Flashback : ON
Hari itu pagi yang sedikit terik, Cylvi sedang menunggu seseorang di depan pagar rumahnya. Ia mengetuk-ngetuk kayu pagarnya guna mengusir rasa bosan menunggu Andreas. Ya, Andreas mengatakan akan menjemputnya dan menyuruhnya untuk menunggu. Berselang sepuluh menit, akhirnya cowok itu muncul di hadapannya.
"Lama banget sih lo, Dre. Jamuran nih gue tungguin lo," sembur Cylvi yang langsung dibalas cengiran tanpa dosa ala Andreas.
"Lo bisa jamuran, Cyl?" Andreas mengacak pelan rambut panjang Cylvi, yang kemudian dibalas delikan sebal.
"Jangankan jamuran, makan lo hidup-hidup aja gue bisa!" Cylvi menyilangkan kedua tangannya ngambek. “Dan stop berantakin rambut gue. Gue udah susah-susah nyisir ini!” Ditepisnya pelan tangan Andreas yang masih mengacak rambutnya.
"Kanibal lo, Cyl,” tukas Andreas terkekeh pelan.
Cylvi memutar matanya dongkol. "Kapan mau otw? Ngomong sama lo sekarang bakal buat kita berdua telat tau. Gue gak mau telat ya gara-gara lo.”
Andreas menaikturunkan alisnya jenaka. “Siapa juga yang mau telat? Ayo jalan,” ajaknya kemudian berjalan di samping Cylvi.
Cylvi adalah adik kelas Andreas. Saat ini Cylvi duduk di kelas 3 SMP, sedangkan Andreas duduk di kelas 1 SMA. Keduanya merupakan teman baik yang hampir membuat satu sekolah mendesah iri.
Hanya teman. Cylvi benar-benar ingin menghapus fakta itu dan menggantinya dengan status yang lebih dekat. Ia mengagumi sosok Andreas yang menurutnya sangat baik. Andreas yang selalu melindunginya dari orang-orang yang menganggunya, menjaganya ketika dia berada di suatu tempat, menemaninya saat ia ketakutan dan selalu ada untuknya di saat sedih maupun senang. Andreas adalah sosok yang sempurna.
"Lo tungguin gue nanti pas balik. Jangan pulang sendirian," ujar Andreas ketika keduanya sudah sampai di sekolah.
“Iya,” jawab Cylvi tak mengacuhkan tatapan-tatapan iri dan dengki dari para gadis yang memuja Andreas.
Meski mereka tak seangkatan, sekolah mereka berada di gedung yang sama. Hal itulah yang membuat Cylvi selalu berangkat dan pulang bersama dengan Andreas. Walau kadang kala, Cylvi harus menunggu Andreas jika ia pulang lebih awal.
"Woi! Cyl, kok lo baru dateng? Cepat sini duduk, pak Angga udah mau masuk nih," kata Sisi dengan keras, teman sebangku Cylvi.
"Gara-gara Andreas nih telat jemput gue. Ya gini jadinya,” tutur Cylvi seraya mengeluarkan buku tulisnya.
"Elah. Harus sabar banget mah kalo udah berhubungan sama gebetan," ucap Sisi yang tahu banyak tentang perasaan Cylvi ke Andreas.
Belum sempat Cylvi menyanggah perkataan Sisi, Pak Angga sudah terlebih masuk ke dalam kelasnya. Guru itu termasuk guru killer di sekolahnya, dan Cylvi tak ingin terkena masalah dengan guru tersebut.
Flashback : OFF
Cylvi masih ingat betul kejadian di masa SMP-nya yang suram. Ia hanya seorang murid yang polos saat itu, yang menjadi korban bullyan teman-temannya. Ia tak mempunyai apapun dan siapapun yang bisa membantunya hingga Andreas muncul. Saat itu, Andreas selalu melindunginya, mencoba untuk selalu menenangkannya.
Flashback : ON
"Dia si Cylvi yang itu kan? Kumuh banget. Lo harusnya gak sekolah di sini," kata seorang cewek saat Cylvi lewat di depannya. Cylvi hanya menunduk pasrah.
"Iya, bikin malu aja. Sana pindah sekolah. Lo gak pantes sekolah di sini."
"Aneh deh. Tampang kayak lo kok bisa sekolah di sini."
"Pasti bokapnya bayarin kepala sekolah biar anaknya yang nerd ini bisa sekolah di sini."
Cylvi hanya diam, ia mendengar semua cemoohan itu. Tak ada niat sekalipun ia membalas. Ia hanya sendirian, membalas pun hanya akan melukai dirinya sendiri dan membuatnya semakin mendapatkan banyak masalah.
"Ada masalah apa dia sekolah di sini dengan kalian? Bukan kalian yang bayar uang sekolah dia. Kenapa kalian harus repot-repot ngurusin Cylvi?" Itu Andreas, nada suara cowok itu terdengar dingin dan datar.
Andreas berdiri di belakang Cylvi dengan tegap. Cylvi yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat wajahnya, ia menoleh ke belakang dan mendapati wajah keras Andreas. Cowok itu sedang menampilkan raut penuh emosi.
"Kalian gak berhak buat bilang siapa yang pantas atau gak pantas sekolah di sini. Malahan menurut gue, kalian semua yang gak pantas sekolah di sini. Dikasih sekolah bagus bukannya makin pintar, malah makin rusak."
Andreas termasuk salah satu siswa populer di sekolah, mereka juga tahu jika Andreas merupakan teman baik Cylvi. Karena hal itu juga lah, mereka semakin membenci sosok Cylvi dan membullynya. Cylvi bertampang culun tidak pantas mendapat teman seperti Andreas. Menurut mereka, orang seperti Cylvi harus sadar tentang kejamnya dunia.
Flashback : OFF
Saat itu, Cylvi bukanlah Cylvi yang sekarang. Ia tidak bisa karate ataupun melawan orang seperti yang bisa dilakukannya sekarang, ia bahkan tak mampu melindungi dirinya sendiri.
Menutup matanya sejenak, Cylvi menatap langit yang semakin mendung siap menurunkan rintikan air. "Gaar, lo percaya nggak kalo dulu gue pernah dibully di sekolah?"
Gaara memandang lekat wajah Cylvi tidak menjawab, gadis itu kembali menundukkan kepalanya. Sebenarnya kalau ditanya pertanyaan itu, sepertinya Gaara lebih memilih untuk tidak akan percaya. Cylvi sosok yang sempurna dengan kekuatan tubuhnya dan kecantikan wajahnya. Apanya yang akan dibully orang? Malah yang ingin membullynya justru harus berpikir dua kali.
"Gue pernah ditindas, dihakimi rame-rame, dan pernah dibully sampe gue ngerasa sekolah itu tempat yang paling menyeramkan di hidup gue."
Cylvi tak tahu bahkan tak ingin tahu seperti apa respons Gaara setelah mendengar keluhannya. Cowok itu hanya diam dengan ekspresi datar, itu yang diperkirakan Cylvi. Namun, Cylvi merasa Gaara melangkah mendekati dan mendekapnya erat seolah mengingatkannya bahwa yang terjadi saat itu hanya bagian dari masa lalunya yang kelam. Ada rasa hangat yang mendadak menjalar di setiap titik tubuh Cylvi. Ia suka dengan pelukan ini, ia suka ketika Gaara menyentuhnya lembut.
"Lo gak keberatan, Gaar?" Cylvi meremas pelan baju seragam yang tertempel di punggung Gaara.
Gaara menaikan sebelah alisnya. "Mengenai apa gue harus keberatan?"
"Soal gue yang pernah dibully." Cylvi mengeratkan pelukannya saat dirasa Gaara akan mengendurkan pelukan mereka.
"Gue rasa itu bukan suatu masalah yang perlu dipermasalahkan,” kata Gaara seraya mengelus halus rambut panjang Cylvi.
Cylvi mencoba mendongakkan wajahnya demi menatap wajah Gaara yang datar dan tanpa ekspresi.
'Andai lo ketemu sama gue dulu, Gaar. Mungkin lo gak akan ngomong begini. Mungkin lo bakal menjauh atau mungkin lo juga ikut membully gue. Dan bisa jadi lo gak bakal tau ada gue di sekitar lo.’
Gaara mengerti sekarang. Ia mengerti siapa Andreas untuk Cylvi walaupun cewek itu tetap bungkam tak mau mengucapkan apapun, setidaknya Gaara berusaha mencoba sedikit untuk mengerti. Andreas ada untuk Cylvi saat itu, ada di saat Cylvi tak mampu melindungi dirinya sendiri.
"Lo suka sama Andreas?" Pertanyaan dari Gaara itu membuatnya sontak terperanjat kaget, Cylvi tak menduga Gaara akan menanyakan pertanyaan mengenai hatinya.
"Hah?" Cylvi melepaskan pelukan mereka, ia tak berhasil menutup mimik terkejutnya dari Gaara.
"Andreas?" Gaara malah mempersingkat pertanyaannya. Ia yakin Cylvi mendengarnya.
"Kok gue hah, lo malah makin singkatin ucapan lo," gerutu Cylvi yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Gaara menghela napasnya kasar. "Hm."
Cylvi hanya diam tak berniat membalas gumaman Gaara. Ia pun bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan dari Gaara.
"Gaar?" panggilnya setelah terdiam cukup lama.
"Hm?"
Sulit bagi Cylvi untuk membedakan mana 'hm' yang berarti 'iya' atau 'hm' yang berarti cowok itu bertanya.
"Lo tetap di sini kan sama gue?" Cylvi tak menampik ada rasa takut yang singgah di hatinya.
"Hm."
"Ha hm mulu lo," tutue Cylvi mencubit kecil lengan Gaara.
"Aw. Iya. Apaan sih lo main cubit-cubit,” delik Gaara yang kemudian diganti helaan napas.
"Lo nyebelin," kata Cylvi berpura-pura ngambek.
"Daripada lo nyubit, mending lo nyium gue aja,” goda Gaara mencairkan suasana.
"Ih, mesum." Cylvi melototkan matanya dengan gusar, memandang tajam ke arah Gaara yang mengangkat alisnya itu. Gaara menggodanya lagi!
"Kalo lo kelamaan liatin gue, bisa makin jatuh cinta lo ntar," goda Gaara lagi. Entah kenapa, saat bersama Cylvi, ia bisa lebih leluasa berbicara.
"Ogah banget gue jatuh cinta sama lo. Gue lebih milih jatuh cinta sama monyetnya pak Gutuh,” sanggah Cylvi cepat.
"Hm?"
"Hm lagi lo. Suka banget sama hm."
"Gak kok. Gue sukanya sama lo."
"Boleh gue anggep ini pernyataan cinta?" tantang Cylvi menyeringai.
Gaara mengangkat bahunya. "Silakan aja. Dan gue anggep lo mulai terima hubungan ini."
"Anjir. Lo mau jebakin gue lagi kan?" Cylvi gelagapan.
"Menurut lo?"
Gaara terlihat senang bermain-main dengan emosi Cylvi. Ia mengakui jika gadis itu memang sangat lucu saat memandangnya dengan wajah merah padam penuh emosi.
"Lo!!" Cylvi ingin mengumpati Gaara.
"Hm?"
"Kenapa sih gue mesti pacaran sama lo. Nyesel gue." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis.
"Gue nggak,” sahut Gaara sekenanya.
"Ish. Nyebelin lo, Gaar."
"Ada nggak kata lain selain nyebelin? Sayang kek atau apa yang lebih gambarin perasaan lo ke gue," protes Gaara akhirnya.
"Nggak! Gila lo!" Cylvi pergi meninggalkan Gaara. Jika ia menoleh sebentar, ia akan mendapati Gaara yang tersenyum geli karenanya.