Bab 14

1273 Kata
"Andreas?" panggil Cylvi terperangah kaget. Mita dan Salsa ikut terkejut melihat Andreas yang berdiri di depan mata mereka. Sungguh, mereka tidak tahu jika Andreas bersekolah di tempat yang sama dengan mereka. "Lo ngapain ke sini?" bentak Mita marah. Cewek itu berdiri diikuti oleh Salsa yang masih syok. Ia bukannya ingin ikut campur. Hanya saja, mengingat Cylvi ‘sedikit lemah’ jika berurusan dengan cowok ini, membuat Mita ingin turun tangan melindungi ketuanya. Ia tak ingin Cylvi kembali berhubungan dengan Andreas. "Mit, gue pinjam Cylvi nya bentar boleh nggak?" tanya Andreas kikuk. Ia mengalihkan pandangannya pada sosok Cylvi yang masih termangu kaku. Cylvi menundukkan kepalanya resah. "Nggak," jawab Mita singkat melempar tatapan tajam ke arah Andreas. "Kenapa?" Andreas menaikkan sebelah alisnya bingung. “Cuma bentar,” tawarnya langsung dibalas gelengan kepala tegas. "Cowoknya bentar lagi kemari." Andreas terkejut, begitu juga dengan Gaara. Lebih-lebih Cylvi, ia langsung menatap datar ke arah Mita. Ketiganya meminta penjelasan walaupun dua di antaranya mengerti dengan keadaan yang diciptakan Mita. "Cowok?" Andreas memasang ekspresi kaget. "Lo kenal Gaara? Dia cowoknya Cylvi. Jadi stop ganggu Cylvi," sambung Salsa cepat. "Beneran Cyl?" tanya Andreas sedikit tak percaya dengan yang dikatakan teman-teman Cylvi. Cylvi tak tahu jika Gaara sudah berada di kantin. Gaara benar-benar mengharapkan kata 'iya' yang keluar dari mulut Cylvi sedangkan Andreas berharap kata 'tidak'. "Hm. Dia cowok gue," kata Cylvi akhirnya yang meruntuhkan semua harapan Andreas. Berbeda dengan Gaara yang tersenyum tipis. Cylvi cukup manis. "Lo sama dia udah lama, Cyl?" tanya Andreas lagi menepis rasa cemburu yang dideranya. "Apa hubungannya sama lo sih? Banyak tanya banget," timpal Mita dengan raut tak senang. Ia tidak begitu menyukai Andreas. "Ehem." Suara deheman itu mengalihkan semua pandangan yang berada di meja Cylvi. "Gaara?" gumam Cylvi kaku. "Hm. Lo mau temenin gue makan kan? Ayo," ucap Gaara sambil menarik tangan Cylvi meninggalkan meja yang diduduki Cylvi sebelumnya. Andreas yang melihat itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Ia cemburu. Tapi untuk apa? Selama ini Cylvi bukan siapa-siapanya. Mita dan Salsa yang melihat Cylvi dibawa— tarik oleh Gaara, kembali duduk dan memakan bakso mereka yang sempat terlupakan. Mereka tidak peduli dengan Andreas yang masih mematung di sana. "Lo udah makan?" Pertanyaan Gaara membuyarkan lamunan Cylvi. Mereka sedang berada di pojokan, tempat biasa Tinders berkumpul. "Udah. Lo makan aja," kata Cylvi. Ia merasa tidak enak karena sempat-sempatnya melamun saat bersama Gaara. "Gue suapin," tawar Gaara. "Gue barusan udah makan," tolaknya dengan halus, ia tak mau menyinggung Gaara. "Hm." Hm. Tapi Gaara tetap menyodorkan sendok yang penuh dengan nasi kuning ke arah Cylvi. "Gue udah makan, Gaar." "Makan." Mau tak mau, Cylvi menerima suapan itu setelah dipelototi datar oleh Gaara. Cylvi sedikit kaget melihat Gaara menyuapi dirinya sendiri dengan sendok yang barusan dipakai untuk menyuapi Cylvi. "Gaar?" panggilnya dengan suara rendah. "Hm?" "Sendoknya?" Cylvi bingung cara menjeleskannya. "Hm? Apanya?" Gaara berpura-pura tak mengerti. "Bukannya barusan lo nyuapin gue pake sendok itu?" "Iya. Lalu?" tukas Gaara singkat. "Kok lo makan juga pake sendok itu?" tanyanya mengambang. "Gue dari tadi emang pake sendok ini," balas Gaara dengan nada ringan. Cylvi melihat sekitar atas mejanya. Benar, tak ada sendok bekas. Itu artinya mereka makan dengan satu sendok. Yang berarti— "Makan lagi," tegas Gaara tak menerima penolakan. "Tapi kan sendoknya—" Belum sempat Cylvi menyelesaikan perkataannya, Gaara sudah memotongnya. "Apa? Kita pernah lebih dari ini kok." Kalah telak dengan jawaban Gaara, Cylvi akhirnya menerima suapan-suapan dari Gaara. "Gaar?" panggilnya lagi. "Hm?" gumam Gaara. Cowok itu sedang minum air mineralnya, sedangkan Cylvi mengaduk teh es nya. Nasi kuning pesanan Gaara sudah ludes dimakan keduanya. "Lo kenal Andreas?" Cylvi menimbang-nimbang pertanyaannya. "Dia sekelas sama gue," jawab Gaara melihat ekspresi kaget yang tercetak jelas di wajah Cylvi. "Hah?" "Hm." "Kok lo gak kasih tau gue?" Cylvi menampilkan wajah cemberut. "Nggak penting." Cowok itu mengedikkan bahunya tanda tak peduli. "Gaar..." "Hm." "Gak jadi." Gaara menatap wajah Cylvi, berusaha mencari tahu apa yang sedang mengganggu pikiran gadis itu. "Ada apa?" tanyanya melembut. "Lo sebenernya serius gak sih sama gue?" Jujur, Cylvi malu bertanya tentang ini. Tapi Cylvi ingin tahu seberapa seriusnya Gaara dengannya. "Menurut lo?" "Jawab aja." "Gue rasa gue cukup serius. Lo?" Gaara menatap lurus ke arah Cylvi. "Lo gak keberatan sama tingkah gue?" Cylvi mengabaikan pertanyaan dari Gaara. "Nggak." "Sifat gue?" "Nggak." "Kejelekan gue." "Lo emang serba jelek, Cyl." Berkat jawabannya, Gaara kembali mendapati lengannya yang panas karena dicubit Cylvi. "Lo suka banget nyubit gue. Sini lo, gue cium," gerutu Gaara. "Lo sendiri yang minta cubit." "Gue dari kemarin minta cium gak dikasih, malah nyubit yang dikasih." Cylvi menjulurkan lidahnya, mengejek Gaara yang menatap tajam ke arahnya. "Wihh! So sweet nih pasangan kayak di drama-drama Korea," ucap Magdalena tiba-tiba. "Iya dong. Kita mah gak kepisahkan," ucap Cylvi sambil berpindah duduk ke samping Gaara. Gaara sendiri memilih memeluk pinggul Cylvi. Ia tak keberatan sama sekali jika Cylvi berada di dekatnya. "Jangan sok pamer deh, Cyl. Baru juga jadian." "Nah itu dia. Kita baru jadian udah mesra gini. Apalagi kalo udah lama." Magdalena tersenyum masam. Cylvi benar-benar tidak mau kalah darinya. "Gue rasa Gaara pasti bentar lagi bosan sama lo." "Gue gak pernah mikir gitu," sahut Gaara tiba-tiba. Magdalena menghentakkan kakinya menjauh. "Enak ya lo, meluk-meluk gue," semprot Cylvi pada Gaara. Gaara tidak juga melepaskan tangannya dari pinggul gadis itu. "Lo sendiri yang dekat-dekat." "Tapi kan bukan berarti lo bisa meluk gue." Cylvi memang memprotes tingkah laku Gaara, tetapi tidak ada tanda-tanda cewek itu mau melepaskan tangan Gaara yang sebenarnya mudah saja dilepaskan. "Salah siapa yang dekat-dekat?" Cylvi melototkan kedua matanya. "Lo kok gak mau ngalah sih?" "Nggak. Emang gue gak salah." "Tangan lo yang salah." "Tempatnya emang di situ." "Kata siapa?" "Kata gue lah barusan." "Lo suka banget ngajak gue berantem." "Nggak kok. Gue sukanya—" "Iya, gue tau." Gaara hanya tersenyum mendengar Cylvi yang barusan memotong pembicaraannya. Ia tidak marah. Tentu saja, Gaara bukan tipe orang yang gampang tersinggung. "Terus? Mana?" Kenapa tidak diteruskan saja acaranya menggoda Cylvi. "Apanya?" "Tadi lo bilang lo tau. Lalu mana?" "Mendadak gue gak tau." Gaara tertawa mendengarnya. Baru kali ini Cylvi mendengar tawa Gaara. "Sini gue kasih tau." Cylvi yang masih tercengang, tidak sempat melawan ketika Gaara mencium pipinya. "Lo suka banget sih nyium gue!" protes Cylvi. "Cium pacar sendiri itu gak apa-apa." "Banyak yang liatin tau." Memang, di kantin sedang ramai dan Gaara barusan menciumnya. "Ramaian mana sama yang di lapangan kemaren?" goda Gaara. Ia menarik Cylvi agar lebih dekat lagi dengannya dan Cylvi tidak menolak. Mereka menikmati kemesraan yang terjadi. Tangan Gaara juga sedari tadi di pinggul Cylvi, sebelahnya lagi mengelus lembut pipi Cylvi. Dan Cylvi suka itu. 'Damn! Kayaknya ada yang gak bener di otak gue!' batin Cylvi sebal. "Gak usah bikin gue ingat-ingat deh." "Gue gak bisa lupain kejadian itu." "Gue malahan udah lupa." "Oh ya?" "Iya!" "Gue bisa buat lo ingat lagi." Gaara mendekati wajahnya ke wajah Cylvi. Cylvi yang gugup segera menutup matanya. Gaara yang dari tadi mencoba menahan tawanya kembali meledakkan tawanya. Cylvi merasa ada yang tidak beres segera membuka matanya dan mendapati Gaara yang sedang menertawakannya. Cowok itu pasti tertawa karena ekspresi mukanya yang aneh. "Lo! Berhenti nggak ketawanya!" titah Cylvi. Gaara berusaha mengendalikan tawanya setelah melihat air muka Cylvi yang mulai memerah. "Lo nyebelin banget sih, Gaar!" "Sorry. Gue gak tau kalo lo segitu harapnya bibir gue—" "Gue nggak!" teriak Cylvi yang memancing beberapa orang untuk melihat ke arah mereka. Gaara mengarahkan pandangannya hingga semuanya kembali ke kesibukan masing-masing. "Tapi gue seneng." "Apa?" "Lo nggak nolak." "Gar—" Kali ini Gaara lah yang melakukannya. Menempelkan bibir satu sama yang lain tanpa melakukan apapun. Dan Cylvi menyukainya, terbukti kedua lengan gadis itu memeluk leher Gaara. Membuat Gaara semakin mendekatkan tubuh mereka, memperdalam ciumannya dan memberikan lumatan-lumatan yang dibalas Cylvi. Persetan dengan kantin penuh dengan orang. Cylvi dan Gaara jelas menikmati moment yang terjalin.   Gaara kembali ke kelasnya setelah tadi mengantar Cylvi ke kelas. Sebenarnya Cylvi tidak perlu diantar, mengingat predikat monster yang melekat dengan erat pada gadis itu. Tapi bagaimanapun juga, Cylvi adalah pacarnya. Sudah sewajarnya ia mengantar Cylvi. "Darimana lo, Gaar?" Gilang mengikuti Gaara dari belakang. Gilang sendiri baru kembali dari toilet. "Kantin," jawab Gaara singkat. Ia segera duduk di bangkunya. "Kok gak ngajakin kita-kita?" "Bareng Cylvi." "Idih. Pantesan. Mau mojok dia sama yayang. Ngapain aja mas? Anu-anuan?" "s**t! Ambigu lo, Lang?" ketus Riko sambil tertawa. "Makan," jawab Gaara. "Elah. Kita juga tau kali di kantin itu buat makan," sambung Johan. "Ya udah. Ngapain tanya?" "Anjir lo, Gaar." "Hm." Kalau dipikir-pikir, Gaara itu sedikit m***m. Ya, Gaara tahu itu. Tapi cuma sama Cylvi. Ia merasa saat bersama Cylvi, segala hal terasa benar dan indah. Apalagi kalau Gaara bisa setiap hari memeluk atau mencium gadis itu. Gaara tidak akan munafik terkait soal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN