Larasati yang masih menggendong Bram, mencoba menenangkan anak susuannya. Dia berjalan mondar-mandir sambil menggoyang-goyangkan badan agar Bram merasa seperti diayun-ayun. Namun, bocah kecil itu masih saja rewel dan menangis meski tangisnya hanya berupa isakan. Sementara di tempatnya berdiri, Bara menatap sang putra dengan tatapan khawatir. Jujur, dia takut putranya kenapa-napa. Namun, karena Larasati melarangnya memanggil dokter, Bara pun hanya bisa menurut. "Maaf, Mas. Mas Bara bisa tolong keluar dulu," pinta Larasati beberapa saat kemudian. "Rara mau susui Bram, barangkali memang benar dia haus lagi," imbuhnya sambil berjalan ke arah ranjang. "Baiklah. Panggil aku jika butuh apa-apa, aku akan menunggu di bangku depan." Meski dengan berat hati, Bara bergegas melangkah menuju pintu

