Wynne tersenyum saat menyadari kalau teman-temannya memang benar. Malam ini adalah kali pertama Wynne bergabung bersama teman-temannya di Picasa dan membuktikan sendiri kalau pengunjung Picasa nyaris bisa dikatakan didominasi oleh laki-laki tampan. Namun dari semua pengunjung Picasa malam itu, perhatian Wynne terpaku pada seorang pemuda yang duduk di meja bar. Pemuda yang terlihat paling berbeda meski dikelilingi oleh banyak pengunjung lain di sekitarnya.
Meski dari jarak beberapa meja dari tempatnya saat ini, Wynne dapat melihat jelas profil wajah pemuda itu dibantu dengan cahaya lampu yang cukup terang dari sudut meja bar. Wajahnya yang tampan dan kenyataan kalau dia tidak memesan minuman apapun membuat Wynne tertarik untuk memperhatikan lebih lama dari yang seharusnya. Pemuda itu juga tidak berbicara dengan siapapun, dia hanya memperhatikan sekitarnya dalam diam.
Wynne ingin sekali menghampirinya dan bertanya langsung apakah pemuda itu sudah cukup umur untuk bisa menginjakkan kaki di klub yang dipenuhi wanita-wanita luar biasa seksi dan minuman keras seperti saat ini. Tapi tidak, Wynne tidak menghampiri pemuda itu. Alih-alih menghampiri pemuda itu, Wynne kembali larut dalam perbincangan dengan teman-temannya meski seluruh inderanya tanpa sadar terfokus pada pemuda asing itu.
Tidak setetes alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya malam ini. Setidaknya Wynne tidak akan memulai tugas jaganya dalam kondisi mabuk. Bisa-bisa kepala bagian menendangnya keluar bahkan sebelum Wynne sempat melangkahkan kaki melewati pintu ER. Setelah pamit dengan sedikit paksaan, akhirnya Wynne berhasil keluar dari Picasa, klub yang menurut teman-temannya didatangi oleh banyak sekali laki-laki tampan dari berbagai belahan dunia dan kini diakuinya kalau rumor itu memang benar. Pikiran Wynne kembali pada sosok pemuda asing yang menyita seluruh perhatian Wynne tadi. Wynne tidak pernah tertarik pada lawan jenis semudah dan secepat ini bahkan tanpa mengetahui siapa nama pemuda itu. Wynne hanya tahu kalau entah kenapa dia akan bertemu lagi dengan pemuda itu dalam waktu dekat.
Setelah memastikan kalau bayangan pemuda itu tidak lagi begitu mengganggu pikirannya saat ini, Wynne kembali melangkahkan kakinya menjauhi gedung Picasa. Baru saja Wynne akan menyebrang untuk mengejar bis terakhir, tubuhnya ditarik ke sebuah gang gelap. Seketika itu juga Wynne berbalik dan menemukan kalau penyerangnya adalah sekelompok laki-laki berwajah tampan. Meskipun Wynne sempat kagum dengan wajah para penyerangnya, namun keempat laki-laki itu mengeluarkan aura yang membuat Wynne sangat ketakutan. Wynne tidak tahu apa yang dimiliki oleh keempat laki-laki itu, hanya saja bagi dirinya yang jarang sekali takut pada orang lain, ini benar-benar situasi di luar dugaan yang membuat ciut nyalinya.
Salah satu dari penyerangnya menahan Wynne di sudut gang sementara tiga lainnya mengamati tubuh Wynne seolah Wynne adalah hidangan makan malam yang sangat lezat. Dan Wynne berani bersumpah kalau para laki-laki itu menatapnya dengan kelaparan! Tidak hanya itu saja. Kenyataan kalau cengkraman mereka di lengan Wynne sangat kuat seperti dipasak dengan besi hanya semakin menambah ketakutan Wynne saat ini.
“Karena Erick yang tertua, maka dia yang mendapatkan kesempatan lebih dulu.”ujar laki-laki berambut pirang sambil mengedikkan kepalanya ke arah laki-laki pirang lainnya yang berambut lebih panjang.
“Kalau memang dilakukan sesuai usia, bagaimana dengan aku?”tanya laki-laki yang memegangi Wynne di sudut gang.
“Kami akan menyisakan untukmu, dude.”sahut laki-laki lain yang bertubuh paling tinggi diantara yang lainnya.
“Apa aku boleh ikut bergabung dengan kalian?”tanya sebuah suara ringan dari uLiamg gang yang langsung membuat para penyerang Wynne menoleh dan waspada.
“Siapa kau?”seru si pirang panjang dengan lantang.
Wynne berusaha mengintip dari sela-sela tubuh yang berada di hadapannya untuk melihat siapa pendatang baru itu. Jangan tanyakan kenapa Wynne tidak berusaha berteriak dan minta tolong. Suaranya saat ini mendadak hilang karena ketakutan. Para penyerangnya saat ini saja sudah membuat Wynne putus asa untuk bisa menyelamatkan diri, dia tidak butuh tambahan orang baru untuk dikhawatirkan saat ini.
“Aku pikir kalian tidak perlu tahu siapa aku.”gumam pendatang baru itu ringan. Seolah dia memang berniat untuk bergabung dengan para penyerang Wynne.
“Kalau kau memang ingin bergabung, anak muda, kami sarankan kau mencari mangsa yang lain. Wanita ini milik kami.”
“Hmm... Benarkah? Bolehkah aku bertanya padanya apakah dia memang milik kalian atau tidak?”tanya pendatang baru itu lagi sambil berjalan mendekat dan berusaha melewati ketiga penyerang Wynne dan berhenti di bawah sinar lampu temaram yang cukup untuk memperlihatkan wajahnya.
Saat itulah Wynne bisa melihat dengan jelas wajah pendatang baru itu. Sinar temaram itu sudah cukup untuk membuat Wynne mengenali wajah tak terlupakan itu. Dia adalah pemuda yang tadi duduk di meja bar. Dia pemuda yang sama yang menarik perhatian Wynne di dalam Picasa.
“Jangan menguji keberuntunganmu, anak muda.”geram si tubuh jangkung sambil meletakkan tangannya di d**a pemuda itu. Seketika itu juga si jangkung membelalak tidak percaya dan langsung menyeringai lebar. “Kita mendapatkan mangsa tambahan malam ini.”gumamnya pelan, nyaris berbisik pada teman-temannya.
Mau tidak mau Axel tersenyum dan tidak lagi merasa cemas berhadapan dengan empat vampir untuk pertama kalinya. Vampir yang mengetahui mangsanya manusia hanya setelah menyentuhnya adalah vampir muda dan lemah. Bukan jenis lawan yang harus Axel takuti atau hindari. Hanya saja satu-satunya masalah saat ini adalah Axel tidak bisa menggunakan kekuatannya di hadapan manusia. Itu adalah hukum tak tertulis yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun. Lagipula ada masalah lain selain hukum tak tertulis itu yang harus Axel cemaskan mengenai kekuatannya.
Tepat saat salah seorang dari penyerang Wynne ingin menariknya ke sudut gang, Axel langsung menghindar dan melayangkan sebuah pukulan ke wajah si pirang pendek. Pukulan yang biasanya akan merontokkan gigi manusia biasa.
“Damn! Its hurt!”maki Axel spontan sambil mengibaskan tangan kanannya yang berdenyut nyeri.
Selama sedetik penuh si pirang pendek menatap Axel seolah hendak ingin menelannya hidup-hidup, namun saat mendengar makian dari mulut Axel, si pirang pendek langsung menyeringai senang.
“Kau tidak akan bisa mengalahkan kami, anak kecil.”
Sial! Mengunci kekuatanku hanya membuatku seperti manusia lemah!geram Axel dalam hati. Bisa-bisanya aku lupa di saat seperti ini!
“Tolong aku...”bisik sebuah suara lirih.
