Serena menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Jarum jam di dinding kantor bergerak lambat, seolah menertawakannya yang tak kunjung menyelesaikan laporan di depan mata. Tapi bukan deadline yang membuat pikirannya kacau—melainkan Jevynn, dan perkataannya tadi pagi. "Pertunanganku hanya sandiwara." Kalimat itu terus berputar di kepalanya, menusuk-nusuk kesadarannya. Jevynn ternyata hanya berpura-pura bertunangan dengan Liora—mantan pacarnya yang dulu menghancurkan hatinya. Ini semua untuk membalas dendam, katanya tadi, matanya penuh kegelapan yang tak biasa. Seharusnya Serena lega. Jika pertunangan itu hanya akal-akalan, berarti Jevynn masih bebas. Masih akan selalu ada untuknya. Tapi kenapa dadanya justru sesak? 'Dia belum move on.' Suara hatinya berbisik lirih. J

