Bab 19

1265 Kata
Cylvi mengucek matanya dengan malas sembari membangunkan tubuhnya yang masih lemas. Setelah dirasa cukup bermalas-malasan, ia mencoba menggapai ponselnya yang sengaja  ia letakkan di atas nakas mengabaikan selimutnya yang terjatuh pasrah di atas lantai. Duk. Cylvi mengusap bokongnya yang nyeri akibat berciuman keras dengan marmer lantai kamarnya, matanya sontak memandang sebal pada  layar ponselnya yang pecah. “Nanti tinggal beli lagi,” tukasnya tak peduli seraya menghidupkan layar ponselnya. Ditatapnya penuh selidik pada notifikasi yang tertera di sana. Ada banyak pesan yang masuk pada aplikasi chatnya, dari  Gaara dan grup chat Kingnezs. Ia tak menyadari jika sejak tadi ponselnya terus bergetar saat ia masih tertidur pulas. From : Gaara Alvaro Lo di mana? Lo gak masuk? Cyl, bales. Nanti gue ke rumah lo. Rumah lo masih gak ada orang? Hei!! Bales kalo lo udah baca Cepetan ya Gue gak biasa chat orang beruntun gini. Cylvi mengangkat alisnya heran lalu tertawa pelan mendapati pesan beruntun dari Gaara. Ia mengulas senyum kecil ketika pikirannya melayang memikirkan cowok itu cukup khawatir dengan ketidakhadirannya. Ia menggerakkan jari-jarinya membalas pesan cowok yang berstatus sebagai pacarnya tersebut. From : CVM Winata Ya ampun deh. Gue cuma ketiduran kali. Ga tau nih kakak gue kapan balik Kalo Bang Abi mah nginap 4 hari Seusai membalas pesan Gaara, Cylvi mulai membuka chat Kingnezs yang amat sangat banyak. Entah apa yang dibahas oleh teman-temannya tersebut, ia hanya berniat membaca pesan yang terbawah. Kingnezs (7) Salsana KW : anjir! Woi Cyl nyet! Lo ketiduran apa meninggal? Gak ada wujud lo di sekolah. Mitania Sasa : elah! Abis kencan malah gak masuk tuh anak dajjal. Salsana KW : kawan lo nih, Ta. Siska Chyntia : ketua kita woi. Gracelly Annaka : Cylll, bangun gak lo? Lo tidur atau tewas terkapar di rumah? Ananda Jaya : Ya Tuhan, terimalah dia di sisi-Mu. Walau pasti susah diterima di sana, nyelipin aja di antara kaki-kaki malaikat. Mitania Sasa : dibaca Cyl bakal auto dipecat kalian. Salvina J : Cylllll!!! Balas dong! Di tengah kefrustasiannya membaca pesan grupnya, ponselnya kembali bergetar menandakan sebuah panggilan masuk. Gaara Alvaro is calling... "Ha—" "Gue di depan," potong Gaara tanpa menunggu Cylvi selesai berbicara. Cylvi mengerjap bingung. "Hah?" "Buka pintunya." Cylvi segera turun walaupun banyak tanda tanya yang melingkari kepalanya, ia pun membuka pintunya dengan lingung. Ia harus membuka sendiri pintu rumahnya saat menyadari pembantu di rumahnya sedang diberi hari libur. "Hm?" Gaara menatap Cylvi dari bawah ke atas yang dibalas dengan cengiran tanpa dosa dari gadis di hadapannya. "Lo baru bangun?" tanya Gaara yang sudah bisa menebak jawabannya. Cylvi menggaruk tengkuknya canggung. "Eh? Iya." "Mandi sana," usir Gaara lalu seenaknya berjalan memasuki rumah gadis itu. Cylvi mau tak mau pamit sebentar untuk pergi mandi, ada rasa tidak enak jika seseorang bertamu di rumahnya dan si tuan rumah belum mandi. Ia semakin terpuruk menyadari yang datang itu pacarnya sendiri. Lima belas menit berlalu, Cylvi kembali duduk di depan Gaara dengan tampilannya yang lebih fresh. Cowok yang sedang duduk di ruang tamunya tersebut tak menyadarinya, matanya terlalu berfokus dari ponselnya. Cylvi yakin cowok itu pasti sedang bermain game. "Gaar," panggil Cylvi tak bermaksud mengagetkan Gaara namun cowok itu tetap terlihat terlonjak kaget. Cylvi berusaha menahan tawanya yang hampir keluar. "Hm?" gumamnya menutupi kekagetannya barusan. Cylvi tertawa kecil dan terdiam ketika Gaara memandangnya tajam. "Pergi makan yuk. Lapar nih gue." Gaara mengunci layar ponselnya dan berdiri. "Lo gak bisa masak?" tanyanya datar. "Nggak." Jawaban polos Cylvi membuat Gaara gemas sekaligus takjub. "Gue masakin," kata Gaara singkat. Cylvi melongo heran. "Emang lo bisa masak?" "Hm." "Beneran? Masak apa? Mie?" tanyanya tak percaya. “Kalo mie, gue juga bisa.” "Mana dapur lo?" tanya Gaara tak menghiraukan rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Cylvi. Cylvi menunjuk arah dapurnya pada Gaara. Tanpa banyak bicara, cowok itu berjalan ke arah dapur dengan Cylvi yang setia mengekorinya. "Lo yakin, Gaar?" tanyanya lagi dengan raut bingung, takjub dan tak percaya. "Hm." Cylvi bukannya bermaksud merendahkan Gaara tapi mengingat cowok itu termasuk kalangan siswa badboy, agak aneh rasanya jika ia mengaku bisa memasak. Sungguh, sangat tidak cocok dengan imej Gaara. Namun, Cylvi tetap membiarkan cowok itu berkarya di dapurnya, ia memilih membalas pesan dari teman-temannya. Kingnezs (7) CVM Winata : ngantuk nih gue. Makanya gak masuk. Tak membutuhkan waktu lama, ponselnya kembali bergetar pelan. Mitania Sasa : kencan sampe tengah malam sih gimana gak ngantuk coba? Salsana KW : ngapain sih lo sampe tengah malam, Cyl? Kok ambigu ya  Ananda Jaya : ehem... ke mana Cyl sampe tengah malam? CVM Winata : ke mana-mana. Siska Chyntia : kok gue mikirnya jelek ya? Gracelly Annaka : ambigu lo pada! "Cyl?" Panggilan itu membuat Cylvi refleks menoleh ke arah Gaara yang sedang membawa dua piring nasi goreng. "Iya?" Cylvi hanya menatap Gaara sejenak lalu mengunci layar ponselnya. “Makan," kata Gaara singkat dan jelas. Ia menyodorkan sepiring nasi goreng pada gadis yang masih termenung itu.. Pelan-pelan, Cylvi menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. "Enak! Lo beneran bisa masak? Gue kira lo cuma bercanda," kata Cylvi diikuti pandangan mata berbinar-binar. "Hm." "Ha hm mulu lo," komentar Cylvi jengkel. “Kata lain kek yang lebih panjang gitu,” omelnya. "Iya, Cylviana," tukas Gaara menyerah. Cylvi hanya tersenyum kecil dan kembali melahap nasi goreng buatan Gaara. Setelah perutnya terisi penuh, Gaara dan Cylvi memilih kembali duduk di ruang tamu. Sebenarnya hanya Gaara yang duduk, sementara Cylvi memilih berbaring dengan berbantalan paha Gaara. Ia jadi suka berbaring di pangkuan Gaara sejak Gaara menawarkannya kemarin. "Gaar!" panggilnya tiba-tiba. "Hm?" Gaara bergumam pelan sebagai respons. "Lo bolos?" tanya Cylvi lalu sadar jika pertanyaannya terkesan bodoh. Jelas Gaara di depannya dan sekarang belum menunjukkan jam pulang. “Lo kok jadi ikutan bolos?” ralatnya sebelum Gaara sempat menjawab pertanyaan pertamanya. "Iya," jawab Gaara cuek. Cylvi mengerut bingung. "Kenapa?" Gaara menatap wajah Cylvi yang pas di bawahnya lalu kembali memandang lekat pada ponselnya. "Lo." "Hah?" Cylvi segera menutup kedua bibirnya yang menganga. “Maksud  lo?” "Hm." "Ish. Lo nyebelin," ucap Cylvi dongkol. Gaara melirik kecil ke arah Cylvi. "Kenapa?" Cylvi bangun dari baringnya dan duduk di sebelah Gaara. Keduanya masih saling menatap. "Lo gak bisa apa ngomong panjangin dikit?" "Bisa," jawab Gaara dengan nada mantap. "Itu dari tadi satu kata, satu kata," jelas Cylvi agak geram. "Gue gak tau mau ngomong apa," kata Gaara akhirnya. "Tsk," decih Cylvi benar-benar kesal. Mengetahui Cylvi ngambek, Gaara malah tak mau mengubrisnya dan kembali sibuk dengan ponsel di tangannya. "Lo ngapain sih, Gaar?" "Gak ngapa-ngapain," ujarnya seperti menyembunyikan sesuatu di mata Cylvi. Cowok itu hanya duduk memainkan ponselnya. Karena kesal, Cylvi merebut ponsel Gaara. "Ish, game mulu." "Hm." "Tangan lo kalo lepas dari handphone langsung merayap ya," sindir Cylvi ketika merasa tangan Gaara di punggungnya. "Salah siapa ambil handphone gue?" tantang Gaara menyeringai tipis. "Lepasin," jerit Cylvi frustasi dengan tingkah Gaara yang seenaknya. "Nggak." Gaara semakin mempererat pelukannya yang otomatis mempersempit jarak mereka. "Mesum." "Tapi lo suka kan?" goda Gaara semakin memperlebar seringai jahilnya. Cylvi membulatkan matanya lalu menepuk lengan cowok itu kuat. "Apa?" "Pura-pura gak denger berarti suka," kata Gaara cepat. "Gak usah—" Cylvi merasa ada kecupan di dahinya. Memang Gaara hanya menempelkan bibirnya di dahi gadis itu. "Gaara," panggilnya kaget. "Hm?" "Lo kok main cium-cium sih?" protes Cylvi menutup wajahnya malu. "Lo kemaren cium gue, gue gak protes." Gaara menaikturunkan alisnya iseng. Cylvi ingat itu. Tapikan Gaara yang duluan menciumnya dulu. "Hei," panggil Gaara. "Apa?" Gaara menatapnya tajam. "Gue gak terima." "Apanya?" tanya Cylvi bingung dengan pembahasan yang dibawa Gaara. "Gue cuma terima ciuman di sudut bibir kemaren." "Lo gak bisa protes," ejek Cylvi menjulurkan lidahnya. "Kenapa?" Ada kernyitan bingung yang tercetak di dahi Gaara. Cylvi terkekeh. "Kan terserah gue mau cium lo di mana." "Kalo begitu, terserah gue juga dong mau cium lo di mana aja," tantang Gaara lagi. "Gak bisa gitulah," tolak Cylvi panik. "Kenapa?" "Gak fair," ujar Cylvi dengan suara lantang. Gaara tersenyum miring."Bukannya kalo lo bisa, gue gak bisa itu yang namanya gak fair?" "Pokoknya cuma gue yang boleh terserah. Lo cuma boleh di satu tempat," kata Cylvi memberikan penawaran. Gaara  mengangguk setuju. "Kalo gitu gue juga kasih ketentuan." "Apa?" tanya Cylvi agak was-was. "Gue kalo cium lo cuma di bibir. Kan gak bisa terserah." "Tsk. Gak bi—" Cylvi tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena sudah keburu dibungkam dengan bibir Gaara. "Gue bisa, Cyl." Gaara kembali mencium Cylvi dan semakin memanas saat Gaara mendorong tubuh Cylvi hingga terbaring di sofa yang mereka duduki dengan Gaara di atasnya. Tanpa perlawanan justru Cylvi memancing Gaara untuk tetap saling mengecap. Cylvi suka kalo Gaara menciumnya. He is good kisser, Cylvi mengakuinya. Hanya dengan ciuman, Gaara membuat Cylvi merasa lebih baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN