Bab 18

1522 Kata
Drrttt... drrtt... Getaran-getaran ponsel hitam di atas nakas itu tidak dipedulikan oleh Cylvi. Hari ini ia memilih membolos sekolah karena serangan kantuk yang tak kuasa ia tahan. Ia lupa menyetel diam alarmnya yang sedang bergetar nakal sekarang, berusaha membangunkan dirinya yang sudah pasti malas bangun pagi. Flashback : ON Usai bangun dari tidurnya, Cylvi langsung terduduk dan memandang Gaara yang masih sibu bermain game di tangannya.  Cowok itu tak mengalihkan sedikit pun pandangannya walaupun mendapati pergerakan kecil dari gadis yang bersamanya. "Udah bangun?" tanya cowok itu tanpa melihatnya. "Udah. Sorry nih Gaar, jadi ngerepotin lo," ucap Cylvi tak enak. Gaara menoleh sejenak lalu kembali fokus dengan permainan game di ponselnya. "Apanya?" Cylvi menyengir kaku. "Tidur di pangkuan lo." Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Gaara menganguk pelan. "Gak masalah. Kecuali lo tidur di pangkuan orang lain, baru jadi masalah,” katanya setengah bercanda melunturkan suasana canggung yang tercipta di antara mereka. Cylvi melongo, mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum membuka suaranya kembali. "Barusan lo cemburu?" Gaara mengangkat bahunya cuek, ia tak mengubris perkataan Cylvi dan hanya terpaku dengan ponselnya. "Gaar!" Cylvi mengguncang lengan Gaara dengan geram. "Apa?" tanya Gaara datar. Cylvi mengeplak kecil lengan cowok itu dengan kesal. "Kok lo gak jawab gue?" "Lo modus megangin lengan gue daritadi?" Gaara mengalihkan pembicaraan, namun cewek itu tetap mengenggam erat lengannya. Cylvi mengeryitkan dahinya bingung lalu tak berapa lama ia baru menyadari maksud Gaara dan segera melepaskan genggaman tangannya di lengan cowok datar itu. "Apaan sih lo?!" Cylvi menepuk kuat lengan Gaara. Refleks mengibaskan lengannya yang panas, Gaara melempar tatapan sebal ke arah Cylvi yang menyengir tanpa dosa. "Sakit Cyl. Mending lo megang kayak tadi daripada mukul." "Gue pukulnya pelan juga," cemoh Cylvi sekenanya. "Hm,” gumam Gaara tak peduli. Cylvi merogoh saku di roknya guna mengambil ponselnya yang penuh dengan pesan dari teman-temannya. Matanya bergerak cepat mengecek jam yang tertera di ponselnya. "a***y! Udah jam ke tujuh? Satu jam lagi pulang! Gue bolos banyak pelajaran hari ini," seru Cylvi membelalakkan matanya takjub. Gaara yang sudah selesai bermain game memilih untuk tidak terlalu ambil pusing dengan itu. Ia juga tahu jika Cylvi sebenarnya tak peduli dengan kebolosan mereka, buktinya cewek itu malah sibuk mencari sesuatu di sakunya. "Lo cari apa, Cyl?" tanya Gaara yang melihat Cylvi tak henti-hentinya mencari. "Uang. Laper nih, mau makan," jawab Cylvi menyengir polos. Memang dari jam ketiga hingga sekarang ia belum sempat makan. Salahkan hukuman yang membuatnya merasa membuang-buang waktunya dengan percuma. Mengingat sekarang sudah mendekati jam pulang, Cylvi dan Gaara yakin pasti tidak ada lagi guru yang piket menjaga di setiap lorong sekolah. "Ya udah, ayo." Gaara berdiri. Cylvi menampilkan wajah cemberutnya. "Tapi duit gue ketinggalan di kelas. Gak jadi aja deh." "Gue ada. Ayo,” ajak Gaara cepat. "Kagak usah, Gaar. Gue gak mau ada utang budi sama lo," sahut Cylvi menolak niat baik dari Gaara. Gaara menarik gemas tangan Cylvi. Percuma jika terus memaksanya dengan bicara, Cylvi itu keras kepala, lebih baik Gaara menggandengnya. Cylvi mengabaikan fakta dirinya yang tidak membawa uang sepersen pun, ia memakan dengan lahap bakso di mangkuknya. Sedangkan Gaara, cowok itu kembali bermain game. "Lo main apaan sih, Gaar? Daritadi sibuk nge-game terus," tanya Cylvi. Ia baru saja selesai makan. "ML,” jawab Gaara singkat. Cylvi bingung. "Apa?" "Mobile legends,” kata Gaara lebih jelas. Cylvi mengangguk mengerti, ia mengaduk pelan teh esnya. "Seru?" "Lumayan." "Gue gak pernah main,” ucap Cylvi membuka pembicaraannya dengan Gaara. "Download aja. Nanti gue ajarin," tukas Gaara santai. "Ok." Cylvi men-download game yang sedang booming itu. "Udah." Gaara mengambil posisi duduk di samping Cylvi, sebelumnya cowok itu duduk di depan Cylvi. Mematikan layar ponselnya, Gaara memainkan game di ponsel Cylvi. "Udah. Gue undang lo. Jadi kita partner-an aja," kata Gaara. Ia kembali sibuk dengan ponselnya. "Lo pake Layla aja. Jarak jauh." "Yang mana?" Cylvi melongok bingung. "Yang ikat dua rambutnya," jelas Gaara dengan sabar. "Gila! Basokanya kurang gede," komentar Cylvi berbinar-binar. "Gue pake Zi Long. Lo di belakang gue nembak-nembak. Jangan di depan, darah lo cepat abis," jelas Gaara lagi. "Iya. Iya. Ke mana nih?" Game itu sudah di mulai. "Middle aja." "Gue di belakang lo kan?" Cylvi sangat berkonsentrasi, ia bahkan tak menyadari Gaara menatapnya dengan senyum yang mengembang di bibir cowok itu. "Hm." "Setia banget sih gue jadinya," ucap Cylvi tak sadar. Gaara terkekeh pendek. "Harus itu." "Baper lo. Anjirr, ada musuh, Gaar." "Lo nembak aja. Gue yang maju." "Bentaran doang gitu dibunuh lo?" tanya Cylvi tak percaya. "Hm." Gaara dan Cylvi bermain game bersama untuk pertama kalinya. Keduanya merasa asyik dengan dilengkapi pekikan atau desahan kecewa Cylvi ketika karakternya atau karakter Gaara mati. Pulang sekolah, Gaara tetap menemani Cylvi yang mengumpulkan hukumannya ke kepsek. "Gue nanti jemput lo jam delapan," ucap Gaara sambil menatap lurus ke arah jalanan. Mereka masih berada di dalam mobil Gaara. "Hah? Ngapain?" tanya Cylvi heran. "Kencan," jawab Gaara singkat dan jelas. "Heh?" "Hm." "Gaar?" "Hm?" Cylvi menggulung bajunya canggung. "Mengenai yang belom gue ceritain, lo gak masalah?" "Nggak," jawab Gaara tegas. "Kenapa?" tanya Cylvi benar-benar tak mengerti kepribadian Gaara. "Lo bakal cerita nanti tunggu lo siap." "Eh?" "Gue gak bakal paksa lo." "Thanks, Gaar." "Hm." Suasana hening itu tidak canggung, baik Gaara maupun Cylvi merasa nyaman dengan keadaan itu hingga tidak terasa sudah sampai di rumah Cylvi. "Lo gak mampir?" Cylvi sudah keluar dari dalam mobil. "Nggak. Gue ada janji sama anak-anak setelah ini," tolak Gaara. "Oh ok kalo gitu. Makasih udah nganterin." "Hm. Gue duluan." Gaara melajukan mobilnya. Cylvi tahu, Gaara akan pergi balapan, mobil bugatti veyron yang dibawanya adalah bukti jika cowok itu tak pulang ke rumahnya. From : CVM Winata Lo pergi balapan? Ini kali pertama juga, Cylvi duluan chat Gaara. TING! 'Cepet amat balasnya,' batin Cylvi sambil melongo. From : Gaara Alvaro Iya. Bentaran doang. Nanti gue jemput jam 8. From : CVM Winata Ok. Hati-hati. From : Gaara Alvaro Love you. Cylvi yang sudah berbaring di atas kasurnya langsung terduduk. Ia membaca ulang pesan Gaara. Dibantingnya ponsel itu di atas kasur sembari kembali membaringkan tubuhnya. Ada rasa debaran yang sangat menyenangkan. Gaara benar-benar menjemput Cylvi pukul delapan dan ia mendapati rumah Cylvi yang terlihat sepi. "Bokap sama Nyokap ke Eropa ada meeting, Kak Citra lagi kerja kelompok di rumah temennya dan mungkin nginep, Bang Abi lagi ada acara kemahan di kampusnya," jelas Cylvi yang menjawab pertanyaan yang tergambar dari mata Gaara. Gaara mengangguk mengerti. "Udah siap, Cyl?" tanyanya. Cylvi menggunakan dress warna hitam yang lima senti di atas lutut, tak berlengan, dan di tengahnya transparan sehingga perut gadis itu terlihat, tak lupa high-heels dan tas tangannya yang berwarna senada. Gaara sendiri pakai kaus berwarna putih yang dipadu dengan jaket kulit warna hitam, jeans panjang hitam dan sepatu yang berwarna hitam pula. Terkesan cukup simpel. "Ayo." Cylvi mengunci pintu dan memasuki mobil Gaara. Gaara melajukan mobilnya. "Lo ganti mobil?" "Hm. Tadi gue sempat pulang ke rumah." "Ohh. By the way, mau ke mana Gaar?" "Nonton." "Ok." Mobil Gaara memasuki kawasan mall besar. Setelah memarkirkan mobilnya, Gaara dan Cylvi memasuki mall itu. Suasana dingin karena AC menerpa kulit terbuka Cylvi, membuat gadis itu sedikit mengigil. "Baju lo terlalu terbuka." Ternyata sejak tadi Gaara memperhatikannya. Cowok itu tak ragu melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di bahu Cylvi. "Makasih, Gaar." Cylvi mencium pipi Gaara. Bukankah banyak hal baru yang terjadi hari ini? "Awas aja di pipi gue ada bekas lipstick lo," tutur Gaara dengan nada mengancam yang main-main. Ia memeluk punggung Cylvi. Lebih nyaman bersentuhan bagi Gaara. "Elah. Gak apa kali. Mereka juga tau kalo tuh bekas dari gue," cibir Cylvi tak peduli dengan ancaman Gaara. "Sekarang lo mesra mau go public?" goda Gaara mengedipkan sebelah matanya. Cylvi mengangkat dagunya angkuh. "Seenggaknya gue lumayan cantik buat diajak go public." Gaara hanya tersenyum kecil. Cylvi yang terlalu percaya diri itu terlihat lucu. "Kita nonton apa, Gaar?" "Lo mau nonton apa? Starwars atau IT?" "IT aja deh. Ada badutnya gitu. Lucu." "Ini horror thiller, Cyl." "Gak apa-apa." "Hm." Gaara dan Cylvi mengantri tiket, setelah mendapatkannya, keduanya langsung mencari ruangannya dan tempat duduk. Selama menonton, baik Gaara maupun Cylvi diam dan fokus, hanya sesekali Cylvi pekik karena kaget. "Ayo cari makan," ajak Gaara setelah keduanya selesai menonton. Jam sudah menunjukkan jam 22.15, tapi mereka masih terlihat santai. "Lo mau makan apa?" tanyanya pada Cylvi. "Hm? Terserah lo aja." "Ayo." Gaara menarik Cylvi memasuki kawasan restoran elit, restoran Perancis. "Berapa orang?" tanya pelayan yang berdiri di depan pintu. "Dua," jawab Gaara singkat. "Baik. Mari Mas, Mbak." Gaara dan Cylvi mengikuti pelayan tersebut. "Lo mau makan apa, Gar?" tanya Cylvi yang masih membaca menu yang diantar pelayan. "Foie gras. Lo, Cyl?" "Coq au vin." "Baik. Apa ada lagi Mas, Mbak?" "Campagne satu botol, dengan satu botol air mineral dan creme brulee-nya dua porsi," tambah Gaara. "Baik. Mohon ditunggu sebentar." Sesudah pelayan itu pergi, Cylvi dan Gaara hanya diam. "Lo kok pesen campagne?" tanya Cylvi heran. "Lo gak minum, Cyl?" "Gak sih kalo gak di acara penting." Jika dilihat dari segi umur, Gaara memang sudah bisa meminum minuman beralkohol itu. Berbeda dengan Cylvi yang belum cukup umur, tapi mana mungkin Cylvi peduli. Toh ia bisa minum minuman beralkohol. Pesanan Gaara dan Cylvi datang tak lama setelah obrolan keduanya. Gaara mengantar Cylvi pulang pukul 00.25. Terlalu malam untuk balik kencan. "Kayaknya gue mesti masuk ke rumah lo dulu deh, Cyl," kata Gaara yang melihat Cylvi hampir keluar dari mobilnya. "Kenapa?" Gadis itu bingung. "Mesti minta maaf sama orang rumah lo karna telat nganterin lo pulang." Cylvi sadar, Gaara itu berbeda biarpun sedikit m***m. Cowok itu tak banyak bicara juga tidak pernah berkata kasar. Tapi mendengar Gaara yang ingin langsung meminta maaf, membuat Cylvi menambah poin plus untuk Gaara. Cowok itu bertanggung jawab. Cylvi mendekatkan wajahnya ke arah Gaara, mengecup kecil sudut bibir Gaara. "Thank you for tonight, Gaar. Lo gak perlu minta maaf sama orang rumah gue. Rumah gue malam ini cuma ada gue kok. Gue masuk duluan ya, Gaar." Cylvi memasuki rumahnya, begitu pintunya tertutup baru terdengar suara mobil Gaara melaju. Bukankah cowok itu cukup manis? Ia mengawasi sosok Cylvi sebelum akhirnya pergi setelah memastikan cewek itu baik-baik saja. Flashback : OFF Cylvi tidak bisa langsung tertidur tadi malam. Cewek itu sempat-sempatnya me-reka ulang kejadian hari ini di otaknya. Ia sadar, ia sudah mulai gila! Dan itu karena Gaara! Drrtt... drrttt... Ya Tuhan, ia benar-benar benci dengan alarmnya pagi ini!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN