THE CASTLE
Copyright © 2014 by Miiyamii
BAB I
Marry Hermsworth yang sedang membantu Sang Bibi mengupas puluhan apel di depan teras rumah, mendadak menghentikan kegiatannya. Dia lalu menoleh ke arah utara, menatap dengan seksama pada bangunan rumah berdinding bata kusam yang menjulang tinggi.
Dari cerita penduduk setempat, Marry mengetahui bahwa rumah itu adalah sebuah rumah besar dengan lingkungan yang tidak biasa—berada di tengah Padang Belantara. Walau dilihat dari kejauhan, rumah itu memberikan kesan ‘lama’ berwibawa yang angkuh dan juga kesan keseriusan patriakal yang sangat menonjol. Marry tidak tahu siapa pemilik rumah besar itu, karena rumah itu tampak seperti tak berpenghuni.
“The Castle.”
Marry menoleh mendengar perkataan Bibi Jane. Wanita paruh baya itu tampaknya mengetahui bahwa keponakannya berhenti mengupas apel untuk memandangi rumah besar indah yang letaknya di Padang Belantara itu.
“The Castle?” Marry mengulang perkataan Bibinya, dia terlihat bingung.
Wanita tua lincah bertubuh mungil dengan rambut yang telah sepenuhnya beruban itu mengangguk. “Orang-orang Circlewoods menamai tempat itu …” dia menunjuk ke arah bangunan tua yang berada di tengah Padang Belantara yang letaknya ratusan meter dari rumah mereka, menggunakan jari telunjuk dari tangannya yang memegang pisau untuk mengupas buah, “—The Castle. Karena bangunannya sangat besar dan tampak seperti kastil jika dilihat dari jarak dekat.”
Wajah Marry berseri membayangkannya. Walau mempunyai sifat tomboy dan mandiri, gadis muda itu sama seperti gadis-gadis lainnya, dia memiliki impian untuk menjadi seorang Puteri dan tinggal di rumah besar bak istana seperti The Castle. Marry berpikir bahwa pemilik The Castle pastilah orang yang sangat kaya.
Bibi Jane tersenyum lembut melihat ekspresi Marry. Sambil melanjutkan kegiatan mengupas apelnya, dia kemudian berkata ; “Anakku, apa yang terlihat bagus diluar tidak selalu baik di dalamnya.”
Marry mengerutkan kening. “Maksud Bibi?” tanyanya tak mengerti.
“Teruslah mengupas apel. Bibi akan bercerita tentang orang yang memiliki rumah besar itu, dan … jangan sekali-kali menyela Bibi.”
“Uh. Oh. Iya Bi,” jawab Marry buru-buru mengambil pisau yang dia letakan dalam ember kayu yang penuh dengan buah apel, kemudian dia kembali melanjutkan kegiatan mengupas apelnya.
“Awalnya The Castle adalah sebuah rumah tua milik Lord Cartman. Menurut desas-desus yang beredar, Lord Cartman merupakan salah satu orang penting dalam system pemerintahan Negara kita—dia anggota keluarga kerajaan. Lord Cartman memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik.” Mata Bibi Jane menerawang membayangkan sosok rupawan Puteri Lord Cartman, walau sudah empat belas tahun berlalu, dia masih mengingat rupa gadis itu dengan jelas. “Namanya Matilda. Dia beberapa tahun lebih muda dari Bibi.”
Marry pura-pura mencibir tak terima mendengar ada gadis lain yang lebih cantik darinya. Diusianya yang baru menginjak enam belas tahun, Marry selalu dipuji sebagai gadis paling cantik di Circlewoods, dan … dia memang cantik. Wajahnya ayu, kulitnya seputih pualam, hidungnya mungil dan mancung, rambutnya hitam bergelombang indah, serta mata gelapnya memperlihatkan kesan mandiri dan kekanakan yang memikat.
“Kalau kau hidup di Jaman Bibi, kau pasti iri melihat kecantikannya, Nak. Bibi serius. Orang-orang Circlewoods menggambarkan Matilda sebagai lambang kecantikan-kesempurnaan Inggris setinggi enam kaki, tubuhnya ramping, kulitnya bersih, dan wajahnya luar biasa cantik. Dia memiliki rambut pirang terang dan mata kuning keemasan yang aneh. Lord Cartman sangat menyayangi Matilda. Dia satu-satunya keluarga yang dimilikinya, setelah Sang Istri meninggal.”
“Dibesarkan dengan segala kesempurnaan duniawi membuat Matilda jadi agak besar kepala, dan terlalu pemilih untuk urusan jodoh. Banyak lelaki dari seluruh penjuru Britania Raya datang melamarnya, tua, muda, kaya, miskin. Mereka semua ditolak.”
“Hingga akhirnya Matilda menjatuhkan pilihan kepada seorang lelaki berkebangsaan Rusia yang asal-usulnya tidak jelas. Lord Cartman tidak menyetujui pilihan Puterinya, namun dia tidak bisa berbuat apapun karena dia begitu menyayangi Matilda.”
Marry tertegun. Dia mendengarkan cerita Bibi Jane dengan seksama.
“Setelah menikah, Matilda dan suaminya tinggal bersama Sang Ayah di The Castle. Semua penduduk Circlewoods berharap pernikahan mereka bahagia. Namun menurut gosip yang disebarkan oleh salah satu pelayan perempuan bermulit besar di The Castle, hubungan antara Lord Cartman dan menantunya tidak harmonis. Mereka sering bertengkar. Dan … tiga bulan kemudian …” suara Bibi Jane merendah, seperti hendak menceritakan sebuah k*****s dari film horror yang membuat Marry penasaran, “—penduduk Circlewoods menemukan mayat Lord Cartman di depan Kantor Walikota.”
Tarikan napas keras terdengar jelas dari arah Marry. “Benarkah?” tanyanya tak percaya. “Apakah menantunya yang membunuh?”
Bibi Jane menyipitkan mata pada Marry pertanda dia tidak suka disela saat bercerita.
“Oh. Baiklah Bi, aku tidak akan menyela lagi.” Marry membuat gerakan seperti mengunci dan menggembok mulutnya sendiri.
“Polisi menduga bahwa Lord Cartman terkena serangan jantung, karena tidak ada tanda-tanda penusukan, penganiyayaan, dan bahkan pemukulan. Ada yang bilang bahwa dia diracun, tapi bagian forensik tidak menemukan tanda-tanda racun dalam tubuhnya.”
“Itu berarti dia benar-benar kena serangan jantung?” Marry cengengesan saat Sang Bibi kembali memelototinya. “Baik Bi, aku tutup mulut. Maaf. Aku tidak akan keceplosan menyela lagi.”
Bibi Jane mendesah. “Tapi yang membuat polisi bingung adalah gambar besar seperti gambar lambang kaum satanic (pemuja setan) ada di TKP. Mayat Lord Cartman diletakan di tengah gambar itu.”
Berarti Lord Cartman dibunuh oleh pemuja setan? Atau … Iblis? Marry bergidik. Dia tidak berani menyuarakan pemikirannya.
“Lima tahun setelah kematian Lord Cartman. Ian, suami Matilda, juga meninggal. Orang-orang menemukan mayatnya hanyut di sungai dengan luka cabikan mengerikan di seluruh tubuh. Mereka berasumsi bahwa Ian diserang binatang buas saat berburu.”
Bibi Jane terdiam sejenak. Dia sudah sepenuhnya berhenti mengupas apel.
“Setelah kematian suaminya, beredar rumor bahwa Matilda mulai terganggu jiwanya. Dia lebih sering berkeliaran tak tentu arah di seluruh penjuru Circlewoods. Dia bahkan tidak mau merawat anak-anaknya lagi,” ujar Bibi Jane dengan nada sedih. “Matilda memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak perempuan itu lahir tepat di hari kematian Ayahnya. Dan hal-hal anehpun kemudian terjadi.”
“Para pelayan di The Castle satu-persatu menghilang tanpa jejak. Matilda beralasan bahwa pelayan-pelayanitu telah menjadi pencuri yang membawa kabur uang dan perhiasannya. Setelah itu … satu-persatu anak gadis penduduk Circlewoods yang mulai beranjak remaja, setiap beberapa bulan sekali akan menghilang tanpa jejak.”
“Mereka diculik. Ada sekitar dua belas gadis remaja yang hilang. Dan ketika si penculik hendak mengambil gadis ketiga belas, para penduduk memergokinya. Dan mereka akhirnya mengetahui bahwa pelakunya adalah Matilda Cartman.” Bibi Jane kembali terdiam. Sorot matanya menyimpan keperihatinan yang mendalam.
“Dia … Matilda. Perempuan itu sudah gila. Dia beranggapan bahwa keluarganya sudah dikutuk oleh setan. Menurut Matilda, Ayah dan Suaminya telah dibunuh setan. Jadi dia menculik dan membunuhi para gadis remaja sebagai tumbal untuk setan, agar dia tidak mengganggu anak-anaknya.”
Marry terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar kisah Matilda.
“Matilda mengubur korban-korbannya di belakang The Castle. Dan setelah kubur-kubur yang menyerupai gundukan tanah basah itu digali, para penduduk akhirnya mengetahui bahwa pelayan-pelayan The Castle waktu itu bukannya menghilang karena mencuri perhiasan majikannya. Mereka menghilang karena dibunuh—ikut dijadikan tumbal untuk iblis.”
“Ya Tuhan, itu tidak masuk akal. Itu kejam dan … sesat,” gumam Marry tanpa sadar, namun anehnya kali ini Bibi Jane tidak menegur.
“Penduduk tentu tidak percaya dengan cerita Matilda, mereka menganggapnya gila. Daripada membawa Matilda ke Penjara, mereka lebih memilih membawanya ke sebuah Rumah Sakit Jiwa yang ada di London.”
Marry menunduk. Dia baru menyadari kalau semua apel telah dikupas kulitnya. Ternyata tangan Bibi Jane sama seperti mulutnya, konsisten bekerja dan berbicara, walau tadi sempat berhenti sejenak.
“Apa Matilda masih hidup? Apa dia masih ada di Rumah Sakit Jiwa di London? Atau dia sudah dibebaskan?” Tanya Marry. Dia bergidik ngeri membayangkan wanita gila seperti Matilda masih bebas berkeliaran.
Bibi Jane menggeleng. Dia memindahkan apel-apel yang sudah dikupas itu ke sebuah wadah ember kayu berisi air bersih.
“Delapan hari setelah dikurung di ruang isolasi Rumah Sakit Jiwa … dia mati. Katanya dia mati kelaparan. Matilda menolak untuk makan dan minum. Dia bersikeras ingin pulang ke The Castle agar bisa tinggal bersama anak-anaknya,” jelas Bibi Jane. Dari suaranya tersirat sebuah perasaan iba yang tulus.
“Tragis,” komentar Marry ikut sedih mendengar kisah Matilda si Putri Cantik dari The Castle . “Lalu bagaimana dengan kedua anaknya?”
Sambil mencuci apel hingga bersih kemudian meniriskannya. Bibi Jane mengangkat bahu. “ Entahlah. Sehari setelah Ibu mereka dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, Polisi dan Petugas dinas social datang ke The Castle untuk membawa kedua anak itu ke Panti Asuhan, namun mereka tidak menemukannya. Penduduk Circlewoods ikut membantu mencari anak-anak Matilda, namun … Tidak ada jejak. Atau apapun. keduanya seperti ditelan bumi.”
Marry terdiam. Dia tertegun sekaligus terpesona mendengar cerita Bibi Jane tentang Urband Legend rakyat di kota kecilnya. Ini bahkan lebih bagus daripada cerita film yang biasa diputar di layar tancap, depan balai kota Circlewoods saat ada festival.
“Jadi Nak. Orang kaya yang memiliki uang banyak dan juga tinggal di rumah besar mewah bak istana seperti The Castle, belum tentu bahagia,” nasihat Bibi Jane. “Ada banyak hal tidak baik yang tersembunyi di balik kekayaan berlebihan seperti itu. Jadi kita yang memiliki hidup sederhana dan berkecukupan seperti ini haruslah bersyukur, itu anugerah.”
Marry mengangguk. Bibi Jane kemudian bangun, membawa ember berisi air bekas cucian apel itu ke halaman, lalu dia menyiramkannya pada beberapa pohon yang tumbuh di sana.
“Bantu Bibi membawa apel-apel itu ke dapur,” perintah Bibi Jane. “Kita akan memotongnya di sana. Ibumu dan Josiah pasti sudah selesai membuat adonan untuk pie apel kita.”
“Baik Bi,” sahut Marry dengan lincah bangun dari duduknya dan mengangkat ember penuh apel itu—membawanya menuju dapur.
***
Rumor yang beredar membuat penduduk Circlewoods resah. Dalam kurun waktu satu setengah tahun, enam orang gadis remaja yang tinggal di daerah di sekitar Circlewoods hilang. Semua orang tua para gadis remaja itu kompak menceritakan bahwa puteri mereka telah digoda dan dibawa kabur oleh seorang laki-laki muda berwajah rupawan, karena sebelum menghilang mereka terlihat seperti orang kasmaran, dan sering membicarakan perihal pacar baru mereka,
Polisi menduga bahwa lelaki muda tampan yang memiliki penampilan perlente, seperti pemuda yang berasal dari kota besar itu sebagai anggota sindikan penjualan manusia. Para gadis muda itu diculik untuk diselundupkan keluar Inggris dan dijadikan wanita panggilan.
Pencarianpun dilakukan. Laki-laki muda itu dicari berdasarkan sketsa wajah yang dibuat dari keterangan para ibu (orang tua) yang mendengar dari putrinya yang hilang/melihat langsung laki-laki jahat yang sudah membawa kabur anak mereka.
Minggu ini giliran gadis muda dari Circlewoods yang hilang. Dua hari yang lalu, Irina Saintclair hilang. Gadis periang bertubuh gempal itu tidak pulang ke rumahnya setelah berpamitan pada Sang Ibu untuk membeli jajanan ke toko kue milik keluarga Hermsworth.
Mrs. Saintclair sangat sedih. Dia histeris dan berkali-kali jatuh pingsan. Sementara Mr. Saintclair hanya bisa pasrah dan berharap pada polisi dan detektif yang menangani kasus ini untuk menemukan anaknya.