Kedatangan Tante

1068 Kata
Meeting sudah di mulai sepuluh menit , namun sosok Wira belum juga muncul. Sekwrtarisnya beralasan jika beliau sedang dalam perjalanan. "Begitukah tingkah seorang direktur, bahakan meeting saja tak tepat waktu. Beda dengan Papah yang selalu on time, bahkan selalu datang lebih awal, " ucap Kiara sinis dalam hatinya. Mungkin kalau direkturnya bukanlah Pak Wira, Kiara akan memaklumi. Namun Kiara memang tak menyukai Pak Wira sehingga apapun itu, selalu menjadi alasan Kiara untuk tak menyukai mantan sahabat Almarhum Papahnya. "Selamat sore, mari kita mulai saja. Satria, saya ingin melihat laoprannya," ujar Pak Wira, tanpa basa-basi pahal ia baru saja datang. "Baik,Pak. Untuk promosi project bulan lalu, akan di jelaskan oleh Kiara, Kiara silahkan." Kiara mengangguk, beranjak dari duduknya dan mempresentasikan semuanya. Kenapa Kiara? Karena 80% project nya Kiara lah yang menghandle. "Wah, bagus sekali Kiara. Semuanya detail. Apa kamu karyawan baru?" tanya Pak Wira, di akhir presentasi Kiara. "Iya, Pak. Saya baru masuk," jawab Kiara, dengan senyum yang di paksakan. "Satria, sepertinya kamu beruntung punya karyawan baru yang cerdas juga cantik," gurau Pak Wira, membuat Satria setengah tertawa. "Ah, Pak Wira bisa saja. Baik, Pak saya akan lanjutkan presentasi nya. Mira, silahkan," ucap Satria, Mira dengan sedikit angkuh berjalan ke depan, ia akan memberi performa yang lebih baik dari pada karyawan baru. "Lihat saja nanti, presentasi ku pasti lebh bagus," ucap Mira dalam hatinya. Sudah satu jam lebih, rapat pun selesai. Mira keluar dari ruang meeting dengan wajah kesal dan kaki yang di hentak kan ke lantai. Mira sangat kesal, sebab ia tidak mendapat respons yang bagus dari Pak Wira, bahkan lebih banyak di komentari agar membuat laporan lebih jelas dan teliti. "ini semua gara-gara Kiara, awas aja, lo," lirih Mira dalam hatinya, sambil menatap iri Kiara yang berjalan di depanya bersama Satria dan Nadira, tentunya masih memuji hasil kerja Kiara yang membuat Mira semakin berang. ****** Seperti pesan Rama, akhirnya Kia menunggu pria itu di halte bus. Matanya sibuk melirik kiri dan kanan, khawatir jika ada teman kantornya yang tahu kalau ia di jemput Rama. tin... tin.... Sebuah BMW hitam berhenti di depan Kiara, tak menunggu lama, gadis itu segera masuk kedalam mobil. "Sore cantik, gimna hari ini capek? " tanya Rama, saat Kiara sudah duduk di sampingnya. "Iya nih, lumayan banget, Mas, capeknya," jawab Kia, dengan manja dan wajah memelas, Rama yang gemas mencubit pipi Kiara. "Auuu...Sakit kali Mas, ih" Kiara menepak lengan Rama. "Maaf, maaf, kamu lucu sih kalo lagi begini, ya udah gimana sebelum pulang kita makan ice cream dulu. Mau? " tawa Rama. Mata Kiara berbinar mendengar ajakan Rama "Mau... Mau, aku mau rasa coklat, vanila dan strawberry.Yeeyyy,"ucap Kia, antusias sambil bertepuk tangan. Rama tersenyum, melihat tingkah Kiara yang persis anak kecil. Terus seperti ini Kia, jangan pernah berubah meski nanti semua tak akan seindah ini lagi, meski nanti yang kau rasa adalah luka. Maaf kan aku. ucap Rama dalam hatinya. Egois memang, namun Rama tidak punya pilihan lain. Kiara gadis yang Rama inginkan, sayangnya gadis itu hadir di saat semuanya sudah seperti ini, di saat ia tidak bisa menjadikan gadis itu sebagai pendamping hidupnya. Sesampainya di caffe mereka memesan ice cream dan makanan ringan, Kia mengedarkan pandangan ke setiap sudut caffe bergaya art deco, gadis itu menyukai tempat ini, sederhana dan tidak terlalu ramai. "Aku suka tempatnya, sederhana tapi tidak terlalu ramai." Kia membuka percakapan, Rama yang sedari tadi sibuk dengan smartphone mengalihkan pandanganya ke arah Kia, dan tersenyum. "Syukurlah kalo kamu suka, iya tidak terlalu ramai, karna ini bukan di pusat kota," terang Rama lalu focus kembali pada smartphonenya. Membuat Kiara mencebikan bibirnya karna merasa diabaikan. "Hmm, makan es krimnya berdua sih, tapi berasa kaya sendirian," sindir Kia, melihat Rama yang tak kunjung mengalihkan pandanganya dari smartphone itu. Rama yang sadar akan sindiran itu tersenyum menatap Kiara, tangan kanan nya menggenggam jemari Kiara yang ada di atas meja. "Maaf ya, aku lagi cek email hasil meeting tadi, sebentar ya." lalu memfocuskan kembali pandanganya pada smartphone. "Kapan kamu meeting? bukanya siang tadi kamu di kantor Pak Ricco" tanya Kia penasaran. "Tadi sayang, pas jemput kamu, tapi-" ucapan Rama terpotong oleh Kiara. "Lha, kenapa jemput aku kalo gitu? harus nya kamu bilang ada meeting, aku nggak mau ya ganggu orang kerja," cerocos Kiara, membuat Rama menyunggingkan senyumnya. "Hey, denger Mas emang nggak niat ikut meeting sore, itu hanya evaluasi ulang aja. Jadi Mas, engga perlu ikut, hanya nunggu report dari sekertaris," jelas Rama, sembari tersenyum memperhatikan gadis di hadapanya ini. Andai perempuan lain, mungkin mereka akan menuntut waktu Rama dan mengganggu pekerjaannya hanya untk meminta di temani shopping atau liburan. Ahh, Rama semakin menyukai Kiara. Setelah memakan ice cream mereka bergegas pulang sebab Kiara mendapat telfon dari Ibu kos jika ada tamu dari kampungnya. "Memang siapa yang datang, sayang?" tanya Rama, sembari menyalakan mesin mobilnya. "Entah, tapi kemungkinan besar tante sih, siapa lagi kalo bukan beliau," jawab Kiara. "Ibu atau ayah kamu mungkin?" ucap Rama lagi. Kiara hanya tersenyum masam tanpa menjawab apapun, melihat ekspresi Kiara yang kurang baik saat membahas orangtuanya, lelaki itu memilih diam dan focus mengendarai mobilnya. "Makasih ya, Mas," ucap Kiara, saat mobil Rama parkir di ruko depan gang kosan Kiara. "Kamu enggak mau ajak Mas masuk? " tanya Rama. "Maaf Mas, bukan gitu. Kosan aku pasti nggak nyaman buat kamu dan kebetulan ada tante aku. Lain kali aja ya." Kia menolak Rama yang ingin berkunjung ke kosnya. "Kalo aku maksa gimana? " ucap Rama sembari membuka seatbelt, membuat Kiara bingung harus berucap apa. "Ayoo, sayang. Tante kamu udah nunggu kan? " saking tidak focus nya, Kiara tidak sadar jika Rama sudah keluar dari mobil dan kini tengah membukakan pintu untuknya. Rama yang menangkap ke khawatiran di wajah Kiara mencoba menenangkan, "Hey, sayang, nggak apa-apa, aku mau kenal sama tante kamu dan aku juga mau tau tempat kamu tinggal. Percaya sama Mas, everything will be fine, oke,“ ucap Rama, sembari membelai lembut rambut Kia yang kini bersandar di pintu mobil. Rama dan Kiara berjalan memasuki gang sempit dan gelap, untung lah meski bukan lingkungan bersih namun tidak terlalu kumuh. Rama menggenggam jemari Kiara, sungguh lelaki itu tidak menyangka. Jika perempuan di sampingnya ini, begitu sederhana, padahal perempuan secantik Kiara bisa mendapat kehidupan yang lebih baik dengan mudah. Apakah kamu sesederhana itu Kia? Seperti apa kamu sebenarnya Kia? apa aku terlambat untuk mendapatkanmu? Oh tidak, tidak ada hal yang terlambat. Aku akan segera memiliki mu, Kia. Kamu hanya untuk aku. Tak ku biarkan siapa pun mendekati mu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN