereka menyeruput jus yang juga dipesannya, dan pandangan mereka saling bertaut. Lusi terus melemparkan senyumnya, begitupun dengan Wira. “Setelah ini, lo masih mau makan siang sama anggota komunitas lo?!” tanya Wira disela-sela makanan mereka yang mendekati habis. “Jelas, karena gue udah janji,” balas Lusi. “Lo makan lagi bareng mereka?” tanya Wira. Lusi pun mengangguk. “Serius?” Wira meragu, ia melirik Lusi dari atas sampai bawah. “Kenapa? Lo pasti bakal berpikiran kalau gue perempuan rakus gendut yang suka makan, ya?!” tembak Lusi. Sial! Makanan yang masih terkunyah di dalam mulut Wira, tersedak keluar setelah mendengar Lusi berkata demikian. “Bu … bukan gitu, Lus! Hahaha,” Wira mengambil minumannya untuk meredakan sedakan itu. “Jadi apa? Kenapa lo liat-liat gue gitu?” Lusi meletakan garpu dan sendoknya, pandangannya kesal ke Wira. “Gak apa-apa kali, gue itu ngeliat lo dan berdoa semoga lo selalu sehat sentosa,” balas Wira. “Serius?” Lusi sangsi. “Iyaaa tiga rius malah!” Wira mengacungkan tiga jarinya. “Awas aja kalo lo mempermasalahkan berat badan gue!” Lusi memperingatkan dan kembali menyuapkan makanannya. “Gue sebenarnya gak terlalu masalahin penampilan seseorang sih, mau dia gemuk, kurus, mancung, pesek, pendek, tinggi, dan sebagainya itu. Menurut gue penampilan itu gak penting-penting amat, serius deh. Yang penting itu attitude dan cara dia memperlakukan orang lain dengan sebaik mungkin,” ucap Wira yang kemudian menyuapkan lagi makanan ke mulutnya. Nyam … nyam … nyam … makanan memenuhi mulut Lusi dan Ardin. Lusi sontak melirik ke Wira, pertama kalinya ia menemukan laki-laki yang berbicara, tidak mengobjekkan penampilannya sebagai bahasan yang negatif. Lusi tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Wira, dan kembali makan lagi karena Lusi adalah tipe orang yang menyayangi. Terutama sayang kalau makanan tidak habis, jadi harus dihabisin deh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN