Tatapan sengit dan helaan napas lelah itu tak lantas membuat seorang gadis di hadapannya mau menatap ke arahnya. Gadis yang berlangganan menemuinya itu hanya sibuk memandang bosan ke arah luar ruangan dan hal tersebut membuatnya semakin marah.
"Cylviana Meri Winata, sudah berapa kali dalam seminggu ini kamu harus bertemu dengan saya?" Suara menggelegar itu terdengar dari ruang guru BP. Ya, gadis di depannya ini bernama Cylvi. Gadis si pembuat onar adalah julukannya dari para guru.
"Ya ampun Ibu! Panggil CMW aja, gak usah lengkap-lengkap kayak nama di KTP. Lagian Ibu yang ngajak saya ketemuan, masa Ibu juga yang tanya saya mau berapa kali ketemuan. Kan saya di sini cuma buat memenuhi panggilan Ibu aja," jawab Cylvi dengan santai seolah ia sedang berbicara dengan teman sebayanya.
Cylvi memang sudah sering berhadapan dengan guru BP tersebut. Saking seringnya, ia yakin delapan puluh persen isi buku kasus di genggaman guru itu hanya berisi nama dan kelakuan ajaibnya saja.
"Bisa tidak untuk sekali saja kamu tidak menjawab saya."
Urat di pelipis guru yang bernama Mira itu muncul. Tampak sekali ia sedang menahan emosi yang sudah ingin keluar sedari tadi. Cylvi adalah salah satu murid berlangganan yang selalu ia tangani karena pasti ada saja tingkah siswi tersebut yang membuatnya naik pitam.
"Ibu mau saya diemin ya? Yakin nih, Bu mau saya diem aja? Sakit loh Bu kalo dikacangin. Saya aja nolak dikacangin, soalnya diperhatiin lebih greget gitu, Bu. Lebih ada sensasinya,” tukasnya ringan. Cylvi bahkan menaikturunkan alisnya menggoda sang guru yang terkenal killer.
Bu Mira mendengkus kesal, ada kilatan marah yang tergambar jelas di matanya. "Kamu jangan kurang ajar ya, Cylvi. Saya ini bukan teman kamu, dan jangan banyak menjawab saya!"
"Ya, Ibu emang bukan teman saya, saya tau itu dan gak berminat buat menyanggah, Bu. Tapi Ibu pasti tau lah tujuan saya di sini buat belajar bukan mengajar. Jadi maklumin dong Bu, kalo misalnya ada tingkah atau ucapan saya yang kurang ajar. Kalo kelebihan ajar mah, saya yang udah jadi gurunya, Bu," cerocos Cylvi seenaknya tanpa memedulikan wajah gurunya yang semakin mendung dan mengerut geram.
"Kamu! Ibu hukum bersihkan semua toilet laki-laki dan perempuan di sekolah ini sepulang sekolah." Ia sudah menyerah untuk menahan Cylvi dan mencari tahu apa penyebab kenakalan siswi ‘kesayangannya’ itu kali ini.
"Ya elah Ibu mah suka gitu. Suka gak nanggung-nanggung kalo udah ngasih hukuman ke saya. Ibu kasian dong sama saya, saya udah sering kena Ibu siksa dengan hukuman-hukuman Ibu yang berat dan tak berbelas kasian. Lagian salah saya apa sih, Bu? Saya kan cuma jawab pertanyaan dari Ibu dan itu juga sebagai bentuk sopan-santun yang diajarkan orang tua saya, Bu," sanggah Cylvi sembari memasang mimik memelas yang tak digubris oleh Bu Mira.
"Diam kamu, Cylvi! Kamu mau Ibu tambahin hukumannya?" Bu Mira memijat kepalanya yang pusing.
Cylvi kelabakan sembari menyengir polos. "Gak perlu, Bu. Segitu aja udah cukup kok. Malahan kelebihan kayaknya tuh, Bu. Kalo gitu saya izin pergi ya Bu, sebelum Ibu tambah emosi dan berimbas sama saya yang baik hati dan suka menolong ini."
Cylvi segera melangkah cepat keluar dari ruangan BP itu, bahkan sebelum Ibu Mira menjawab pernyataannya. Menurutnya, tidak ada gunanya melawan guru BP tersebut. Ia hanya akan menambah hukuman Cylvi.
‘Dasar guru tak perikemuridan, mainan selalu hukuman. Bu Mira itu guru apa hakim sih? Suka banget mukul palu ngefix-in hukuman tanpa denger pendapat orang,,’ cibir Cylvi di dalam hati.
"Lo ngapain lagi sih Cyl, sampe si doi manggil lo mulu ke ruangan dia?" tanya Vina begitu melihat Cylvi berjalan ke arahnya. Mereka sebangku. “Lo ada transaksi hutang piutang ya sama Bu Mira? Atau si Bu Mira takut sendirian di dalem ruangan makanya manggil lo ke sana?”
"Gue gak ngapa-ngapain kali, cuma ngebantu tukang cat ngecat doang tadi. Guru itu mah yang nyari gue pas lagi PMS. Perasaan setiap ketemu gue, dia marah-marah terus deh. Kayak ada dendam tersendiri sama gue," curhat Cylvi geram namun tetap memasang wajah datar.
"Kok lo bantuin malah dipanggil?" tanya Salsa bingung. “Lo bantuin apaan emangnya?”
Cylvi memutar matanya jenaka setelah mengingat kembali hal yang menjadi penyebab ia dipanggil oleh guru BP. "Nah itu dia masalahnya. Gue bantu nyiremin tanaman pake cat tembok biar warnanya terang benderang gitu kan indah banget tuh. Gue bisa jamin, tuh warna gak bakalan luntur terus beda sendiri lagi," tukasnya dengan sunggingan senyum riang.
"Ya elah Cyl, nyirem tanaman itu langsung aja pake air aki bukan cat biar sekalian mati semua tuh tanaman! Lagian lo ada-ada aja deh. Kalo gue jadi Bu Mira, udah nangis darah gue ngadapin lo terus," kata Salsa dengan nada polos yang terkesan dibuat-buat.
"Udah deh ngapain lo pada sibuk bahas cat plus tanaman mulu, mending lo pada ngerjain PR IPA. Sehabis ini dong! Pak Cungkring pasti lagi nyari-nyari korban, dia itu kan darahnya suka tinggi terus gak bisa turun,” timpal Anna sembari mencari buku IPA di dalam tasnya.
"Oh my God, gue lupa kalo kita itu ada PR. Mati gue! Gimana nih? Pinjam sini buku lo," kata Salsa langsung merebut buku yang ada di tangan Ananda, teman sebangkunya.
"Tapi−“ Belum sempat Ananda membuka mulutnya, Salsa lebih dulu memotong. "Tapi apa? Gue udah gak waktu nih, jangan makin persulit gue deh. Nyawa gue udah di ujung tanduk sekarang, gue gak mau ya disate sama kumis tuh guru."
"Anjir! Kenapa kumis jadi bisa ngesate? Sejak kapan? Kumis dia mah kalo bisa ngesate pasti bisa lurus, ini punya dia melengkung ke atas," sahut Vina terkekeh pelan.
"Tapi itu bukan buku IPA, Sa" kata Ananda pelan.
DOENG!
"Kok lo gak ngomong dari tadi sih, Nan?" desis Salsa seraya cepat mencari buku IPA Ananda.
"Lo sendiri yang potong dia ngomong, sempak kuda. Gimana dia mau ngomong, baru ngomong sekata lo dah nyerobot kayak kereta api,” ujar Vina sembari menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan kelakuan temannya tersebut.
Salsa meringis malu, ia memutar matanya salah tingkah. "Idih! Lo kok gitu sih ngomongnya sama gue, Vin. Pinjam buku lo, Nan."
Cylvi menatap teman-temannya dengan malas, ia sudah terbiasa dengan sikap mereka yang selalu terlihat kehilangan kewarasan di setiap kesempatan. Cylvi sendiri belum mengerjakan tugas IPA dan ia memang bermaksud tidak ingin mengerjakan tugas itu. Ia berencana membuat kasus lagi dan siap membuat Bu Mira pusing menghadapi kelakuannya yang semakin jahil.
"Si kumis udah datang woi. Siap-siap lo pada yang belum kerjain tugas," kata Andrian sambil menyengir puas membayangkan ada teman sekelasnya yang akan dihukum hari ini.
"Si buluk ngomong apaan sih," cibir Vina mengambil bukunya di dalam tas.
"Eh, kutil ayam diem lo ya," balas Andrian tak mau kalah. “Gue gak ngomong sama lo!”
"Anjrit! Sakit banget Mas kamu giniin," kata Bayu berusaha menengahi mereka sebelum keduanya saling melempar bom atom.
"Najis lo, Bay," balas Andrian bergedik jijik sambil berlalu pergi.
"Somplak lo, Dri. Jadian sama Vina baru tau lo," goda Bayu yang kemudian digeplak Vina keras.
"Anjir lo. Dalam mimpi lo itu juga gak bakal terjadi kali," katanya mendengkus sebal, ia membuka asal bukunya.
“Jangan malu-malu deh, Vin. Nanti keburu diambil orang baru tau lo,” goda Salsa yang disambut tawa lepas dari Mita. “Nangis darah lo nanti!”
“Jodoh lo itu, Vin!” sambung Mita menghindari penghapus yang dilempar Vina.
Vina mencebik. “Ngomong sekali lagi, gue lempar nih kursi ke otak lo biar makin konslet,” ancam Vina dengan raut wajahnya yang suka memerah marah.
“Ih! Jangan dong. Nih otak gue gak ada rencana pensiun dini, Vin,” ucap Salsa berlindung di belakang Cylvi. “Iya kan, Cyl?”
Cylvi terkekeh pendek lalu menduduki kursinya dengan nyaman. “Gue gak mau ikutan,” sahutnya tak memedulikan teriakan minta ampun Salsa dan teror kapur yang dilakukan Vina.
“Ada apa ini?” Seorang guru berperawakan tinggi itu memasuki kelas yang masih gaduh. “Salsa? Vina?”
“Cylvi juga, Pak!” sahut Cylvi tiba-tiba. “Saya juga mau dipanggil, Pak!”
Guru tersebut memandang dongkol ketiga gadis yang tak asing untuknya. “Kamu kenapa mau dipanggil juga, Cylvi?” Ia menoleh dingin ke arah Vina dan Salsa. “Dan kalian... kalian pikir kapur di sini untuk dilempar-lempar?”
Salsa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Ya... kalo buat kita-kita sih, kapur itu emang buat berperang. Ya kan, Vin?”
“Lo sendiri aja yang ngomong, gue nggak mau terlibat!” kata Vina yang masih sebal dengan ejekan yang dilontarkan Salsa tadi.
Salsa menginjak pelan kaki Vina membuat gadis itu mendeliknya. “Apa?’
“Lo kok gak setia kawan sih, Vin? Gak kayak Cylvi banget! Cylvi aja gak dipanggil namanya, mau dipanggil kayak kita!” tutur Salsa menggembungkan pipinya.
Cylvi berdiri dan berjalan ke arah Salsa. “Eh, jangan salah paham. Gue kirain tadi itu Pak Amor lagi ngeabsenin kita tau,” kata Cylvi menggundang tawa menggelegar dari teman-teman sekelasnya.
Guru yang bernama Amor itu hanya bisa menghela napasnya lantas memandang satu per satu siswi yang suka melanggar aturan sekolah tersebut. “Kalian... kembali duduk di tempat duduk kalian masing-masing!” titahnya dengan suara datar. “Tidak boleh membantah!” sambungnya lagi mendapati Cylvi yang sudah membuka mulutnya ingin menyahut.
“Ih! Pak Amor makin ke sini makin gak asik!” kata Cylvi berlalu ke bangkunya.
“Saya bukan teman kamu, Cylvi!” jawab Pak Amor mengeluarkan bukunya dari dalam tas.
Cylvi menopang dagunya santai. “Yang bilang Bapak itu temen saya siapa? Temen saya kan Salsa sama Vina, Pak.”
“Gue juga, Cyl!” sahut Mita, Siska, Anna dan Ananda kompak.
Cylvi mengerjap matanya beberapa kali. “Lah iya. Gue lupa sama lo pada.” Ia menyengir kecil. “Dan Bapak gak termasuk list pertemanan kita-kita,” lanjutnya riang.
Ada suara tawa tertahan yang terdengar jelas di sana, Pak Amor mengembuskan napasnya dengan pelan. “DIAM! Kalian semua kerjakan halaman lima belas sampai dua puluh!”
“Ya Pak... kok gitu?” desah Andrian sebal. “Tugas yang kemarin Bapak kasih aja, Bapak belom periksa.”
“Tau tuh, Pak. Jangan nyiksa kita-kita dong!” sahut seseorang lainnya.
“Kerjakan sekarang!” pinta Pak Amor lantang dibalas desisan malas dari siswa-siswinya.
Jam sekolah memang sudah berakhir lima belas menit yang lalu, tetapi Cylvi masih sibuk di dalam kelasnya. Jangan pernah berharap ia mengerjakan hukumannya. Hukuman yang diberikan guru BP tadi siang hanya didengar melewati telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
‘Memangnya Ibu Mira ngira gue bayar uang sekolah di sini buat jadi tukang bersihin toilet?’ ucapnya dengan kesal dan jelas ia menolak mengerjakan hukuman. Ia punya sesuatu yang lebih penting dan menyenangkan dibandingkan membersihkan toilet yang sudah dibersihkan pegawai sekolah.
"Ngapain lo, Cyl? Gak balik atau lo mau nginep lo di sini?" tanya Agatha heran dengan keberadaan Cylvi yang tidak biasanya masih duduk di bangkunya.
Cylvi bukan siswi yang suka telat pulang, bahkan tak jarang pun cewek itu keluar lima menit sebelum bel pelajaran berakhir. Dan guru-guru hanya bisa menggelengkan kepala pasrah, terbiasa dengan sikap Cylvi yang tak bisa diatur dan suka seenaknya.
"Balik dong. Gue kan masih ada urusan penting sekarang,” ucapnya singkat mengabaikan sosok Agatha yang menatapnya bingung.
Agatha mengerutkan keningnya penasaran. "Urusan apaan lo? Mencurigakan deh."
Cylvi memandangnya dengan senyum jahil yang terhias jelas. "Jangan negatif deh pikirannya! Gue kan lagi bikin strategi kayak yang di film-film detektif itu, yang keren-keren itu loh gayanya," ucapnya lalu membereskan barang-barangnya yang bersimbah di atas meja.
"Strategi apa? Kalo urusannya sama lo, gak bisa mikir positif nih gue." Agatha semakin penasaran dengan tingkah laku Cylvi yang absurd.
"Nah, itu rahasia. Gue udahan nih. Gue duluan ya. Bye!" Cylvi pergi meninggalkan Agatha menatap aneh ke arahnya. Ia tahu walaupun Agatha melihatnya, ia yakin gadis itu tak tertarik untuk ikut campur ke dalam urusannya.
Siapa yang tak mengenal sosok Cylvi di sekolah ini? Gadis ini terkenal tidak bisa bersahabat baik dengan peraturan dan suka membuat onar. Walaupun jarang kedapatan membully orang secara beruntun dan tak menjadikannya sebagai suatu hobi, tetap saja setiap orang yang bertemu ia akan segan berurusan dengannya.
Wajah yang menarik dan tingkah yang bebas membuatkannya memiliki banyak teman yang bersifat sama. Nakal. Nakal bukan berarti n*****a atau pun merokok, Cylvi jelas tahu itu dan ia sebisa mungkin menghindari dua hal tersebut.
Cylvi hanya suka melanggar aturan dan membuat semua gurunya kelabakan karenanya.