Bab 16

1181 Kata
Flashback : ON "Lo mau ke mana, Dre?" tanya Cylvi yang berusaha keras mengejar Andreas yang sudah melangkah jauh. "Jangan ikutin gue, Cyl," teriak Andreas. Ia semakin mempercepat langkah kakinya bahkan cowok itu sudah berlari. "Dre, lo kenapa sih?" cetus Cylvi heran. “Mendadak berubah gini.” Gadis itu tetap mengejar Andreas. Melihatnya, Andreas semakin mempercepat langkah kakinya, tak melihat kanan kiri ketika menyeberang. "Dre! Awas!" Truk yang besar itu menabrak keras tubuh Andreas di depan mata Cylvi. Flashback : OFF Mendadak Cylvi mengingat sepotong kejadian di masa lalunya saat pelajaran sejarah, saat ini. Tak mendengar cerocosan gurunya mengenai kerajaan-kerajaan masa lalu, Cylvi mencoba lebih mendalami masa lalunya yang hampir ia lupakan. Flashback : ON "Dia nih yang nyebabin Andreas ketabrak!" seru Chika saat Cylvi keluar dari kelasnya. "Iya. Pembawa s**l lo, Cyl." "Orang kayak lo harusnya jauh-jauh dari kita-kita." "Kita gak mau dekat-dekat sama pembawa sial." Seru-seruan jahat itu mewarnai masa-masa SMPnya. Apalagi, sejak tabrakan itu Andreas dinyatakan pindah sekolah ke luar negeri. Meninggalkan sejuta pertanyaan di kepala Cylvi. Kenapa cowok itu langsung pergi setelah menjalani rawat inap beberapa hari di rumah sakit? Apakah cowok itu menaruh dendam padanya karena dirinya lah yang menyebabkan Andreas kecelakaan? Flashback : OFF Menghela napas beratnya, Cylvi menelungkupkan kepalanya di atas meja. Dia duduk di pojok belakang, cukup strategis untuk tidur. Kenapa saat itu lo pergi, Dre? Bahkan di saat gue belum ngomong apa-apa sama lo. Cylvi tahu pasti ada alasan di balik semua ini namun ia memilih untuk tidak mencari tahu karena sudah lelah. Ia tidak siap untuk disakiti lagi. Flashback : ON Cylvi datang ke sekolah pukul 6 pagi. Ia mencoba menghindari orang-orang yang akan membullynya. Dear Cylviana. Ada selembar kertas yang dilipat menjadi burung di atas mejanya. Cylvi yang penasaran membuka kertas itu. Cyl, lo apa kabar? Gue baik, Cyl kalo lo mau tau.  Gue minta maaf karna gue belum sempat pamitan sama lo tapi gue nya pergi duluan. Gue tau, Cyl. Gue tau kalo sebenarnya lo suka sama gue. Gue mohon, jangan pernah suka sama gue. Gue gak suka sama lo. Gue anggep lo sebagai adik gue aja. Jangan minta lebih, Cyl. Gue gak bisa kasih ke lo. Cuma ini Cyl yang gue mau ngomongin sama lo. Jaga diri lo baik-baik, lo harus mampu lindungi diri lo sendiri setelah ini. Jangan pernah bergantung sama orang lain, lo harus jadi Cylvi yang kuat! :) Dari : Andreas Sejak surat itu dibaca Cyl, semua orang di sekolahnya tahu mengenai penolakan Andreas pada Cylvi. Yang entah dapat info dari mana. Bahkan mereka terus mengejek Cylvi yang terlalu malang itu. Hingga saat kelulusan, Cylvi berusaha untuk bangkit dan meminta keluarganya untuk pindah kota. Cylvi mantap akan menghapus masa lalunya dan membentuk dirinya yang baru. Membentuk dirinya yang baru dan membenci Andreas yang membuatnya semakin menderita saat SMP dulu. Menjadi trouble maker adalah pilihannya. Flashback : OFF Mungkin saat itu, Cylvi terlalu naif dan polos.  Tapi tidak dengan sekarang. Ke mana pun ia berpijak, tatapan ketakutanlah yang terus diarahkan padanya. Ia si Trouble Maker yang berbahaya. "Cylviana Meri Winata!" seru Bu Adelle, guru sejarahnya. "Hm?" Terlalu sering bersama Gaara, rasanya sifat Cylvi menjadi sebelas dua belas dengan cowok itu. "Kamu dari tadi tidak memperhatikan pelajaran saya?" "Ibu minta perhatian?" Nada polos Cylvi semakin membuat gurunya naik pitam. "Kamu!" "Ibu gak bilang sih. Kan saya bisa bantu cariin perhatian." Tawa menggelegar di kelas 11-2 itu. "Diam kalian!" bentak Bu Adelle. Seketika kelas menjadi hening. "Elah ibu. Jangan galak-galak," kata Salsa. "Nanti cantiknya ilang, Bu," timpal Mita yang menuai gelak tawa yang lebih keras dari teman-temannya. "Cylviana, Salsana, dan Mitania, ke ruangan saya sekarang." Guru itu berjalan keluar kelas. "Elah. Si Ibu mah ke ruangan aja butuh bodyguard," gerutu Cylvi yang entah keberapa kali membuat kelas ricuh. "Gak ada yang berani nyulik ibu juga kok," ucap Salsa yang tidak dapat didengar bu Adelle, karena guru itu melangkah jauh. "Gak bisa diculik juga kali, Sa. Terlalu berat angkutnya," ujar Mita. Memang Bu Adelle termasuk guru dengan size jumbo. Cylvi, Salsa dan Mita mengekori Bu Adelle sambil berbicara. Mereka tidak begitu takut karena sudah keseringan keluar masuk ruang guru. "Cyl, kena lagi kan," kata Mita. "Yaelah. Bentaran ini mah. Paling ujung-ujung ke BP lagi," sahut Salsa. "Guru tersayang itu udah nyiapin apa ya?" tanya Mita penasaran. Pasalnya, Kingnezs sudah diberi hukuman ringan seperti berdiri di lapangan yang terik sampai hukuman berat membersihkan toilet pun tetap saja masih berulah. "Teng! Surprise!" pekik Salsa tiba-tiba. Ketiganya berhenti mengikuti Bu Adelle karena pekikan Salsa sedangkan guru itu tidak tahu dan tetap melangkahkan kakinya. "Apaan sih, Sa?" tanya Mita. "Kita yang bakal kasih mereka surprise, maksud lo?" tanya balik Cylvi. Salsa hanya cengir, menganggap Cylvi sangat pandai dalam menangkap ucapan absurd-nya. Tentu karena Cylvi ketua mereka dan pasti ia sudah hafal bagaimana tindak tanduk teman genknya. "Elah. Absurd lo berdua," kata Mita dengan sinis. "Bertiga sama lo," cibir Salsa. "Terus? Kita mau ngapain?" tanya Mita yang tidak memperpanjang debatannya dengan Salsa. Mereka tidak menyadari jika Cylvi sudah menghilang. "Cyl, ada ide?" Mita dan Salsa menoleh ke belakang. Cylvi tadi berjalan di belakang mereka berdua. "Si buntut ilang woi, Sa," kata Mita. "Anjir. Pake ilang lagi." "Woii Sa, Mit. Sini." Suara panggilan itu berasal dari arah taman sekolah. "Elah. Masa kecil lo suram Cyl pake main air segala di situ." Memang Cylvi berdiri di situ sambil memegang slan air. "Katanya mau buat surprise. Ya gini," ujar Cylvi sambil menyemburkan air itu ke arah Bu Nani, yang kebetulan lewat saat itu. Salsa dan Mita hanya termenung sesaat dan langsung tertawa keras. "KINGNEZS!!!!!" teriak guru itu. "Jadi Cylvi? Mita? Salsa?" Karena keusilan Cylvi yang membuat Bu Nani menangis, ketiga cewek itu harus menghadap Pak Killa. "Apanya Pak?" tanya Cylvi polos. "Berapa kali saya harus mendengar kasus anak-anak Kingnezs?" "Sebenernya Pak, semakin sering Bapak dengar, semakin baik Pak. Kan yang baik selalu terkenal," jawab Cylvi santai. "Apa yang kamu lakukan pada Bu Nani, Cylvi?" Tak memedulikan jawaban Cylvi yang tidak penting. "Saya mandiin, Pak. Kan kata orang tua saya, kita harus berbuat baik pada sesama. Ya tadi saya berbuat baik, Pak," jelas Cylvi. "Iya, Pak. Mana ada murid yang berani mandiin guru kayak kita, Pak," timpal Mita. "Bapak harusnya bangga sama kita, Pak. Kita punya keberanian yang gak ada sama anak-anak lain, pak." "Kalian! Bapak bingung harus bagaimana menghadapi kalian. Tidak bisakah kalian berhenti berbuat ulah dan fokus pada sekolah kalian?" ujar Pak Killa sambil menunjuk ketiga cewek yang berdiri di depannya. "Ya Bapak harusnya ngertiin kita Pak. Biasa nih Pak, cewek suka dingertiin," tukas Cylvi. "Cylvi!" "Iya Pak?" "Kamu! Kalian, bapak hukum skorsing 3 hari! Renungkan hal ini di rumah!" "Pak Killa?" Panggil Mita dengan suara rendah. "Apa?" "Selama di skorsing, kita gak diawasin kayak tahanan kan? Soalnya saya udah mikir ke mall dan ke mana kek gitu dikasih libur tiga hari," sahut Mita. "Iya Pak. Saya juga, bisa short holiday ke Bali," kata Salsa. "Saya di rumah aja, Pak. Merenungkan kenapa Bapak segini baiknya sama kita sampe di skorsing," lanjut Cylvi. "Kalian—" "Pak Killa?" Panggil Pak Andre yang kebetulan di ruangan kepsek. "Ada apa, Pak Andre?" "Gini Pak, kan anak-anak Kingnezs ikut turnamen bulan depan, boleh nggak hukuman skorsing mereka diganti jadi latihan aja, Pak?" tanya Pak Andre. "Elah, Pak. Kita-kita mah rela di skor—" ucapan Mita terpotong oleh Pak Killa. "Ok. Kalian saya hukum rangkum 3 bab pelajaran Bu Nani dan harus rutin mengikuti latihan. Rangkuman itu kasihkan pada saya sepulang sekolah nanti." "Bapak s***s deh, gak ganteng lagi Pak!" gerutu Salsa. "Sama cewek cantik gak boleh gitu, Pak. Nanti diceramahin sama dewi kecantikan." Mita memanyunkan bibirnya. "Hukumannya kurang?" tanya Pak Killa. "Kelebihan Pak. Boleh dikurangin nggak?" jawab Cylvi polos. "Kamu pikir saya sedang berjualan yang bisa ditawar-tawar, Cylvi?!" "Elah, Pak. Itu Bapak tanya bukannya buat nawar?" balas Cylvi santai. "Kalian bertiga keluar dari ruangan ini." "Bapak mah gitu." "Tega nian-nya caramu," nyanyi Salsa. "Menyingkirkan diriku." Yang disambung Cylvi. "KELUAR!!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN