Bab 2

1767 Kata
Pagi cerah penuh suara kicauan burung yang terdengar meriah, Cylvi berangkat ke sekolah dengan langkah malas dan tak bersemangat. Ya, ia memang seperti itu dan selalu terjadi di setiap paginya. Namun, tetap saja hari ini ia jauh lebih malas karena terpaksa harus berjalan kaki menuju sekolah akibat  mobil yang baru dipakainya selama dua minggu ini masuk ke bengkel setelah abang tercintanya meminjam dan menabrakkannya pada pohon tak bersalah di tepi jalan. Untung saja jarak ke sekolah dari rumahnya tidak begitu jauh, sehingga ia tak perlu menaiki kendaraan umum yang sangat ia benci karena keramaian yang membuatnya sesak. “Kenapa tadi gue gak minta supir Mama anterin aja ya?” tukasnya baru menyadari jika di rumahnya masih ada mobil sang Ibu yang menganggur. “Bodoh!” Saat bertemu dengan Vina di tengah perjalanannya, Cylvi tak juga mengubah langkah zombie-nya menjadi langkah manusia pada umumnya. Ia sudah terlalu malas memulai harinya hari ini, rasa jengah dan bosan sudah mengelilinginya sejak ia bangun dari dunia mimpinya tadi. "Cyl, lo tau nggak?" pancing Vina tak menyukai suasana diam yang tercipta di antara ia dan Cylvi. "Nggak," jawab Cylvi sembari mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam tas, mengetik sesuatu dan memusatkan semua atensinya pada benda di genggamannya. Vina mendelik sebal mendapati sosok Cylvi yang tak mau diajak berbincang. "Ya elah si kutu. Gue belum selesai ngomong, udah lo jawab." "Ye, salah sendiri. Belum ngomong udah tanya duluan," sungut Cylvi sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan aplikasi chatting. Vina menghela napas kasar, ia mendelik sinis ke arah Cylvi yang masih mengabaikannya. "Lo emang gak pernah mau kalah ya orangnya.” "Lah? Kenapa harus kalah? Salah gue di mana emangnya?" balas Cylvi tak peduli. "Ok, back to point aja. Gak bakal selesai-selesai kalo udah debat sama lo. Mau sampe bumi jadi kotak pun, lo gak bakalan ngasih kendor jadi mendingan lo denger gue cerita aja.” Vina mencibir ketuanya yang masih setengah hati mendengarnya. “Lo gak tau kan, kalo kemaren ada kakak kelas yang cakep di sekolah kita? Kayaknya sih kakak kelas, eh tapi gak tau juga gue. Kan gue gak kenal sama dia, tapi ya ampun... gue kemaren ketemu sama dia di lapangan basket. Pasti dia itu jodoh gue, Tuhan pasti ngirim jodoh gue pake paket cepat kilat. Udah bosan Tuhan liat gue bareng lo terus," tukas Vina bersemangat dan bahkan tanpa berhenti untuk mengambil napas. "Ya udah, pergi sana. Gue juga lagi gak butuh lo sekarang,” ucap Cylvi cuek, ia tak tertarik dengan bahan pembicaraan yang Vina bawakan. “Nanti gue panggil lagi kalo gue udah butuh lo.” “Ih! Jahat banget lo pake ngusir gue, mana dibilang lagi gak dibutuhkan segala.” Vina menatap tajam ke arah Cylvi.”Lo kira gue apaan pake dibilang butuh sama nggak?” Tatapan itu jelas tak dihiraukan gadis di sebelahnya itu. “Gak tau, belom gue pikirin,” balasnya singkat. “Oh ya, yang lo bahas itu siswa baru atau apa?" Cylvi mengalihkan bahasan pembicaraan mereka dengan cepat sebelum Vina menyorocosnya dengan segala omelan yang akan semakin membuat mood-nya turun. "Jelas bukan deh. Kayaknya sih si doi ini tipe-tipe orang yang tertutup gitu, makanya kita gak pernah ketemu sama dia. Tipe-tipe kayak nerd kali ya. Tapi, gak mungkinlah si nerd bisa narik perhatian mata cantik gue ini,” ujar Vina seraya mengembangkan senyum manis. "Gak usah mulai ngayal deh," cibir Cylvi dengan tampang geli. “Males gue jadinya ngomong sama lo.” Vina menggerutu pelan lalu mengambil ponselnya dari saku baju seragamnya. "Elah lo, Cyl. Kagak senang banget liat gue bahagia. Lo gak seneng kan karna kalo gue jadian sama dia, lo gak ada temen jomblo lagi? Makanya Cyl... cari pacar! Jangan nyari Bu Mira terus. Pindah haluan ya lo?” “Lo−“ "Cepetan guys, udah hampir ditutup nih gerbang. Lo berdua pada mau jadi spiderman dadakan manjatin tuh gerbang neraka?" sambar Salsa dari belakang. Ia tak menyadari jika sudah memotong semprotan yang akan dilayangkan Cylvi, gadis itu sibuk berlari kecil menyamakan langkah mereka. Sesampai di koridor sekolah, Cylvi dan teman-temannya berbelok ke kantin yang berlawanan arah dengan kelas mereka. Mereka mengabaikan berbagai tatapan yang menatap mereka dari tatapan kagum hingga tatapan iri. Cylvi dan teman-temannya memang amat-sangat populer di sekolah. "Woi, cecurut! Lama banget sih lo pada. Udah jamuran nih gue nungguin kalian di sini," teriak Anna ketika menangkap sosok Cylvi dan yang lainnya baru muncul di hadapannya dan dengan santai menduduki diri di meja tempat mereka biasa nongkrong. "Idih, kita juga udah cepetan ini," jawab Salsa sekenanya, ia menyeruput asal es teh milih Anna. Mita melirik jam yang melingkar pas di tangannya. "Iya, kalian cepet banget... secepat siput.” Cylvi dan teman-temannya membentuk sebuah genk yang bernama Kingnezs. Genk tersebut beranggota tujuh orang. Vina, Salsa, Mita, Anna, Ananda, dan Siska dengan ketuanya Cylvi itu sendiri. Genk yang berisikan gadis-gadis cantik itu kerap keluar masuk di ruangan BP karena terlalu sering membuat ulah. "Jangan ngambek dong, curut. Ntar makin jelek lo mirip emaknya kuda nil," sahut Vina setengah bercanda. “Gue jadi bingung, mau manggil lo curut apa kuda nil nanti,” godanya lagi. Mita melempar tutup botol mineralnya ke arah Vina. "Anjir lo!"   Jika diperhatikan, bukan hanya Cylvi se-genk yang berada di kantin saat jam pelajaran berlangsung. Di pojokan tempat duduk sebelah kanan, ada beberapa cowok yang tengah sibuk membahas sesuatu. "Woi, guys. Ada kumpulan kucing oren tuh di sana," kata Mita sambil menunjuk arah ke sekumpulan cowok itu dengan matanya. "Mana, Ta?" tanya Ananda cepat, ia dengan polos mencari sosok kucing di bawah meja. Mita menepuk jidatnya pelan seraya mendesah kecil. "Nan, lo bisa nggak gobloknya itu jangan dipelihara mulu? Di delete kek tuh lemotnya, kesel gue sama lo!" "Cukup pelihara otak lo aja, Nan. Kasian tuh otak gak ke pake mulu," ucap Salsa yang sama kesalnya dengan Mita. "s****n! Gue mana tau kalo lo itu nyebut manusia itu kucing,” sahut  Ananda tak terima. “Lagian dari manusia ke kucing itu jauh banget, Mit!” "Ya elah, Nah itu tuh cowok yang gue liat kemaren. Makin ganteng aja kamu, Mas," tutur Vina sambil menatap kagum ke salah satu cowok di pojokan sana. "Yang mana sih, Vin? Kagak liat gue," tanya Siska. Ia lalu mengikuti arah pandangan Vina. "Yang duduknya paling ujung, yang lagi main hp. Terpesona lagi deh Adek jadinya," jawab Vina dengan semangat, ia tak menyadari tatapan geli yang dilempar Cylvi dan Ananda ke arahnya. "Gaya lo alay banget, Mbak!" cibir Mita sambil memutar matanya bosan. Vina mendelik sinis. "Jangan jealous please, Ta. Si ganteng itu jelas punya gue." "Tapi nih, kalo diliat-liat mereka semua itu pada ganteng. Kayak kita-kita nih, cantik semua," kata Anna dengan senyum kalemnya. Siska terkekeh sembari menepuk kecil pundak Anna. "Kepedeannya tolong dikondisikan, Na. Kasih mundur dikit, kemajuan itu kayaknya." "Ye... dibilang cantik malah bilang gue kepedean, ya udah gue tarik lagi kata-kata gue. Cuma gue sendiri yang cantik di sini," balas Anna sengit. Ia merengut sebal kala Salsa dan Mita menertawainya. "Anyway, by the way, busway. Tuh cowok ada yang liatin deh kita kayaknya.” Ananda menjentikkan jarinya, menarik fokus teman-temannya. "Really? Perlu gitu kita samperin mereka?" tutur Mita malas. “Males banget.” "Ya gak perlulah. Cewek waiting only. Cowok yang harus bergerak dong." Ucapan Ananda itu mengundang semburan tawa teman-teman semejanya.   Gaara sedang duduk bersama teman-temannya di pojokan kantin. Membolos pelajaran bukan hal yang tabu bagi mereka. Gaara jelas tidak munafik dengan mengatakan ia adalah anak baik-baik. Dirinya cukup sering tawuran, balapan dan cuek dengan segala peraturan yang berlaku di sekolah. Melakukan hal yang disenanginya adalah motto hidupnya saat ini. "Wih! Lumayan nih buat cuci mata, coba liat ke sana," kata Gilang sambil menunjuk arah Cylvi ddan teman-temannya dengan mengangkat dagunya singkat. "Cuci tuh mata pake sabun, Lang," tutur Zilo yang duduk di samping Gaara. “Ngapain liatin ke sana?” "Anjir. Biar bersih, tambahin pake pemutih. Dijamin mata lo putih semua tanpa noda," sambung Riko yang tetap fokus bermain game di ponsel genggamannya. "Kalian berdua ini gak tau apa kalo yang kayak gini-gini ini kudu diliatin. Lumayan buat bersihin data kotor di otak, maksud gue tampang guru kita," ucap Gilang sesekali menggelengkan kepalanya heran. Jacky menaikturunkan alisnya jenaka. "Jadi selama ini lo naksir guru sampe tuh muka lo ingat terus di otak?" Gilang mendesis sinis. "Ya nggak lah. Ngaco lo! Ya kali gue naksirnya sama mak lampir." Di pojokan itu ada Gilang, Gaara, Zilo, Riko, Jacky dan Johan. Mereka juga termasuk salah satu aset populer di sekolah dan punya genk yang bernama Tinders. Gilang, Gaara dan Zilo berprestasi di basket, sedangkan Riko, Jacky dan Johan berprestasi di sepak bola. Namun bukan berarti IQ mereka bermasalah di pelajaran. Gaara dan Jacky terkenal sangat jenius di kelas mereka walaupun mereka sering tak memedulikan pelajaran-pelajaran di sekolah. "Gue penasaran, Saras nanti mau lo taruh ke mana?" tanya Zilo pada Gilang. "Taruh di peti aja udah. Gak perlu ribet," tukas Gilang dengan ringan seolah-olah sedang membicarakan cuaca. Johan membelalakan matanya kaget. "Anjir. Lo kira mayat gitu. Kejam banget sih kamu, Mas." "Jangan ngedrama deh kamu, Mas. Jijik gue." Gilang memainkan matanya dengan genit. Jacky menopang dagunya. "Salfok deh gue sama mereka. Ngapain tuh cewek-cewek masih di sini? Jangan bilang mereka sama kayak kita, suka bolos gitu. Tapi kayaknya gue pernah liat salah satu di antara mereka deh, cuma gue lupa liatnya di mana. Anjir, pelajaran Pak botak abis ini." "Kalo gak salah ada tugas kan dari doi? Lo udah kerjain?" Riko mengeledah isi tasnya dengan panik. “Gue gak bawa bukunya,” lanjutnya pasrah. "Lo liat tampang gue gimana? Mungkin gitu gue kerjain tuh tugas?" kata Gilang dengan santai. "Buka buku aja kagak mungkin apalagi kerjain.” Riko mencibir Gilang yang seolah tak masalah jika berakhir dihukum nanti. "Itu lo tau. Pinjam sini PR lo, Han." Gilang mengeluarkan bukunya lalu kembali memasukkannya ke dalam tas. “Gak jadi, gue mau nongkrong di cafe aja nanti.” “Gue ikut juga dong, Lang,” sahut Riko sumringah. “Lo pada ada kerjain tugas?” "Gue gak ngerjain," jawab Gaara santai. "Gue juga," susul Jacky. "Nah lalu? Lo berdua mau kerjain sekarang?" tanya Gilang yang lalu dibalas gelengan kepala dari Jacky. “Malas gue,” jawab Gaara. “Ya udah, nge-cafe aja kita nanti. Sekalian nyari inspirasi di luar.” Zilo melirik ke arah meja Cylvi. “Mau ngajakin mereka?” Gilang melebarkan senyuman genitnya. “Gue gak nolak.” “Jangan deh. Gue rasa mereka bukan kayak cewek-cewek yang biasa nyeru-nyerukan nama kita kayak yang lain,” kata Jacky sembari menatap satu-satu gadis yang duduk tak jauh dari mereka. “Liat aja, mereka aja pada gak peduli sama keberadaan kita di sini.” “Iya sih. Tapi−“ "Gue mau pesen minum," potong Gaara tiba-tiba sambil berdiri dari duduknya. "Gue titip, Gaar. Bakso," kata Gilang menyengir kuda. Jacky mendelik Gilang sinis. "Dia bilang minum, anak unta. Apanya yang bakso?" cibirnya cuek. "Kan siapa tau dia singgah di warung Bu Ami. Cuma sebelahan juga, gak jauh,” balas Gilang dengan ledekan. "Iya," kata Gaara berlalu pergi. Hal yang kebetulan, Cylvi juga ternyata sedang memesan minum. "Bu, es tehnya empat anter ke meja yang di tengah situ," kata Cylvi menunjuk ke meja yang berisikan teman-temannya. Cylvi tidak menyadari Gaara berdiri di belakangnya sehingga ketika ia berbalik, pandangannya bertabrakan dengan d**a bidang Gaara. "Anjir! Kaget gue," pekik Cylvi yang hampir menarik seluruh atensi orang-orang yang berada di kantin. "Sorry," kata Gaara cuek sambil berjalan maju untuk memesan minuman. Cylvi menatap tajam ke arah Gaara. "Gue dikacangin," sungutnya. Cylvi berbalik arah memandang Gaara yang sekarang sedang memesan bakso. "Cakep sih tapi cuek. Males," bisiknya sambil berlalu dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN