Kepergian Kiran

1179 Kata
Ketika melihat kakaknya, Arga dan Lita segera berdiri karena terkejut. "Kami sedang ... menemani Cleo yang sedang sakit," jawab Arka dengan suara pelan, berusaha tetap tenang meski tatapan Arga begitu nyalang padanaya. "Hh, jadi dia wanita selingkuhan kamu?" Arga menatap ke arah Lita yang ada di sebelah adiknya. Lita merasa tersudut, tapi mencoba mempertahankan ketenangannya. "Saya Lita, Kak Arga. Saya ... ibu dari Cleo." "Jadi benar, kamu selingkuh dengan dia, Arka?" Arga mengangkat tagannya, menunjuk ke arah Lita dengan amarah yang membara. "Apa kamu sudah gila?" "Kak, tolong jangan buat keributan di sini. Cleo sedang sakit, dia butuh ketenangan." Arka berusaha menenangkan situasi. " Aku tidak peduli!" Arga membentak. "Kamu sudah menghancurkan pernikahanmu sendiri, kamu menghianati Kiran! Apa kamu tidak punya rasa malu sedikit pun?" Arka menunduk, ia merasa sangat bersalah akan hal itu. "Aku tahu, Kak. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar." "Kesalahan besar? Ini lebih dari sekadar kesalahan, Arka! Kamu menghancurkan hidup Kiran, dan sekarang kamu di sini dengan wanita ini, seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi!" Arga menuding ke arah Lita dengan tatapan penuh kebencian. Lita mencoba berbicara, suaranya begitu gemetar. "Kak Arga, tolong dengarkan. Kami juga tidak menginginkan ini terjadi. Kami hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk Cleo." "Jangan bicara padaku tentang melakukan yang terbaik! Apa kamu pikir ini yang terbaik? Menghancurkan rumah tangga orang lain?" sergah Arga dengan suara penuh kemarahan. Bagaimana Arga tidak marah, bila adiknya saja sudah berkhianat, bahkan ketika Kiran sakit, Arka sama sekali tak peduli. "Kak, aku yang bersalah. Jangan salahkan Lita," kata Arka penuh penyesalan. "Aku yang membuat keputusan yang salah." "Ya, kamu memang bersalah, Arka. Dan sekarang, apa yang akan kamu lakukan? Kamu pikir dengan berdiri di sini dan meminta maaf, semuanya akan kembali normal?" Arga menatap adiknya dengan penuh penghinaan. "Aku tahu tidak mudah, Kak. Tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin Kiran memaafkanku, dan aku ingin menjaga Cleo," kata Arka dengan suara penuh harap. "Memperbaiki? Kamu pikir semudah itu? Kiran hampir mati karena perbuatanmu!" Arga semakin marah, wajahnya memerah. "Dia mencoba bunuh diri, Arka! Apa kamu sadar betapa dalam luka yang kamu buat?" Lita segera menyela perkataan Arga. "Kami sangat menyesal, Kak Arga. Kami hanya ingin mencari jalan keluar dari semua ini." "Jalan keluar? Jalan keluar apa? Menikah dengan selingkuhanmu dan hidup bahagia? Kamu pikir itu solusi?" Arga mengejek, suaranya penuh sarkasme. "Tidak, Kak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya tahu aku harus ada untuk Cleo dan mencoba memperbaiki hubungan dengan Kiran," kata Lita dengan putus asa. Arga menghela napas panjang, mencoba meredakan amarahnya yang sudah membara, ia sudah muak melihat Lita, terutama melihat adiknya, Arka. "Dengar, Arka. Kamu sudah membuat kekacauan besar. Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan sekarang adalah menghadapi konsekuensinya. Jangan lari dari tanggung jawabmu." "Aku tidak akan lari, Kak. Aku akan hadapi semuanya," kata Arka begitu yakin. "Aku akan bicarakan ini dengan Kiran dan mencari cara untuk memperbaiki semuanya." "Lebih baik kamu lakukan itu segera." Arga lalu melihat ke arah Lita. "Dan kamu, Lita. Sebaiknya kamu tidak ikut campur lebih jauh lagi. Ini masalah keluarga kami." Lita mengangguk pelan, ia merasa tak berdaya. "Aku hanya ingin Cleo sehat, Kak Arga. Aku tidak bermaksud merusak apa pun." "Baik, jaga Cleo. Tapi ingat, Arka, kamu yang harus bertanggung jawab penuh atas semua ini," kata Arga dengan tegas sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Arka menatap kakaknya yang berjalan pergi, merasa beban di hatinya semakin berat. Jalan di depannya penuh dengan rintangan, tapi ia bertekad untuk menghadapi semuanya demi keluarganya dan demi Kiran. *** "Ma, bagaimana dengan Kiran? Apa dia sudah siuman?" tanya Arga tepat ketika di hadapan ibunya, Maria. Sejak tadi ia bertemu dengan Arka tapi tidak memberi tahu adiknya itu, ia tidak ingin kehadiran Arka membuat Kiran tidak nyaman, terlebih dengan apa yang sudah Arka perbuat pada Kiran. Maria mengangguk. "Kiran sudah siuman. Mama mau mengambil minum dulu, kamu tolong jaga Kiran sebentar, ya." "Baik, Ma." Maria hendak melangkah pergi, tapi Arga segera menghentikannya. "Ma .…" "Ada apa, Arga?" Maria menoleh lagi ke arah anaknya yang ada di belakang. "Tadi Arga bertemu Arka." Maria menyipitkan matanya. "Di mana?" "Di rumah sakit, Ma. Bersama selingkuhannya." Ketika mendengar ini, Maria sontak membelalakkan mata dan bertanya, "Apa? Sedang ngapain mereka di rumah sakit?" "Arka hanya bilang sedang menemani anaknya yang sedang sakit." "Arka benar-benar b******k, bisa-bisanya dia lebih sayang dengan selingkuhannya itu daripada Kiran. Mama harus bicara dengan dia," maki Maria dengan kesal. "Ma, Mama tenang dulu, ini rumah sakit. Kita bicarakan ini nanti saja di rumah." Maria yang masih kesal pun hanya bisa mengangguk. Ia tak habis pikir dengan anak bungsunya itu. "Baik, kita bicarakan nanti di rumah," katanya dengan nada tertahan, lalu melangkah pergi. Ketika Arga melihat kepergian ibunya, ia pun langsung masuk ke dalam ruangan dan mendapati Kiran yang tengah tidur di atas brankar dengan selang yang menancap pada pergelangan tangannya. Wajah Kiran tampak pucat, tubuhnya terlihat lemah. Arga merasa hatinya tercabik melihat kondisi adiknya. Tepat ketika di hadapan Kiran, Arga menggeser pintu pelan agar tidak mengganggu Kiran yang sedang beristirahat. Ia kemudian duduk di bangku yang ada di samping Kiran, memandangi wajah adiknya yang pucat dengan penuh kesedihan. Beberapa saat kemudian, Arga melihat Kiran mulai terbangun. "Kak, kamu di sini?" tanya Kiran dengan suara lemah. Arga mengangguk. "Mama sedang ambilkan air dulu untuk kamu," jawabnya sambil menggenggam tangan Kiran dengan lembut. Kiran tersenyum tipis. "Terima kasih, Kak." "Bagaimana perasaanmu sekarang, Kiran?" Kiran menghela napas pelan. "Sedikit lebih baik, Kak. Tapi rasanya masih lelah." "Kamu harus istirahat banyak. Jangan pikirkan yang berat-berat dulu," kata Arga sambil mengusap lembut tangan adiknya. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Arka, Kak. Dia sudah menghancurkan semuanya," ujar Kiran dengan suara penuh kesedihan. "Aku tahu, Kiran. Aku tahu betapa sakitnya kamu. Tapi kamu harus kuat, demi dirimu sendiri," kata Arga sambil menatap mata adiknya dengan penuh harap. "Aku akan coba, Kak. Tapi rasanya begitu sulit." Arga menghela napas panjang, mencoba menenangkan Kiran dengan menepuk-nepuk tangannya yang terasa dingin. "Kamu tidak sendirian, Kiran. Aku dan Mama selalu ada untukmu." Kiran mengangguk pelan, ia merasa sedikit terhibur oleh kata-kata Arga. "Terima kasih, Kak. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpa kalian." "Tidak usah berpikir seperti itu. Kita keluarga, kita akan selalu saling mendukung." Ketika mereka sedang berbicara, tiba-tiba dering ponsel Arga terdengar. "Maaf, Kiran. Aku harus angkat telepon ini dulu," pamit Arga sambil berdiri dan mengambil ponselnya. "Aku akan segera kembali." Kiran mengangguk. "Tidak apa-apa, Kak." Arga keluar dari ruangan dan menjawab panggilan tersebut. Setelah beberapa saat berbicara di telepon, ia kembali ke kamar Kiran, tapi ia tidak mendapati Kiran di kamarnya. Arga pun menjadi sangat panik. "Kiran? Kiran, kamu di mana?" teriak Arga sambil mencari ke setiap sudut ruangan. Tidak ada jawaban. Arga semakin cemas, ia keluar dari ruangan dan bertanya kepada perawat yang lewat. "Maaf, apakah kalian melihat pasien dari kamar ini keluar?" Perawat itu menggeleng. "Tidak, saya tidak melihat siapa pun keluar dari kamar itu." Arga merasa semakin gelisah. "Tolong bantu saya mencari adik saya. Dia baru saja siuman dan tidak mungkin pergi sendiri." Perawat tersebut mengangguk dan segera menghubungi staf lainnya untuk membantu mencari Kiran. Arga terus mencari ke berbagai arah, berharap menemukan adiknya dengan selamat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN