Bab. 6 - Make Over

1599 Kata
Dalam setiap lelahku menunggu hadirmu, ada harapku terus memberontak untuk memilikimu. Dan akhirnya, aku tersadar... kamu tercipta bukan untukku... -Adrian- *** Sudah hampir lima belas menit terlewatkan bersama kegelisahan hati Adrian. Entah sudah berapa kali ia menengok jam di pergelangan tangan kanannya. Beberapa kali raut mukanya terlihat tertekuk bingung. Seseorang datang dan berdiri di balik punggung Adrian. Tampak ragu ia menyebut nama pria yang sejak tadi kelihatan gugup sekali. "Pak Adrian..." panggil Naya untuk kedua kalinya dengan nada sedikit lebih keras dari panggilan pertama yang terabaikan. Spontan Adrian menoleh dan balik badan. Tatapannya bersibobrok dengan sosok di depannya. Ia mengamati Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu menepuk jidat seolah menelan frustrasi dalam-dalam. Memang ia sadar tak bisa berharap banyak pada seorang gadis amatiran yang minim pengetahuan dandan apalagi gaya berpakaian. Adrian bisa memaklumi itu. Tapi, melihat Naya dengan kebaya warna biru mentereng dipadu rok span motif batik, rasanya ini tampak seperti ibu-ibu zaman dulu yang hendak kondangan ke acara hajatan tetangga atau sanak saudara. Masih mending kalau yang memakai itu para ibu-ibu di atas empat puluh tahunan, mungkin akan terlihat lebih cocok. Sedangkan Naya sekarang malah jadi tampak lebih tua dari umur aslinya. Bukan hanya itu yang membuat Adrian geleng kepala. Gadis itu tak merias wajah dengan benar dan ekslusif. Sapuan bedak asal-asalan, ditambah perona merah jambu yang tampak dipaksakan di pipi, lalu lipstik orange yang sangat kontras di bibir. Rasanya Adrian ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk memanggil MUA handal agar mengubah penampilan sembarangan Naya. "Kenapa Pak? Lumayan kan ya? Ini kebaya punya bude. Terus make up juga seadanya aja. Nggak aneh kan, Pak?" celoteh Naya percaya diri. "Nay, di kamarmu ada kaca besar yang nggak buram?" "Ada. Buat apa, Pak?" "Dijual aja dah tuh kaca. Kayaknya kamu nggak bisa berkaca dengan baik. Masa dandanan model begini mau jadi gandengan saya. Kamu mau jatuhin nama saya ya?" "Astaghfirullah. Pak Adrian nih bener-bener ya. Nggak tahu rasa berterimakasih sama sekali. Ini pertama kalinya loh dalam hidup, saya mau dandan. Huuh." Naya melengos sebal. "Yaudah deh, cari orang lain aja sana yang lebih pantes. Nanti uang Pak Adrian saya cicil aja. Daripada ribet," tukasnya ketus. "Gitu aja ngambek. Ikut saya. Kita masih punya waktu buat benerin penampilan kamu." "Ke mana?" "Udah ikut saja. Jangan banyak tanya kayak paparazi." Alhasil, susah payah Naya berjalan sambil mengangkat rok yang menurutnya sangat sempit dan tidak nyaman dipakai. Adrian hanya bisa menahan senyum sangking merasa lucu melihat polah tingkah absurd Naya. Keduanya masuk ke dalam mobil. "Pak Adrian kenapa nggak ajak salah satu pacar atau gebetan aja sih? Kenapa harus saya? Lagian itu uang sayang tahu kalau cuma dibayar dengan hal seperti ini," celoteh Naya setelah mendudukkan dirinya di jok samping Adrian mengemudi. "Adalah alasannya, tapi malas bahasnya." "Okelah kalau gitu. Saya diem aja." "Kamu seriusan belum pernah dandan buat nyenengin cowokmu misalnya?" Naya menggeleng. "Nggak sempat dan nggak ada juga yang disenangin." "Kenapa?" "Kenapa gimana, Pak?" "Kenapa kamu nggak punya pacar?" "Pak Adrian kenapa nggak punya istri?" balas Naya kesal dengan pertanyaan Adrian barusan. "Ya kalau saya kan masih nunggu jodoh datang." "Jodoh kok ditunggu. Jodoh ya diperjuangkan." "Maunya juga gitu. Tapi kalau dah dapat lampu merah, mau gimana lagi?" "Lampu merah?" "Udahlah nggak usah dibahas. Nggak seru juga." Sejenak Naya menimbang sesuatu. Ia memang lemah dalam hal mempercantik diri. Namun, ia sangat peka dalam hal memahami seseorang. Agaknya Naya mulai mengerti masalah Adrian saat ini. Alasan ia ingin ditemani hanya untuk datang ke sebuah acara resepsi pernikahan. Ia pun tak ingin menggali persoalan pribadi bosnya lebih dalam lagi. Laju mobil milik Adrian berhenti di salah satu salon. Dari caranya menyapa sang empu, agaknya mereka sudah kenal dekat. Adrian memperkenalkan Naya dengan Sintia, perempuan tinggi semampai dengan wajah tirus dan t**i lalat di dagu. Rambut panjangnya dicepol dengan rapi. Keduanya bersalaman dan cipika-cipiki. Naya agak bingung, tapi ia menurut saja ketika disuruh duduk di depan meja rias. Sementara itu Adrian menunggu di sofa panjang sambil mainan ponsel. "Kalau dihitung-hitung udah puluhan cewek yang diajak ke sini sama Adrian," kata Sintia sembari menghapus make up di muka Naya. Ia mulai membersihkan wajah Naya dan bersiap memolesnya. "Pak Adrian memang kayaknya bakat punya multi talenta banget ya, Mbak. Kapan itu jagain gerobak bubur ayam. Sekarang saya tahu kalau beliau juga jadi sales salon." Sintia terkekeh mendengar ucapan Naya yang di luar perkiraan. Kebanyakan gadis yang dibawa Adrian ke sini selalu menyebut kalau pria itu memang rajanya playboy. Tapi, Naya bersikap lain. Seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan Adrian terhadap mereka semua pacar-pacarnya. "Aduh. Kamu itu polos atau memang nggak peduli sih?" "Maksudnya?" "Kamu pacarnya Adrian yang keberapa? Tahu nggak? Btw, dulu aku sempet sebulan jadi pacarnya yang ke tiga puluh dua kalau nggak salah." Sebentar Naya tertegun. "Itu Pak Adrian pacaran apa kolektor barang antik, Mbak? Banyak amat punya pacar," balasnya santai. "Ya gitulah si Adrian. Demen banget gonta-ganti pacar. Katanya sih, dia itu nggak tega lihat cewek galau sedikit, bawaannya pengen dibahagiain aja. Kan modus banget ya," ujar Sintia setengah tertawa. Meski bibirnya sibuk bergibah, dua tangannya tetap cekatan merias wajah Naya denhan keahliannya. "Mbak Sintia kenapa putus sama Pak Adrian?" "Nggak enak kalau cuma dipacarin tapi nggak dinikahin. Mending cari yang lain yang lebih serius deh." "Bener juga ya, Mbak." "Kamu sendiri, kenapa mau sama Adrian? Kan tahu dia rajanya buaya darat. Mana mau dia diajakin akad nikah nanti." "Hah, saya? Nggak. Bukan. Saya cuma karyawan beliau aja. Ini juga mau diajak nemenin kondangan gara-gara emergency, Mbak. Kalau nggak mah ogah juga. Bahaya!" Suara deheman Adrian menjeda obrolan mereka. "Bisa ya ngomongin orang di depannya gini," sindirnya tak habis pikir. "Maaf Pak." Naya mengangkat satu tangan tanda minta damai. Sekitar dua pulih lima menit berlalu, akhirnya selesai juga make up Naya diperbaiki. Sintia juga meminjamkan dres selutut warna cokelat salem berhias tile di bagian lengannya pada Naya. Rambut Naya diblow dan dijepit bagian sisi kanan. Ditambah sepatu hak tahu kaca ukuran lima senti menghias di kakinya. Tak ketinggalan Sintia menyemprotkan parfum mahal miliknya di beberapa bagian tubuh Naya. Katanya, ia tak mau setengah-setengah selagi menjadi ibu peri untuk cinderellanya. Kini penampilan Naya tak lagi separah sebelumnya. Ia tampak anggun dan manis. "Gimana? Udah sesuai kan sama seleramu?" tanya Sintia pada Adrian. Pria itu hanya manggut-manggut, lalu menunjukkan dua jempolnya. "Mantap!" tukasnya puas. "Aman kan ini? Nggak berubah setelaj jam dua belas malam?" canda Adrian. Setelah berterimakasih pada Sintia, Adrian bergegas mengajak Naya menuju lokasi utama. Ia mengendarai mobil dengan tampang menyembunyikan gugup. "Menurut saya nih ya Pak, kalau sudah nikah sama orang, mau nggak mau harus direlain. Supaya jodoh kita juga disegerakan kehadirannya. Daripada dipendam dan pura-pura ikhlas tapi dalam hati masih ngarep, malah jadi penyakit hati ujungnya," seloroh Naya seakan tahu isi hati terdalam Adrian. "Kamu sok tahu, Nay." "Tahulah. Saya pernah kok ada di posisi seperti Pak Adrian. Ditinggal pas sayang-sayangnya tuh ibarat kita makan ikan tapi ketelen durinya. Sakit banget." "Gitu ya?" "Iya kayak lagu, Pak." Adrian hanya mesem saja. "Hidup itu melaju ke depan Pak. Kalau terus stuck atau noleh ke belakang, yang ada kesempatan untuk jodoh sesungguhnya malah bisa makin jauh. Karena kita kelamaan sibuk sama perasaan yang nggak seharusnya dipertahanin." "Itu cuma teori aja atau kamu pernah praktekin?" "Saya bukan motivator Pak. Kalau bukan karena pernah ngalemin, ya ngapain saya sok menggurui. Ini hanya sekadar nasihat belaka." Kata-kata Naya memang ada benarnya. Adrian menghela napas pendek. Teringat semburat manis senyum di wajah Ayu selalu membutnya hilang kendali. Bibirnya bisa mengatakan ia baik-baik saja. Namun, hatinya meronta tak kuasa menanggung cinta yang tak bisa digapai sampai halal. Tanpa Adrian sadari, Naya mengamati perubahan ekspresi di wajah Adrian. Gadis itu teringat akan dirinya sendiri dulu. Sewaktu pria yang ia damba-dambakan tak membalas perasaannya. Sekarang mungkin sakitnya sudah hilang, tapi sisa kenangannya masih sesekali terlintas dengan jelas. "Pak Adrian bisa cerita kalau mau. Supaya hati lega. Walau mungkin saya nggak punya solusi terbaik atau nggak bisa bantu. Seenggaknya dengan berbagi kisah, beban di hati pun akan ikut berkurang." "Saya masih bisa nanggung ini sendiri kok. Mungkin sudah hukum alam buat saya. Selama ini saya terlalu sering main-main sama hubungan. Jadi, saya terima dengan lapang d**a kalau orang yang saya harapkan jadi istri, ternyata bukan buat saya." Tanpa sadar secara spontan Naya menepuk-nepuk bahu Adrian, seolah berusaha menguatkannya dari dilema tak berhujung. "Saya yakin, suatu saat Pak Adrian akan menemukan yang lebih baik." "Ya semoga saja..." Adrian tersenyum, menyembunyikan luka di hatinya sendiri. Begitulah dirinya. Tak suka melihat orang lain sakit hati, tapi faktanya ia sendiri menanggung dan menyimpan gundahnya tanpa mau membagi pada siapa pun. Bagi Adrian, sesulit apapun masalah yang ia hadapi, ia tak ingin orang lain ikut merasakannya. "Pak Adrian, tahu nggak persamaan huruf O sama angka nol?" Naya berusaha mengalihkan topik untuk menghibur Adrian yang sedikit berubah murung wajahnya. "Apa?" "Sama-sama buletlah, Pak. Masa gitu aja nggak tahu," ejek Naya berhasil mengerjai bosnya. "Yah, saya kira kamu mau merayu saya kayak di televisi-televisi itu." "GE-ER sih..." Adrian tertawa. Naya senang melihatnya. "Nay, kamu tahu nggak bedanya kue lapis sama kamu?" "Apa, Pak?" "Kalau kue lapis nempel di lidah. Kalau kamu, nempel di hati saya," balasnya sarkastis. "Hilih, gombal, Pak." "Nggak mau ya?" "Nggak mau apa?" "Nggak mau nempelin hati saya gituh?" Naya mencibir. "Hati Pak Adrian udah kepenuhan kayaknya, saya mana muat di sana." "Kata siapa? Sudah saya kosongin kok." "Masa? Mana lihat?" "Modus ya? Mau lihat saya buka baju ya?" Adrian menggoda Naya dengan sengaja. Naya langsung tepuk jidat. "Kepedan, Pa Adrian nih." Keduanya malah saling lempar candaan hingga suasana mencair dengan sendirinya. Naya belum tahu, kalau permulaan yang mereka mulai tanpa sengaja, bisa saja menjadi rasa nyaman yang membelenggu nantinya... =====& Special Love &=====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN