Mencari Kiran

1077 Kata
Maria baru tiba di depan ruang tempat Kiran dirawat dan langsung melihat ke arah Arga yang tampak sangat khawatir. Dia segera menghampiri putranya itu. "Ada apa, Arga?" tanya Maria begitu berada di hadapan anak sulungnya. "Ma, Kiran tidak ada di kamarnya," jawab Arga dengan suara gemetar, matanya diliputi kecemasan. Maria terkejut dan panik mendengar pengakuan putranya. "Bagaimana Kiran bisa tidak ada di kamarnya? Mama sudah menyuruh kamu untuk menjaganya!" tegas Maria dengan nada tinggi, mencerminkan kekesalannya kepada Arga. "Maaf, Ma ...." Arga hanya bisa tertunduk mendengar teguran itu. Ia merasa bersalah karena telah lalai menjaga Kiran, yang beberapa hari terakhir ini kondisinya sangat tidak baik. Terutama setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Arka, adiknya, terhadap Kiran. Pengkhianatan itu membuat Kiran terus mencoba menyakiti dirinya sendiri. "Dari tadi Mama sudah bilang sama kamu untuk menjaga Kiran. Kenapa kamu begitu ceroboh?" tegur Maria dengan nada yang lebih kesal lagi. Maria merasa sangat kecewa dan marah kepada, Arga, terutama kepada Arka. Selama ini, ia selalu merawat dan mendidik Arka dengan baik. Bahkan ketika suaminya meninggal dunia saat usia Arka masih 15 tahun, Maria berusaha menjadi ibu yang baik untuk kedua anaknya, Arga dan Arka. Namun, ternyata Arka tumbuh menjadi seseorang yang tega menyakiti orang lain, bahkan istri dan calon anaknya sendiri. Maria benar-benar tak bisa mengampuni putranya itu. Arka sudah berselingkuh di belakang Kiran, bahkan ketika Kiran sudah memiliki anak dari Arka. Pengkhianatan itu membuat Kiran sangat terpukul hingga mencoba mengakhiri hidupnya beberapa kali. Kejadian-kejadian itu membuat Maria semakin kecewa dan marah kepada Arka. Arga yang melihat mamanya begitu khawatir, mencoba menjelaskan situasinya. "Ma, tadi Arga keluar sebentar untuk angkat telepon, tapi pas Arga kembali, Kiran sudah tidak ada," ujar Arga dengan suara rendah, penuh penyesalan. "Mama tidak mau tahu! Kita harus cari Kiran! Jangan sampai Kiran berbuat yang tidak-tidak lagi, Arga. Mama benar-benar khawatir kepadanya," tegas Maria. Maria jelas merasa khawatir, apalagi ketika ia teringat kejadian saat ia menemukan Kiran menenggelamkan tubuhnya di bathtub hingga kulitnya mulai membiru. Kenangan itu membuat Maria merinding ketakutan. "Iya, Ma. Aku akan mencarinya keluar. Siapa tahu Kiran belum jauh," kata Arga sambil segera beranjak pergi. Meskipun Arga hanya kakak ipar Kiran, tapi selama ini ia selalu menganggap Kiran sebagai adik kandungnya sendiri. Bahkan, Arga lebih menyayangi Kiran dibandingkan dengan adiknya sendiri, Arka. Maria hanya bisa menatap punggung Arga yang menjauh dengan hati yang semakin gelisah. "Mama tidak akan memaafkan Arka, Arga. Apa yang dia lakukan sungguh tidak bisa dimaafkan." gumam Maria yang penuh emosi. Arga berbalik sejenak dan menatap Maria dengan tatapan penuh empati. "Ma, aku mengerti. Aku pun tidak bisa memaafkan Arka. Tapi sekarang kita harus menemukan Kiran dulu. Dia butuh kita," katanya dengan tegas. Maria mengangguk, mencoba menenangkan dirinya meskipun hatinya masih diliputi kekhawatiran. "Mama tahu, Arga. Tolong cari dia. Mama tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi." Arga mengangguk. "Aku akan cari dia, Ma. Jangan khawatir," ucapnya sebelum akhirnya benar-benar pergi mencari Kiran. Maria kembali duduk di kursi yang ada di depan ruang perawatan, tangannya menggenggam erat botol minum yang ia bawa untuk Kiran. Ia berdoa dalam hati, memohon perlindungan untuk Kiran. Pikiran Maria berkelana kembali ke masa lalu, ketika Arka masih kecil. Ia ingat betapa ceria dan penurutnya Arka dulu. Namun, semua itu berubah seiring waktu. Ketika suaminya meninggal, Maria berusaha sekuat tenaga menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja keras untuk memastikan kedua anaknya mendapatkan pendidikan yang baik dan kehidupan yang layak. Namun, melihat Arka sekarang, ia merasa semua usahanya sia-sia. "Mengapa Arka bisa berubah begitu, Tuhan? Apa yang salah dengan caraku mendidiknya?" gumam Maria penuh penyesalan. Tak lama, Arga kembali dengan wajah penuh kekhawatiran. "Ma, aku sudah mencari di sekitar rumah sakit, tapi tidak ada tanda-tanda Kiran. Mungkin kita harus melapor ke pihak keamanan rumah sakit," usul Arga. Maria segera bangkit dari duduknya. "Baiklah, kita segera lapor. Kita harus temukan Kiran secepatnya." Dengan langkah cepat, Maria dan Arga menuju kantor keamanan rumah sakit. Mereka memberikan ciri-ciri Kiran dan meminta bantuan untuk mencarinya. Tak ada yang lebih penting bagi Maria saat ini selain memastikan Kiran selamat. Ia tidak akan membiarkan menantunya itu terluka lagi, tidak selama ia masih hidup. Sambil menunggu kabar dari pihak keamanan, Maria memegang tangan Arga erat. "Arga, mama minta maaf kalau mama terlalu keras padamu tadi. Mama hanya sangat khawatir." Arga menggenggam tangan Maria dengan lembut. "Tidak apa-apa, Ma. Aku mengerti. Aku juga merasa bersalah. Seharusnya aku lebih waspada." Maria hanya bisa mengangguk. "Ma, aku akan cari Kiran ke luar dulu. Siapa tahu dia belum jauh," kata Arga dengan tegas. "Baiklah, kamu cari Kiran di luar rumah sakit. Biar Mama yang mencarinya di sekitar rumah sakit," balas Maria. "Baik, Ma," ujar Arga sambil segera bergegas pergi dari hadapan ibunya untuk mencari Kiran. Dia keluar dari pintu rumah sakit menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Di tengah kekhawatirannya, Arga berusaha tetap fokus. Kiran harus ditemukan secepat mungkin, pikirnya. Di lobi rumah sakit, Arka yang sedang menunggu untuk keperluannya sendiri, melihat kepergian kakaknya dengan rasa penasaran. Ia tidak tahu mengapa sedari tadi kakaknya berada di rumah sakit. Namun, pandangannya tak sengaja menangkap sosok mamanya yang terlihat panik. "Kenapa Mama juga ada di sini? Siapa sebenarnya yang sakit?" pikir Arka. Rasa ingin tahunya memuncak dan segera menghampiri ibunya. "Ma…" panggil Arka sambil menghampiri Maria yang berada di resepsionis. Maria berbalik dan melihat Arka dengan tatapan marah dan kecewa yang mendalam. "Ma, kenapa Mama begitu terlihat cemas? Kenapa Mama berada di rumah sakit? Siapa yang sakit, Ma?" rentetan pertanyaan Arka keluar begitu saja, ia tidak menyadari situasi yang sedang dihadapi. Mendengar pertanyaan-pertanyaan dari putranya, Maria semakin kesal. Rasa kecewanya terhadap Arka yang telah mengkhianati Kiran kembali menggelegak. "Kamu tidak tahu siapa yang sakit? Suami macam apa kamu ini!" bentak Maria sambil melotot. Arka tampak bingung dan panik melihat reaksi ibunya. "Apa maksud Mama?" tanyanya, mencoba memahami situasi yang telah terjadi. "Istrimu sedang sakit, Arka! Bahkan sekarang dia menghilang!" jawab Maria dengan nada kesal dan suara yang gemetar menahan amarah. Tentu saja, Arka terkejut mendengar itu. "Kiran menghilang? Bagaimana bisa?" tanyanya dengan wajah pucat. "Kamu tanya bagaimana bisa? Itu semua karena ulahmu, Arka! Kiran dalam kondisi yang sangat rapuh setelah tahu kamu berselingkuh. Dan sekarang dia menghilang! Bagaimana kamu bisa begitu tidak peduli?" seru Maria, yang tidak bisa menahan emosinya lagi. Arka terdiam, ia merasa bersalah dan bingung. "Ma, aku … aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak bermaksud membuat Kiran menderita. Aku …" "Mas ..." Tiba-tiba suara wanita lain terdengar di antara keramaian rumah sakit. Ketika Arka dan Maria sedang berbicara dengan penuh emosi, Lita tiba-tiba menghampiri mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN