Beberapa hari berlalu. Keadaan Jovanka semakin membaik. Lemas dan pusingnya sudah berkurang. Wanita itu pagi ini sedang sarapan bersama suaminya. “Calvin,” panggilnya. “Hmm.” Calvin menanggapinya biasa saja. “Selama aku amnesia, apa aku melakukan sesuatu yang aneh?” tanya Jovanka. Calvin berhenti dari makannya, menatap ke meja, bola matanya mengayun ke kiri dan kanan. “Tidak,” jawabnya. “Aku bermimpi aneh.” Calvin sudah mendengar kalimat itu kemarin, tetapi mau ditanya lebih dalam, takut kondisinya belum stabil. “Mimpi apa?” “Apa kau punya waktu untuk mendengarkan ceritaku?” “Ya, ada. Beberapa menit masih bisa aku luangkan.” Jovanka mengangguk. “Aku bermimpi hidup di sebuah kota asing. Hidup dengan seorang pria, tapi bukan pasanganku. Dia seperti temanku.” Calvin menyipitkan mata

