Wanita muda berhijab warna biru laut itu masih menatap tajam pada Bara. Sesaat kemudian dia mengalihkan pandangan pada bayi laki-laki yang menangis dalam gendongan sang oma. Larasati sebenarnya hendak mendekat dan memeluk bayi yang tidak berdosa tersebut karena merasa tidak tega. Namun, langkahnya terasa berat karena kata-kata Bara yang pedas benar-benar telah melukai hatinya.
"Maaf, Bu Dini. Sepertinya, kehadiran saya tidak diinginkan di rumah ini. Saya mohon pamit." Larasati mengangguk sopan lalu membalikkan badan. Dia hendak berlalu dari ambang pintu kamar, tetapi suara Bu Dini yang lembut dan terdengar memelas menahan langkahnya.
"Kamu juga seorang ibu, Nak Rara. Ibu tahu kamu memiliki hati yang lembut. Ibu mohon, Nak, tetaplah tinggal di sini demi Bram."
Larasati menoleh ke dalam kamar yang luas milik Bara. Tatapannya tertuju pada netra Bu Dini yang sudah berkaca-kaca. Bayi laki-laki dalam gendongan wanita paruh baya tersebut masih menangis sampai kulit Bram yang putih bersih, nampak kemerahan. Sementara Bara yang masih berdiri di samping mamanya, hanya terdiam.
"Maafkan putra ibu. Kemarilah, Nak. Tolong, susui Bram." Tatapan Bu Dini begitu menghiba, membuat Larasati tidak tega untuk menolaknya.
Wanita muda itu berjalan mendekat dengan langkah yang nampak ragu. Dia lirik Bara yang masih membeku. Larasati buru-buru mengalihkan pandangan pada Bram dan berusaha mengabaikan ayah dari bayi laki-laki itu.
Penuh kelembutan, Larasati mengambil Bram dari tangan sang oma. "Rara susui Bram di kamarnya saja ya, Bu," ijin Larasati dengan suara pelan. Sebab, tidak mungkin dia menyusui di hadapan ayahnya Bram.
"Di sini saja! Biar aku yang keluar!" Bara bergegas keluar dari kamar dengan langkah cepat, tanpa menoleh ke arah Larasati yang mendekap Bram dengan erat.
Sepeninggal Bara, Bu Dini menuntun Larasati untuk duduk di tepi pembaringan. Wanita anggun itu memastikan bahwa ibu s**u sang cucu, duduk dengan nyaman. Suara khas Bram yang menyusu dengan lahap, membuat Bu Dini mengulas senyuman.
Wanita paruh baya itu mengusap lembut punggung Larasati. "Terima kasih, Nak. Kamu masih mau menyusui cucu ibu. Tentang Bara, tolong maafkan dia." Bu Dini terus saja meminta maaf atas kesalahan sang putra.
"Putra Ibu tidak bersalah, Bu. Wajar jika Pak Bara menginginkan agar Den Bram tidak bergantung pada saya. Sebab, repot juga jika Den Bram tidak mau minum dari botol sementara Pak Bara menginginkan agar Den Bram tidur bersama beliau."
Bu Dini mengangguk, membenarkan. "Sepertinya, ibu harus bicara dengan Bara bagaimana baiknya. Ibu tinggal dulu, ya," pamitnya yang kemudian segera beranjak. Meninggalkan Larasati yang masih menyusui Bram seraya memindai seisi kamar.
Tatapan Larasati berhenti pada bingkai foto besar. Di sana, ada gambar diri Bara dan seorang wanita muda yang menggendong bayi. "Wanita cantik itu pasti istrinya Pak Bara," gumamnya.
Tatapannya kini beralih pada Bram. Bayi laki-laki yang sedang menyusu itu juga tengah menatap Larasati. "Hei, tampan. Kenapa masih terjaga? Belum mengantuk, hem? Bobok, ya. Sudah malam, Sayang. Anak pintar harus bobok biar besok bisa bangun pagi lalu sekolah." Dia ajak Bram berbicara, seolah bayi mungil itu mengerti apa yang dia katakan.
Larasati terus saja mengajak Bram bercerita banyak hal. Terutama mengenai kehidupan masa kecilnya di panti asuhan. Kehidupan anak-anak yang belum mengerti tentang permasalahan hidup dan taunya hanya bersenang-senang.
Mengingat masa kecilnya, Larasati tersenyum lebar. Dia sangat bahagia karena memiliki banyak saudara di panti asuhan. Dia dan anak-anak lainnya tidak pernah peduli dari mana sebenarnya mereka berasal.
Larasati mengancingkan kembali longdress-nya, setelah memastikan Bram terlelap. Wanita muda itu lalu mencium pipi gembul Bram dengan penuh rasa sayang. Memandangi wajah Bram, membuat bibir tipis Larasati mengulas senyuman.
"Pantas saja wajah kamu tampan, Nak. Karena orang tua kamu cantik dan tampan."
"Ibu susunya juga cantik." Suara Bu Dini yang ternyata sudah berdiri tidak jauh dari ranjang, mengejutkan Larasati. Entah sejak kapan wanita paruh baya tersebut masuk ke dalam kamar.
"Eh, Bu Dini. Ibu membuat saya terkejut," kata Larasati seraya tersenyum tersipu. Wanita muda itu khawatir, Bu Dini mendengar apa yang barusan dia katakan pada Bram. Larasati takut, Bu Dini salah mengartikan.
Wajah Larasati nampak merona merah. Dia benar-benar merasa malu karena memuji pria yang baru dia kenal, apalagi jika tadi didengar oleh mamanya. Larasati lalu menundukkan kepala agar Bu Dini tidak melihat rona merah di wajahnya.
"Den Bram sudah tidur Bu. Saya tidurkan di mana?" lanjut Larasati bertanya setelah sejenak keheningan tercipta. Dia sengaja bertanya untuk mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin Bu Dini membahas masalah tadi.
"Tidurkan di kamarnya saja agar jika dia terbangun, kamu bisa bebas menyusui Bram. Ibu sudah bicara sama Bara barusan dan dia setuju. Kita lanjutkan pembicaraan di kamar Bram, nanti. Sini biar Bram sama ibu." Wanita anggun itu lalu mengangkat tubuh mungil Bram dari pangkuan Larasati.
Wanita muda itu mengekor langkah Bu Dini dengan perlahan. Larasati masih merasakan nyeri di area inti setiap kali dia berjalan. Luka panjang di bagian tubuh bawahnya memang cukup panjang karena proses persalinan bayinya yang lahir sungsang.
Bara yang duduk di ruang keluarga, menatap Larasati dengan tatapan entah. Segala rasa berkecamuk di dalam dadanya sekarang. Penolakan dan juga ketidakberdayaan, membuat pikirannya rungsing tidak karuan.
"Kenapa Bram tidak mau minum s**u formula? Kenapa dia juga tidak mau minum dari botol? Apa perlu aku memanggil perawat khusus agar putraku diterapi? Tapi mama pasti tidak setuju!" Bara mengacak sendiri rambutnya dengan kasar.
Teringat kembali ketika tadi sang mama menghampirinya. Wanita yang telah melahirkannya itu duduk di hadapan dan menatap tajam pada Bara. Sang mama memang selalu bisa membuat Bara menurut dan patuh atas apapun keputusannya.
"Bara! Buang keegoisan kamu demi putramu!"
"Ma, Bara hanya tidak mau jika Bram ...."
"Untuk saat ini, kita tidak dapat memaksakan putramu, Bara!" sergah Bu Dini. "Seharian kemarin, kita sudah mencobanya dan kamu tahu sendiri 'kan, akibatnya? Bram badannya panas dan kekurangan cairan karena dia hanya mau minum air putih, itupun hanya sedikit!"
"Kita 'kan bisa mencobanya lagi, Ma." Bara mulai memelankan suara.
"Kita memang akan mencobanya, Bara, tetapi pelan-pelan dan bertahap. Tidak mudah merubah kebiasaan anak kecil, apalagi selama ini Bram sama sekali belum pernah minum dari botol atau dengan menggunakan sendok," balas Bu Dini yang ikut bersuara pelan dan Bara menganggukkan kepala, paham.
Bara menghela napas panjang kemudian. "Sampai kapan kira-kira, Ma?"
"Kenapa memangnya?" Bu Dini menjawab dengan balik bertanya.
"Bara bertanya, Ma. Kenapa Mama malah balik tanya?" protes Bara, membuat sang mama tersenyum lebar.
"Ish, ambekan, kamu!" cibir sang mama, membuat Bara semakin kesal.
Sedari dulu, mamanya itu selalu saja menganggap Bara seperti anak kecil. Sang mama masih suka mengatur, meski Bara tahu bahwa semua demi kebaikannya. Bara pun tidak keberatan karena memang apa yang sang mama lakukan, jarang sekali bertentangan dengan keinginannya.
Sejenak keheningan tercipta di ruang keluarga. Ibu dan anak semata wayangnya itu, tidak ada yang bersuara. Bara masih menekuk wajahnya. Sementara Bu Dini nampak senyum-senyum sendiri.
"Bagaimana kalau Rara bukan hanya menjadi ibu s**u buat Bram, Bara?" Suara lembut Bu Dini, mengurai keheningan.
Bara menatap sang mama, heran. Dahinya berkerut dalam. "Maksud Mama?"
"Bagaimana jika Rara menjadi ibunya Bram untuk selamanya?" Wanita paruh baya itu bertanya dengan raut wajah yang serius.
"Mama ini bicara apa, sih? Orang lagi ngomong apa, nyambungnya kemana?" protes Bara.
Pria tampan yang saat ini berstatus duda satu anak itu nampak sangat marah pada sang mama. Baginya, pertanyaan wanita yang telah melahirkannya sudah ngelantur ke mana-mana. Bara lalu menatap tajam mamanya.
"Kalem, Bara. Jangan terbawa emosi!" Bu Dini kembali tersenyum. "Mama 'kan bertanya, jika. Kalau ternyata tidak, juga tidak apa-apa," lanjut wanita anggun itu dengan santainya. Bara semakin kesal dibuatnya.
Sang mama memang selalu bisa mengaduk-aduk perasaan Bara. Wanita paruh baya tersebut pandai membolak-balikan pikiran putranya. Memang, semata-mata demi kebaikan Bara agar pria itu tidak salah dalam langkahnya.
"Feeling mama selalu benar, Bara. Dia itu ...."
"Cukup, Ma!"
bersambung ...