Persoalan Penting

1116 Kata
Tidak ingin kena bullying oleh anggota pencak silat yang lain, Tono segera melarikan diri keluar dari basecamp. Lusi melihat Tono dengan wajah kesalnya, keluar melewati anggota-anggota pencak silat yang ikut memincingkan tatapan curiga ke Tono, bahwa ia cemburu. Sementara dipikiran Lusi, masih ada sesuatu yang tidak wajar dengan Bu Andya, terlebih soal uang seratus lima puluh juta yang ia donasikan cuma-cuma hanya untuk acara pencak silat. Teng … Nong … received message form Wira. Lus, lo di mana? Kira-kira siang ini kita bisa ketemu, gak? Lusi menatap pesan yang baru ia terima. Pesan dari Wira yang mengajaknya bertemu. “Apa ya yang ingin dibahas Wira?” tanya Lusi dalam hati. Namun, tidak ingin membicarakannya hanya dari pesan, Lusi langsung saja membalas pesan ke Wira. Bisa, di mana kita ketemunya? Di kafe agak jauh dari kampus gimana? Soalnya gue bakal bahas yang rahasia banget Lusi tertegun, “Mengapa bisa Wira hendak membeberkan rahasianya ke gue? Bukannya dia punya dua teman karibnya?” pikir Lusi dalam hati. Oke lah, lo jemput gue di basecamp pencak silat kampus ya nanti siang Siap. See you! Lusi mendudukan tubuhnya di kursi, ia menatap berkali-kali pesan yang dikirimkan Wira. “Bahas rahasia? Apa ya yang sebenarnya dimaksud Wira?” pikiran Lusi penuh dengan tanda tanya. *** Lusi melirik ponselnya lagi, satu pesan datang dari Wira. Lantas, segera dibukanya. Gue sudah di depan basecamp lo, Lus. Keluar deh! Lusi menaruh ponselnya ke dalam tas, dan menarik resleting tasnya hingga tertutup rapat. Ia berdiri, “Gue pamit duluan ya, ada hal penting. Nanti uang donasi dari Bu Andya langsung gue kirim ke rekening organisasi,” kata Lusi. “Oke!” seru beberapa anggota pencak silat yang masih ada di dalam basecamp. Lusi mempercepat langkah jalannya, dari kejauhan ia sudah melihat Wira sudah duduk di atas motor besarnya untuk menunggu Lusi. Tak .. tuk … tak … tuk … bunyi hentakan sepatu kets Lusi yang berseteru dengan lantai. “Hai!” Lusi pun menepuk pundak Wira. “Eh, Lusi,” Wira memalingkan wajahnya ke Lusi. “Kita langsung pergi aja, ya?” kata Wira. “Lo buru-buru banget gak? Soalnya gue mau kirim uang donasi ke rekening organisasi,” balas Lusi. Wira melirik jam di tangannya, “Ya udah, naik gih,” ungkap Wira. Lusi pun naik ke atas motor Wira. Digenggamnya jaket hitam Wira di bagian pinggang. Ngeng … ngeng … ngeng … motor besar Wira yang membonceng Lusi, sudah melaju dengan perlahan-lahan. Tono yang lagi nangkring di depan musholla, melihat pemandangan yang membuat wajahnya berubah. “Loh?” kata Tono sambil mengerutkan dahinya. “Itu kan Wira? Kenapa bisa sama Lusi?” ucap Tono yang masih mengingat wajah Wira, teman sekelasnya ketika masih duduk di sekolah menengah pertama. “Jangan-jangan Lusi dan Wira pacaran? Ah gak mungkin!” Tono mencoba menjernihkan pikirannya. “Ya, kalaupun Lusi digebet Wira, gue masih punya Ribka, sih,” ucapnya santai. *** Ribka sangat terkejut melihat nominal di rekening komunitas pencak silatnya. Ia sangat tidak percaya, bahwa dalam waktu beberapa hari bisa mendapatkan uang beratus juta itu. Ia teringat sosok Lusi, si aktivis kampus yang hobinya mencari dana untuk komunitas-komuntas lain yang ingin mengadakan pentas besar. “Lusi! Lo baik banget. Pasti kerja keras banget ya sampai bisa dapatin dana sebesar ini,” ungkap Ribka dengan wajah semringah. “Gue harus balas budi ke lo, nih,” kata Ribka. Ribka pun menghubungi Tono, teman pencak silatnya yang selalu ada untuknya, kapan pun dan di mana pun. “Halo, Ton, gue kaget banget uang donasi yang Lusi dapat banyak banget!” ucap Ribka histeris. “Iya, gue tadi juga lihat. Emang Lusi hebat banget sih. Ini satu-satunya dalam sejarah acara pencak silat, haha,” terang Tono. “Oh ya, lo kan deket tuh sama Lusi. Dalam waktu dekat ini, organisasi jurnalistiknya ada acara besar gak?” tanya Ribka. “Kurang paham. Emangnya kenapa?” Tono balik bertanya. “Sepertinya kita harus balas budi sama Lusi. Berhubung dia sudah nyariin dana komunitas kita sebanyak ini, kita juga harus melakukan hal yang sama, dong,” jelas Ribka. “Serius lo?!” Tono menaikan nada bicaranya. “Maaf ya Rib, bukannya gue gak mau, soalnya gue itu gak yakin aja sama kemampuan kita-kita untuk cari dana sebanyak Lusi,” Tono sudah pesimis duluan. “Hahaha, jangan begitulah. Kita pasti bisa kok! Kan kerja sama seluruh anggota,” Ribka menenangkan. “Maaf lagi ya, Rib. Bukannya gue meragukan kinerja dari anggota, tapi lo ngerti sendiri kan anggota kita tuh paling males yang namanya cari dana. Paling-paling mereka ngadain paid promote,” jelas Tono. “Dih lo selalu berpikir negatif ya sama anggota, hahaha,” Ribka geli. “Ya abisnya gitu. Oh ya by the way ada busway, lo ada lihat Lusi gak hari ini?” tanya Ribka membuka pembicaraan lainnya. “Ada, barusan aja gue lihat dia keluar sama Wira,” jawab Tono. “Ke mana? Tumbenan banget, apa cari donasi lagi?” balas Ribka. “Enggak tau, gue gak mau tau sih, nanti dikira gue kepo lagi!” ucap Tono santai. “Ye! Lo emang kepo kan kalau urusan Lusi?! Jangan bohong deh lo!” ledek Ribka. “Ngomong apaan sih lo hahaha!” Tono mengelak. “Ya udah deh, gue mau pesan sama lo. Tolong gunain dana acara ini sebaik mungkin, kalau bisa sisanya harus banyak ya biar dialihkan ke uang kas kita,” pinta Ribka. “Oke komandan! Siap empat lima!” tegas Tono. Tut … tut … tut … telepon antara Ribka dan Tono pun sudah dimatikan. *** Kafe yang memiliki sedikit pengunjung dengan romansa hitam putih di dindingnya, memutuskan Wira untuk menghentikan motornya di sana. Di sebuah tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Lusi dan Wira, mereka memasuki kafe yang cukup jauh dari kampus. Wira menengok ke kiri dan ke kanan, tak lupa ia lirik pula kedua kaca spion yang menempel di motornya. “Aman. Kita di sini aja ya?” kata Wira. “Boleh,” balas Lusi. Lusi dan Wira melepaskan helm mereka, dan memasuki kafe ala monokrom itu. “Kita langsung bahas aja, gimana?” baru saja Wira dan Lusi duduk di atas kursi rotan, Wira langsung ingin membuka obrolan. Tanpa memikirkan banyak hal lain, Lusi dengan sigap menganggukan kepalanya. “Ya udah, lo mulai aja mau bahas apa,” Lusi mempersilakan. Wira masih menengok ke kiri dan ke kanan, hal ini membuat Lusi berpikir ada hal yang aneh. Namun, Lusi tetap fokus dengan apapun yang akan Wira bicarakan. “Gimana, Bu Andya beneran ngasih duit sebesar seratus lima puluh juta ke komunitas pencak silat kampus?” tanya Wira yang langsung mengarah pada sosok Bu Andya. Dalam hati Lusi yang sudah berpikir macam-macam, sudah tau kemana arah Wira akan membahas persoalan ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN