Gadis Cacat Bermata Kuning

1780 Kata
BAB II “Ayah mana, Bu?” Tanya Marry saat melihat Sang Ibu pulang dengan lesu. Tadi pagi orang tuanya pergi ke Rumah keluarga Saintclair untuk menengok Mrs. Charlotte Saintclair yang jatuh sait setelah kehilangan anak tunggalnya. “Ayahmu sedang mengantar Mr. Saintclair ke Stasiun kereta.” Mrs. Hermsworth mengerutkan kening saat melihat putrid sulungnya sibuk membersihkan busur dan panah. Dia akan berburu lagi. Pikirnya masam. Mrs. Hermsworth tidak pernah suka dengan ketomboy-an Marry. “Mengantar?” Marry mendongak. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Mrs. Hermsworth mengangkat bahu. “Mereka akan langsung pergi ke London. Mencari detektif hebat yang bisa menangani kasus Irina.” Dia menghenyakan diri untuk duduk di kursi goyang di depan rumahnya, memperhatikan Marry yang sedang asik mengasah anak panahnya. “Semoga dia bisa ditemukan.” Marry mengerutkan bibir. “Kasihan Irina,” gumamnya sedih. Irina seumuran dengan Marry, dan mereka mengikuti kursus menyulam dan membuat kue di tempat yang sama. “Mau berburu?” “Iya.” Marry mengangguk. “Kemarin Petter dan Jebadiah mendapatkan seekor rusa jantan besar di hutan dekat padang belantara,” katanya penuh semangat. “Mereka menjualnya di Pasar dan mendapatkan harga yang bagus. Kalau hari ini aku beruntung, aku akan bisa mendapatkan rusa yang lebih besar dari mereka, dan tentunya lebih mahal.” Mrs. Hermsworth tersenyum mendengar nada antusias yang keluar dari mulut Marry. Walau dia tidak suka dengan sifat tomboy anaknya, tapi dia bangga terhadapnya. Selama setahun belakangan, Marry mengumpulkan uang dari hasil menjual binatang yang dia buru dihutan. Seperti kelinci, ayam hutan—berbagaimacam jenis burung dan rusa. Marry berkata pada Ibunya bahwa uang tabungannya yang dia kumpulkan dari hasil berburu adalah untuk biaya melanjutkan sekolah adiknya Josiah yang baru berumur Sembilan tahun. Marry melakukan itu karena dia tahu betul kondisi ekonomi keluarganya. “Bu. Aku berangkat ya,” pamit Marry setelah membereskan semua perlengkapan berburunya. “Hati-hati. Jangan pulang terlalu sore. Dan jangan sekali-kali pergi ke The Castle!” “Baik Bu.” *** Dengan langkah tertatih, Alma Fergusson berjalan menghampiri Sang Kakak yang tengah sibuk membaca sebuah buku tebal tua aneh—yang sampulnya dibuat dari sesuatu seperti kulit manusia—di Perpustakaan. Gadis kurus berambut keemasan itu terlihat gelisah. Dia ingin menyampaikan sesuatu pada Sang Kakak, tapi dia takut kalau Alistair akan marah setelah mendengar keinginannya. “Ada apa Alma?” Tanya Alistair datar tanpa menoleh kea rah pintu. Ternyata dia sudah menyadari kehadiran adiknya. Telinga pemuda pirang ikal tampan berusia dua puluh satu tahun itu menjadi sensitive saat mendengar derap langkah kaki palsu adik semata wayangnya. “A-Alistair?” gagap Alma sambil meremas dan memilin bagian bawah gaun abu-abu panjangnya. Alistair terus membaca. Matanya bergerak lincah membaca rangkaian huruf dalam buku tua aneh itu. “B-Bolehkah aku pergi ke kota?” Alistair mendadak diam. Tangannya yang hendak membalik halaman buku yang sedang dia baca—seketika menggantung di udara hampa. Tatapan matanya berubah kosong. Dalam hati Alma berdo’a semoga Alistair tidak marah mendengar permintaannya. Alma tahu Alistair akan bersikap tidak rasional jika itu menyangkut keselamatannya. Menurut Alma, Alistair adalah seorang kakak over protektif yang sangat menyayanginya. “Kemarin …” Alma menunduk, nyalinya ciut. Dia merasa terintimidasi dengan intensitas kediaman Alistair.”—Aku melihat dua orang anak lelaki seumuranku berburu di hutan dekat padang belantara. Mereka mendapatkan rusa jantan besar. Salah satu diantara mereka mengatakan bahwa mereka berdua harus pergi ke pasar untuk menjual rusa jantan itu, dan dengan uang hasil penjualan rusa. Mereka bisa bersenang-senang membeli makanan dan barang-barang bagus di festival kota besok malam.” Alma melirik takut ke arah Alistair. “Aku ingin pergi ke kota dan menonton festival, jadi … bolehkah?” Alma memberanikan diri untuk mendongak menatap Alistair, dan dia langsung menelan ludah ngeri saat melihat raut murka Alistair. “TIDAK!” Potong Alistair tajam sambil memelototi Alma. Alma mendesah. “Alistair. Kalau alasanmu hanya ada bahaya di luar jadi aku tidak boleh pergi itu konyol. Aku sudah besar. Enam belas tahun. Dan bisa jaga diri, kau tidak perlu terus mengurungku seperti ini!” “Alma. Alma. Alma.” Alistair menggeleng putus asa, dia bangun dari kursi lalu berjalan menghampiri Alma,”Seharusnya kau tidak mendengarkan perkataan pemburu-pemburu jahat dari Circlewoods.” Alistair menangkup wajah tirus adiknya penuh sayang. Alma mengernyit. “Mereka membuatmu tergoda untuk pergi ke tempat yang kejam,” dia berkata dengan suara selembut beledu. “Tapi Alistair, mereka tidak terlihat jahat. Mereka …” “Mereka jahat!” Nada suara Alistair meninggi. Dia mendadak marah. “Orang-orang dari Circlewoods itu jahat.” Matanya kosong, menerawang pada kenangan buruk masa silam. “Mereka semua jahat. Kalau mereka baik mereka seharusnya menolong keluarga kita, bukannya membawa Ibu pergi dan memasukan Beliau ke Rumah Sakit Jiwa!” Alma terdiam. Dia tahu trauma masa kecil Alistair sulit untuk disembuhkan. Sejak usia lima tahun dia telah banyak mengalami kesulitan. Kehilangan Ayah, Kakek, dan Ibunya, ditambah tanggung jawab untuk menjaga adiknya yang masih bayi. Sampai sekarang Alistair masih mengingat jelas tragedy di malam orang-orang Circlewoods datang berbondong-bondong ke The Castle, membawa obor, senapan, dan senjata tajam. Orang-orang itu menghakimi Ibu mereka tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya, lalu menyeretnya ke Rumah Sakit Jiwa. Alistair mendendam pada Circlewoods. Dulu orang-orang dewasa dari kota kecil itu sama sekali tidak mempedulikan dia yang menangis, memohon pada mereka untuk melepaskan Ibunya. Sejak kepergian Sang Ibu, Alistair kecil berusaha keras untuk bertahan hidup dan menghidupi Alma. Ketika orang-orang dari Dinas Sosial mencari mereka, Alistair kecil membawa adiknya Alma untuk bersembunyi di ruang bawah tanah The Castle. Selama beberapa tahun Alistair dan Alma bertahan dengan persediaan makanan yang berasal dari dapur dan gudang beras dan gandum. Setelah itu Alistair belajar menggunakan uang dan barang-barang berharga milik mendiang orang tuanya untuk membeli makanan. Jika bahan makanan sudah habis, Alistair akan pergi ke kota, menyamar sebagai anak kota untuk berbelanja. Tidak sekalipun dia mengijinkan Alma untuk keluar dari The Castle. “Apa kau mendengarku, Alma?” suara kasar Alistair menarik Alma keluar dari lamunan. Dia mencengkram keras pundak adiknya. “Di luar berbahaya, orang-orang itu sangat jahat. Aku tidak mau mereka mengambilmu seperti mereka membawa Ibu kita.” Alma meringis saat merasakan cengkraman tangan Alistair pada pundaknya semakin kuat. “Kau tidak boleh pergi kemanapun Alma. Apa kau dengar?!” Alma mengangguk putus asa. “Aku mengerti,” sahutnya muram. “Bagus,” gumam Alistair sembari melepaskan cengkramannya. Alma menunduk menghindari tatapan tajam Alistair. Dia mengerang sedih. “Aku mau mencari udara segar. Aku akan berjalan-jalan di Padang Belantara.” Tanpa menunggu jawaban Alistair, Alma segera melangkah keluar dari perpustakaan. *** Sudah lebih dari empat jam, Marry berburu di hutan di dekat Padang Belantara—yang merupakan halaman The Castle, namun dia belum mendapatkan buruan seekorpun untuk dibawa pulang. Sambil terus menggerutu tentang mitos kesialan dan keberuntungan, Marry berjalan menerobos semak belukar. Hari sudah beranjak sore. Marry merasa sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Dia baru saja akan berbalik untuk pulang ke Circlewoods ketika tiba-tiba seekor kelinci kecil berbulu putih melintas cepat di depannya. Dengan efisien dan cekatan, Marry mengambil satu anak panah dari kantong penyimpanannya, lalu memasangnya pada busur, kemudian dia focus membidik kelinci kecil yang mencari tempat persembunyian. Dan … “HEI AWAS!” —Panah itu tepat mengenai kaki si kelinci. Dan sebuah tubuh lain jatu tersungkur ke belakang karena kaget mendengar teriakan peringatan Marry, dan juga terkejut melihat anak panah yang melesat begitu cepat. “Hei Nona itu buruanku!” Marry memperingatkan gadis pirang bertubuh kurus itu dengan nada kesal. “Apa-apaan itu tadi? Memangnya kau pikir apa yang kau lakukan? Kau hampir saja terkena panahku!” omel Marry sembari menghampiri gadis pirang yang tadi hendak mencuri kelinci buruannya. Gadis itu mengerjap linglung. Wajah dan bibirnya telah sepenuhnya memucat, dia masih takut dengan kejadian tadi. Dia mendongak, mata kuning keemasannya yang aneh, menatap Marry dengan pandangan polos kekanakan. “M-Maaf. Aku tidak tahu kalau kelinci itu buruanmu,” gagapnya. Marry mendesah. Dia mengulurkan tangan pada si gadis pirang, menawarkan bantuan untuk berdiri. Dengan ragu-ragu gadis pirang bermata aneh itu membalas uluran tangan Marry. Dia bangkit saat Marry menariknya. Namun Marry tersentak ketika gadis itu mencengkram keras kedua lengan Marry, sementara matanya menatap pada kedua kakinya yang goyah. Gadis itu seperti tidak memiliki keseimbangan. “Kau taka apa?” Tanya Marry mendadak cemas. Dia khawatir gadis itu terluka. Dia takut anak panahnya tadi tak sengaja menggores dan melukai kaki gadis itu. Gadis itu tak menjawab. Sebelah tangannya masih bertumpu pada pundak Marry. Dengan gemetar dia berjongkok, tangan ringkihnya meraih bagian bawah gaun abu-abunya—yang panjangnya hingga mata kaki. Dia lalu menyingkapnya. Marry menarik napas keras, matanya membelalak melihat kondisi gadis itu. Dia tidak memiliki kaki! Dia hanya memakai alat bantu gerak—kaki palsu yang terbuat dari kayu dan batangan besi. “Bautnya longgar,”gumam si gadis pirang sembari memutar baur yang dimaksud hingga terpasang kuat. Sementara Marry langsung bungkam. Dia kehilangan kata-kata. Tiba-tiba dia merasa bersalah karena sudah bersikap kasar terhadap gadis pirang itu. Dia memperhatikan lagi si gadis pirang yang masih memperbaiki baut kaki palsunya. Dia terlihat beberapa tahun lebih muda dari Marry, tapi Marry yakin mereka seumuran. Gadis itu hanya terlihat lebih … kurus. Mungkin kurang gizi. Wajahnya tirus dan pucat. Dia memiliki mata kuning yang aneh dan rambut pirang panjang bergelombang yang berantakan. Gadis itu memakai gaun abu-abu panjang model lama yang sering dijumpai Marry berada di lemari Ibunya atau Bibi Jane. Setelah selesai mengencangkan baut pada kaki palsunya, gadis itu mendongak dan menatap Marry. “T-terimakasih,” ucapnya pelan sembari melepaskan pegangan dari pundak si gadis pemburu. “Sama-sama,” jawab Marry merasa bersalah. “Maaf. Aku tidak tahu kalau …” dia kehilangan kata-kata. “T-t-tak apa. A-aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak tahu kalau kelinci itu buruanmu.” Dia menoleh ke arah si kelinci kecil yang sekarat kehabisan darah. “Oh ya!” Marry maju sambil mengulurkan tangannya. “Namaku Marry Hermsworth. Aku tinggal di Circlewoods. Kau?” Gadis itu terlihat ragu untuk membalas uluran tangan Marry. Dia tampak canggung saat berinteraksi dengannya. “A-aku Alma Fergusson. Aku tinggal di sekitar hutan ini,” jawabnya pelan sembari membalas jabatan tangan Marry. Mereka berjabat tangan sebentar, kemudian melepasnya. Marry tersenyum ceria. “Senang berkenalan denganmu Alma Fergusson.” Marry beranjak menghampiri buruannya, dia berjongkok sebentar, memperhatikan kelinci itu lalu mengangkatnya. “Hari sudah sore. Aku harus pulang, kalau tidak ibuku akan cemas.” Alma terdiam. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk membalas senyum hangat penuh persahabatan yang ditunjukan Marry. “Sampai jumpa Alma!” Marry mengangkat sebelah tangan, melambai sebentar, kemudian berlari pergi dari arah tempat dia datang tadi. Alma terdiam. Mata kuningnya menatap sayu punggung Marry yang mulai menjauh. Perlahan dia mengangkat sebelah tangannya—melambai. “Sampai jumpa Marry Hermsworth,” lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN