Bab. 8 - Terjebak Permainan

1236 Kata
Bara nampak sangat marah dan kecewa. Dia mulai dapat menebak, kemana arah pembicaraan mamanya. Sang mama sepertinya ingin menjodohkan dia dengan wanita yang kini menjadi ibu s**u sang putra. Tentu saja Bara sangat marah. Tanah pemakaman istrinya saja masih basah. Bisa-bisanya sang mama malah mulai membicarakan tentang wanita lain yang bahkan baru mereka kenal. "Santai, Boy. Duduklah!" titah sang mama seraya menepuk bangku kosong di sampingnya. Mau tidak mau, Bara kembali duduk di tempatnya semula. "Mama tidak bermaksud melukai perasaan kamu, Bara. Mama juga sangat kehilangan dengan kepergian menantu mama yang baik seperti Cantika." Bu Dini menatap sang putra dengan lekat. "Kamu masih ingat, kan, ketika mengenalkan Cantika pertama kali pada mama? Mama langsung setuju karena begitu melihat Cantika dan mengenal sebentar dari cara bicaranya, mama yakin dia itu wanita berhati lembut dan pasti bisa menjadi istri yang baik untukmu. Dan feeling mama saat itu tidak salah, Bara. Dia memang istri yang baik, bukan?" Bu Dini menatap dalam netra sang putra dan Bara mengangguk, setuju dengan perkataan sang mama. Bagi Bara, Cantika adalah istri yang luar biasa. Ibu dari putranya itu selalu bisa membuat Bara tersenyum bahagia. Setelah kepergian sang istri tercinta, pria tampan itu tidak yakin apakah bisa menemukan wanita sesempurna almarhumah istrinya. "Mama tidak akan memaksa, Bara, tapi kamu juga harus memikirkan putramu. Mama tidak bermaksud menjodohkan kamu dengan Rara, tapi mama hanya menyampaikan bahwa Rara adalah wanita yang baik dan berhati lembut, sama halnya dengan Cantika." "Mereka berbeda, Ma! Jangan samakan Cantika dengan wanita lain!" sergah Bara. "Mama belum selesai bicara, Bara! Dengarkan mama dulu!" Bu Dini yang gemas dengan sang putra, sedikit meninggikan suara. "Mama hanya ingin menegaskan sama kamu, buang jauh pikiran negatif kamu tentang Rara! Mama yakin, wanita itu tidak akan membawa pengaruh buruk untuk Bram! Kamu juga jangan sok kepedean, Bara! Kalaupun kamu mau menjadikan Rara sebagai ibu untuk putramu selamanya, belum tentu juga dia mau sama kamu!" Bara terkekeh mendengar kalimat terakhir sang mama. "Mana ada wanita yang menolak pesona putra Mama? Bara tampan, Ma. Bara juga mapan." "Narsis! Sama persis dengan papamu!" Bu Dini geleng-geleng kepala. "Tapi mendengar cerita Rara, sepertinya dia bukan tipe wanita yang silau dengan apa yang nampak dari luar. Apalagi, dia pernah dikecewakan." Bu Dini menghela napas panjang. "Sudah, mama bukan mau bahas tentang itu, tapi tentang putramu. Kalau dia tidur di kamar kamu, tentu Rara akan sungkan untuk menyusui. Bagaimana kalau Bram tidur di kamarnya sendiri?" Bu Dini yang teringat dengan tujuan awalnya, menatap sang putra. "Tapi, Ma, selama ini Bram sudah terbiasa tidur bersamaku dan mamanya, Ma." Bara nampak ragu dengan ide dari sang mama. Setelah sang mama mengemukakan alasan dan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Bara menyetujui jika Bram tidur di kamarnya sendiri. Dia tetap akan menemani sang putra tidur seperti kebiasaannya selama ini. Jika putranya terbangun dan hendak menyusu, maka Bara akan memanggil Larasati untuk menyusui. Suara Jali menyeret Bara dari lamunan panjangnya. "Pak Bara. Maaf, di luar ada Pak Abi." "Oh, iya. Suruh tunggu sebentar." Bara segera beranjak menuju ke ruang kerja untuk mengambil berkas yang akan dia berikan pada orang kepercayaannya, yang menangani proyek pembangunan apartemen. Sementara di kamar Bram, Larasati nampak masih berbincang dengan Bu Dini. "Kamu tidak keberatan 'kan, Nak Rara, jika malam-malam dibangunkan untuk menyusui Bram?" "Tidak apa-apa, Bu. Saya ikut saja, bagaimana baiknya." Larasati membalas dengan tersenyum tulus. "Ibu sangat berterima kasih padamu, Nak Rara. Jika bukan karena Nak Rara, barangkali sampai sekarang Bram masih rewel dan kami tidak dapat melakukan apa-apa," kata Bu Dini seraya menepuk lembut pundak Larasati. "Ya, sudah. Ayo, kita istirahat! Mumpung Bram tidur pulas," ajak Bu Dini, kemudian. Larasati lalu beranjak yang diikuti oleh Bu Dini. Kedua wanita berbeda generasi itu kemudian meninggalkan kamar Bram untuk pergi ke kamar masing-masing dan mengistirahatkan diri. Meninggalkan putra Bara yang terlelap dengan nyaman di dalam boks bayi. Larasati tidak langsung menuju kamarnya. Dia mengambil arah keluar hendak menemui Jali yang biasanya di jam seperti ini sedang berada di pos satpam. Namun, Larasati mengurungkan langkah kala melihat bayangan Bara menuju ruang depan. "Lain kali saja, deh, aku temui Mas Jali," gumam Larasati seraya mengalihkan langkah menuju kamarnya. Wanita muda itu mengurungkan niat untuk menemui Jali karena dia tidak mau bertemu dengan Bara. Larasati bukannya marah dengan sikap Bara tadi, hanya saja dia masih merasa canggung jika bertemu dengan ayah dari anak susuannya. Dia maklum jika Bara bersikap demikian karena pasti pria itu melakukannya demi kebaikan sang putra. Di ruang tamu, asisten Bara berpamitan setelah menerima berkas pekerjaan. Pria yang usianya beberapa tahun di atas Bara itu terkesan terburu-buru. "Maaf Pak Bara, saya tidak bisa berlama-lama karena istri saya tadi berpesan agar saya segera pulang," pamitnya. Bara mengangguk, mengerti. "Tidak apa-apa, Mas Abi. Oh, iya. Saya dengar dari Jali, katanya istri Mas Abi habis melahirkan? Selamat ya, Mas. Akhirnya, setelah penantian panjang Mas Abi dan istri mendapatkan amanat juga dari Yang Maha Kuasa." Bara menatap sang asisten seraya tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan asistennya. "I-iya, Pak Bara. Alhamdulillah," balas asisten itu, sedikit gugup. "Karena itu, Pak Bara. Sekarang ini, saya tidak bisa bebas seperti dulu lagi," lanjutnya seraya terkekeh, mencoba mencairkan suasana hatinya sendiri yang tiba-tiba menjadi resah. Bara lalu mengantarkan tamunya sampai halaman depan. Pria yang merupakan asisten Bara itu segera malajukan mobilnya, meninggalkan kediaman sang Bos dengan perasaan yang tidak tenang. Pria itu lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Halo, Galuh. Apa kamu berhasil membuntuti Larasati? Di mana dia sekarang tinggal?" Pria yang merupakan asisten Bara itu ternyata adalah Abimana. Sementara orang yang saat ini dia hubungi adalah Galuh, pria muda yang tadi pagi menawarkan tumpangan pada mantan istrinya. Abimana sengaja menyuruh Galuh untuk membuntuti Larasati agar dia tidak kehilangan jejak ibu dari sang putra. Entah apa alasannya? "Maaf, Mas Bima. Saya kehilangan jejak Mbak Lara. Tadi, saya berhasil membuntuti sampai di suatu tempat, tapi begitu Mbak Lara masuk ke dalam mobil mewah dan mobil itu membawa Mbak Lara pergi dari sana, saya kehilangan jejaknya," terang Galuh dari seberang sana. "Bodoh, kamu! Kenapa kamu tidak mengikuti mobil itu, Galuh?" Abimana nampak sangat geram. Tangan kanannya yang memegang setir, terlihat mencengkeram setir mobil tersebut dengan kuat. "Saya sudah mengikutinya, Mas, tapi saya berhenti ketika mobil itu melewati tol kota. Saya tidak mungkin bisa menerobos dan masuk tol 'kan, Mas?" Keheningan sejenak tercipta. Abimana mengerutkan dahi dengan dalam, nampak berpikir keras. Suara Galuh yang memanggil-manggil namanya dari seberang sana tidak dia hiraukan. "Mas. Mas Bima masih di sana, kan? Saya akan berusaha untuk mencari Mbak Lara, Mas." "Apa kamu hafal dengan plat nomor mobilnya?" tanya Abimana dengan menurunkan nada bicaranya, setelah cukup lama dia terdiam. "Saya tidak memperhatikan itu, Mas Bima. Tapi saya masih ingat dengan pria yang mengendarai mobil tersebut." Abimana yang kecewa dengan jawaban orang suruhannya, langsung mematikan panggilan. Pria itu lalu menghela napas panjang. "Kamu tinggal di mana, Ra?" gumamnya sambil memukul-mukul setir mobilnya cukup keras. "Kamu bahkan belum mencairkan cek yang aku berikan. Padahal aku tahu, Ra, kamu cuma pegang uang sedikit sisa belanja." Abimana menambah kecepatan mobilnya. Dia yang tadinya berharap mendapatkan informasi tentang tempat tinggal sang mantan istri yang baru dan berencana untuk mendatangi Larasati, memilih untuk segera pulang menemui putra mereka berdua. Abimana ingin melepas rindu dengan mantan istrinya melalui sang putra. 'Maafkan aku, Ra. Aku tidak punya nyali untuk mempertahankan pernikahan kita.' Kegalauan terpancar dengan jelas melalui tatapan mata Abimana. Pria itu lalu tertawa sendiri seperti orang gila. "Aku telah terjebak dengan permainan yang telah aku setujui dan aku benar-benar jatuh cinta padamu, Ra!" teriaknya. bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN