Bab 10

1099 Kata
Masih ingat di pikiran Cylvi tentang apa yang dikatakan Andreas tadi malam. Ah ya, ia memang tak pernah bisa melupakan semua hal tentang Andreas untuk saat ini. Tetapi, ini dan itu berbeda. Ia terlalu syok hingga ia terus terbayang-bayang oleh kata-kata cowok itu. "Mulai besok, gue bakal satu sekolah sama lo lagi Cyl. Senang rasanya bisa ketemu sama lo lagi, dan gue berharap lo juga ngerasain hal yang sama. Sampai ketemu lagi." Cylvi melirik jam dindingnya, sudah pukul lima pagi. Tidak, jika kalian berpikir Cylvi mampu bangun sepagi ini. Cewek itu bahkan belum tidur sedari malam. Bukan, bukan belum. Ia hanya tidak bisa tidur. Ketika ia mulai menutup mata, suara Andreas kembali terdengar membuat ia memilih untuk terus membuka matanya. Memang Andreas tidak mengajaknya berbincang hingga larut malam, ia hanya mengatakan satu percakapan dan menutup teleponnya tanpa menunggu respons dari Cylvi. Tapi apa yang diucapkan Andreas membuatnya benar-benar tidak bisa menutup mata barang sedetik pun. Cylvi tidak bisa menyangkal jika dirinya merasa senang kala mendengar kabar Andreas yang akan kembali bertemu dengannya, namun kemudian ada sesuatu yang salah menurutnya. Ada sesuatu yang tak ia ingat dan terlupakan begitu saja. TING! From : Gaara Alvaro Gue jemput. Ini dia. Cylvi melupakan sosok Gaara yang baru-baru ini sangat dekat dengannya. Gaara yang membuat pengakuan sebagai pacarnya, biarpun cowok itu tidak pernah memintanya sebagai kekasihnya. Namun tetap saja di mata orang lain, mereka merupakan sepasang kekasih yang manis dan tak terprediksi. Walaupun enggan, Cylvi juga sudah tak bisa membantahnya sekarang. Cylvi segera bersiap-siap. Berpikir terlalu banyak hal hanya membuatnya pusing dan tidak bisa fokus menjalani harinya. Ia tak mau membuat semua temannya curiga dan berakhir dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. "Cylll!" teriak Citra di depan pintu kamar Cylvi. Cylvi keluar dari kamarnya dengan lesu. Ia sudah siap berangkat ke sekolah tapi tidak dengan mentalnya, ia tahu pasti akan ada sesuatu yang terjadi hari ini. Entah itu buruk atau tidak, Cylvi tak ingin memikirkannya terlebih dahulu. "Tumben lo udah bangun sebelum gue teriak-teriak kayak tarzan? Dan lo udah siap sekarang? Lo gak sakit kan, beneran Cylvi kan?" Rentetan pertanyaan Citra membuat Cylvi mendengkus jengah. "Udah deh, Kak. Lo tanya apaan sih, gue gak ngerti," jawab Cylvi menghindari lalu berjalan pergi meninggalkan kakaknya yang melongo bingung. "Aneh banget tuh anak,” ucap Citra pada dirinya sendiri. "Lo yang aneh, Cit. Ngomong sendiri di sini," ujar Abi. Abangnya itu baru keluar dari kamarnya. "Elah lo Bang. Lo sih gak tau keanehan Cylvi hari ini. Dia beneran super duper aneh tadi,” cibir Citra tak terima. "Tuh anak kan emang aneh. Ajaib gitu. Kalo gak aneh mah bukan Cylvi namanya," teriak Abi yang melihat Cylvi sedang berjalan ke arah ruang makan. Ia sengaja agar Cylvi mendengarnya. "Anjir lo, Bang! Lo gak usah ikut-ikutan ya," balas Cylvi geram. Teriak-teriakan itu membahana di ruang makan rumah keluarga Winata. Hal itu sudah biasa terjadi jika Abi dan Cylvi bertemu pandang, mereka berdua seperti musuh yang suka saling melempar bom. "Sttt! Cewek gak boleh ngomong kasar tau," ujar Abi yang lalu duduk di samping Cylvi, mengabaikan kerutan sinis di wajah adik bungsunya. "Cowok juga gak boleh banyak omong, Bang," balas Cylvi membuat Abi terperanjat kaget. "Eitts, khusus buat gue boleh dong, apalagi nih ya kalo lagi ngadepin lo. Itu perlu banget." Abi menyengir kuda. "Maksud lo apa sih, Bang? Kagak ngerti gue." Cylvi mengambil sepotong roti bakar isi coklat yang disediakan sang mama di atas piringnya. "Nah kan, lo gak ngerti. Makanya gue bilang gue mesti banyak omong sama lo, lo itu kan lemotnya kebangetan." Abi meringis ketika Cylvi mencubit lengannya kuat. "Anj—" u*****n Abi dipotong oleh mamanya. "Udah-udah, Abi jangan ganggu Cylvi terus. Kalian kok tiap pagi berantem mulu, gak capek apa?" Sang mama, Anggi membawakan s**u hangat untuk Abi dan Cylvi. “Denger tuh, Bang. Punya telinga kan?” ejek Cylvi sembari menjulur lidahnya. Abi mengernyit cuek. "Cylvi enak dikerjain, Ma. Mukanya itu ngundang buat dibully." Ia tidak memedulikan tatapan menusuk dari Cylvi, dan Citra yang sibuk menertawai kedua saudaranya. Citra merasa takjub sekaligus bingung dengan dua saudaranya itu. Mereka sebenarnya cukup akur namun juga suka saling mengerjai satu sama lain. "Nona Cylvi, ada tuan Gaara di depan," ucap pembantunya memotong aksi tatap-menatap tajam Cylvi dan Abi. "Hm," gumamnya dengan enteng. Abi menipiskan bibirnya, ia melayangkan senyuman godaan. “Cowok lo udah dateng jemput, Cyl. Ya elah, kalo gue jadi Gaara, gue males kali jemput lo.” “Ya udah,” tutur Cylvi cuek. "Pantes lo udah siap... lo dijemput sama yang tersayang rupanya," goda Citra mengembangkan tawa ledeknya. "Jangan ikutan Bang Abi deh, Kak," cibir Cylvi yang melihat Abi memakan rotinya dengan lahap. "Udah sana. Kasian Gaara-nya nunggu lama," kata Anggi yang membuat Cylvi mau tidak mau berjalan keluar rumah, ia mengabaikan sepenuhnya ejekan dari kakak dan abangnya. Belum sampai kakinya melangkah menuju pintu masuk rumah, Abi kembali berteriak. "Ma, ngusir aja si Cylvi. Nyemakkan doang di rumah." Cylvi melempar kunci yang ia temui di atas meja ke arah abangnya itu. Tetapi disayangkan, Abi bisa menghindar dengan mulus. Ia dan Cylvi memang anak karate yang cukup gesit.   Gaara dan Cylvi berjalan beriringan di sepanjang koridor sekolah. Tanpa genggaman dan tanpa adanya topik pembicaraan. Entah kenapa, Cylvi merasa Gaara sedikit diam hari ini, atau cowok itu memang sebenarnya pendiam? Cylvi jadi bingung, tapi ia tetap tak mau berpikir terlalu jauh. Lama-kelamaan, keadaan sunyi itu terasa mencekam dan canggung. Cylvi merasa Gaara sengaja mendiaminya hari ini. "Lo kenapa, Gaar?" tanya Cylvi akhirnya karena tidak tahan dengan diamnya Gaara. "Apanya?" tanya Gaara dengan sedikit menoleh ke arah Cylvi yang lebih pendek darinya. Cylvi memang memiliki tinggi sebatas bahu Gaara, entah ia yang pendek atau Gaara yang ketinggian. "Lo kok diam?" Cylvi mengernyitkan dahinya bingung. "Lo kangen denger suara gue?" Gaara membalas pertanyaan Cylvi dengan pertanyaan lainnya. Cylvi melototkan matanya sebal yang tidak diperhatikan oleh Gaara. Cowok itu hanya fokus ke depan. "Ya nggak mungkinlah!” ketus Cylvi menyesal membuka suaranya terlebih dahulu. Gaara baru saja akan membalas Cylvi, tetapi seorang laki-laki menyela pembicaraan keduanya dari belakang. Sontak, Gaara dan Cylvi menoleh ke belakang yang kemudian disesali Cylvi. "Cyl, akhirnya gue ketemu lagi sama lo." "Andreas? Lo bener—" Cylvi menganga terkejut. "Yup. Gue beneran sekolah di sini. Cuma gue duduk satu tingkat di atas lo. By the way, siapa di samping lo?" Ada senyuman manis yang bermain di bibirnya Tanpa disadari Cylvi maupun Andreas, Gaara mengepalkan tangannya penuh emosi. Ia cemburu, walau hanya sedikit. "Kenalin, gue Andreas," ujarnya sambil menjulurkan tangannya ke arah Gaara dengan ramah. "Gaara." Gaara tidak menyambut tangan Andreas. Cylvi merasa ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka itu kemudian memilih menarik tangan Gaara yang menggantung di sampingnya. "Ok Dre. Maybe next time kita bisa ngobrol-ngobrol lagi. Sekarang gue sama Gaara lagi ada urusan," ujar Cylvi terburu-buru sambil menarik Gaara untuk pergi, ia bahkan tak membiarkan Andreas menyahutnya. "Lo kenal Andreas, Cyl?" Keduanya tengah berada di atap sekolah yang sepi. "Hm." Cylvi menganggukkan kepalanya. "Lalu?" "Apanya?" "Lo sama dia ada sesuatu, Cyl?" Pertanyaan Gaara membuat Cylvi kembali mengingat masa lalunya. Masanya bersama Andreas yang tidak diketahui oleh siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN