Lily tahu apa artinya itu dan sudah membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu saat sapuan gelombang kekuatan yang jauh lebih besar memenuhi Acasa Manor dengan tiba-tiba. Refleks Wren langsung menurunkan Lily dan melesat ke arah sumber gelombang kekuatan dengan Lily menyusul tepat di belakangnya. Di dekat fountain halaman depan, Navaro mendarat dengan keanggunan mematikan sementara tangan kanannya mencengkram pergelangan tangan Axel dengan sangat kuat hingga pemuda itu meringis kesakitan. Hal yang luar biasa mengingat Axel sudah terlatih untuk menahan rasa sakit.
“Navaro!”seru Wren dan Lily serempak.
Navaro menatap kedua pendatang baru itu dengan datar meski cengkramannya di pergelangan tangan Axel tidak mengendur sedikitpun. “Tahu apa yang kurasakan?”tanya Navaro tajam.
“Navaro ini tidak seburuk yang kau pikirkan.”bujuk Lily sambil berjalan menghampiri Navaro dan Axel, seolah dia bisa membaca pikiran sang Malaikat Penjaga.
Navaro mengangkat tangannya, “Tetap disana, Lily. Jangan ikut campur.”ucap Navaro datar. “Kau akan kembali ke tempat dimana kau seharusnya berada, Axel.”
“Dad! Aku baik-baik saja!”seru Axel spontan.
“Aku tidak peduli.”
“Navaro... Jangan seperti ini. Aku dan Axel bisa menjelaskan apa yang terjadi.”bujuk Lily lagi tanpa bergerak dari tempatnya semula. Navaro mungkin malaikat paling baik hati yang pernah mereka kenal, tapi malaikat sebaik Navaro-pun tetap mematikan saat kemarahan mengendalikan sikapnya.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”
“Navaro...”panggil Wren tenang, “Kita bicara di dalam. Jangan bersikap bodoh.”
“Tahu apa kau tentang bersikap bodoh? Kau tidak punya anak! Bagaimana kau bisa tahu apa yang kurasakan saat merasakan Axel terluka? Tahu apa kau tentang hubungan ayah dan anak!?”sembur Navaro seketika.
Wren menatap Navaro tajam lalu mengangguk singkat tanpa mengalihkan tatapannya dari sang malaikat. Rahangnya bergetar menahan amarah, bukan karena ucapan Navaro, melainkan karena kenyataan kalau malaikat itu, temannya, membiarkan kemurkaan menguasai akal sehatnya. Hal yang selama ini hanya belum pernah terjadi. Tapi kalau saat ini dia juga membiarkan amarah mengendalikannya seperti yang dilakukan Navaro, maka akan terjadi keributan besar malam ini. Selama beberapa detik Wren menenangkan dirinya sebelum kembali bicara. “Kau benar. Aku tidak punya anak. Tapi bukan berarti aku tidak tahu apa yang kau rasakan saat mengetahui Axel terluka, El Rey.”ujar Wren dengan sengaja menggunakan nama panggilan Navaro.
Navaro berjengit mendengar Wren menyebut nama kecilnya. Saat itulah dia sadar kalau dia sudah mengatakan hal yang buruk. Sangat buruk. Sekian lama mereka berhubungan, Wren tidak pernah memanggilnya dengan julukan itu. Tidak peduli apa yang Navaro lakukan atau katakan, Wren tidak akan pernah mengingatkan Navaro akan siapa dirinya, karena Wren tahu Navaro tidak menyukai kenyataan itu. Hubungan mereka bukan antara malaikat dan budaknya. Mereka sahabat, dan dalam persahabatan tidak ada yang lebih atas atau bawah.
“Wren...”
“Aku tidak masalah dengan apa yang kau ucapkan. Kau berhak mengatakan apapun yang kau pikirkan. Tapi aku bermasalah dengan caramu memperlakukan anakmu sendiri di rumahku.”tukas Wren lalu menambahkan dengan cepat, “Kau tidak mau kita bicara di dalam? Baiklah. Kita akan bicara disini saja. Kau berjanji pada Axel 40 tahun lalu kalau kau akan membiarkannya tinggal di bumi selama yang dia inginkan, selama dia terus menjalani pendidikan manusia, selama tugasnya belum memanggil, dan selama_nyawanya tidak terancam. Tidak satupun dari hal itu yang dilanggar saat ini kecuali dari pihakmu. Axel masih menjalani pendidikannya disini, Cerubhim yang berkuasa saat ini adalah kau dan itu artinya Axel belum dibutuhkan disana. Nyawanya tidak terancam malam ini, besok atau kapanpun. Aku tidak akan membiarkannya. Kau sama sekali tidak mengatakan kalau kau akan menyeretnya pulang saat dia terluka.
Kau, Navaro, adalah malaikat tertinggi tepat di bawah Seraphim. Janjimu Layaknya sumpah bagi makhluk lain. Kau diwAdamibkan memenuhi semua janji yang telah kau ucapkan. Lalu kenapa kali ini kau melanggar janjimu sendiri, Navaro?”tanya Wren tenang.
Tepat sebelum Navaro menjawab, seseorang menyela pembicaraan mereka. “Bahkan saat mendekati evolusi, Calluella masih menepati janjinya untuk membiarkan dunia memiliki Cerubhim setelah mereka, Navaro.”gema sebuah suara seiring hembusan angin kencang yang tiba-tiba berhembus di sekitar Acasa Manor.
Langit yang tadinya dipenuhi bintang-bintang kini tertutupi awan gelap. Suhu udara menurun drastis bersamaan dengan sapuan gelombang kekuatan besar yang menyesakkan saat Lucifer mendarat tepat diantara Navaro dan Lily. Lucifer tidak merasa perlu menghilangkan sayapnya meski hal itu membuat Wren dan Lily tidak terlihat sama sekali.
“Dad.”gumam Lily pelan saat Wren malah berdecak tidak senang sebelum menyingkir dari belakang Lucifer agar tidak tertutupi lagi.
“Ini tidak ada hubungannya denganmu, Lucifer.”ucap Navaro datar dan sekali lagi tidak memikirkan apa yang diucapkannya. Karena kalau ada orang yang bisa membuat Navaro sadar melalui kekerasan, Lucifer adalah kandidat yang paling memungkinkan mengingat statusnya sebagai malaikat kegelapan.
“Itu benar. Tapi aku tetap harus meluruskan beberapa hal disini.”sahut Lucifer tenang, “Pertama, apapun yang terjadi pada Axel itu tidak disengaja. Tidak ada yang tahu siapa dia yang sebenarnya. Kedua, luka yang dialami Axel tidak berbahaya dan Lily sudah menyembuhkan luka itu tanpa tersisa. Ketiga, kau harus menepati apa yang sudah kau ucapkan. Itu bentuk tanggung jawabmu terhadap posisimu saat ini. Tapi yang paling penting adalah, kau tidak bisa mengharapkan Axel menjadi sosok yang bukan dirinya atau memaksanya untuk melakukan apa yang bahkan sudah kau tolak sejak dulu.”
Cengkraman Navaro di pergelangan tangan Axel perlahan mulai melonggar sebelum akhirnya benar-benar terlepas. “Saat panah itu tertancap di punggung Axel, saat itu aku melihat kembali apa yang terjadi dulu pada Sulli. Kehilangan Sulli saja sudah cukup berat untukku apalagi kalau sampai terjadi sesuatu pada Axel. Hati dan hidupku saat ini tidak lagi jadi milikku. Eliza dan Axel memilikinya. Mereka berdua membagi keduanya sama rata tanpa menyisakan sedikitpun untukku. Mereka berdua menggenggam hidup dan hatiku dalam tangan mereka. Kehilangan mereka akan menghancurkanku.”ujar Navaro dengan tiba-tiba mengungkapkan perasaan yang selama ini tidak pernah ditunjukkannya selain dihadapan istrinya.
“Dia puteramu. Wajar kalau kau merasa seperti itu. Tapi kau juga harus tahu kalau ada banyak orang yang mencintai Axel disini dan bersedia melindunginya dengan pengorbanan apapun.”ujar Lily pelan. Tidak lagi takut akan kemarahan Navaro, Lily mendekati kedua malaikat itu.
Navaro menoleh pada Axel dan mengangguk singkat. Perlahan Axel berdiri di depan Navaro tanpa mengucapkan apapun. “Berbaliklah, Nak.”
Axel mengangguk pelan sebelum berbalik hingga memunggungi Navaro. Dibelakangnya, Navaro mengulurkan tangan dan menyentuh punggung Axel. Cahaya kuning lembut menyinari tangan Navaro saat dia memastikan kalau kerusakan akibat panah itu sudah pulih sepenuhnya. Bahkan tidak ada racun yang tersisa dalam tubuh Axel. Setelah puas dengan apa yang ditemukannya, Navaro menarik tangannya dan membiarkan Axel berbalik lagi.
“Kau menyembuhkan semuanya.”ucap Navaro yang ditujukan pada Lily meski dia tidak memandang Lily sedikitpun.
Lily mengangguk, “Kau harus percaya kalau kami tidak akan membiarkan Axel terluka dengan sengaja, Navaro. Kau harus percaya kalau kami lebih rela menjadi korban daripada melihat Axel terluka. Kau juga harus percaya kalau kami pasti akan memberitahumu kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Axel.”
“Aku percaya Lily. Aku bahkan lebih percaya pada kalian daripada kaumku sendiri. Tapi rasa percaya itu tidak cukup untuk menenangkan resah yang kurasakan tadi.”ucap Navaro lelah, “Eliza bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau darahnya lah yang kusegel bersama darah Axel.”
“Itu karena pada dasarnya kau belum cukup mempercayai nyawa Axel pada mereka.”sela Lucifer.
“Aku bahkan mempercayakan nyawaku pada mereka.”balas Navaro.
“Kau lebih mementingkan nyawa Axel dibanding nyawamu sendiri. Dan keduanya berbeda. Bagimu tidak masalah meletakkan nyawamu di tangan teman-temanmu, El Rey. Tapi kau tidak akan mempercayakan nyawa orang-orang yang kau cintai pada orang lain. Tidak untuk Axel dan istrimu.”ujar Lucifer lagi.
Navaro menatap Lucifer sejenak sebelum mengangguk enggan dan sama sekali tidak sanggup menatap Wren ataupun Lily. Rasa bersalahnya pada kedua temannya itu terlalu besar malam ini. Kata maaf tidak berguna diantara mereka. Hanya waktu yang bisa menghapuskan semua perasaan itu.
“Bisakah aku bicara berdua dengan Dad?”tanya Axel tiba-tiba saat menatap Wren, Lily, dan Lucifer bergantian.
“Tentu.”sahut Lucifer cepat sebelum yang lain sempat menjawab apapun, “Ayo kita masuk, Nak. Kau juga butuh istirahat.”tambah Lucifer sambil meraih lengan Lily dan menariknya masuk kembali ke dalam rumah.
Wren menatap Axel dan Navaro sejenak sebelum melangkah di belakang Lily dan meninggalkan ayah dan anak itu di halaman depan Acasa Manor.
“Dad...”
“Aku tahu apa yang ingin kau katakan.”
Axel menggeleng pelan lalu mendekati ayahnya. “Tidak. Kau tidak tahu. Kau pikir aku menolak untuk kembali ke Regnum Angelorum karena semua kebebasan yang kudapatkan disini. Kau pikir aku berkeras tinggal disini karena membenci apa yang kau berikan padaku disana. Kau pikir aku bersama mereka karena aku lebih menyayangi mereka dari dirimu dan Mom.”ujar Axel cepat, “Kau salah. Aku menolak menghabiskan waktuku di Regnum Angelorum bukan karena itu semua, Dad. Aku adalah puteramu, yang bagaimanapun suatu saat nanti akan mengemban tanggung jawab yang sama denganmu. Menjadi Cerubhim, menjaga keamanan semua makhluk di alam semesta.
Aku tahu cepat atau lambat takdirku akan segera tiba. Tapi sebelumnya, aku ingin hidup ditengah semua masalah yang nanti akan menjadi tanggung jawabku, Dad. Aku ingin tahu dan merasakan sendiri bagaimana kerasnya hidup di bumi hingga banyak sekali makhluk yang mengingkari-Nya dan melanggar semua aturan-Nya. Aku tidak ingin dibesarkan dengan semua penjagaan dan semua pemberianmu. Sebagai Cerubhim, aku tidak bisa hidup dimanja seperti itu. Luka ini akan menjadi pelajaran untukku. Apapun yang terjadi disini akan menjadi pelajaran bagiku. To make me more wise than before... Make me mature and confident... Make me strong without your help... I need everything in here, Dad. For my best future... For our universe.”
Keduanya terdiam selama beberapa saat hingga Navaro yang lebih dulu membuka suara. “Kau tumbuh dengan sangat cepat saat aku masih menganggapmu bocah kecil yang sama yang selalu mengagumi sayap-sayapku. Aku tidak pernah berpikir kalau kau memikirkan semua sampai seperti ini. Kau benar. Suatu saat kau harus kembali ke Regnum Angelorum dan mengemban tugasmu. Tapi mengertilah... Aku hanya seorang ayah yang menyayangi puteranya dan cemas dengan keadaannya.”
Axel memeluk Navaro erat. “Aku juga menyayangimu, Dad. You’re my first hero. And you’re irreplaceable. Saat kau benar-benar membutuhkan bantuanku, aku pasti akan datang, Dad.”bisik Axel tulus.
“Berjanjilah untuk tidak membahayakan dirimu lagi, Nak. Meski aku bisa menerimanya saat ini, ibumu tidak akan pernah bisa. Ibumu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi kali ini. Berjanjilah padaku.”
“Aku tidak bisa berjanji untuk tidak terluka, Dad. Tapi aku berjanji untuk tidak sengaja mencari masalah.”
Navaro menatap Axel serius lalu menghela napas panjang. “Sepertinya aku harus puas dengan jawabanmu itu, bukan?”
Axel tersenyum. “Aku pikir kau harus minta maaf pada Pa dan Ma, Dad. Ucapanmu tadi cukup kejam.”
“Aku tahu. Tapi Wren tidak akan menerima permintaan maaf apapun dariku. Lebih baik menganggap semuanya tidak pernah terjadi.”gumam Navaro lirih walau dia juga tahu kalau ucapannya memang terlalu kejam untuk orang yang telah menjadi sahabatnya selama ini.
“Kau memiliki teman-teman yang baik, Dad. Aku iri padamu untuk itu.”
“Bukan teman-teman, Nak. Tapi keluarga. Keluarga, Axel.”ucap Navaro pelan.
Axel ingat apa yang ayahnya pernah katakan dulu sekali tentang hubungannya dengan Wren. Dulu Axel bertanya-tanya tentang hubungan ayahnya dan pemimpin klan Libra itu karena malaikat lain di Regnum Angelorum tidak ada yang berhubungan sedekat itu dengan makhluk non malaikat. Axel bertanya-tanya kenapa ayahnya bisa mengabaikan malaikat lain dan memilih Wren menjadi orang terdekatnya.
Family isn’t always blood. It’s the people in your life who want you in theirs. The ones who accept you for who you are. The ones who would do anything to see you smile and who love you no matter what.
***
“Sampaikan salamku untuk teman-temanmu di dunia sana.”bisik Rue saat mengakhiri keabadian vampir yang berada dibawah kakinya.
Dengan tenang Rue memutar belati yang tertancap di d**a vampir itu untuk memastikan jantungnya hancur. Vampir di kaki Rue berubah kembali ke usia aslinya. Tubuh yang tadinya tegap dan kekar itu kini menciut dan berkerut. Tanpa mengatakan apapun Rue bangkit dan mengelap belatinya dengan pakaian yang tersisa di atas debu sisa tubuh vampir yang tadi dibunuhnya.
Getar ponsel di saku celananya membuat Rue langsung menyelipkan belatinya kembali ke belt pinggangnya dan menerima video call dari Rainhart itu.
Wajah Rainhart muncul di Layar ponsel Rue sambil menyeringai lebar. “Sepertinya aku menelpon tepat pada waktunya.”
“Apa yang kau inginkan lagi, Rainhart? Bukankah kau sudah cukup sibuk saat ini dengan film barumu?”gerutu Rue sambil melangkah menyusuri gang gelap tempatnya memburu vampir yang menjadi targetnya.
“Hanya ingin memastikan kalau kau menikmati apa yang kuberikan. Bagaimana?”
“Lumayan. Dia berhasil melukai lenganku sedikit tapi pada akhirnya tetap aku yang menang, Rainhart.”
Senyum Rainhart yang terlihat di Layar ponsel Rue semakin lebar dan puas. “Aku tahu kalau aku bisa mempercayaimu.”ujar Rainhart bangga lalu senyum itu menghilang seketika. “Tapi sepertinya kita ada masalah, Rue. Pemimpin lokal menyadari kalau ada aktivitas perburuan vampir di daerah mereka. Saat ini mereka sudah menyebarkan hunter mereka sendiri untuk menangani masalah. Tidak ada perburuan antar ras kecuali bagi mereka yang bekerja untuk Oracle. Kau harus hati-hati dalam menjalankan misimu selanjutnya. Bahkan kalau perlu kita berhenti selama beberapa hari agar tidak dicurigai.”
“Aku selalu berhati-hati, Rainhart. Tidak perlu cemas.”
“Aku tahu. Hanya saja aku tetap tidak bisa berhenti mencemaskanmu.”
“Kau brother yang baik. Aku tidak akan membuatmu cemas, Rainhart. Kembalilah bekerja.”
“Berjanjilah untuk berhenti berburu sebulan ini, Rue. Aku mohon.”
“Kau gila! Sebulan? Tidak mungkin, Rainhart. Kalau kau meminta seminggu, aku mungkin akan memikirkannya. Tapi sebulan?”
“Sebulan, Rue. Vampir lokal yang akan kita hadapi ini tidak bodoh. Jangan lakukan hal apapun yang mencurigakan.”
“Aku tidak bisa berjanji.”gumam Rue pelan lalu menyadari lampu kecil di ponselnya berkelip menandakan ada panggilan lain di ponselnya. “Ada telepon lain. Kembalilah bekerja, Rainhart. Aku akan mengusahakan yang terbaik.”sambung Rue sebelum memutus percakapan mereka begitu saja dan menerima panggilan lain yang masuk ke ponselnya.
Telepon itu berasal dari operator rumah sakit tempatnya bekerja yang memintanya segera datang ke rumah sakit karena ada pasien gawat darurat yang baru masuk. Sialnya, bukan hanya satu pasien yang datang tapi 5 orang. Lima orang korban kecelakaan lalu lintas, dimana dua diantaranya mengalami trauma d**a yang saat ini sedang ditangani oleh dokter bedah yang sedang jaga.
“Aku akan segera kesana. Pastikan dr. Veryl bisa datang dan membantu. Kita membutuhkan keahliannya.”ujar Rue sambil menyebutkan satu nama dokter bedah sekaligus ahli genetika terbaik di London yang ada di rumah sakit mereka.
Setidaknya kalau dia memang harus libur berburu selama sebulan penuh, maka Rue akan menggantikannya dengan semua kesibukan apapun di rumah sakit. Demi Tuhan! Bagaimana bisa aku berdiam diri dan duduk manis selama sebulan di rumah!?
***
Axel memilih untuk meliburkan dirinya meski ada yang harus dikerjakannya di kampus hari ini. Lucifer masih berada di Acasa Manor dan Axel suka menghabiskan waktu bersama malaikat kegelapan itu. Ada banyak hal yang sering kali diceritakannya pada Axel, yang tidak pernah Axel dapatkan dari Tania, Sang Malaikat Sejarah. Tapi kali ini bukan cerita yang Axel dapatkan dari Lucifer melainkan sebuah hadiah. Hadiah yang membuatnya kehilangan kata-kata serta pikirannya dalam waktu yang bersamaan.
Sekali menatap Lucifer dengan bingung setelah pemberiannya mungkin masih bisa diterima oleh malaikat kegelapan itu. Tapi malaikat muda dihadapan Lucifer ini menatapnya bergantian dengan benda diatas meja dengan tatapan bingung selama 10 menit penuh tanpa kata-kata.
“Mau sampai kapan kau akan menatapku seperti itu, Bluebell?”tanya Lucifer tanpa bisa mencegah suaranya terdengar risih.
Axel kembali menatap senjata bermata ganda di atas meja dengan tidak percaya sebelum mengalihkan tatapannya pada Lucifer dengan bingung. “Ini sulit diterima, Grandpa. Dad bahkan belum mengizinkanku untuk memiliki senjata.”
“Aku sudah mengatakan padanya kalau aku akan memberikan Valdriss padamu. Aku pikir sudah saatnya kau memiliki sesuatu yang menggambarkan dirimu. Kekuatanmu disegel, Valdriss akan mengatasi kekuranganmu itu. Apalagi setelah apa yang terjadi padamu minggu lalu. Anggap saja Valdriss ini ucapan terima kasihku karena sudah menyelamatkan Lily dengan mengorbankan dirimu sendiri.”
“Tapi ini... Astaga! Valdriss ini...”
“Aku sendiri yang membuatnya dan kini aku memberikannya padamu. Sebelum kau mempersembahkan darahmu sendiri pada Valdriss, pedang itu akan menjadi hak milikku walau kau tetap bisa menggunakannya. Tapi kalau kau mempersembahkan darahmu, membasahi seluruh permukaan Valdriss dan membuatnya mengingat esensi-mu, Valdriss tidak akan bisa digunakan oleh orang selain dirimu. Hanya kau yang bisa menggunakannya, dan orang-orang yang berbagi darah denganmu.”
“Sama seperti Spathi Ourano?”
“Semua senjata yang aku buat seperti itu, Bluebell. Aku tidak berbagi. Itu prinsip yang kugunakan setiap kali membuat senjata. Senjata-senjata buatanku akan memilih tuan-nya dan melayani mereka sebaik mungkin.”
“Valdriss ini...”
“Kau takut terlihat, bukan?”tebak Lucifer cepat, “Tidak akan terlihat, Axel. Saat kau melipat kedua matanya, kekuatanku akan bekerja dan membuat kedua matanya menghilang. Hanya gagang tengah Valdriss yang akan terlihat. Dan itu hanya akan terlihat seperti aksesoris biasa.”
Axel menguji ucapan Lucifer dan menekan ukiran kecil di tengah gagang yang langsung membuat kedua mata tajam Valdriss melipat otomatis lalu menghilang meninggalkan gagang besinya berguling di atas meja.
“Astaga!”seru Axel takjub. “Aku hanya perlu membawa ini kemanapun aku pergi, dan kalau membutuhkannya hanya tinggal menekan tombol saja? Ini keren, Grandpa!”tambah Axel benar-benar mengagumi apa yang Lucifer berikan padanya.
“Karena kau harus membawanya bersamamu setiap saat, bluebell.”
Axel menangkap nada penuh kepuasan sekaligus rasa cemas dalam suara Lucifer barusan. Lucifer jarang menyertakan emosi dalam setiap ucapan yang keluar dari mulutnya kecuali saat bicara dengan putrinya. Kali ini Lucifer gagal menghilangkan emosi tersebut.
“Apa yang tidak kau katakan padaku, Grandpa?”
“Apa maksudmu, bluebell?”tanya Lucifer balik dan kali ini tidak ada emosi apapun dalam suaranya.
Axel mengernyit menyadari hal itu.
Bagaimana caranya berbohong atau mendapatkan kebenaran dari orang yang pertama kali melakukan hal itu hingga kosa kata ‘bohong’ ada dalam setiap kamus makhluk hidup?
“Aku merasa kalau kau merahasiakan sesuatu, Grandpa, walau aku yakin kau tidak akan mengatakannya padaku. Kalau bagi Dad aku masih kecil, aku yakin kau menganggapku masih bayi.”
Lucifer terkekeh pelan saat mendengar perumpamaan yang digunakan Axel dan mengulurkan tangan untuk mengacak rambut pemuda itu. “Tidak ada lagi yang bisa menjelaskannya dengan lebih tepat, bluebell.”ucap Lucifer geli lalu tiba-tiba menatap Axel serius, “Aku ingin memberikan lebih dari ini, Oidhre. Aku ingin memberikan darahku padamu. Agar setiap kali kau berada dalam bahaya, saat setetes darahmu mengalir karena kejahatan, aku bisa merasakannya juga. Setidaknya seperti yang kulakukan pada Lily. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Setetes darahku dalam tubuhmu, akan menimbulkan noda di sayapmu. Aku hanya bisa memberikan sebanyak ini untuk melindungimu. Semoga kau tidak pernah bersinggungan dengan kejahatan, semoga kau tidak pernah mengecap jejak kejahatan, semoga tidak pernah ada bibit kebencian dalam dirimu. Hanya kau, Axel Arisaka de Oidhre, satu-satunya malaikat yang aku ingin tidak bersentuhan dengan bayang-bayang kejahatan yang kutebarkan di seluruh permukaan bumi.”