Geram

1350 Kata
Kedua mata Wira sudah menatap Lusi dengan penuh ketajaman. Lensa mata Wira yang berwarna cokelat tua itu, menusuk pandangan Lusi. Lusi yang berada di depannya juga tak kalah tajamnya menatap lensa mata cokelat itu. “Iya, Wir. Bu Andya sudah memberikan uang itu ke komunitas,” terang Lusi. Wira menghela napasnya panjang, “Hmm, semalem nyokap dan bokap gue ribut. Dan, gue dengar ada bawa-bawa nama Bu Andya di situ. Pikiran gue jadi kemana-mana soal Bu Andya,” jelas Wira sambil mengingat ucapan yang dilontarkan mamaknya itu. Lusi tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia hanya berusaha mendengarkan penjelasan dari Wira. “Gue bisa minta tolong ke lo gak? Soal Bu Andya ini,” ucap Wira. Lusi tertegun, ia yang tak pernah mengetahui Bu Andya sebelumnya, tiba-tiba diminta untuk membantu Wira. Lusi pun masih terdiam, belum mengucapkan kesiapannya. “Gimana? Lo bisa bantuin gue, kan Lus?” tanya Wira lagi. Lusi mencari jawaban yang sekiranya tidak mematahkan hati Wira, “Maaf ya Wir, bukannya gue gak mau bantuin lo. Tapi—“ “Gue percaya lo, Lus. Lo pasti bisa bantuin gue kok. Kita kerja bareng-bareng, gue berusaha untuk berada di samping lo ketika bukti-bukti itu kita cari,” terang Wira yang mengisyaratkan bahwa ia sangat perlu bantuan Lusi. “Lo gak salah ngajakin gue? Gue sama sekali gak kenal siapa itu Bu Andya. Yang lebih paham ini Tono, anggota pencak silat sendiri,” kata Lusi. “Gue gak mau berhubungan sama Tono,” balas Wira dengan spontannya. “Kenapa?” tanya Lusi polos. “Gue gak bisa percaya sama Tono, sih. Di dalam pikiran gue ya cuma lo satu-satunya orang yang bisa gue harapin buat nyelesaiin masalah ini. Supaya terang gitu, apa yang sebenarnya terjadi,” tukas Wira. Ucapan Wira yang seperti itu setengah benar dan setengah salah. Ia enggan berurusan dengan Tono, karena tahu bahwa Tono adalah orang yang gak mau dikalah dan suka ngerebut perempuan. “Cukup Jacob aja yang ngerasain diselip sama Tono, gue jangan. Hahaha wakwaw!” batin Wira yang cenderung culas. Lusi yang merasakan harapan Wira begitu dalam terhadap dirinya, mau tidak mau harus melakukan pencarian bukti yang dimaksud oleh Wira tentang Bu Andya. “Baiklah, gue bantuin lo, tapi lo jangan kecewa kalau—“ “Lus … dengerin gue ya, kita bekerja sama ya, bukan sendiri-sendiri. Lo yakin kan kalau kerja sama itu hasilnya bakal baik? Lo jangan mikirin yang macem-macem deh, pokoknya gue percaya lo. Titik!” seru Wira yang membuat Lusi terdiam tak melawan. Lusi menyeka keringat yang berada di pelipisnya, “Ya udah, gue terima ajakan lo. Gue juga berusaha semaksimal dan sebisa gue untuk menyelidiki tentang Bu Andya,” ucap Lusi. “Nah gitu dong! Aktivis-aktivis kampus kan memang harus seperti ini, optimis dalam segala hal!” kata Wira dengan senyum lebarnya. “Gue bukan aktivis kampus ya, gue enggan diberi julukan begituan,” Lusi protes. “Lalu? Mau dikasih julukan apa? Pacarnya Wira, gitu?” ucapan itu spontan saja keluar dari mulut Wira. Bukannya langsung geram mendengar itu, di dalam d**a Lusi berubah menjadi getaran-getaran yang membangkitkan ketukan jantungnya. Debaran jantung itu, sangat terasa oleh Lusi. “A … a … apaan maksud lo! Aneh deh,” balas Lusi sedikit gugup. “Udah ya, hanya itu yang mau gue obrolin ke lo siang ini. Oh ya, lo ada kelas gak habis ini?” tanya Wira. “Wait … “ Lusi mengeluarkan kertas putih yang sudah tertulis lengkap jadwal sang dosen maupun jadwal dirinya sebagai asisten dosen. Lusi menggelengkan kepalanya, “Untungnya gak ada, sih,” lanjut Lusi. “Baguslah, gue juga gak ada. Kita makan siang dulu yuk,” ajak Wira. “Duh Wir, maaf ya. Gue udah janjian sama teman-teman komunitas buat makan bareng sama mereka, hehe,” Lusi menolak halus. “Udah bentar aja kok, gue pesenin ya,” paksa Wira. “Wir … Wir … “ panggil Lusi yang tak mempan bagi Wira. Wira tetap menuju meja kasir dan berseru, “Pokoknya lo harus makan siang dulu sama gue!” tukas Wira. Lusi menghela napasnya panjang, hari ini adalah pertama kalinya ia mengingkari janji makan siang bersama teman-teman komunitasnya. Lusi adalah orang yang sangat setia kawan, separuh harinya digunakan untuk berkumpul bersama teman-teman komunitasnya. Berat baginya kali ini untuk meninggalkan momen itu walau hanya sekali. *** Tin … Tin … Tin … Mona melengkungkan senyumnya kepada pengendara sepeda motor matic yang parkir di depan kosannya, tentu saja itu Ardin. Ardin membuka helmnya dan pandangan matanya langsung ke arah Mona, Ardin ikut menampilkan senyumannya. “Sudah siap?” sapa Ardin ketika Mona sudah berdiri di depannya. Mona mengangguk, “Sudah!” tegas Mona dan masih melengkungkan senyumnya. Mona sigap menaikan badannya ke atas motor Ardin. “Duh, senyuman lo … “ Ardin malah salah fokus ketika Mona sudah memegang pundaknya, duduk di belakang jok motornya. Mona yang mendengar itu langsung menolehkan wajahnya ke Ardin, “Kenapa dengan senyuman gue, Kak?” ucap Mona dengan polosnya. “Em .. eh … gak apa-apa, kok. Gue hanya keingat sama senyuman anime di film yang tadi malam gue tonton,” Ardin mencari alasan-alasan lain. “Oh gitu, Kak Ardin wibu?” tembak Mona. Ardin malah tertawa. “Kalau wibu, udah mandi belom?” tanya Mona lagi. Lagi-lagi Ardin tertawa dan tak menjawab pertanyaan dari Mona, “Emang kalau jadi wibu itu gak pernah mandi, apa?!” balas Ardin. “Menurut beberapa wibu di kelas gue, mereka jarang mandi, apalagi kalau kejar tayang nonton film anime!” tukas Mona. “Duh, lo kurang kerjaan banget ya sampai-sampai nanya begituan sama teman sekelas lo!” Ardin menggelengkan kepalanya. “Kita berangkat sekarang ya?” “Oke, meluncur!” ucap Mona sambil meluruskan tangan kanannya ke depan. *** “Terima kasih banyak ya Kak Ardin udah mau repot-repot nganterin gue ke tempat pemotretan,” ucap Mona sebelum menuruni motor matic Ardin. “Iya, sama-sama. Kan gue pengen lo terus ngejar cita-cita lo, dan gue bakal bantuin sebisa gue,” balas Ardin menonjolkan sikap “perhatiannya” “Baik banget Kak Ardin. Sama kayak papanya, baik juga,” ungkap Mona yang ternyata menyimpulkan papanya Ardin adalah orang baik. Ardin terbelalak, bisa-bisanya Mona berbicara seperti itu mengenai papanya. Ardin jadi curiga. “Papa gue baik? Baik dari mana ih? Kan lo baru sekali ke rumah gue dan sekali juga ngobrol sama papa gue,” Ardin menyangkal. “Baru sekali doang ke rumah Kak Ardin dan bertemu dengan papanya, pandangan pertama gue tuh kayak baik banget gitu papanya Kak Ardin. Enak diajak ngobrol, obrolan kita banyak banget, pokoknya baru kali ini gue nemuin orang tua yang seumuran papanya Kakak tuh yang up to date banget!” kata Mona sambil menunjukan dua jempol tangannya. “Oh gitu … “ Ardin merespon biasa saja. “Besok antar gue ke rumah Kak Ardin lagi, ya. Papanya Kak Ardin sudah janji mau cerita sesuatu,” pinta Mona. Hal itu sontak membuat Ardin terkejut, “Lah?! Buat apa ke rumah gue?! Duh, papa gue ada ngomong apa sama lo dah? Sampai-sampai lo mau aja disuruh ke rumah gue?” “Ada deh … “ Mona merahasiakan itu. Hal itu cukup membuat Ardin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dilakukan papanya kemarin pada Mona? “Mona … Mona cantik … mari Nak, pemotretannya akan dimulai sebentar lagi,” seru suara perempuan paruh baya, Bu Endah. Bu Endah sudah melambaikan tangannya ke Mona dan menyuruhnya masuk untuk melakukan sesi pemotretan. “Siap, Bu!” jawab Mona memperagakan hormat pada Bu Endah. “Janji ya Kak! Pokoknya besok ke rumah Kakak!” Mona langsung ngacir mendekati Bu Endah. “Eh .. eh .. kagak! Gue gak janji! Titik!” Ardin menolak keras. “Janji!” sahut Mona diselingi dengan kekehannya. Mona dan Bu Endah sudah memasuki ruangan pemotretan, sementara Ardin masih berada di depan butik dengan pertanyaan yang mengelilingi otaknya. “Hmm … mesti deh kalau lihat perempuan yang cantik sedikit, langsung aja kepo!” gerutu Ardin mengingat wajah papanya yang menari-nari di benaknya. Ngeng ... ngeng ... ngeng ... Ardin langsung memasang gas sedikit kencang. Bukan karena hati Ardin yang ingin seperti pembalap idolanya, Valentino Rossi, tapi ia benar-benar kesal dengan papanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN