"Habis ini lo mau ke mana?" tanya Siska pada Mita yang masih sibuk memainkan ponsel di tangannya, ada sebuah aplikasi belanja yang terpampang jelas dari layar ponsel gadis itu.
Cylvi dan teman-temannya masih menghabiskan waktu berada di kantin sekolah. Dari sibuk bergosip ria bersama hingga melakukan aktivitas masing-masing, bahkan ada beberapa di antara mereka yang memilih tidur di sana seperti Ananda dan Salsa.
Mita mendongak, mengalihkan pandangannya sejenak dari ponselnya. "Gak tau nih... gak ada tujuan gue hari ini. Emangnya kenapa, Sis?" tanyanya lalu memusatkan atensinya pada teman-temannya.
"Shopping aja yuk. Kan besok ada acara yang gak gimana penting, guys. Ultahnya si Magdalena kalo kalian lupa," tukas Siska yang sukses menyita semua perhatian teman-teman semejanya.
"Anjir, gue lupa dong! Gue gak tau tuh anak bisa ngerayain ulang tahun juga," tutur Ananda lalu sibuk mencari ponselnya guna melihat sisa saldo di akun bank miliknya. “Mumpung gue masih ada duit, ayo deh kita pergi belanja. Udah lama nih kita gak ngabisin duit bareng.” Ia segera merapikan rambutnya dengan sisir dan kaca yang ia dapatkan di depan Mita.
Salsa mengernyitkan dahinya heran. "Lo kira dia lahir dari batu apa sampe gak bisa ngerayain ulang tahun? Emang sih tampangnya dia kayak tampang-tampang manusia batu, tapi jangan sekejam itu dong, Nan.”
"Kalian kok jahat gitu sih? Dia itu bukan manusia batu tau, tapi manusia lumut. Jadi gimana? Jadi pergi shopping nggak nanti?" Anna bangkit dari kursinya. “Sekarang aja kuy, mumpung lagi pada males di sekolah.”
"Boleh. Siapa-siapa aja nih yang mau ikut?” Mita mengalihkan pandangan. “Lo mau ikut nggak, Cyl?" tanyanya pada Cylvi yang sedari tadi memilih menyimak.
"Hmm...” Cylvi tampak memikirkan sesuatu dengan keras. “Sebenarnya gue males banget mau ke party-nya dia," lanjutnya. “Ngebuang waktu gue aja, gak berguna banget.”
Vina menganggukan kepalanya tanda setuju dan sebenarnya tidak ada di antara mereka yang berminat untuk pergi ke pesta tersebut.
“Sama. Tapi nih Cyl... nanti dia pasti mikir lo takut sama dia kalo sampe lo kagak pergi,” ucap Salsa memutar matanya membayangkan drama yang akan disajikan Magdalena. “Dia kan paling suka tuh ribut sama lo,” sambungnya lagi diikuti anggukan massal teman segenknya.
“Gue yakin, pasti ada yang dia rencanain deh nanti,” tutur Ananda dengan gaya detektifnya. “Terutama rencana buat lo, Cyl.”
“Itu udah pasti sih, menurut gue,” sahut Vina seraya mengikuti Anna untuk bangkit dari duduknya. “Kita shopping-nya sekarang apa nanti pas abis pulang?”
" Abis balik sekolah aja. Gue lagi mager sekarang," jawab Mita sembari menenggelamkan kepala di antara lipatan lengan tangannya. “Males banget, anjir.”
"Ok!"
Berbeda dengan gadis-gadis itu, Gaara dan teman-temannya sebenarnya juga diundang ke acara ulang tahun Magdalena yang diyakini cukup meriah. Hanya saja, sekumpulan cowok itu enggan membahasnya dan memutuskan untuk tak memedulikan pesta yang akan berlangsung besok malam.
"Woi! Gue baru inget kalo ada sesuatu yang gue lupain," kata Gilang tiba-tiba dengan suara yang di-loud-speaker.
"Apaan?" tanya Jacky malas.
Riko mendengkus kesal. “Ya jelaslah lo baru inget sama hal yang lupa. Bikin mikir aja omongan lo itu,” cibirnya menatap tajam ke arah Gilang yang terkekeh.
"Ya... jangan marah dong, Rik. Gini doang lo sangsut, lo belum disuruh nebak kode cewek, auto ngambek tuh otak lo mikirnya,” ejek Gilang main-main lalu buru-buru mengalihkan pembicaraannya sebelum Riko mengeluarkan kata sumpah serapahnya. “Gue kan gak ada baju bagus di rumah kakak gue." Gilang baru teringat jika ia tinggal bersama kakaknya sementara waktu karena orang tuanya sedang honeymoon untuk kesekian kalinya di luar negeri.
"Gue kira apaan tadi, sepenting apa sampe lo teriak. Tinggal beli aja lo nanti, tapi gue gak ikutan ya. Gue mau nge-date sama Shinta," kata Zilo sambil mengetikan sesuatu di laptopnya.
"Kalian ikut?" Gilang menatap satu-satu teman semejanya. “Temenin gue, elah!”
"Sorry nih ya... gue kagak bisa, ada urusan keluarga," jawab Jacky sekenanya tanpa memedulikan wajah Gilang yang kusut.
"Gue juga kagak bisa, ada janji sama Abang gue ke rumah ceweknya," kata Riko membuat banyak pertanyaan iseng yang bermain di benak Zilo.
"Ngapain lo? Mau jadi obat nyamuk lo di situ?" tanya Zilo main-main. “Udah resign lo dari status obat nyamuk si Gilang sama Saras?
"Resign, resign... nenek moyang lo! Gue gak pernah ya jadi obat nyamuk tuh bocah tengil, enak aja kalo ngomong,” omel Riko ganas. “Abang gue mau buat surprise anniversary –nya nanti malam."
"Ok, gak apa-apa. Gue cukup tau aja Rik, lo orangnya kayak gini.” Drama Gilang dimulai.
“Kayak gimana, kutu air?” kata Riko menaikturunkan alisnya sebal.
“Lo gak setia kawan banget. Lebih milih jadi obat nyamuk Abang lo dibanding temenin gue,” ujar Gilang memperkeruh raut wajah Riko. “Fix, kita cerai, Rik!”
“HEH!” Belum sempat Riko membalas kata-kata Gilang, Jacky sudah memotong pembicaraan keduanya
“Kalo lo berdua bisa ikut nggak?" tanya Jacky menatap ke arah Gaara dan Johan yang sedari tadi memilih diam tak menyimak pembahasan mereka.
"Gue bisa," jawab Johan setelah diam beberapa detik.
Gaara mengangguk pendek. "Terserah.”
Gilang menyeringai puas. "Sip. Gue pergi bareng Johan sama Gaara kalo gitu," cengirnya tahu ada yang bisa menemaninya pergi mencari pakaian.
"Serah lo, panda," kata Riko dengan nada mengejek, bermaksud mengajak Gilang kembali berdebat.
Gilang membulatkan matanya. "Imut dong gue disamain sama panda." Ia tertawa sinis. “Makasih Rik. Makin cinta deh gue sama lo.”
“Jijik lo, Lang,” kata Riko melempar sendoknya ke arah Gilang.
Gilang menggerutu lalu mengambil sendok yang mendarat sempurna di kepalanya. “Jangan main k*******n dong, Rik! Lo kok suka KDRT sih sama gue?” tukasnya yang tak digubris oleh Riko.
Johan tertawa singkat. "Lo gak liat mata lo kayak abis kena tonjok. Hitam mirip panda," tuturnya tanpa beban.
"Anjir. Ini karna gue begadang temenin si doi yang mendadak insomnia," ujar Gilang geram. “Sebenernya pengen gue tinggal tidur, tapi diteror mulu tau.”
"Lo temenin Saras ngapain? Curiga gue." Riko menyipitkan matanya, sesekali memberikan senyuman mengejek.
"Ambigu woi," sahut Jacky tak mau kalah menggoda Gilang.
"Pantes tampangnya Gilang hari ini lumayan seger biarpun gak tidur," cengir Riko yang dibalas delikan dongkol dari Gilang.
"Dia sengaja tuh mau masukin Saras ke peti biar nanti kita sama-sama taulah,” ejek Jacky sambil tertawa mentah.
"Otak kalian kayaknya mesti disikat pakai sikat WC biar kinclong, udah kotor banget," kata Gilang jengkel.
Tawa menggelegar di meja pojokan sana.
Di mall yang luas, ketujuh gadis itu berpencar. Ada yang memilih mampir toko baju, menuju ke toko sepatu bahkan ada yang ke restoran seperti yang dilakukan Cylvi dan Salsa sekarang ini.
Kedua cewek itu lebih memilih mengganjal perut dibanding mencari pakaian yang hanya menambah sumpek di lemari pakaian mereka.
"Lo mau makan apa, Cyl?" tanya Salsa pada Cylvi begitu mereka duduk di sebuah meja restoran, matanya sibuk melihat menu yang disodorkan pelayan.
"Gue nasgor aja deh sama milk shake strawberry," sebut Cylvi seadanya.
"Kalo gue, nasi padang sama orange juice. Gini aja nih, Cyl? Gak mau makan buas?" Salsa masih membaca buku menu di tangannya.
"Boleh. Sekalian pizza porsi kecil satu, sama kentang goreng plus salad dua porsi," pesan Cylvi lagi.
Salsa dan Cylvi memang terkenal paling doyan makan di Kingnezs, selain terkenal karena wajah mereka dan aksi mereka yang suka membuat para guru pusing tujuh keliling.
"Wih. Ketemu lagi sama cewek yang di kantin sekolah tadi. Boleh gabung gak nih?" cerocos Gilang begitu berdiri tepat di depan Salsa dan Cylvi.
Gilang tak sengaja melihat Cylvi dan Salsa sedang duduk di salah satu meja. Kebetulan, ketiga cowok itu pun bermaksud ingin menganjal perut di restoran yang sama dengan Cylvi dan Salsa. Tetapi, meja-meja di restoran itu sudah penuh. Ketika mereka memutuskan ingin pergi mencari restoran lain, matanya malah menangkap sosok Cylvi dan Salsa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Silakan. Rame juga nih restoran. Pasti lagi gak ada meja yang kosong," ujar Salsa disertai senyuman ramah.
"Wah, baik banget sih lo. Oh ya, kenalin nama gue Gilang Pratama Djaya. Nih orang Johan Cristian dan yang ini Gaara Alvaro Dianggara," kata Gilang sambil menunjuk ke arah Johan dan Gaara.
“Lo nyebut nama gue panjang banget,” bisik Johan.
Gilang menyengir kuda. “Biarin. Gue juga mau tau nama panjang mereka biar gampang nyari tau soal mereka nanti,” balasnya dengan suara yang tak kalah kecil.
"Oh. Kenalin, gue Salsana Krisdayani Widjaya, panggil aja Salsa dan ini Cylviana Meri Winata, bisa dipanggil jadi Cylvi atau nggak CMW."
"Panjang amat tuh nama kayak kereta api," ujar Gilang yang masih menyengir tak jelas.
Salsa hanya merespons dengan senyuman, berbeda dengan Cylvi yang memilih not responding.
"Kalian udah mesen?" tanya Salsa memanggil pelayan untuk mendekati meja mereka.
Salsa dan Ananda adalah orang yang cukup welcome di Kingnezs. Sedangkan yang lain, biarpun memiliki sifat yang luwes dalam genk, mereka tetap tidak bisa berakrab ria dengan siapapun yang baru dikenal. Cukup sulit untuk mereka berbicara santai dengan orang lain.
"Ini baru mau mesen. Kalian mau mesen apa?" tanya Gilang pada kedua temannya saat pelayan itu menyodorkan menu.
"Gue nasgor sama jus alpukat," jawab Gaara singkat.
Johan membolak-balikan bukunya sebelum mengatakan pesanannya. "Gue nasi bakar sama jus apel aja deh," jawabnya kemudian.
"Gue nasi campur plus kentang goreng sama jus bubble mint," ujar Gilang, tak lupa ia melempar senyuman genit ke arah sang pelayan.
"Baik. Mohon ditunggu sebentar," kata pelayan itu sedikit gugup.
Selepas pelayan itu pergi, meja yang berisi dua cewek dan tiga cowok itu kembali sunyi.
"Ada yang chat di group, Cyl," ujar Salsa tiba-tiba ketika melihat notifikasi di layar ponselnya yang menyala.
Memang sedari tadi Cylvi memainkan ponselnya, namun ia masih sibuk bermain game bukan mengecek aplikasi chatnya. "Gue belum buka," jawabnya ringan.
"Gue denger-denger kalian ada genk ya?" tanya Johan pada Cylvi dan Salsa. Ia berusaha membuka bahasan pada dua gadis yang memberi tumpangan meja pada mereka.
"Iya. Nama genk kita Kingnezs. Lo gak pernah denger?" jawab Salsa setelah selesai membalas pesan.
"Pernah. Cuma kayaknya baru ketemu anggotanya satu atau dua orang doang.” Johan mencoba mengingat-ingat siapa yang sudah dilihatnya.
Salsa mengedikkan bahunya. "Kita mah cuma tujuh orang. tujuh-tujuhnya lagi ada di sini malah, cuma lagi pada mencar aja."
"Oh gitu."
Salsa kembali memainkan ponselnya dan membuka aplikasi chatnya.
Kingnezs (7)
Salsana KW : GILAAAAA! GUE SAMA CYLVI LAGI DUDUK BARENG COGAN!!!!!
Siska Chyntia : capslock lo jebol, Sa?
Ananda Raya : hah? Siapa bebs? Justin Bieber? Atau Song Joong Ki? Atau ajusshi yang di Goblin itu?
Gracelly Annaka : songong lo, Nan. Mungkin gak sih mereka di sini tapi di sini gak rusuh kayak emak-emak lagi pada rebutan sembako gratisan?
Mitania Sasa: anjir.. otaknya Nanda konslet lagi. Periksa gih. Kabel lo kelilit kayaknya.
Ananda Raya : anjir. :( gue dibully! Please, oppa gangnam style bantuin gue yang teraniaya ini.
Siska Chyntia : lo gila!
Salvina J : so? Siapa woii? Anjir si Nanda bikin salfok!
CVM Winata : lo semua percaya sama Salsa?
Siska Chyntia : woii.. terus siapa? Kalian lagi di mana sih?
CVM Winata : dakochan.
Mitania Sasa : si dakochan yang dibilang cogan nih maksudnya?
Salsana KW :
(Mengirim Foto)
Mitania Sasa : gila! Ganteng banget sumpah yang paling kanan itu siapa?
Salsana KW : gue bilang apa? Lo percaya sama Cylvi yang bilang mereka dakochanl? Si Gaara itu.
Ananda Raya : si Johan bukan tuh yang paling kiri?
Siska Chyntia : lo kenal Nan?
Ananda Raya : kenal. Kan tetanggaan. Kakak kelas kita tuh.
Salvina J : lo kagak pernah bilang, Nan. Kalo lo bilang kan, auto tiap hari gue ke rumah lo.
Cylvi meletakkan ponselnya di atas meja, mengabaikan keributan notif yang penuh di layar ponselnya saat pesanan mereka datang. Ia bahkan tak mengubris telepon masuk dari Vina.
"Kalian makan itu semua? Berdua?" tanya Johan yang kaget melihat banyak makanan di meja mereka, pesanan Salsa dan Cylvi.
"Iya. Kita mah emang paling kuat makan," jawab Salsa tanpa jaim. Sedangkan Cylvi, cewek itu lebih memilih makan dalam diam.
"Oh ya? Buju buneng! Cewek gue lagi di sini," kata Gilang melihat Saras di ujung meja restoran yang sama dengan mereka duduki.
"Anjir. Pake jalan ke arah sini lagi. Eh, gue bilangin Salsa pacaran sama lo ya, Jo. Cylvi sama Gaara. Bisa mati digerek nih gue sama dia kalo ketahuan sama orang asing." Gilang mencoba tersenyum manis, namun yang dilihat Gaara dan Johan malah senyuman kaku khas seperti maling yang terpergok polisi.
Belum sempat keempatnya protes, Saras sudah sampai di depan meja mereka. "Lang, ngapain di sini?" tanya Saras begitu sampai di samping tempat duduk Gilang.
"Nih temenin Johan sama Gaara double date. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kamu kan tau gimana Gaara sama Johan. Gak bisa dipercaya," kata Gilang tak memedulikan tatapan tajam dari kedua temannya itu.
"Oh? Cewek lo pada?" tanya Saras pada Johan dan Gaara.
Tidak mendapat jawaban dari cowok cowok itu, Saras berkenalan dengan Cylvi dan Salsa.
"Kenalin gue Saras. Ceweknya Gilang. Kalo kalian?" Ia menatap Cylvi dan Salsa dari atas hingga bawah.
"Gue Salsa." Salsa ikut membalas tatapan penuh selidik itu.
"Cylvi."
"Gue kayaknya gak asing sama muka kalian. Oh ya, lo Cylvi ketuanya Kingnezs itu bukan? Lo pacarnya siapa? Gaara apa Johan?" Ada binar riang di mata Saras.
"Sama Gaara dia," jawab Gilang cepat. Bisa panjang urusannya jika Gaara atau Cylvi yang terlebih dulu berbicara, ia takut duo pendiam itu tak mau bekerja sama dengannya.
"Oh ya? Kok gue jarang liat kalian bareng? Gaar, cewek lo ok banget kayak gini, lo gak pernah tunjukin ke kita,” tutur Saras menunjukkan sifat cerewetnya. “Lo tau gak Cyl, gue gak pernah tau si Gaara punya pacar. Orangnya judes gitu. Gue kira gak bakal ada yang mau sama dia biarpun dilelang," lanjutnya lagi seraya menyengir polos.
Cylvi hanya menghela napas, tak berniat menjawab. Toh, ia tak tahu harus merespons apa. Ia tak mengenal siapa Gaara, Gilang dan Saras jadi ia memilih untuk tetap bungkam.
"Hm. Begitulah," komentar Gaara akhirnya setelah mendapatkan tatapan tak enak dari Gilang, pertanda minta tolong.
"Gue gabung di sini ya," kata Saras sambil menarik kursi di samping Salsa.
Saras tersenyum riang, memamerkan deretan gigi-giginya. "Gue sering denger nama Kingnezs loh walaupun beda sekolah sih kita. Tapi baru sekarang gue ketemu sama ketuanya yang sering digosipkan famous itu."
"Biasa aja sih kalo Cylvi,” jawab Salsa menggantikan Cylvi. Ia tahu ketuanya tersebut tak akan mau menjawab.
"Oh ya Cyl, kok lo bisa pacaran sama Gaara? Gue gak pernah liat lo ikut kita-kita ngumpul padahal kan ada Gaara di situ," ucap Saras lagi. Gilang merutuki sifat kepo akut Saras.
"Gue lumayan sibuk di genk. Lagian Gaara bilang sendiri juga gak apa-apa." Akhirnya Cylvi ikut membohongi Saras padahal ia sama sekali tak tahu mengenai perkumpulan yang disebut Saras.
Cylvi enggan berbohong tapi karena semuanya sudah membohongi Saras, mau tak mau ia juga terpaksa mengikutinya.
Saras mengedipkan matanya penuh godaan. "Gaara bilang gitu? Pengertian banget sih lo, Gaar. Gak nyangka deh gue."
Tiba-tiba handphone Cylvi kembali berbunyi.
Mita is calling...
"Hallo?" Cylvi mengembuskan napas leganya.
"Lo di mana, Cyl?"
"Di tempat makan. Kalian udah selesai?" Ia melirik jam yang terlampir di kanan atas layar ponselnya.
"Ya belum sih. Gue kirain lo berdua udah balik."
"Niatnya sih gitu." Cylvi memainkan sedotan minumannya. “Lo masih lama?”
"Anjir. Kagak boleh pulang duluan, tungguin kita-kita. Lo berdua makan buas aja dulu, kita gak lama lagi kok."
"Hmm,” gumam Cylvi sekenanya.
"Ok. Nanti gue telpon lagi."
"Sip." Cylvi meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja.
"Siapa Cyl?" tanya Salsa penasaran.
"Mita."
"Mereka udahan?" tanya Salsa lagi. “Tumben?”
"Belum. Disuruh tunggu," jawab Cylvi dengan bosan. “Lo kayak gak tau mereka aja.”
"Makanya gue bingung pas lo bilang Mita telepon," kata Salsa lalu membuka ponselnya bermain game. Cylvi hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
"Kalo diliat-liat Cylvi sama Gaara sama aja ya. Pendiem," ujar Saras lagi.
"Ya gitu. Mereka lebih ke kontak fisik daripada ngomong," kata Gilang seraya menyengir polos saat Cylvi dan Gaara menatap tajam ke arahnya sambil menghela napas. Tak ada pilihan lain untuk mereka berdua selain mengikuti permainan yang diciptakan Gilang.
"Gue sama Cylvi banyakan ngomong kalo lagi berduaan," ujar Gaara dingin.
"Emang kenapa kalo rame gini?" Saras semakin ingin tahu dengan kedekatan duo pendiam itu.
"Gak tau apa yang mau diomongin," jawab Cylvi cuek.
"By the way, gue sama Cylvi mau duluan nih. Mau cari yang lain lagi," kata Salsa yang berusaha menolong Cylvi berbohong. Ia merasa jika Cylvi sudah berada di batas kesabaran, bisa-bisa ketuanya itu membuat keributan yang tak diinginkan.
"Loh? Gak bareng Johan sama Gaara?" Saras bingung dengan dua pasangan kekasih itu.
"Gak. Kita bawa mobil sendiri tadi karna bareng sama yang lain." Salsa meringis kecil harus terus berbohong.
"Oke kalo gitu. Salam kenal ya." Saras tersenyum senang. “Lain kali datang ya ke perkumpulan.”
“Diusahain ya!” seru Salsa yang sudah ditarik pergi oleh Cylvi.
Cylvi dan Salsa segera pergi dari tempat itu dan menuju kasir.
"Cyl!" panggil Gilang yang sukses menarik perhatian beberapa orang, termasuk Cylvi dan Salsa.
Cylvi hanya menolehkan kepalanya sebagai tanda bertanya.
"Gak perlu bayar. Gaara yang bayarin buat lo."
Sekali lagi, Cylvi dan Gaara tak diberi pilihan lain.