Zagiel tidak bergerak dari tempatnya berdiri saat Adramelech menampakkan wujudnya di tengah-tengah aula rumahnya. Adramelech bukan iblis yang ramah dan jelas bukan iblis yang bisa ditemukan dengan mudah bahkan untuk sesama iblis lainnya. Butuh waktu berminggu-minggu bagi Zagiel untuk mencari keberadaan iblis pemangsa itu. Kalau bukan karena rasa takutnya terhadap apa yang Belial bisa lakukan padanya, Zagiel tidak akan pernah mengundang Adramelech masuk ke kediamannya. Mengundang iblis masuk ke dalam rumah hanya akan membuat iblis itu punya akses permanen untuk mendatangi tempat tersebut.
“Adramelech.”sapa Zagiel datar saat wujud sang iblis benar terbentuk sempurna dari balik asap hitam.
Adramelech mengambil wujud laki-laki bertubuh besar dan berkulit hitam. Rambut hitamnnya yang panjang dibiarkan tergerai sementara pakaiannya jelas mencerminkan kalau dia tidak suka sesuatu yang rapi. Adramelech mengenakan celana kulit hitam dan jaket kulit tanpa mengenakan kaos dalam. Dadanya dipenuhi banyak tato tulisan kuno yang semuanya merupakan kutukan bagi siapapun yang bisa melafalkannya.
“Keberanianmu memanggilku membuatku kagum, Zagiel.”ujar Adramelech sambil menyeringai dan memperlihatkan gigi-giginya yang runcing dan kotor.
Dalam kasta iblis, Adramelech sebenarnya berada di bawah Zagiel. Namun karena kebuasan dan kekejamannya membuat Adramelech disegani dan ditakuti oleh sebagian besar iblis tingkat tinggi kecuali para iblis kuno. Dan Zagiel jelas bukan iblis bodoh yang akan bersikap angkuh di depan iblis pemangsa seperti Adramelech.
“Ada yang ingin bertemu denganmu.”
“Ingin bertemu denganku? Dan aku yang harus menemuinya?”
Zagiel mengangguk singkat. “Tuanku Belial yang ingin bertemu denganmu.”
“Belial? Bukankah dia masih tertidur di ShadeZone?”tanya Adramelech cepat.
“Tuanku Belial sudah berhasil keluar. Kekuatannya hampir pulih, namun untuk mendapatkan kekuatannya seperti dulu, dia membutuhkanmu.”
“Aku?”
“Ya. Karena itu dia ingin bertemu denganmu dan membicarakannya langsung.”
Adramelech tertawa kencang hingga membuat Zagiel bergidik. “Bukankah Belial terkenal dengan kejutannya? Dia selalu muncul dimanapun yang dia inginkan. Apa sekarang dia tidak bisa melakukannya?”ejek Adramelech tanpa menghentikan tawanya.
“Dia masih bisa melakukannya. Jangan menghinanya lebih dari ini, Adramelech. Bahkan meski banyak iblis yang takut padamu, Tuanku bukan salah satunya. Dia bukan hanya iblis. Kau bukan tandingannya.”
Adramelech mengibaskan tangannya. “Aku tidak peduli. Aku tidak takut pada siapapun.”sahutnya ringan. “Jadi, kapan dan dimana Belial ingin aku menemuinya?”
“Segera setelah kau menyetujuinya, aku yang akan membawamu padanya.”
“Aku siap sekarang juga untuk bertemu dengan iblis yang baru keluar dari ShadeZone itu.”balas Adramelech cepat lalu menyeringai lebar saat melihat ketakutan dalam gerakan ragu Zagiel untuk menyentuhnya.
***
Pada satu tanggal tertentu, di setiap tahunnya, Axel akan memilih untuk menyendiri. Kali ini dia tidak perlu mencari alasan untuk bepergian. Kaly belum pulang dari liburannya dan orangtuanya ada di Regnum Angelorum. Lily dan Wren tidak akan menanyakan kemana dia pergi karena mereka sudah terbiasa melihat Axel muncul hanya sekali dalam dua atau tiga hari karena kesibukan kuliah dan pekerjaannya. Kalau pada tanggal itu kebetulan Axel sedang berada di Regnum Angelorum, maka dia akan mencari cara apapun untuk bisa turun ke bumi. Kebiasaan yang muncul sejak 4 dekade yang lalu.
Pada tanggal istimewa itu, Axel akan berkendara kemanapun yang dia inginkan walau pada akhirnya hanya ada satu tempat yang akan dituLiamya saat malam datang di hari yang sama. Bagaimanapun bahagianya Axel di hari-hari yang lain sepanjang tahun, tubuhnya seolah memiliki pikiran sendiri setiap tanggal istimewa itu tiba. Tidak peduli apa yang seharusnya dilakukannya hari tersebut, selama hari itu bertepatan dengan tanggal 6 Mei, Axel akan meninggalkan segala kesibukannya dan menyendiri dari seluruh keluarga dan orang-orang yang dikenalnya.
Sekuat apapun Axel berusaha melupakan peristiwa pada tanggal tersebut, seluruh ingatan itu akan terputar kembali dari awal dalam kepalanya seolah ada tangan tak kasat mata yang menekan tombol play dan memutar kenangan itu. Kenangan akan satu-satunya hal yang dirahasiakan Axel dari seluruh orang termasuk kedua orangtuanya. Kenangan yang hanya dimiliki Axel seorang karena kebodohannya saat itu. Kenangan akan kenakalannya yang pertama. Kenangan yang bisa menghabiskan kendali diri Axel dan membuatnya dibanjiri emosi menyesakkan. Kenangan akan wanita pertama yang menggugah hati sang malaikat muda.
Bahkan kali ini saat Axel tengah berkendara melalui M40, ingatan itu menyerbu Axel dengan tiba-tiba, membuatnya menepikan mobil dan menyandarkan kepalanya di bantalan jok. Setiap kali ingatan itu muncul, emosi mengancam meledak di dadanya. Tidak jarang Axel menangis sewaktu kenangan itu masih begitu segar dalam ingatannya. Tapi kini setelah berlalunya waktu, Axel tidak lagi menangis seperti dulu. Axel hanya butuh ketenangan untuk kembali mengendalikan dirinya. Itulah alasan kenapa Axel memilih untuk menyendiri agar tidak seorangpun mengetahui kalau dirinya juga bisa kehilangan kendali Layaknya manusia.
Regnum Angelorum, 2020...
Axel berdiam diri di kamarnya.
Sejam yang lalu Kalyca, atau yang lebih sering Axel panggil dengan Kaly memberi kabar tentang keberadaannya melalui Leela, salah seorang anggota Cadre 7 yang memang sering pulang pergi dari Plymouth-London. Gadis itu sudah berada di Acasa Manor saat ini. Axel ingin segera berkunjung ke tempat itu, bukan hanya karena Kaly sudah ada disana, namun dia suka berada di tempat itu bersama Pa dan Ma, lalu banyak orang lainnya yang ada disana. Di rumahnya yang sekarang hanya ada dirinya, Mom dan Dad. Bahkan teman-teman ayahnya jarang berkunjung belakangan ini. Setiap tahun mereka akan berkumpul di Acasa Manor untuk liburan musim panas. Begitu juga dengan tahun ini, namun entah kenapa ayahnya belum juga mengajak mereka ke London.
“Axel?”panggil sebuah suara lembut dari depan pintu kamarnya.
Itu ibunya. Wanita cantik, penuh kasih sayang, dan yang sangat dicintainya. “Yes, Mom?”
“Bolehkah Mom masuk, sayang?”
“Sure, Mom. Get in, please.”balas Axel sambil membukakan pintu untuk ibunya.
Eliza tersenyum pada anaknya saat melangkah masuk ke dalam kamar yang semakin lama berbau maskulin itu. Eliza semakin sadar kalau puteranya kini sudah beranjak dewasa_dalam hitungan kaum mereka tentunya_meski kedewasaan itu akan terhenti pada masa tertentu. Saat kaum mereka memiliki emosi yang dinamakan cinta.
“Ayahmu minta maaf tidak bisa menemuimu langsung, dia dipanggil ke curia Seraphim. Dan sepertinya kunjungan kita ke London ditunda selama 3 hari kedepan.”ujar Eliza yang langsung melihat perubahan raut wajah puteranya. Axel selalu bersikap ceria untuk pemuda seusianya, namun kini tidak tersisa sedikitpun keceriaan diwajah tampan itu. Keceriaan yang sedetik lalu masih ada disana kini digantikan dengan ekspresi muram khas anak-anak “You’re getting upset, honey. Sorry.”bisik Eliza sambil mengulurkan tangan untuk mengelus pipi puteranya.
“Semuanya sudah disana. Leela baru saja memberi kabar kalau Kaly menelpon untuk memberitahu keberadaannya, Mom. Tidak bisakah kita pergi tanpa Dad? Dia selalu bisa menyusul kita kapan saja.”tanya Axel penuh harap. Karena seharusnya mereka sudah berada di London 3 hari yang lalu. Hanya tinggal seminggu lagi sebelum tanggal 7 Juli, dimana British Summer Festival akan berlangsung di seluruh penjuru Inggris.
“Kita tidak bisa, sayang. Mom juga sudah mengabari Lily tentang masalah ini. Lagipula libur musim panas baru saja dimulai, kita juga baru beberapa hari disini, sayang. Ayahmu harus melaporkan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Kau masih memiliki banyak waktu untuk tetap liburan di London, honey.”
Axel mengangguk pelan.
Dia paham dengan apa yang menjadi tanggung jawab ayahnya. Sangat paham_karena suatu saat nanti, dialah yang akan mengemban kewajiban itu menggantikan ayahnya. Mengingat siapa ayahnya, wajar saja kalau Navaro memiliki tanggung jawab besar terhadap banyak hal dan melaporkannya langsung pada Seraphim. Tapi terkadang itulah yang membuat Axel tidak senang.
Ayahnya memang menyayanginya. Axel tahu itu dan tidak meragukannya sedikitpun. Tapi beberapa bulan belakangan ini, ayahnya jarang berada di rumah selain untuk sarapan dan makan malam. Diluar waktu itu, ayahnya lebih sering berada diluar untuk memantau perkembangan restorasi baru yang dia lakukan sejak kembali secara permanen ke Regnum Angelorum. Sebagai malaikat, Axel tidak membutuhkan apapun selain kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya yang kini semakin sulit didapatkannya. Beda dengan setiap waktu yang Axel habiskan di Acasa Manor. Setiap kali dia berkunjung, Pa dan Ma-nya pasti selalu ada untuknya. Mereka selalu menyediakan waktu untuk dihabiskan bersamanya tidak peduli betapa sibuknya mereka saat itu. Selalu ada orang lain yang bisa menggantikan pekerjaan mereka, tidak seperti ayahnya.
“Kalau begitu istirahatlah. Kau sudah lelah setelah seharian berlatih dengan Javas. Mom akan membangunkanmu saat makan malam nanti.”ujar Eliza lembut saat mengusap kembali wajah puteranya sebelum berjalan keluar.
Axel memperhatikan ibunya keluar dari kamarnya. Dia sudah memutuskan sesuatu. Hal pertama yang diAjarkan ayahnya saat Axel sudah bisa mengontrol kekuatannya adalah teleportasi. Menurut ayahnya, tidak semua makhluk bisa melakukan hal itu. Hanya kaum ayahnya dan dua makhluk lainnya, werewolf serta sanguin mixta yang bisa melakukan perpindahan tempat. Tapi hanya malaikat dari kasta tertentu yang bisa melakukan perpindahan waktu. Dan kemampuan itulah yang paling penting dimiliki saat sedang terdesak dan tidak bisa melakukan apapun. Selain teleportasi, Axel baru bisa mengontrol kekuatan telekinetisnya dan beberapa gerakan pertarungan tangan kosong sebagai hasil latihan fisik dari Javas. Axel tahu kalau ayahnya adalah yang terhebat dalam pertarungan. Sejarah mencatat semua yang dilakukan Navaro dan belum ada yang mengalahkannya hingga saat ini. Namun ayahnya selalu mengatakan kalau dia tidak akan pernah tega menghajar puteranya sendiri tanpa membunuh dirinya sendiri lebih dulu. Bagi Navaro, lebih mudah untuk memotong tangannya sendiri daripada membuat puteranya terluka karena pedangnya. Karena itulah untuk latihan fisik diserahkan ayahnya pada salah satu temannya yang paling mahir di lapangan.
Ada satu hal lagi yang menurut ayahnya harus dilatih Axel.
Kemampuan untuk berubah wujud menjadi bentuk sempurna dari seorang malaikat.
Kemampuan yang hanya muncul saat malaikat yang bersangkutan sudah cukup kuat untuk mengendalikan kekuatannya karena wujud sempurna dari seorang malaikat bahkan bisa melukai makhluk abadi lainnya dan bisa dengan mudah membunuh manusia. Axel sendiri pernah tidak sadarkan diri saat melihat wujud sempurna ayahnya. Sosok yang sangat indah. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keindahan wujud asli dari malaikat, apalagi malaikat tingkat tinggi seperti Navaro.
Dengan gerakan cepat Axel meraih ranselnya dan mengisinya dengan barang-barang yang dia butuhkan. Satu set pakaian, peralatan mandi, uang tunai manusia, dan beberapa benda lainnya yang berguna. Axel ingin sekali keluar dan mengambil salah satu pedang ayahnya, namun dia tidak berani. Selama ini ayahnya tidak pernah melarang apapun yang Axel lakukan, kecuali menyentuh pedang-pedang ayahnya. Menurut ayahnya, Axel belum siap untuk menggunakan pedang-pedang itu, lagipula Axel selalu diawasi oleh anggota Cadre ayahnya. Tidak ada alasan bagi Axel untuk membawa senjata dengan semua pengawalan dari malaikat-malaikat pejuang ayahnya. Dan sekarang Axel akan pergi ke London, kota yang berada dibawah pengawasan Pa-nya. Dia akan aman seperti yang selama ini dia dapatkan. Setidaknya itu yang Axel harapkan.
Setelah yakin kalau semua yang dia butuhkan ada didalam ransel, Axel menulis sebaris kalimat di secarik kertas dan meninggalkannya di atas bantal. Ibunya tidak akan menemukan kertas itu sebelum makan malam karena Eliza sudah bertekad untuk membiarkan Axel beristirahat setelah latih tandingnya dengan Javas. Dan waktu makan malam masih ada 5 jam lagi.
Itu cukup.
Namun jauh didalam hatinya, Axel benar-benar berharap kalau 5 jam itu cukup baginya untuk sampai dengan selamat di Acasa Manor, tempat yang menjadi kediaman Pa dan Ma-nya. Karena pilihan apapun selain itu hanya akan membahayakan nyawanya dan juga nyawa makhluk apapun yang ‘mungkin’ mengancam jiwanya. Kemurkaan malaikat adalah hal yang harus ditakuti setiap makhluk tapi pembalasan dendam dari Cerubhim yang murka jelas merupakan mimpi buruk bahkan bagi para Archangel. Karena itu Axel benar-benar berharap tidak ada makhluk apapun yang mengganggunya nanti di bumi.
Sambil menyandang ranselnya, Axel memusatkan perhatiannya pada salah satu tempat di London. Axel berharap kalau kekuatannya cukup untuk menembus penghalang yang dipasang ayahnya di sekitar Acasa Manor dan langsung berteleportasi ke tempat itu. Namun sayangnya kekuatan Axel belum cukup. Dia bahkan tidak bisa berteleportasi ke rumahnya sendiri di Windsor karena tempat itu juga memiliki lapisan pelindung yang sama seperti yang dimiliki oleh Acasa Manor. Jadi satu-satunya cara hanyalah berteleportasi ke tempat yang tidak terlindungi dan sepi namun cukup dikenalnya.
Sedetik Axel masih berada di kamarnya, namun sedetik kemudian dia sudah muncul di belakang toko Lily. Proses teleportasi memang menghemat banyak waktu. Sama seperti di rumahnya, di London sudah malam, toko Lily sudah tutup. Walau jauh di dalam hatinya dia ingin sekali bertemu seseorang yang dikenalnya di tempat ini, saat ini juga. Setelah beradaptasi selama beberapa detik, Axel melangkah keluar dari gang sempit di belakang toko Lily. Axel tidak yakin saat ini di London sudah menunjukkan pukul berapa mengingat dia sendiri tidak mengenakan jam tangan atau apapun yang bisa menunjukkan waktu saat ini. Dari setiap kunjungannya, Axel hanya tahu kalau London selalu ramai tidak peduli jam berapapun itu.
“Aku disini. Tanpa Mom dan Dad.”bisiknya pada diri sendiri.
Axel tahu kalau dia harus segera mencari cara untuk pergi ke Acasa Manor. Tapi dia tidak akan mungkin mendapatkan kesempatan seperti ini dua kali. Kemanapun dia melangkah, selalu ada orang yang akan mengawalnya. Tidak peduli apakah itu anggota cadre ayahnya, atau anggota barisan Pa-nya. Jadi, berada seorang diri di tengah kota London benar-benar kesempatan yang tidak akan datang dua kali dalam hidupnya.
Axel bergabung dengan para pejalan kaki lain yang sibuk lalu lalang di depan toko Lily. Dia akan pergi kemanapun langkah kaki membawanya. Dia aman dari manusia. Tidak ada manusia yang bisa menyakitinya.
Setelah 15 menit berjalan kaki tanpa arah, Axel menemukan sebuah gedung bertingkat dengan papan nama berkelip di depannya. Axel seperti mengenal tempat itu, hanya saja dia tidak terlalu yakin karena baik orang tuanya maupun Ma dan Pa nya pasti tidak akan pernah membawanya ke tempat ini dengan alasan apapun juga. Banyak sekali orang yang memasuki gedung itu dan sebagian besar berpakaian minim yang akan dengan mudah menggoda hasrat manusia. Dengan penuh tekad Axel melangkah masuk ke dalam gedung itu dan seketika itu juga pendengarannya dipenuhi dengan musik-musik yang dimainkan oleh DJ.
“Wow! Ini dia yang namanya klub!”seru Axel senang lalu mulai melangkah lebih jauh. Rasa penasaran akibat gairah kebebasan yang baru dimilikinya membuat Axel tidak berpikir dua kali tentang apa yang akan dia lakukan dan apa akibatnya. Yang dia tahu hanyalah dia harus masuk ke dalam gedung ini.
Sebagai anak dari sang Cerubhim serta demi keamanannya, aura malaikat milik Axel langsung tersegel begitu dia keluar dari perlindungan Regnum Angelorum namun tetap bisa merasakan aura makhluk lain. Di tempat itu, Axel merasakan ada banyak aura makhluk gaib lainnya. Vampir, imp, succubus, incubus, bahkan ada juga iblis disana. Meskipun begitu, tidak terjadi keributan apapun. Sesuatu yang patut diberi penghargaan karena setiap makhluk di tempat ini saling bermusuhan satu sama lain dan tetap tidak ada kekacauan yang terjadi. Mereka berbaur dengan nyaman dan menikmati segala fasilitas di klub tersebut. Axel takjub melihat berbagai makhluk bisa saling berdampingan menikmati hiburan tanpa saling membuat masalah.
Axel menghampiri meja bar dan mulai membaca menu yang ada di buku. Matanya meneliti setiap nama minuman, berharap ada satu saja yang tidak mengandung alkohol. Alkohol selalu membuat Axel tidak bisa mengontrol kekuatannya meski dalam keadaan tersegel. Terakhir kali dia mengkonsumsi alkohol adalah liburan musim panas tahun lalu di salah satu villa milik Pa-nya. Dia dikerjai oleh salah satu anggota barisan Pa-nya dan beruLiamg dengan berteleportasi tanpa tentu arah setiap 10 menit hingga membuat Navaro harus mengikuti Axel kemanapun dia berpindah, padahal saat itu segel kekuatannya masih aktif, fakta yang seharusnya membuat Axel tidak lebih dari manusia biasa.
Tidak jauh dari tempatnya duduk, di salah satu bilik, terdapat sekelompok manusia yang sedang bersulang dengan berbotol-botol minuman di meja. Satu hal yang membuat Axel tertarik adalah salah satu anggota kelompok itu tidak menyentuh minuman apapun sama seperti Axel. Dia hanya tertawa bersama teman-temannya dan sesekali melemparkan jawaban ringan yang mengundang tawa kelompoknya. Axel sadar kalau amat sangat jarang manusia tidak menyentuh alkohol saat mengunjungi klub. Tapi baik dirinya sendiri maupun wanita yang saat ini diamatinya, mereka berdua tidak menyentuh alkohol sama sekali. Wanita itu mengenakan sejenis pakaian yang menurut Axel sangat aneh dibandingkan teman-temannya yang berpakaian minim dengan warna-warna cerah. Stelan kemeja putih dengan celana panjang sutra warna hitam jelas bukan pakaian yang akan dipilih wanita lain untuk datang ke klub. Axel pernah melihat manusia memakai pakaian seperti itu di kantor Pa-nya dan itu adalah pakaian pekerja kantoran.
Apapun yang dilakukan wanita itu berhasil menarik perhatian Axel hingga dia bahkan lupa untuk memesan minuman. Perhatiannya tidak pernah beralih dari wanita berkemeja putih itu. Saat wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan perlahan berjalan keluar dari klub, Axel pun mengikutinya seolah wanita itu adalah magnet bagi Axel.