Axel langsung menoleh ke sumber suara dan menatap Wynne tidak percaya. Wynne sendiri juga tidak percaya kalau dia akhirnya meminta tolong pada pemuda yang dia yakin lebih muda darinya itu. Tapi Wynne tidak punya pilihan. Dia benar-benar takut dengan para penyerangnya dan siapapun pemuda ini, dia jelas terlihat lebih baik daripada empat laki-laki lainnya meski Wynne tidak yakin apakah pemuda ini bisa mengalahkan empat penyerang Wynne yang jelas-jelas memiliki tubuh lebih besar.
“Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian.”gumam si jangkung yang langsung melempar Axel menghantam dinding dengan mudahnya. “Sesali sikap sok pahlawanmu di alam sana, bocah.”bisik si jangkung lalu membenturkan kepala Axel lebih dalam ke dinding di belakangnya.
Bunyi derak sesuatu yang retak muncul bersamaan saat kepala Axel menyentuh dinding. Tidak ada yang tahu apakah bunyi itu berasal dari tengkorak kepala Axel atau dinding di belakangnya. Yang bisa dipastikan hanyalah wajah Axel meringis saat tubuhnya menghantam dinding dengan keras. Namun Axel tidak menyerah, dia kembali melayangkan tinLiamya ke wajah lawannya walau tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Pekikan kecil dari bibir Wynne membuat Axel menyadari nyeri menyengat di bagian belakang kepalanya. Sepertinya memang tengkorak kepalanya-lah yang retak alih-alih dinding di belakangnya. Ada cairan hangat mengalir di leher belakangnya. Mengunci kekuatannya sama dengan membuat Axel menjadi manusia seutuhnya tanpa sedikitpun kekuatan penyembuh para malaikat meski butuh dari sekedar gegar otak untuk membunuhnya. Pekikan lain meluncur dari bibir Wynne ketika dua taring tajam keluar dari sela bibir si jangkung dan bersiap menggigit pembuluh darah besar di leher Axel tepat saat tekanan udara di sekitar mereka mendadak berubah.
Lampu kecil yang tidak menerangi seluruh gang itu kini benar-benar padam dan mengeluarkan percikan listrik dari kabelnya. Si jangkung menarik kepalanya dari leher Axel sebelum dia sempat menancapkan taringnya dan mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya. Si jangkung dan teman-temannya menyadari kalau ada kekuatan lain yang saat ini sedang memenuhi gang gelap tempat mereka berada. Namun mereka tidak mengenal kekuatan asing itu dan mungkin tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan salah satu pemilik kekuatan besar itu. Satu-satunya yang bisa mereka pastikan adalah si pemilik kekuatan adalah makhluk yang sangat kuat hingga bisa mempengaruhi udara di sekitar mereka.
Wynne sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Tubuhnya menggigil akibat penurunan temperatur yang mendadak seolah ada orang yang meletakkan berton-ton bongkahan es dibawah kakinya. Wynne juga menyadari kalau para penyerangnya membeku di tempat mereka berdiri dan mulai memperhatikan keadaan di sekitar mereka dengan ketakutan. Sedetik kemudian, bias cahaya dari jalanan utama yang tadinya terlihat dari gang kini menghilang. Lampu-lampu jalan padam serentak dan hanya meninggalkan kilasan cahaya dari lampu-lampu mobil yang berlalu lalang di jalanan.
“Menyerang manusia tepat di samping gedungku.”ujar sebuah suara dingin yang dikenali Axel. Suara itu membuat Axel tersenyum seketika bahkan dengan cengkraman lawan di lehernya dan rasa nyeri menyengat di kepalanya. “Menyerang anakku dan bahkan sampai melukainya. Aku bertanya-tanya siapa orang bodoh yang melakukan kedua hal itu bersamaan? Aku bertanya-tanya, siapa orang yang cukup kehilangan otaknya untuk berani menerima pembalasanku?”tanya suara dingin itu lagi dari arah jalan masuk gang.
“Pa.”bisik Axel lega dan sedetik kemudian si jangkung membelalak tidak percaya saat kekuatan tanpa wujud menariknya menjauh dari pemuda itu dan menahannya tetap berdiri tanpa bisa menggerakkan satu anggota tubuh pun.
Wynne hanya dapat melihat sesosok tubuh melangkah mendekati tempat mereka. Tidak ada cahaya yang menerangi sosok itu sehingga Wynne tidak tahu siapa pendatang baru itu. Saat hanya tinggal beberapa langkah dari tempat Axel berdiri, lampu kecil yang tadinya bersinar redup itu kini menyala dengan sinar terang dan seluruh lampu jalan kembali menyala menerangi malam. Wynne kembali terkesiap saat menatap wajah menarik dari si pendatang baru yang kini sudah berdiri di hadapan penyerang Wynne.
Wajah pendatang baru itu terlalu muda dan terlalu ramah untuk mengucapkan ancaman penuh kemurkaan seperti tadi.
“Kau menyuruh Axel untuk menyesali tindakannya?”tanya Wren dingin lalu dengan kekuatan telekinetiknya yang kini sudah semakin besar, Wren menghempaskan si jangkung ke dinding yang sama tempat Axel sebelumnya dihempaskan. “Kau yang seharusnya menyesali tindakanmu.”tambahnya kemudian lalu melayangkan sebuah tinju ke wajah si jangkung yang langsung membuat kepalanya menembus dinding begitu saja.
“Bahkan saat inipun kau terlalu baik, Wren.”ujar sebuah suara lain saat sesosok tubuh muncul dari bayangan Wynne di tanah.
”Uncle Zac.”seru Axel tanpa bisa menutupi kegembiraan dalam suaranya.
Axel tidak tahu bagaimana lagi cara mengungkapkan kegembiraannya saat ini. Kemunculan Pa-nya saja sudah memastikan akhir dari kehidupan para penyerangnya, dan kali ini ditambah dengan kehadiran sang Nosferatu hanya membuat segalanya menjadi lebih baik.
“Jangan terlalu senang, kid. Kau sudah membuat masalah malam ini. Wren dan Lily jelas sudah menyiapkan hukuman untukmu.”gumam Zac sambil mengulurkan tangannya ke arah tiga penyerang Wynne lainnya yang masih berdiri terpaku tidak jauh dari sana. Sedetik mereka hanya diam terpaku menyaksikan apa yang terjadi, namun sedetik kemudian api melahap ketiganya mulai dari kaki diiringi teriakan kesakitan yang membelah kesunyian malam.
Tanpa sadar bisikan kecil meluncur dari bibir Wynne dan berhasil membuat ketiga laki-laki itu menoleh ke arahnya dan menatap Wynne tajam, “Siapa kalian?”bisik Wynne dengan bibir gemetar menahan dinginnya udara dan rasa takut yang menjalari tubuhnya.
“Manusia.”ujar Zac datar tanpa mengalihkan pandangannya dari Wynne. “Dia tidak boleh mengingat ini semua.”tambah Zac sambil melangkah mendekati Wynne dan mengulurkan tangannya.
Namun, belum sempat Zac melakukan apapun, Wynne pingsan seketika.
Axel menarik napas panjang saat dia berhasil memaksa pikirannya berhenti mengulang kejadian 40 tahun yang lalu. Itu adalah kenangan Axel bertemu untuk pertama kalinya dengan wanita yang pada akhirnya disadari Axel sebagai pemilik hatinya. Meski begitu, dadanya tetap sesak dengan emosi yang mengancam keluar dalam bentuk air mata penyesalan dan kesedihan. Tangannya gemetar saat berusaha memegang stir mobil. Axel bisa saja mengaktifkan kendali otomatis, namun dia tidak menyukai gagasan manja itu. Dan saat kenangan lain kembali menyerbu ingatannya, Axel hanya kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang. Kenangan-kenangan itu selalu menguras emosi dan energi Axel.
London, 7 Juli 2020...
Latihan kemarin benar-benar nyaris mengantarkanku ke neraka. Aku bahkan tidak punya waktu untuk keluar dari tempat ini.pikir Axel sambil menikmati hembusan angin di wajahnya saat dia terbang mengelilingi Acasa Manor di malam hari.
Tidak ada yang lebih menyegarkan bagi malaikat dibanding menyatu dengan alam. Kekuatan malaikat selalu berasal dari alam. Dan Axel butuh sedekat mungkin dengan alam setelah latihan neraka yang dijalaninya bersama Pa dan yang lainnya sebagai konsekuensi tindakannya kabur dari Regnum Angelorum. Menurut Pa-nya, Axel harus bisa melindungi dirinya sendiri meski kekuatannya disegel dan membuktikannya di hadapan Navaro kalau dia ingin mendapatkan kebebasan turun ke bumi tanpa harus menunggu ayahnya.
Selama beberapa menit ingatan Axel kembali ke masa latihannya bersama Aleandro kemarin. Kali itu dia dilarang menggunakan kekuatannya dan kalau Axel menggunakan kekuatannya, maka Aleandro akan langsung menggunakan listriknya untuk menghukumnya. Axel tidak pernah menangis saat terluka, bahkan saat latihan bersama Wren sekalipun Axel tidak sampai memohon.
Tapi kemarin...
Axel benar-benar memohon agar latihan dihentikan ketika dia berkali-kali pingsan di tengah pertarungan namun Aleandro tetap melanjutkan latihan mereka hingga larut malam. Aleandro hanya memberi Axel istirahat kurang dari 10 menit setiap 3 jam sekali.
“Kau termenung lagi.”gumam Kaly yang langsung berhasil menarik perhatian Axel.
Axel menunduk menatap gadis dalam pelukannya. Dia sudah mengenal gadis itu sepanjang usia si gadis. Sebagai anak dari raja vampir, Kaly belum bisa terbang dengan kekuatannya sendiri. Bahkan kalau Axel tidak salah, kekuatan Kaly juga disegel oleh Lucifer atas permintaan ayahnya karena Zac tidak bisa melakukan penyegelan itu.
Senyum muncul di bibir Axel sebelum dia menjawab pertanyaan Kaly. “Hanya sedang berpikir kalau aku benar-benar sangat beruntung masih bisa hidup sampai saat in...”
Axel tidak meneruskan ucapannya. Aliran udara yang dirasakannya membuat Axel terkejut. Bukan aliran udara itu sebenarnya yang membuat Axel terkejut melainkan kekuatan yang mengalir bersama dengan aliran udara itu. Axel mengenal kekuatan itu, sangat mengenalnya. Kekuatan yang sama dengan yang mengalir dalam setiap tetes darah dan dalam setiap hela napasnya. Tanpa sadar kepakan sayapnya membawa Axel kembali menuju Acasa Manor dan mulai menukik turun di halaman tengah.
Sepasang manusia yang tengah berdiri disana membuat jantung Axel berdetak dua kali lebih cepat. Begitu kakinya menjejak tanah, Axel langsung melepaskan Kaly begitu saja dan menghambur ke pelukan sang wanita.
“Mom!”serunya bahagia sambil merengkuh tubuh Eliza ke dalam dekapannya, tidak peduli kalau itu artinya dia baru saja menarik paksa ibunya dari pelukan ayahnya.
Tawa renyah meluncur dari bibir Eliza saat membalas pelukan puteranya penuh kasih sayang. Walaupun Navaro selalu berkata kalau kemandirian Axel datang terlalu cepat, tapi sebagai seorang ibu, Eliza tahu kalau yang sebenarnya diinginkan Axel adalah kehadiran kedua orang tuanya lebih sering di rumah bersamanya dan puteranya belum semandiri yang dipikirkan ayahnya.
“Baru beberapa hari kau kabur dari rumah dan sekarang kau terlihat lebih besar, sayang.”bisik Eliza penuh kasih.
“Hanya karena kau sangat merindukanku, mom.”balas Axel cepat.
“Lepaskan ibumu ini, Nak. Berikan pelukan juga pada ayahmu.”ujar Eliza sambil melepaskan pelukannya di tubuh Axel.
Axel melepaskan pelukannya dengan enggan dan menatap Navaro. Ada rasa rindu terpancar dari wajah pemuda itu. Ayahnya terlalu sibuk dengan urusannya bersama Seraphim dan hanya ada di rumah saat sarapan. Axel tidak pernah tahu kapan ayahnya pulang setiap hari. Dia baru bisa menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya saat liburan musim panas. Itulah alasan kenapa Axel sangat menantikan liburan ini. Namun kini karena perbuatannya kabur dari Regnum Angelorum dan nyaris membuat masalah di bumi, Axel tidak berani berlari ke pelukan ayahnya_hal yang selalu dia lakukan saat dia merindukan ayahnya tidak peduli dimana mereka berada.
Axel takut.
Takut kalau laki-laki yang paling disayangi dan dihormatinya itu benar-benar murka akibat ulahnya itu.
Keheningan merebak diantara mereka. Tidak seorangpun yang sepertinya ingin segera memecah keheningan dingin itu. Selama beberapa menit Axel dan Navaro hanya saling menatap. Sampai akhirnya Navaro-lah yang memecah kebisuan mencekam itu.
“Kau mempelajari sesuatu disini. Dan bagiku itu sudah cukup untuk menjadi hukumanmu.”ujar Navaro datar.
Bagi siapapun yang tidak mengenal Navaro, mereka akan mengira kalau malaikat itu sedang kesal, namun tidak bagi Axel. Pemuda itu tahu kebenarannya. Fakta bahwa sang ayah tidak lagi marah ataupun kesal padanya. Rasa bersalah yang tadi memenuhi dadanya kini menguap dengan cepat.
Begitu Navaro selesai bicara, Axel langsung memeluk ayahnya erat dan mengucapkan permohonan maaf berkali-kali.
“Sudahlah, son. Aku tahu kenapa kau melakukannya. Dan itu terbukti bukan keputusan yang buruk.”ucap Navaro pelan sambil menepuk pelan punggung Axel, memberikan kasih sayangnya melalui sentuhan akrab itu.
“Pa yang memberitahukannya?”tanya Axel setelah melepas pelukannya dan berjalan masuk ke rumah bersama yang lain. Sayapnya sudah dilipat dan langsung diselimuti kekuatan untuk membuatnya tidak terlihat.
“Pola disayapmu sudah menjelaskan segalanya padaku tanpa perlu diberitahu oleh siapapun. Kau tidak akan mendapatkan pola itu kalau hanya tidur-tiduran selama disini.”sahut Navaro cepat dan langsung mengalihkan perhatiannya saat menyadari ada gerakan di lantai dua. “Sepertinya kau berhutang penjelasan padaku, Wren. Separah apa kondisi sayap puteraku hingga dia bisa memiliki begitu besar dan begitu banyak pola perak?”tanya Navaro setelah mengenali siapa yang mengamatinya dari lantai dua.
“Separah yang dia butuhkan untuk dapat bertahan tanpa mengandalkan kekuatan siapapun selain dirinya sendiri.”balas Wren ringan lalu berjalan menuruni anak tangga hingga tiba di hadapan Navaro. “Selamat datang, Sobat.”sapa Wren kemudian dengan Lily berjalan disisinya.
“Axel anak yang hebat, Navaro. Kau pasti bangga memiliki putera sepertinya.”ujar Lily sambil menatap Axel penuh kasih. “Selamat datang, kamar kalian sudah siap. Mau makan malam dulu?”
“Terima kasih, Lily.”sahut Eliza cepat dan tulus. “Jadi, siapa saja yang sudah disini?”
“Seperti biasa. Zac bahkan sudah lama meninggalkan Amerika dan menginap disini. Aleandro baru datang kemarin setelah perjalanan ke Taiwan.”sahut Lily.
“Hanya itu saja?”tanya Eliza bingung karena selama ini summer holiday di Acasa Manor biasanya akan dihadiri oleh banyak klan Libra, termasuk Alby, Chale, dan Baekhyun.
“Yang lain akan bergabung bersama kita di pinggir Sungai Thames. Kalian datang tepat waktu untuk menyaksikan festival. Aku rasa sudah saatnya kita pergi, bukan?”tanya Lily sambil menatap Wren.
“Ya. Sebentar lagi festival akan dimulai. Venom sudah menyiapkan mobil untuk kita semua.”sahut Wren cepat. “Kalau kalian tidak turun juga, aku tidak akan meminjamkan mobil untuk kalian.”sambung Wren datar tapi cukup kuat untuk dapat didengar oleh para makhluk abadi yang sedang bersiap di lantai dua.
“Kami sudah siap.”sahut Zac sambil berjalan menuruni tangga bersama Gabby. Dibelakangnya Aleandro dan Amelia juga terlihat sudah siap untuk pergi.
“Bagus.”gumam Wren setuju, “Jadi, apa kalian ingin membawa mobil masing-masing? Atau dengan supir?”
“Aku butuh supir.”ujar Zac tenang sambil menatap istri dan putrinya.
“Aku juga lelah, Wren.”sambung Navaro.
Wren menatap dua sahabatnya itu lalu menggeleng pelan sebelum meraih ponsel di sakunya. “Dua limusin, Venom.”gumamnya singkat lalu segera memutus sambungan. “Aku akan semobil dengan Navaro. Dan kau akan bersama Aleandro, Zac.”
“Bukan masalah.”sahut Aleandro ringan.
Setengah jam kemudian kesepuluh makhluk abadi itu sudah berdiri nyaman di tempat paling istimewa di tepi sungai Thames. British Summer Festival di London sebenarnya diadakan di Hyde Park, namun untuk acara Fireworks sengaja dipusatkan di sepanjang Sungai Thames. Festival kembang api akan segera dimulai dalam beberapa menit. Beberapa keluarga dan pasangan menatap mereka iri karena mendapatkan tempat yang memiliki pemandangan paling jelas untuk melihat kembang api. Beberapa tahun yang lalu, mereka juga pernah membuat kehebohan yang sama saat mendatangi sebuah bazaar di Hyde Park.
“Bukan disini tempat paling istimewa.”ujar sebuah suara dari belakang Wren yang langsung membuat mereka semua serentak berbalik untuk melihat siapa pendatang baru yang berani bergabung bersama mereka tanpa mereka sadari.
“Dad!”seru Lily lalu tersenyum lebar.
“Dimana?”tanya Wren sebelum Lucifer sempat mengatakan apapun untuk menyapa putrinya.
Lucifer hanya menatap Wren datar. Dia sudah terbiasa menghadapi sifat angkuh vampir itu. Tanpa menggerakkan satupun anggota tubuhnya, Lucifer mengangkat mereka semua ke udara tepat saat kembang api pertama diluncurkan. Percikan api langsung menyebar di udara dan mereka semua melihatnya tanpa harus menengadah ke langit.
“Para manusia akan menyadarinya.”gumam Zac saat menunduk dan menyadari kalau semua manusia dibawah mereka saat ini menatap ke langit untuk melihat kembang api.
“Tidak akan. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Lagipula lihatlah ke bawah.”ujar Lucifer santai.
Dibawah sana, tepat di tempat mereka tadi berdiri, terdapat 10 sosok tubuh yang begitu Mirip dengan mereka. Benar-benar Mirip mulai dari pakaian hingga wajah mereka.
“Siapa mereka?”tanya Amelia tidak percaya.
“Succubus dan incubus. Hanya mereka yang bisa meniru dengan sempurna.”sahut Lucifer sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Lily. “Lihat ke depan.”bisiknya lembut ketika kembang api berikutnya mulai diluncurkan.
“Ini indah sekali.”bisik Kaly kagum.
“Ya.”sahut Gabby setuju.
“Thank you, Grandpa Lu.”ucap Kaly tulus dengan senyum lebar di wajahnya.
“You’re welcome, little princess.”balas Lucifer cepat, “Lepaskan Lev, i kori. Dia suka keramaian.”
“Kau yakin dia tidak akan membuat masalah, Dad?”
“Tidak akan. Dia tidak akan terlihat oleh orang lain.”sahut Lucifer penuh percaya diri.
Sementara yang lain menikmati kembang api dan atraksi lain melalui udara, perhatian Axel sepenuhnya tersita pada satu sosok yang sibuk keluar masuk ambulance di pinggil lapangan. Setiap kali festival diselenggarakan, panitia akan menyediakan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Dan disanalah wanita itu berada.