Ngeng … ngeng … ngeng …
Mona dan Ardin melaju dengan sepeda motor berkecepatan lima puluh kilometer per jam. Di perjalanan, Ardin menanyakan suatu hal ke Mona.
“Mon, lo suka belanja, ya?” tanya Ardin.
“Lumayan, kalau ada duit lebih aja, sih,” jawab Mona.
“Oh gitu, terus kalau belanja suka lama kayak tadi?” tanya Ardin lagi.
“Iya, bahkan lebih dari itu. Karena gue gak mau kalau uang gue lenyap hanya karena barang yang tidak begitu penting atau gue inginkan,” jawab Mona.
Ardin mangut-mangut.
“Seru juga ya, ternyata temenin lo belanja, sekalian olahraga karena mutar-mutar sama lo!” seru Ardin.
Mona menyeritkan dahinya, “Emangnya kenapa, Kak? Kak Ardin keberatan gitu temenin gue belanja?”
Ardin tersentak,” Eng .. eng … enggak ada kok, Mon. Gue bener-bener senang aja belanja sama lo tadi. Serius deh!” Ardin berusaha meyakinan Mona.
Kring … kring … kring … Papa’s calling. Sebuah pemberitahuan pun mendarat di ponsel Ardin.
“Halo, iya Pa? Ada apa?” seru Ardin.
“Kamu di mana? Bisa ke rumah sebentar nggak. Ini Papa lagi asyik internetan tapi Wi-Fi mati. Coba kamu perbaiki, deh,” balas Papa Ardin.
“Sekarang? Aku masih di jalan, Pa,” seru Ardin.
“Iya sekarang, Papa tunggu pokoknya, bye!” Papa Ardin langsung menutup telepon itu.
Ardin memasukan lagi ponselnya di balik saku celananya. Ia menatap Mona dari kaca spionnya.
“Mon, gue antar lo pulang aja, ya,” ucap Ardin.
“Kenapa? Tadi gue dengar ada yang nyuruh lo balik rumah. Itu siapa?” tanya Mona dengan polosnya.
“Itu papa gue, minta gue perbaiki jaringan internet di rumah. Lebih baik lo gue antar pulang duluan ya,” jawab Ardin.
“Gak deh, gue mau ikut ke rumah lo!” pinta Mona.
Ardin menelan ludahnya banyak-banyak, “Em .. bukannya gue gak ngebolehin ya Mon, gue bakal lama banget di rumah untuk memperbaiki itu. Nanti lo malah bête lagi di sana, belum lagi jarak ke rumah gue tuh jauh banget dari sini,” balas Ardin.
“Gak kok, gue berusaha betah aja di sana,” Mona memaksa.
Ardin tidak yakin sekali membawa seorang perempuan ke dalam rumahnya, apalagi yang dibawanya adalah perempuan cantik seperti Mona yang sesuai dengan standar industri. Pasti, ada sesuatu hal tidak mengenakan bakal terjadi ke Mona.
“Gimana Kak, boleh ya?” tanya Mona lagi.
“Iya, tapi sebentar aja,” jawab Ardin singkat dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam.
Sesampainya di rumah Ardin setelah perjalanan kurang lebih satu jam. Tibalah Ardin dan Mona di depan rumah berwarna hijau. Seorang laki-laki mengenakan kaos oblong dan celana pendek, duduk di teras rumah. Dan, laki-laki itu langsung berdiri ketika Ardin dan Mona datang di hadapannya.
“Pa, halo!” sapa Ardin, Mona pun mengikuti Ardin dari belakang.
“Iya, halo Din!” balas Papanya Ardin, matanya langsung terarah pada Mona, yang berada di belakang Ardin. “Ini siapa, Din?” tanya Papanya Ardin.
“Ini Monalisa, Pa,” jawab Ardin singkat. “Oh ya, jaringan Wi-Finya masih jelek?” tambah Ardin.
“Masih tuh di dalam coba kamu cek aja,” ungkap Papanya Ardin.
“Oke kalau begitu aku perbaiki dulu, Mon, ayo masuk yok!” kata Ardin melirik ke Mona.
Mona mengangguk dan mulai mengikuti langkah Ardin, “Om, saya izin masuk temani Ardin, ya.”
“Eh, Mona kamu di sini aja sama Om, di luar aja. Ardin itu di dalam lama banget perbaikinya, mending kamu di luar sini aja sama Om, kita ngobrol-ngobrol,” ucap Papanya Ardin begitu antusiasnya.
Ardin menajamkan pandangannya ke papanya, disipitkannya perlahan hingga bibirnya komat-kamit mendengar ucapan papanya yang seperti itu.
“Mona di dalam aja sama aku, Pa!” sentak Ardin.
“Gak usah, di dalam panas. Gak bagus,” jawab Papa Ardin.
“Kan ada kipas angin. Apa gunanya kipas angin kalau enggak buat hilangin panas?” jelas Ardin.
Mona mendengar ucapan demi ucapan yang saling berbalas antara Ardin dan papanya. Mona jadi tidak enak melihat ucapan yang saling mengedepankan keinginan mereka masing-masing.
“Udah, udah, aku di luar aja sama Om. Biar kamu sendiri di dalam ya, Din,” ucap Mona yang membuat Ardin tersentak.
“Mon … Mon … “ ucap Ardin.
“Tuh kan, Mona sendiri yang mau di luar. Ya udah, kamu cepat perbaiki jaringan internetnya, sana!” kali ini permintaan Papanya Ardin terkabulkan.
Ardin menatap Papanya sinis sembari langkahnya menuju ke dalam rumahnya. Sementara itu, papanya dan Mona memutuskan untuk menunggu di teras.
“Mon, duduk sini, ayo,” ajak Papanya Ardin dengan lembut, menunjuk satu kursi kosong di depannya.
“Oh iya, terima kasih banyak ya, Om,” balas Mona dengan senyumnya.
“Maaf ya kalau di rumah Om ini gak ada suguhan minum, karena memang di dapur atau kulkas gak ada persediaan apa-apa. Maklum, di sini hanya Om saja yang tinggal,” terang papanya Ardin.
Mona yang melihat raut wajah papanya Ardin begitu antusias ngobrol kepadanya, membuat Mona melengkungkan senyumnya.
“Ah tidak masalah Om, saya juga sudah kenyang kok, gak perlu disuguhkan minum,” balas Mona.
“Oh baiklah kalau gitu. Kamu teman kuliahnya Ardin?” tanya papanya Ardin.
“Iya Om, satu kampus, tapi beda jurusan dan beda organisasi,” jawab Mona.
Papanya Ardin menyeritkan dahinya, “Loh, beda kelas dan beda organisasi di kampus, kok bisa kenal? Kan frekuensi kalian bertemu sangat sedikit, kan?” papanya Ardin heran.
Mona terkekeh, “Saya dan Kak Ardin bertemu saat acara ospek mahasiswa, waktu itu Kak Ardin jadi ketua panitia dan saya jadi pesertanya. Dan, pertemuan itu berlanjut sampai sekarang, Om,” jelas Mona.
Papanya Ardin mengangguk, “Apa Ardin pernah meminta nomor kamu saat ospek berlangsung?” tanya papanya Ardin dengan bisikan.
Mona menganggukan kepalanya, “Iya, pernah, Om. Itu karena saya telat datang, dan mau diberi hukuman sama Kak Ardin. Karena waktu acara mepet untuk menghukum peserta, jadinya Kak Ardin minta nomor saya untuk melakukan sebuah hukuman,” jelas Mona lagi.
“Terus, apa hukuman yang diberikan anak saya pada kamu?” papanya Ardin kepo.
“Entah, saya lupa. Entah sudah dikasih hukuman atau belum,” Mona menyeringai.
Papanya Ardin pun ikut menyeringai. Dari daun jendela, Ardin memperbaiki jaringan internet yang terpasang di dalam rumahnya itu dengan penuh hati-hati. Sesekali ia melirik papanya dan Mona di balik teras, sedang membicarakan apa gerangan?!
“Jangan sampai papa berlaku genit sama Mona, ya … “ tukas Ardin.
***
Gapai semua jemariku … Bu Andya calling.
“Halo, Bu Andya, selamat pagi, Bu. Ada apa?” tanya Lusi mengangkat sebuah telepon dari Bu Andya.
“Uang sponsor acara pencak silat kampus Mbak Lusi sudah saya kirimkan ke rekening seperti biasa, ya,” ucap Bu Andya.
Lusi yang sedang nyantai di basecamp komunitasnya, langsung tersentak berdiri setelah menerima pemberitahuan bahwa uang dananya sudah terkumpul hampir 90 persen.
“Bu Andya, terima kasih banyak, ya, semoga makin banyak rezeki ya Bu karena sudah mau membantu menyukseskan acara kami,” kata Andya cukup keras, membuat beberapa teman pencak silatnya mengarah padanya.
“Iya, semoga lancar ya acaranya, Mbak, dadah,” Bu Andya menutup telepon itu.
“Guys … guys … guys … uang acara kita sudah dapat donasi dari Bu Andya sebesar seratus lima puluh juta rupiah!” Lusi mengabarkan hal itu pada teman-temannya. Tak lupa ia mengabari pula lewat grup w******p.
“Sumpah, Lus?!” Tono yang sedang berada di ruangan itu juga, langsung berdiri dan berjalan pelan ke arah Lusi.
“Iya benar, coba liat deh!” Lusi membalikan layar ponselnya ke teman-temannya.
Tampak uang berates juta itu mendarat di rekening Lusi dengan catatan, “Uang sponsor acara pencak silat Universitas Merem Melek,” Raut wajah Tono tercengang dan cukup senang mendapatkan uang sebesar itu.
“Seriusan itu Bu Andya yang ngasih? Gila banyak banget!” Tono tak percaya, ia memegangi kepalanya dengan mulut yang sedikit menganga.
“Iya, beneran. Ini dari Bu Andya. Kemarin gue sama Wira ke rumah beliau,” terang Lusi.
“Hah? Sama Wira siapa?” Tono menyela.
“Itu, ada, kenalan gue lah pokoknya,” balas Lusi dengan wajahnya yang sedikit memerah.
Tono pun memincingkan pandangannya, melihat wajah Lusi yang memerah, batinnya terasa terkoyak.
“Kenalan dari mana?” Tono bertanya.
“Dari temen,” balas Lusi singkat.
“Temen siapa, Lus?” Tono kepo sangat.
“Ya adalah,” jawab Lusi dengan wajah semringah, Tono semakin menunjukan raut wajah tidak suka dengan pernyataan Lusi.
“Kalau ngomong itu yang jelas dong, jangan dipotong-potong kayak gitu,” terang Tono.
Lusi mengerutkan dahinya, “Emangnya kenapa? Soal Wira ya soal Wira, kenapa lo nanya-nanya begitu?”
“Ya gue pengen tau aja, sih, gak lebih,” jawab Tono santai.
“Ya udah, kalau pengen tau aja ya info yang gue tadi kasih masukan cukup, dong,” balas Lusi.
“Hmmm,” Tono bergumam.
“Atau jangan-jangan lo cemburu ya gue kemarin pergi cari dana sama Wira?!” celetuk Lusi di depan Tono hingga diliat anggota yang juga ada di dalam basecamp pencak silat itu.