Bab 15

941 Kata
Cylvi mencoba mengingat jika sudah beberapa hari ini ia tidak mencari masalah dengan guru BP. Rasanya ia rindu juga dipanggil oleh guru terseram di sekolahnya itu. Mungkin pada saat jam istirahat ini, Cylvi bisa berulah kembali dan membuatnya bertemu dengan guru galak itu. "Woii Cyl, ngapain lo di situ?" sapa Mita bersemangat. Cylvi sedang duduk termenung di teras sekolahnya yang sepi. Biasa kan cewek itu sudah menghilang entah ke mana kalau tidak sedang berkumpul bersama anggota Kingnezs. "Eh? Elo rupanya, Mit." Cylvi menoleh ke arah samping dan kembali menatap ke arah depan. "Aneh lo, Cyl." Mita duduk di samping Cylvi. "Mit,” panggil Cylvi tiba-tiba. "Apa?" tanya Mita dengan cepat. Cylvi menimbang-nimbang sebelum membuka suaranya. "Lo ngerasa aneh gak sih, si Andreas mendadak muncul di depan kita?" Mita menganggukkan kepalanya setuju. "Aneh sih. Tapi udah deh. Biarin aja. Lo kan udah ada Gaara. Gak usah di pikirin yang lain." Mita benar. Sudah ada Gaara di sampingnya, untuk apa memikirkan yang lain? Yang sudah meninggalkannya selama ini. "Tapi nih ya Cyl. Dibanding lo sibuk mikirin cowok itu, mending kita buat kasus aja." Mita dan Cylvi hari ini kompak. Cylvi menatap Mita dan segera berdiri. Disusul Mita yang juga ikut berdiri. "Ayo,” ajak Cylvi mendadak riang. "Mau ngapain dulu, Cyl?" tanya Mita dengan bingung. Cylvi menaikturunkan alisnya jahil. "Ngebully orang aja." "Anjir, otak psikopat lo,” ucap Mita namun setuju dengan ide Cylvi. "Hm. Udah deh. Yuk otw." Mita dan Cylvi celingak-celinguk mencari orang yang akan menjadi korban keisengan mereka di koridor sekolah. "Cylvi! Mita! Sedang mencari apa?" tanya Pak Andre, guru olahraga. "Eh Bapak, kita lagi nyari orang yang bisa dibully nih," jawab Mita tak memedulikan Pak Andre yang menatapnya aneh. Mita terlihat tak acuh. "Iya Pak. Yang bisa dikerjain. Bosen Pak, udah lama gak buat kasus," timpal Cylvi dengan raut wajah yang dibuat sepolos mungkin. Pak Andre menatap kedua gadis itu. Ia tahu gelar yang disematkan pada anggota Kingnezs. Khususnya Cylvi. Hanya saja, ia tak mau mengambil pusing dengan sikap muridnya itu. "Dari pada kalian ngerjain orang lain. Mending kalian ikut lomba. Bapak lagi nyari peserta,” kata Pak Andre yang tak menarik perhatian Cylvi dan Mita. "Lomba apa pak?" tanya Mita malas. "Lomba mengambil hati Pak Killa?" Cylvi membawa nama kepala sekolahnya yang terkenal galak dan tak bisa diajak bercanda. "Emang lo bisa, Cyl?" Mita tertarik dengan bahasan Cylvi yang melenceng jauh dari pembahasan Pak Andre. "Elah, Mit. Ya kagak bisa. Kalo bisa mah dari kemaren nama gue udah bersih di buku kasus." Cylvi terkekeh pelan. "Tsk. Kirain lo bisa, Cyl. Kan bisa buat kita-kita aman pas bikin ulah kalo lo bisa ngambil hati si kungfu panda,” tutur Mita santai, mengabaikan tatapan tak percaya Pak Andre. "Kita coba nanti. Gue yang narik perhatian, lo yang jadi korban,” tawar Cylvi dengan nada ringan. "Valak lo, Cyl," cibir Mita memutarkan matanya bosan. "Elah—" "Hei! Kalian. Bapak bilang lomba basket. Turnamen antar sekolah tepatnya. Kalian kan cukup baik di permainan basket," potong Pak Andre yang merasa pembicaraan kedua cewek itu semakin tak terkendali. "Elah, Bapak. Basket rupanya," ucap Cylvi melemas. “Saya gak tertarik, Pak.” "Siapa-siapa aja, Pak se-timnya? Kalo gak ada yang bisa diharapin selain kita-kita ya males juga. Kan kita bisa lelah batin jadinya. Nunggu doi peka aja udah cukup melelahkan jiwa raga," cerocos Mita yang semakin tak nyambung. "Bapak lagi nyari juga. Kalian ada usul?" Pak Andre mengabaikan obrolan tak penting Mita. Mereka memang sulit diajak serius. Salahnya sendiri mendatangi Cylvi dan Mita, tapi kedua gadis itu juga terkenal sangat baik dalam olahraga. "Kingnezs semua aja, Pak. Pro semua, apalagi Siska. Dia kan tinggi kayak tiang bendera kita tuh," tutur Mita menunjuk ke arah tiang bendera yang berada di lapangan. "Kayak ondel-ondel," koreksi Cylvi sekenanya. "Ondel-ondel tinggi, Cyl?" Mita memasang wajah polosnya. "Ya tinggi. Kalo pendek mah si unyil. Kaki aja gak ada, gimana mau tinggi?" tukas Cylvi main-main. "Anjir. Unyil mah kakinya dipinjam Ujang kemaren. Belom dikembalikan." "Ujang gak cerita kemaren, Mit." "Ujang mah gitu orangnya." Pak Andre lelah jika harus berbicara dengan anggota Kingnezs. Cewek-cewek itu dapat mengubah semua bahasan menjadi bahan bercandaan. Seperti sekarang. "Jadi Cylvi, Mita?" Guru itu mencoba lebih bersabar. Memang butuh extra kesabaran jika berhadapan dengan kedua makhluk ini. Mereka spesies yang cukup menjengkelkan. "Udah Pak, Kingnezs semua aja. Lima pemain, duanya taruh di koper. Dikirim ke Arab Saudi," kata Cylvi yang mengundang tawa dari Mita. "Biar naik haji, Pak. Kasian, penuh dosa nih," timpal Mita. "Iya Pak. Cuma kita berdua nih yang alim. Pendiem terus gak banyak tingkah." "Cyl, Muji diri sendiri juga dikondisikan." "Ini pencitraan bukan muji diri sendiri." "Apa bedanya?" "Suku kata." Baru Mita ingin berbicara, pak Andre sudah menyelanya. Butuh waktu yang lama jika membiarkan kedua gadis itu tetap menyerocos. "Ya udah, kalo gitu bapak masih perlu mencari tiga orang untuk di posisi cadangan." "Iya pak, yang ganteng mirip Song Joong Ki ya pak. Biar seger liatnya," sahut Mita. "Woi, moncong ikan. Ini tuh turnamen cewek. Harusnya ngajakin L Infinite, atau nggak Lee Min Ho." "Si buaya, sama aja." "Udah-udah. Jadi kalian udah ok kan? Yang lain juga?" "Iya pak." "Kalo gitu bapak pergi dulu. Masih ada urusan lain." Pak Andre segera pergi. "Jangan kejauhan pak. Nanti susah buat nyari bapak." "Jangan terlalu sibuk juga bapak, nanti kita-kita malah terlupakan. Kan pedih, pak." "Anjrit! Baperan."   "Lo darimana aja, Cyl?" Itu pertanyaan saat Cylvi dan Mita kembali ke kelas. Cylvi mengedarkan pandangannya dan mendapati sosok Gaara yang sedang duduk di bangkunya. Hei, darimana Gaara tahu tempat duduknya? "Gaar? Ngapain di sini?" tanya Cylvi. Cewek itu menghampiri Gaara yang sedang duduk santai. "Hm?" Gaara mengangkat alisnya, jarinya sibuk memainkan Mobile Legends di ponselnya. "Diserang Zi Long," gumam Gaara saat karakternya mati diserang karakter lawan. "Lo ngapain sih, Gar? Ke sini cuma buat main game?" Cylvi duduk di samping Gaara, bangku Vina yang kebetulan hari ini kosong karena cewek itu tidak masuk. "Nggak." Mendengar seruan victory dari ponselnya, Gaara segera memasukkan ponsel di dalam saku celananya. "Ayo," ajaknya pada Cylvi. "Ke mana?" "Makan." "Jam istirahat kan udah habis. Gimana sih lo?" "Hm." Gaara tetap menarik Cylvi keluar kelas. Keduanya itu sering dicap bad. Bolos seperti ini sudah biasa bagi Gaara maupun Cylvi. Apalagi Cylvi, cewek itu jelas parah jika berurusan dengan peraturan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN