Udah 20 menit nih, gue depan ruangan...
Rama melirik jam di dinding saat membaca pesan dari Ari.
Sedangkan Ari yang kesal masih menunggu Rama membuka pintu ruanganya.
"Apa-apaan ini, gue yang punya tempat, kok malah jadi merasa terusir gini. Sial banget tuh si Rama, ngapain aja sih dia," Ucap gerutu Ari, yang kesal akan kelakuan sahabat karibnya itu.
Woy cepetan, gue banyak kerjaan. Si Risa juga nanti curiga kalo tau gue kelamaan di luar.
Ari mencoba mengirimi pesan lagi pada Rama, kali ini ia sangat kesal sebab teman sialan nya itu tak membalas atau menghiraukanya.
Bener-bener lu ya, Ram. Gue aduin ke Ricco, kalo lo ganggu kerjaan gue dan si Kiara.
Acam Ari lagi melalui chat whatssapp nya, tak lama setelah itu Rama menelfonya.
Gila lu, buka. Ucap Ari kesal
Santai aja kali, kalo mau bilang Ricco bilang aja. kalo dia marah gue bakal cabut semua saham di perusaan ini.
Uhh... santai santai bos. Oke, oke, kalo masih mau lama tolong pindah tempat. Hamba mau kerja biar keuntungan mu semakin banyak hahaha...
tuttt....
Rama memutus sambungan telfonya membuat Ari mencebik mulutnya kesal.
ceklek...
Suara kunci ruangan terbuka, Ari segera masuk menghindar dari pertanyaan Risa yang sedari tadi menanyakan kenapa Ia tidak masuk kedalam ruangan.
"Ekhemm... "
"Pak Ari, maaf pak saya permisi dulu," pamit Kiara, dengan sopan dan di balas anggukan oleh Ari.
Setelah pintu tertutup, Ari mendekati Rama yang duduk di sudut ruangan dengan senyum yang membuat Ari merinding.
"Ngapain aja, lo? lama banget."
"Nothing."
"Kapan sih, lo tobatnya?, tuh bocah bukan cewek murahan yang biasa lo bawa ngamar kali, Ram," ucap Ari, mengingatkan sahabatnya yang satu ini. Ari lelah melihat tingkah kedua sahabatnya, Ricco dan Rama yang senang sekali bermain wanita, bedanya Ricco dengan sifat cool dan arogan, sedang Rama dengan sikap centil dan memujanya.
"Gue nggak pernah nidurin cewek sembarangan ya, lo tau itu!" ucap Rama, menampik tuduhan Ari.
Memang benar, Rama tidak asal tidur dengan perempuan jal*ng, ia selalu memilih dan mengenal terlebih dahulu patnernya dan Rama melarang wanitanya itu untuk berhubungan dengan lelaki lain, selama denganya. Tentunya Rama memberikan semua fasilitas terbaik untuk patner tidurnya itu.
Sebab Rama enggan tidur dengan wanita malam, bukan karna tidak sanggup membayar, tapi karna Rama tahu wanita seperti itu pasti selalu bergonta ganti pasangan setiap hari, membayangkanya saja Rama sudah jijik.
Sedangkan Kia, gadis itu baru saja keluar dari lift lalu berjalan menuju ruang divisinya.
"Eh Kia, dari mana aja lo? jangan mentang-mentang lo deket ama sekertaris Pak Ari, lo bisa pergi-pergi semaunya, ya!" suara Mira, menghentikan langkah Kiara.
"Maaf, Mbak, tapi saya tadi di panggil Pak Ari." Kia memberi penjelasan pada seniornya yang memang dari awal seperti kurang menyukai Kiara.
"Ada apa ini? Kia, kalo kamu sudah selesai bisa segera kembali bekerja. Masih anak baru jangan cari keributan!" titah Satria, yang melihat perdebatan antara timnya itu.
"Saya permisi Pak, Mbak," ucap Kiara sopan.
Ting ...
- Lagi apa sayang?
Ting ...
+ Baru aja turun, baru duduk di kursi
Ting ...
- Dimarahin?
Ting ...
+ Engga, cuma kena tegur senior di kira seenaknya ninggalin kerjaan
Ting ...
- Siapa yang tegur kamu?
Ting ...
+ Kenapa? Gak penting, udah ah mo kerja.
Kiara mengakhiri chatnya, ia takut kalau Rama akan mendesak menanyakan siapa orang yang berani menegurnya. Bukan terlalu percaya diri, tapi Kia hanya berusaha meminimalisir keributan.
Ah, mungkin dia bodoh sebab terbujuk rayuan Rama. Tak apalah Kia hanya ingin merasa diinginkan dan disayangi. Maafkan kali ini ia ingin egois, namun ia juga harus sadar jika tidak bisa mengharapkan Rama lebih dari yang ia inginkan.
Kia mengembangkan senyumnya, menarik beberapa file di sudut kubikelnya, membuka beberapa draf di komputer. Jemari lentiknya mulai menari di atas tuts keyboard, hari ini gadis itu kembali merasakan kebahagiaan lagi.
Meski kebahagiaan ini semu baginya, namun Kia tak perduli, untuk saat ini, untuk kali ini. Ia ingin merasakan rasanya di cintai, diinginkan, dimiliki, di perlakukan dengan baik, hanya itu.
Sedang kan di tempat lain, seorang lelaki dengab ekspresi datar, namun tak menguragi ketampanannya tengah berdiri tegap memandang keluar jendela besar di ruanganya, sembari membaca beberapa pesan dari para bawahanya.
Ting .....
Kia sempat di tegur staff senior disini Pak, tapi saya sudah melerainya.
Lapor seseorng pada pria itu melalui pesan singkat.
Awasi dia, jangan sampai bertindak di luar batas dengan Kiara. Kamu akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Kiara di ruangan itu.!! . Titahnya tegas dan menancam membuat si penerima pesan bergidik ngeri.
dreeerttt ...
"Beri saja apa yang dia mau, katakan jika dia berani macam-macam ia akan kehilangan semuanya, " jawab pria itu, melalui sambungan telfonnya pada seseorang di ujung sana. Lelaki itu akan melakukan apapun untuk kenyamanan Kiara, meski saat ini gadis itu tak mengetahuinya.
"Baik, Pak. Saya sudah katakan pada Bu jasmin, agar tidak mengganggu Ibu Kiara dan memaksanya pulang." ucap orang itu, memberikan laporan detail kepada Ricco.
****
"Mohon perhatiannya sebentar teman-teman." suara Satria mengalihkan semua atansi semua orang yang ada di ruangan.
"Sehabis makan siang, kita akan ada meeting dengan Pak Wira, untuk membahas budget promosi bulan lalu, dan bulan sekarang. Jadi, persiapkan semua datanya, sekitar jam 3 kita langsung masuk ke ruang meeting lantai 12. Terima kasih," ucap Satria, memberi informasi pada teamnya.
Kiara terkejut, saat mendengar nama Wira di sebut oleh Satria. Hatinya berdenyut menahan kesal meski sudah beberapa kali bertemu dengan lelaki tua itu, namun ia harus menjaga sikap didepan orangtua itu, sebab bagai mana pun saat ini dia adalah atasanya.
"Om Wira," nama yang dulu sering di sebut Papah karna kebaikannya, tapi sebelum meninggal, Papahnya sempat mengungkapkan kekecewaan mendalam tentang sosok Wira-sahabat karibnya.
"Jangan mudah menaruh harapan, atau kepercaayaan pada siapapun Kiara. Bahkan seseorang yang menganggap mu sebagai saudara, akan menghancurkan mu. Harta dan tahta selalu berhasil merubah tabiat seseorang, Nak. Ingat itu."
Ucapan Papahnya pada malam sebelum kecelakaan itu, selalu di ingatnya hingga saat ini.
"Lantai 12, ada ruang meeting?" tanya Kiara, pada teman di sebelah kubikelnya.
"Ada, Kia. Itu Meeting room yang agak gede. Nah, yang biasa kamu meeting dulu itu di lantai 10, biasanya di pake kalo meeting sama Pak Ricco, atau petinggi perusahaan. Ada beberapa meeting room di sini, Kia.
Kalo kamu udah lama kerja di sini pasti tau semua ruangmeeting, soalnya divisi kita selalu terkait dengan semua divisi, kecuali kalo meeting internal masing-masing divisi," terang Nadira, gadis periang dan cerewet yang mungkin akan menjadi teman dekatnya di sini.
Kiara mengangguk paham, kembali focus pada layar monitornya.
Ting
+ Pulang kerja, aku jemput di depan. Harus mau!
Kiara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli, saat membaca pesan Rama.
- Oke,
+ Gitu aja jawabnya?
-Terus? kan tadi katanya harus mau. Jadi ya udah, oke.
+ Hmmm, ya sudah, Mas lanjut kerja lagi. Sampai ketemu sore.
Kiara tak membalas pesan Rama lagi, ia segera menyelesaikan semua pekerjaannya, karna seperti yang telah di infokan oleh Satria, mereka akan segera meeting.