15

2889 Kata
“Kalau aku bilang aku tidak keberatan menerima darahmu?”tanya Axel mengabaikan ucapan Lucifer yang lainnya. “Aku yang keberatan memberikannya, Oidhre. Aku. Setetes darahku akan menimbulkan corak kegelapan di sayapmu yang indah. Setiap malaikat yang melihat sayapmu akan langsung mengetahuinya. Tapi yang paling penting, darahku mewakiliki esensi keberadaanku. Apapun bentuknya, esensi keberadaanku ditolak di Regnum Angelorum, Oidhre. Kau tidak akan lagi bisa memasuki perlindungan Regnum Angelorum meski kau adalah Sang Penerus. Tidak peduli betapa penting sosokmu untuk masa depan, kau tidak akan pernah bisa bersinggungan dengan Regnum Angelorum lagi.” “Itukah yang terjadi selama ini padamu, Grandpa? Itukah alasan kenapa kau tidak pernah kembali kesana?” Lucifer tersenyum, “Bukan. Aku tidak pernah ingin kembali kesana, bluebell.”sahut Lucifer lalu menambahkan dengan cepat, “Selubung perlindungan Regnum Angelorum tidak akan bisa menghalangiku kalau aku berniat untuk kembali kesana dan mengacaukan tempat penuh cahaya itu.” “Kalau memang begitu, kenapa aku tidak bisa kembali kesana kalau aku menerima darahmu? Dan kenapa kau tidak pernah kembali kesana kalau kau memang bisa melakukannya?” “Darahku, esensiku, kekuatanku. Kau akan mendapatkan itu semua, bluebell. Tapi bagaimanapun juga, kau  tidak akan bisa memasuki Regnum Angelorum. Dibutuhkan kekuatan yang amat besar untuk menghancurkan selubung itu. Seluruh kekuatanku. Keinginanku kembali kesana tidak lebih besar daripada keinginanku untuk tetap berada disini.” Kenapa? Terkadang aku berpikir kau tidak sejahat apa yang dituliskan sejarah. Kau tidak seburuk apa yang diingat oleh para Malaikat Sejarah.” “Hanya jika aku ingin memperlihatkan sifat baikku, bluebell. Meski aku diusir dari tempat itu, aku masih The Fallen Angel. Ada sifat baik yang masih bertahan meski tidak banyak. Kau akan terkejut kalau aku menunjukkan sedikit saja hal yang membuatku diusir dari Regnum Angelorum.” “Aku tidak mengerti, Grandpa. Kau memiliki cinta dalam dirimu saat Sejarah meyakini kau tidak mengenal kata itu. Kau menyayangi banyak orang saat Sejarah menuliskan kebencian ada dalam setiap sel tubuhmu. Aku bahkan tidak lagi yakin kalau kau benar-benar mengguncang langit dan bumi karena melawan Sang Pencipta.” “Aku memang melakukannya, bluebell. Percayalah. Dan terkadang aku masih ingin melakukannya. Tapi kesenanganku menebar bibit kejahatan di bumi mengalahkan keinginan itu.”ujar Lucifer datar. “Aku akan memberitahukan sesuatu padamu. Aku melawan Sang Pencipta, dan membuat Seraphim, Cerubhim, serta malaikat lain menggabungkan kekuatan untuk mengusirku dari sana. Tapi tahukah kau? Kalau Sang Pencipta memang ingin melenyapkanku, Dia tidak butuh semua usaha itu. Satu kata yang Dia ucapkan, maka aku akan lenyap tanpa jejak dan bahkan tidak akan ada satu malaikatpun yang mengingat keberadaanku.. Dia tidak perlu melibatkan siapapun. Sang Pencipta tidak butuh bantuan siapapun untuk melenyapkanku. Meski aku tidak suka mengakuinya, tapi kekuatan-Nya tidak terbayangkan.” “Kalau kau tahu itu lalu kenapa kau melawan, Grandpa?” “Butuh Kejahatan untuk bisa membuat sesuatu menjadi Kebaikan, Oidhre. Harus ada keseimbangan di dunia ini. Aku memutuskan untuk mengambil peran itu agar yang lain bisa berada di sisi Kebaikan.”jelas Lucifer pelan, “Kau masih terlalu muda untuk mengerti hal ini. Kau hanya perlu mengingat satu hal. Ikuti kata hatimu, bluebell. Karena saat seluruh alam semesta menyesatkanmu, hanya kata hatimu yang akan menyelamatkanmu.” Axel menatap Lucifer sejenak sebelum mengangguk. “Satu pertanyaan, Grandpa?” “Tanyakanlah.” “Kenapa kau menyayangiku, peduli dan baik padaku saat kau menegaskan kalau satu-satunya hal di seluruh alam semesta ini yang kau pedulikan hanyalah Ma?” “Aku bisa saja menyebutmu bodoh karena menanyakan hal ini, bluebell. Tapi aku akan menjawabnya agar tidak terlalu banyak pertanyaan yang kau pikirkan dalam usiamu yang masih sangat muda ini.”tegur Lucifer lalu mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh d**a kiri Axel tempat jantungnya berdetak. “Hanya ada satu hal yang membuatku bersedia melakukan segalanya untuk orang lain selain Lily. Cinta, Axel. Kau mencintai Lily seperti ibumu sendiri. Bahkan sebelum kejadian itu. Darah yang kau korbankan untuk melindungi Lily saat itu hanya membuatku semakin peduli padamu lebih dari sebelumnya. Aku benci mengatakan hal ini, tapi aku peduli pada Wren karena cintanya pada putriku. Aku akan menyayangi semua yang mencintai putriku dan akan menjaga mereka dibawah perlindunganku.” “Ma mencintaiku seperti anaknya sendiri. Dia tidak berhak mendapatkan kurang dari ‘cinta anak pada ibunya’ untuk apa yang dia rasakan padaku.” “Itu adalah jawaban paling tepat untuk pertanyaanmu. Aku mencintai putriku_satu-satunya cinta yang bisa kurasakan saat ini_dan akan melakukan segalanya yang dia inginkan. Dan kau adalah putera Lily. Kau tidak berhak mendapatkan kurang dari kasih sayang, kepedulian, dan perhatianku padamu. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk menolak Valdriss. Percayalah, kau akan membutuhkannya dalam waktu dekat, bluebell.” Axel mau tidak mau mengangguk setuju. Dia sudah terpesona dengan wujud Valdriss sejak pertama kali Lucifer mengeluarkan benda itu dan menunjukkannya. Mendengar kalau Lucifer memberikan Valdriss padanya membuat Axel shock dan bersyukur. Dan karena Lucifer memberikannya dengan tulus, Axel akan menerima Valdriss dan menjadikan belati dua mata itu sebagai bagian dirinya. *** Imp Were Incubus Vampir Manusia Vampir Succubus Astaga... Manusia masih tidak mengetahui kalau mereka hidup di tengah makhluk yang selama ini mereka pikir hanya sebatas legenda.pikir Axel tanpa menghentikan langkahnya menyusuri koridor rumah sakit untuk menemui seseorang atas permintaan Wren yang luar biasa mendadak. Dia baru akan pulang saat pesan suara dari Wren masuk di PC-nya. Dalam pesan itu Wren menyuruh Axel menemui seseorang kalau memang ingin ikut serta dalam kunjungan ‘ramah-tamah’ ke daerah kekuasaan para Elf atas kejadian tiga hari yang lalu. Karena itulah meski hari sudah larut, Axel tetap melakukan perintah Pa-nya itu. Axel terus saja menggumamkan jenis setiap makhluk yang dilewatinya dalam pikiran hingga langkahnya membawa pemuda itu berhenti di depan sebuah pintu yang bertuliskan nama Dr. Veryl Khan, Sp.B pada papan nama digital yang terpasang disana. Selama dua detik penuh Axel menatap papan nama itu dengan dahi berkerut tidak percaya. “Ada yang bisa saya bantu?”tanya seorang wanita muda yang duduk di belakang meja tepat di depan ruangan yang dituju Axel. Senyum sopan muncul seketika di bibir Axel saat menoleh untuk menatap wanita yang menyapanya.  Manusia.pikir Axel geli karena mengingat apa jenis makhluk yang ada di dalam ruangan, menjadikan manusia sebagai resepsionis jelas bukan kombinasi yang normal. “Saya sudah ada janji dengan Dr. Veryl. Sampaikan padanya Axel sudah datang.”ujar Axel sopan walau sebenarnya itu semua tidak perlu. Orang yang akan ditemui Axel pasti sudah mengetahui keberadaan Axel mengingat ‘bau’ yang Axel bawa. “Silakan tunggu sebentar. Saya akan memberitahu Dr. Ver-“ “Tidak perlu, Analysse.”tukas sebuah suara bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan bertuliskan nama Dr. Veryl Khan. “Masuk saja, Axel. Bukankah aku sudah mengatakan itu sebelumnya?”tanya Dr. Veryl yang langsung berbalik sesaat setelah membuka pintu. Axel mengangguk minta maaf pada asisten Dr. Veryl sebelum melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Di luar, Analysse terpaku melihat kejadian itu. Dr. Veryl terkenal dingin dan tidak pernah membukakan pintu untuk tamunya apalagi bicara dengan nada menegur yang terkesan akrab seperti tadi. Dokter bedah nomor satu di rumah sakit Princess Royal itu juga terkenal jarang menerima tamu di dalam ruang kerjanya. Dia hanya menerima konsultasi di ruang poli bedah dan semuanya terjadwal dengan rapi setiap harinya mengingat dia hanya berada di rumah sakit sejak sore hingga malam hari. Di luar itu, butuh keberuntungan untuk mendapatkan jadwalnya yang kosong dan bertemu secara pribadi di ruangannya seperti saat ini. Analysse bahkan tidak pernah melihat Dr. Veryl menerima tamu umum di ruangannya selain direksi rumah sakit. Sementara itu, di dalam Axel duduk di salah satu sofa tunggal empuk di sudut ruangan sambil memperhatikan dekorasi interior ruangan tersebut. “Ini pertama kalinya aku mengunjungimu disini, Uncle Venom. Dan aku tidak menyangka kalau kau masih memakai desain 50 tahun lalu untuk ruanganmu. Tidak ada teknologi baru disini?”tanya Axel ringan saat mendapati ruangan Venom dipenuhi dengan rak-rak buku, meja kayu biasa, komputer dengan prosesor tua, serta pesawat telepon yang sudah ketinggalan zaman. “Aku lebih suka bekerja dengan yang hidup dan bisa kumanfaatkan.”sahut Venom ringan. Di dunia manusia, Venom dikenal sebagai Dr. Veryl Khan, Sp.B. Seorang ahli bedah terkemuka sekaligus ahli rekayasa genetika yang berhasil mematenkan penemuannya dalam bidang rekayasa DNA untuk mendapatkan keturunan yang membawa gen-gen pilihan. Di dunia vampir dia lebih dikenal karena keahliannya untuk mengenali segala jenis macam racun dunia iblis dan juga seorang hunter yang ditakuti. “Kenapa Wren sampai menyuruhmu kesini?” “Pa bilang kalau seminggu belakangan ini kau sibuk di rumah sakit dan jarang pulang. Jadi kalau aku ingin ikut mengunjungi para Elf, aku harus minta izin padamu.”ujar Axel ringan sambil mengeluarkan PC dari sakunya dan membuka sebuah window baru. Venom menatap Axel curiga, “Untuk apa kau ingin ikut dengan kami?” “Hanya ingin melihat langsung siapa yang melepaskan panah malam itu. Kalian pasti sudah mengenal orangnya sedangkan aku baru kali ini akan melihat sang Raja Elf secara langsung. Aku pikir ada baiknya aku mengenal banyak makhluk selama aku masih bisa tinggal disini.” “Mereka tidak terlalu suka dengan banyak tamu asing, Axel.” “Pa bilang kalau mereka berada dalam satu kubu dengan para malaikat. Seharusnya tidak ada masalah, Uncle.” Venom menatap Axel tajam lalu hanya bisa mengangguk pasrah. Axel tidak akan bisa dihentikan kalau dia merasa mendapatkan persetujuan dari Wren. Mau tidak mau Venom jadi kesal dengan apa yang telah Wren lakukan. Kalau dia memang sudah menyetujuinya, untuk apa menyuruh Axel meminta izin? “Ingat untuk tidak menyentuh benda apapun atau meminum atau memakan apapun selama disana. Mereka bisa terlihat sangat ramah, tapi percayalah, tidak ada yang bisa mengalahkan racun Sahasika selain para Elf.” “Kenapa mereka menggunakan racun kalau bisa bersikap ramah dengan menyediakan hidangan?”tanya Axel cepat tanpa menghiraukan kalau Venom baru saja menyebutkan nama salah seorang Oracle yang sangat ditakuti karena racun yang dimilikinya sama sekali tidak memiliki penawar. “Karena para Elf selalu menunjukkan kebaikan di depan siapapun selama orang itu belum menyerang mereka dan lebih suka menggunakan jalan tanpa kekerasan. Setidaknya menggunakan racun tidak membawa keributan apapun. Musuh akan langsung meninggal seketika atau paling tidak sekarat.” Axel mengangguk paham, “Aku mengerti, Uncle. Aku akan mengingatnya.”gumam Axel pelan sebelum menyeringai menatap Venom, “Perlu membawa senjata?”tanya Axel sambil menyentuh Valdriss dengan tangannya yang bebas. Venom mengikuti arah tangan Axel. Sejenak dia menganggumi benda yang tergantung di pinggang Axel itu. Sebagai orang yang mengenal Axel hampir seumur pemuda itu, Venom tahu kalau benda di pinggang Axel adalah senjata yang diberikan Lucifer. Masih ada jejak kekuatan Lucifer membayangi senjata di pinggang Axel itu. “Pastikan kau membawanya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi disana nanti.”gumam Venom setuju. “Berhubung kau masih disini dan tidak buru-buru, lebih baik kau membantuku membuat program keamanan untuk benda itu. Tadi pagi aku masuk ke ruangan ini aku merasakan sensasi asing yang tidak kukenali. Aku tidak suka ada yang mencuri lihat data pasienku, siapapun mereka.” “Untuk ukuran vampir yang sudah mengorbankan banyak nyawa, terkadang kau cukup baik hati, Uncle.”ejek Axel sambil berjalan menuju unit komputer yang disebut Venom sebagai benda itu. “Aku tidak keberatan mengorbankan siapapun, selama bukan pasienku.”gumam Venom malas. “Kami akan pergi besok malam. Silver Sky tidak bisa menunda pertemuan ini lebih lama tanpa memicu pecahnya perang.”tambah Venom kemudian. Di depan komputer, Axel mengangguk paham sambil mulai bekerja membuat program keamanan untuk unit komputer Venom. “Semua unit komputer di rumah sakit ini terhubung dengan MainData. Memasang program sederhana hanya bisa melindungi unit ini sendiri, bukan datanya. Kalau kau ingin aku membuat pengaman untuk datanya, aku harus meretas MainData dan memasang pengaman disini yang tidak akan bisa ditembus oleh apapun, bahkan oleh PrimeNet sekalipun.” “Singkat saja, Axel.” “Singkatnya, siapa saja yang kau inginkan bisa melihat data milikmu?” “Hanya aku sendiri.” Axel mengangguk paham lalu kembali bekerja. Venom membiarkan Axel berkutat dengan unit komputernya selama dia membaca data pasien di dalam PC miliknya. Venom sebenarnya menggunakan teknologi terkini seperti yang lain, tapi dia hanya paham pada penggunaan dasar. 50 tahun berlalu dengan membawa kemajuan teknologi yang sangat cepat hingga membuat Venom terlihat kuno. Apalagi setelah Axel membuktikan dirinya sebagai ahli elektronik jenius, Venom tidak merasa perlu memaksa dirinya mengerti banyak hal tentang elektronik selain cara penggunaannya saja. Hanya ada tiga hal yang bisa membuat Venom tertarik. Medis, racun, dan kesempatan untuk membalas dendam. “Aku tidak mengerti.”ujar Venom tiba-tiba. Axel mengalihkan perhatiannya dari Layar komputer pada Venom. Dahi vampir itu berkerut sambil menatap Axel dengan bingung. “Apa yang kau tidak mengerti, Uncle?”tanya Axel yang memutuskan kalau ucapan Venom yang tiba-tiba ini lebih membuatnya tertarik dibandingkan tugasnya untuk memasang pengaman di data Venom. “Kau masih muda dalam usia manusia. Good looking dan jenius. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu mengencani wanita sekalipun? Apa kau normal?” Tawa Axel langsung meledak saat itu juga begitu Venom selesai bicara. Dia tidak menyangka kalau vampir tua itu akan menanyakan hal luar biasa seperti masalah orientasi seksualnya. Dengan susah payah Axel berusaha menghentikan tawanya untuk memberikan penjelasan pada Venom tanpa harus menyebut nama Wynne atau menyinggung keberadaan wanita itu. “Astaga, Uncle! Kau benar-benar luar biasa!”seru Axel sebelum kembali tertawa lepas. “Bukan berarti karena kau tidak pernah melihatku mengencani wanita itu artinya aku gay. Langit bisa gempar kalau itu sampai terjadi. Aku normal, Uncle. Senormal dirimu, Pa, Dad, dan yang lainnya.”jelas Axel tenang. “Lalu kenapa kau tidak pernah mengencani wanita dan lebih memilih berkencan dengan benda mati itu setiap hari?” Axel mengangkat bahunya santai, “Aku juga tidak tahu kenapa aku lebih tertarik menghabiskan waktu dengan semua benda-benda penuh misteri ini dan keluargaku dibandingkan mengencani wanita-wanita yang mengejarku.” “Kau memang tidak normal.”gumam Venom yakin. Sekali lagi Axel terbahak sebelum menggeleng takjub. “Anggap saja aku belum menemukan wanita yang ingin kukencani. Terbiasa menghabiskan waktu dengan wanita-wanita luar biasa seperti Mom, Ma, Aunty Amee, Aunty Gabby, dan Kaly membuatku memiliki standar yang cukup tinggi, Uncle.” “Kalau kau berharap menemukan wanita yang seperti mereka, kau tidak akan menemukannya. Dunia akan lebih dulu kiamat kalau sampai ada dua orang yang memiliki sifat sama dengan mereka semua.”gumam Venom setulus hatinya karena dia pun tidak ingin bertemu dengan orang lain yang memiliki tingkah laku dan sifat yang sama seperti wanita-wanita yang tadi disebutkan oleh Axel. Terutama Mistress mereka yang luar biasa. Axel tersenyum sebelum kembali pada pekerjaannya. Memang tidak sama, Uncle. Tapi wanita yang kuinginkan untuk bersamaku sudah pernah ada dulu dan aku tidak bisa menjaganya agar tetap disisiku. *** Siapa yang menduga kalau kunjungan yang harusnya hanya dilakukan Wren bersama Venom dan Axel kini berubah menjadi rombongan vampire master sejak kemunculan Zac dan Alby beberapa jam sebelum mereka berangkat. Yang paling terkejut tentu saja Axel, karena dia tahu kalau sang nosferatu itu masih ingin mengajak putri dan istrinya berlibur lebih lama, alih-alih muncul di Acasa Manor bersama vampire kepercayaannya. Axel juga sama sekali tidak punya ide bagaimana Alby bisa muncul hari itu ketika sebulan terakhir tidak ada kabar dari sang Dream Hunter yang lebih sering menghabiskan waktu bersama anggota klan lain dibandingkan anggota klan Libra itu sendiri. “Mereka akan berpikir kalau kita berniat menyerang mereka dengan kelompok sebanyak ini.”gumam Wren saat limosinnya melaju menuju utara London tempat gedung-gedung tinggi tidak mendominasi dan masih banyak hal-hal alami yang bertahan. “Aku menduga akan ada masalah. Dan benar saja. Chale mengatakan kalau ada janji temu antara kau dan Tristan Ar Sakha. Silver Sky jarang menemui makhluk yang bukan anggota kaumnya. Ini kesempatan langka untuk melihat Siver Sky mengadakan pertemuan antar makhluk abadi.”ujar Alby ringan. “Bagaimana Chale bisa tahu saat dia tidak berada di London?”tanya Wren penasaran. Alby menatap Wren dengan mata menyipit, “Kau lupa kalau Chale sekarang lebih sering menghabiskan waktunya di Asia? Kawanan Elf terbesar ada di Asia, Wren. Dan pengaruh Silver Sky jelas tidak mengecil disana.” “Berarti bukan para vampir yang besar mulut.”gumam Wren lega, “Dan kau sendiri, Zac?” “Archard yang memberitahuku.”sahut Zac cepat sambil melirik vampir kepercayaannya yang duduk paling jauh di dalam limosin tersebut. Wren mengamati Archard sejenak dalam diam sebelum mengangguk pasrah. Dia segera terlibat pembicaraan serius bersama Zac beberapa saat kemudian. Sedangkan Venom dan Axel tidak mengatakan apapun. Venom hanya duduk bersandar sambil memejamkan mata dan Axel sibuk dengan PC-nya. “Kita seperti akan menghadiri rapat bisnis manusia.”gumam Axel tanpa mengalihkan perhatiannya dari PC di tangannya. Setidaknya Axel selalu merasa nyaman kalau bisa melakukan sesuatu dengan PC-nya dibandingkan berdiam diri tanpa bicara atau menggerakkan jari-jarinya. “Kendaraan mewah, pakaian rapi, dan waktu pertemuan yang diatur dengan rapi.”gumamnya kemudian. “Ini sudah menjadi kebiasaan Wren sejak mobil pertama dirakit, Kid. Kau tidak akan pernah menemukan dia hadir dalam pertemuan apapun tanpa semua atribut itu. Baik manusia ataupun yang lainnya.”gumam Zac datar. Wren hanya menyeringai sebelum membalas ucapan rajanya. “Kau juga menyukainya belakangan ini.” Zac tidak menjawab ucapan Wren karena apa yang dikatakannya memang benar. Tapi tetap saja, Zac mengenal semua ini karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama vampir yang sangat mencintai peradaban manusia ini. Karena bisa dipastikan kalau bukan karena Wren, Zac lebih nyaman dengan kesendiriannya selama ini. “Kita sudah hampir sampai.”gumam Alby pelan sebelum mengembalikan intensitas kegelapan kaca limosin seperti semula dengan menekan tombol di tepi meja bar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN