Seperti Arjuna yang memilih Khrisna dan membiarkan Duryudana memilih banyak pasukan milik Khrisna. Seperti itu pula hidup dengan sebuah keikhlasan di hati. Ketika kebenaran akan menang, meski hanya dengan satu pendukung sekali pun...
***
Langkah Naya terasa gontai ketika memasuki pelataran parkir. Kemarin ia baru saja dapat telepon dadakan dari Pak Joko, yang mengatakan bahwa sejak hari ini dirinya dipindah ke divisi Tim Support, bagian tim kreatif. Entah apa alasannya Naya pun tak tahu pasti. Pak Joko hanya bilang, kalau ia lebih cocok di sana karena kemampuan desain serta kreatifitasnya yang bagus. Tapi, Naya merasa agak ganjal. Padahal di tim tersebut selama ini hanya dihuni para kaum adam saja. Dan juga biasanya karyawan akan diberitahu setidaknya sebulan sebelum pemindahan. Namun, ia tetap merasa bersyukur, paling tidak dirinya masih bisa masuk kerja alias tidak dipecat.
Selagi asik melamun sambil berjalan, Siti berlarian menghampiri. Seminggu ini Siti dapat shift pagi, jadi mereka bisa bertemu di tempat kerja. Siti berada di divisi member service yang menangani keluhan pelanggan atau pertanyaan-pertanyaan seputaran diskon dan lain-lain di bagian pusat informasi. Ia punya jadwal dua shift, pagi pulang sore dan siang pulang malam. Sedangkan Naya hanya dapat satu shift yaitu pagi pulang sore, kalau kepepet ada loyalitas kerja ya bisa agak molor sedikit atau terpaksa lembur sampai malam.
Siti menepuk pundak Naya dan menjejari langkah kawannya baiknya itu. "Udah lumayan mereda kan? Kok kamu masih suntuk gitu sih, Nay?" tanyanya.
"Nggak tahu kenapa, perasaanku nggak enak banget."
"Masih mikirin masalah yang dibikin si Meta ya?"
"Salah satunya."
"Eh ya, gimana kalau kita temuin si Doni atau siapalah itu namanya. Siapa tahu ada petunjuk yang bisa membuktikan kamu benar-benar nggak bersalah, Nay."
"Aku mana tahu di mana rumahnya. Lagian percuma juga, udah terlanjur kesebar luas. Seenggaknya bude sama pakdeku nggak ngusir aku dari rumah."
"Iya juga sih. Tapi, apa salahnya kita berusaha membuktikan kebenaran? Si Meta kalau dibiarin mulu makin melunjak nanti. Masa klarifikasi kok kayak nggak niat gitu. Walaupun agak sedikit mereda tapi kan ngeselin juga." Siti terlihat bersungut-sungut.
Beberapa teman lewat sambil melirik Naya dengan pandangan yang sulit diartikan. Seakan-akan heran kenapa Naya masih punya muka untuk menginjakkan kaki di tempat kerja, setelah berita dirinya menjadi penipu sempat mendadak viral. Jika dibilang sekarang sudah agar reda pun belum sepenuhnya. Haya saja tidak sesanter sebelumnya.
Sekarang seolah Naya punya dua kubu. Satu sisi menghujat dengan sok tahu, sisi lain membela karena merasa sangat tahu seperti apa seorang Naya.
"Bener ya kata orang. Jadi musuh netizen tuh ngeri banget. Berjuta-juta orang menyerang kita tanpa ampun. Seakan mereka maha benar," keluh Naya sambil mengikat rambutnya dengan rapi.
Belum sempat Siti membalas ucapan Naya barusan, sosok Adrian muncul dari belakang mereka, berjalan santai hendak mendahului kedua karyawannya. Ia menghentikan langkah dan memutar badan sebentar. Dua tangan bertengger di saku celana, gayanya khas sekali pria tampan kelas atas yang kharismanya mirip bintang film atau tokoh utama dalam novel romantis. Sontak Naya dan Siti ikut berhenti karena kaget.
"Kalian tahu nggak, dalam pewayangan Mahabarata, para Pandawa yang cuma punya sedikit pasukan akhirnya bisa menang melawan para kurawa yang punya banyak pasukan."
Siti garuk kepala. Naya hanya melongo bingung. Keduanya saling pandang penuh tanya. "Terus, apa maksudnya, Pak?" celoteh Siti tak mengerti.
"Sebanyak apapun musuh kita, kalau kita benar, pasti akan ada jalan untuk mengalahkan mereka."
"Ah! Benar!" Siti histeris. Sedangkan Naya hanya bisa angguk-angguk kepala tanda setuju.
"Tetap saja Meta didukung banyak netizen, Pak. Sementara saya?" Naya lemas.
Namun, Adrian malah tersenyum. "Hei, tahu nggak kisahnya Arjuna dan Duryudana yang ditanya Khrisna dengan dua pilihan. Antara memilih pasukannya yang sangat banyak, atau memilih Khrisna sendiri yang tidak akan mengangkat senjata dalam medan perang?" tanyanya lagi.
Naya dan Siti mengingat-ingat cerita dalam serial drama India yang kadang mereka tonton saat para orang tua menguasau remot televisi di rumah.
"Aduh Pak. Saya agak lupa. Soalnya nggak terlalu suka nonton tivi," seloroh Siti.
"Saya ingat. Saya juga suka nonton film india."
"Apa yang kamu ingat, Nay?" tanya Adrian lagi.
"Duryudana memilih pasukan yang banyak karena dia tamak dan sombong. Sedangkan Arjuna memilih Khrisna menjadi kusirnya supaya Arjuna tahu jalan kebenaran yang sesungguhnya."
"Good! Paham maksud perkataan saya nggak?"
Naya menggeleng dengan senyum terpaksa. "Memangnya apa maksudnya, Pak?"
Tak berniat memberikan jawaban jelas, Adrian hanya menghela napas pendek. Suara panggilan Ragil menjadi jeda perbincangan mereka. Kedua pria itu tampak tergesa menuju ruangan Adrian. Sebelum beranjak, tadi Adrian sempat berkata. "Jadikan pr buat kalian ya," katanya santai.
"Aduh. Pak Adrian ternyata demen juga nontonin serial india. Kirain cuma hobi mainin perasaan cewek doang," celetuk Siti.
"Mainin perasaan cewek gimana maksudnya, Sit?"
"Loh, kamu belum tahu ya berita santer di sini? Soal pak Adrian yang punya julukan Raja Playboy. Denger-denger gosipnya sih beliau sering gonta-ganti pacar gitu. Kan tahu sendiri, anak-anak sini yang gabut tuh sering cari info sampai ke akar-akarnya tapi nggak paham kisah nyatanya gimana."
"Ya berarti belum tentu benar kan? Lagian, kelihatannya beliau baik kok."
"Hati-hati aja kamu, Nay. Jangan gampang terbujuk rayu pokoknya."
Keduanya pun berpisah dan berjalan menuju area kerja masing-masing. Naya terheran begitu tiba di dalam ruangan support. Adrian dan Ragil sudah duduk di kursi sedang berdiskusi dengan supervisor tim kreatif. Pak Harun menyapa Naya dan menyuruhnya segera ikut bergabung.
Baru saja Naya duduk. Adrian dapat panggilan telepon entah dari siapa. Raut mukanya berubah agak panik tapi berusaha ia sembunyikan. Pria itu undur diri keluar dan kembali ke ruangannya yang berada tepat di sebelah ruang support.
Ragil mengamati Naya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Satu tangan mengusap dagu seolah meneliti sesuatu. Naya risih dipandangi seperti itu. Ia melotot sebagai tanda agar Ragil tidak memandangnya demikian lagi. Spontan Ragil pun garuk tengkuk sangking terkejutnya dengan plototan mata Naya. "Serem amat nih cewek. Tampang sih manis, tapi kalau modelnya judes kayak gitu susah juga cari cowok," gumamnya hampir tak terdengar.
"Hari ini kamu mulai bantuin tim kreatif di sini ya Nay. Tugasmu sudah tahu belum?"
"Belum terlalu tahu, Pak. Baru tahu gambarannya saja."
"Saya jelaskan secara singkat. Saya dengar dari Rudi, kamu pernah beberapa kali bantu tim kami buat ide baner promosi dan konten promosi. Nah, maka dari itu saya meminta kamu dipindah ke sini, berhubung si Arman baru saja beberapa hari lalu resign dadakan. Nanti tugas kamu membuat desain dan konten promosi. Tuangkan saja ide-ide yang menurut kamu bagus untuk menaikkan penjualan. Untuk sisanya, nanti sambil jalan belajar juga. Paham kan maksud saya?"
Naya mengangguk mengerti. "Baik, Pak, saya mengerti."
Pak Harun pun menyuruh Rudi dan Anton menunjukkan meja kerja Naya dan mengajarinya beberapa hal penting.
"Kau aja yang ajarin ya, bro," tukas Anton tak acuh.
"Kebiasaan kau itu, Ton. Kalo ada anak baru pasti ogah-ogahan ngajarin."
"Habisnya ribet. Teori doang mah mana bisa paham."
"Serah kau ajalah."
Sementara Ragil kembali berdiskusi dengan Pak Harun, Anton sibuk dengan komputernya, Rudi sibuk mengajari Naya. Dan Adrian sibuk berbenah hati di dalam ruang kerjanya.
Pria itu terpekur sesekali menampilkan mimik resah yang mendalam. Retinanya melirik ke arah kalender duduk yang ada di meja. Ada coretan merah di salah satu tanggal. Tinggal menghitung hari ia akan benar-benar kehilangan kesempatan untuk mendamba gadis yang ia cintai. Wajah cantik dengan jilbabnya yang memperindah diri. Senyum merekah yang selalu menggetarkan batin Adrian. Serta tutur kata lembut yang sanggup menyembuhkan segala luka hati Adrian. Kini, sebentar lagi semua itu semakin mustahil untuk dimiliki.
Ia teringat pertemuan kemarin malam dengan pujaan hatinya.
"Datang sama siapa nanti di acaraku?"
"Sama calon istriku." Jawaban Adrian tentu saja hanya karangan belaka. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Ayu. Walau dalam batin dirinya dilema, entah siapa yang harus ia ajak menjadi tamu undangan untuk meyakinkan ucapannya barusan. Banyak daftar nama perempuan ia punya. Sekali telepon atau kirim WA saja pasti mereka langsung mengiyakan. Sayangya, Ayu lebih hafal perempuab-perempuan itu ketimbang Adrian sendiri. Sulit untuk menipu gadis yang selalu jadi tempat Adrian berkeluh kesah membagi cerita hidupnya.
"Beneran? Dari kemarin kamu bilang calon istri terus. Tapi kok belum dikenalin sama aku? Biasanya langsung gercep." Ayu tersenyum simpul. Merasa Adrian masih belum bisa diajak bicara serius. Rasanya ia tak akan bisa percaya, bahwa Adrian punya pikiran menjalin hubungan lebih jelas dengan seorang perempuan.
"Ya tunggu waktu yang tepat. Kan yang spesial harus dihadirkan di saat yang paling spesial juga."
"Iya terserah kamu saja. Asalkan kamu bahagia, aku pun ikut bahagia."
"Kamu bisa bilang begitu ya? Padahal kamu tahu, satu-satunya tujuan hatiku itu siapa."
"Didi..." Ayu memanggil Adrian dengan sebutan kesayangannya. Adrian jengah mendengar. Ia bosan terus diperlakukan begini. Seakan diberi harapan setinggi langit, ujungnya dijatuhkan juga ke bumi.
"Nanti kalau sudah jadi istri orang sebaiknya jangan panggil aku kayak gitu lagi," protes Adrian.
"Maaf ya..."
"Sebenernya kamu minta ketemu buat omongin apa sih?"
"Aku cuma mau bilang maaf sama kamu. Dan juga... setelah nikah nanti, rencananya aku akan ikut suamiku pindah ke Kalimantan. Aku mau kamu jaga diri baik-baik. Udahin macarin perempuan tapi nggak kamu nikahin juga. Stop semua hal kayak gitu, Di. Jangan nunggu hukum alam datang, baru kamu menyesal."
Adrian tak menggubris. Sudah bosan ia mendengar nasihat sama dari Ayu. Faktanya, ketika ia sungguh-sungguh serius, malah hukum alam itu datang. Setengah tahun lalu Adrian berniat melamar Ayu. Sayang, orang tua Ayu tidak merestui. Bahkan langsung mengatakan kalau Ayu sudah dijodohkan dengan anak dari teman karib ayah Ayu. Di situ lah hatinya mulai porak-poranda. Ayu mencintai Adrian lebih dari sekadar sahabat. Akan tetapi, cinta itu tak cukup untuk melawan kemauan dan harapan ayah ibu yang sudah melahirkan serta merawatnya selama ini. Ayu memilih menerima perjodohan dengan ikhlas. Dan merelakan Adrian dengan ikhlas pula.
"Kalau nanti kamu jatuh cinta dengan seseorang selain aku, kudoakan itu adalah yang terakhir dan yang terbaik untuk kamu. Kita nggak bisa saling memiliki, bukan berarti kita nggak bisa bahagia. Jodoh itu rahasia Allah. Kalau kita ikhlas, insAllah akan dikasih yang lebih baik dan lebih kita butuhkan. Aku mau kamu ikhlasin aku, Di..."
Suara dan kata-kata Ayu masih jelas terngiang dalam benak Adrian. Jika waktu bisa diputar kembali, rasanya ingin sekali Adrian menculik dan menikahi Ayu meski tanpa restu. Hanya saja, ia tak seburuk itu. Baginya, pemaksaan bukanlah makna ketulusan. Ia tak mau m*****i kepercayaan orang tua Ayu. Mengizinkannya berteman dengan Ayu sudah cukup baik bagi Adrian.
Ia menimbang gundah. Lalu terlintas sosok Naya dalam kepalanya. Buru-buru ia menelepon bagian support dan meminta Naya datang ke ruangannya. Tak berapa lama, ketukan pintu terdengar. Adrian mempersilakan Naya masuk dan menyuruhnya duduk.
"Ada apa Pak Adrian memanggil saya?"
"Kamu ingat uang saya yang harus kamu ganti?"
Naya tertegun, ia menelan ludah susah payah. Hanya anggukan kepala mampu ia tunjukkan. Sementara bibirnya kelu. Sadar uang sebanyak itu saat ini ia belum punya.
"Saya akan anggap lunas, asalkan kamu bersedia menolong saya."
Dahi Naya mengernyit bingung. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apapun yang bisa saya lakukan, saya akan bantu Pak!" pekiknya tanpa pikir panjang. Daripada ia harus mengganti uang sebanyak itu, realistisnya lebih baik ada penawaran macam ini. Asalkan bukan permintaan aneh-aneh tentunya. "Tapi, bukan aneh-aneh kan, Pak?" Naya ingin memastikan tanpa menaruh kecurigaan sama sekali. Pikirannya belakangan diobrak-abrik tak karuan dengan berita yang ada. Ia jadi susah mencerna kata-kata dengan logika.
"Begini. Minggu ini saya ada acara undangan pernikahan teman. Saya mau kamu jadi pasangan saya untuk menghadiri acara itu. Bisa?"
"Cuma itu, Pak? Serius?" Naya kaget. Uang tiga puluh jutaan hanya diganti dengan hal tersebut, rasanya ini terlalu mudah baginya. Tapi mengingat dirinya sedang jadi pembahasan publik belakangan ini, ia jadi agak ragu-ragu datang ke tempat ramai begitu.
"Iya cuma itu."
"Tapi, Pak. Saya kan sedang jadi buah bibir di sosmed. Nanti kalau acara nikahan temen Pak Adrian jadi kacau gara-gara saya gimana?"
"Nggak semua orang tahu wajah aslimu gimana Naya."
"Iya juga sih..." Naya menimbang sejenak. "Baiklah kalau begitu, saya bersedia."
Keduanya pun membuat kesepakatan di atas kertas. Hanya coretan dengan pena dibubuhi tanda tangan di atas materai. Katanya, perjanjian lisan bisa dilupakan kapan saja, setidaknya dengan bukti di atas kertas keduanya sama-sama aman.
"Ini seriusan Pak? Uang sebanyak itu hanya diganti dengan hal ini? Apa nggak sayang uangnya, Pak?"
Adrian tersenyum, "Bagi saya, tidak ada yang semahal harga diri yang saya miliki. Jadi, uang bukan masalah besar buat saya. Materi bisa dicari lagi, tapi harga diri sekali dipandang sebelah mata selamanya akan sulit diperbaiki."
Naya hanya tertegun mendengar kalimat tersebut. Beberapa detik kemudian ia berkata, "Jadi, apa itu artinya Pak Adrian membeli sebuah kebohongan demi harga diri?" timpalnya setengah mengingatkan.
"Kebohongan untuk kebaikan."
"Maaf Pak, menurut saya, tidak ada kebohongan yang baik."
"Lalu, apa kebohonganmu menutupi perbuatan saudara sepupumu itu bisa dibenarkan, Nay?" Balasan Adrian membuat Naya kalah telak.
"Tapi, itu bukan kebohongan melainkan pengorbanan."
Adrian tertawa. "Apa bedanya? Intinya sama-sama nggak jujur kan?"
=====♡ Special Love ♡=====