Mencari Tiny?

978 Kata
"Buruan, Za. Nanti Pak Syahrial keburu masuk. Mampus deh kita," ucap Dodi yang merupakan teman sekelas Teraza dan kebetulan bertemu Teraza di koridor. Teraza tersenyum dan mengangguk. "Lu duluan deh. Gue mau ke perpustakaan dulu. Balikin buku." "Oke deh." Teraza mempercepat langkahnya dan membiarkan Teraza berbelok ke kiri menuju perpustakaan. Teraza terus berjalan dengan cepat karena tidak ingin terlalu terlambat masuk ke kelas saat pelajaran Pak Syahrial. Guru Geografi yang sudah terkenal ke-killer-annya. Sebelum Teraza masuk ke dalam perpustakaan, sekilas Teraza melihat sosok cewek cantik yang sangat dia kenal. Teraza mengurungkan niat dan berjalan menjauh menjauh dari perpustakaan untuk mengejar langkah Kaliya. "Hei.... lagi ngapain lo?" Kaliya yang sedang berjalan lurus, terpaksa menghentikan langkahnya karena mendengar ada seseorang yang menyapa.. Kaliya membalik tubuhnya. "Raza." "Lo mau bolos, ya?" "Ih, temen gue yang namanya Tiny hilang. padahal beberapa menit yang lalu udah ada di gerbang." "Kok bisa?" "Ini gue lagi nyari dia." Kaliya mulai khawatir. "Udah coba ditelpon?" tanya Teraza. Kaliya mengangguk. "Tapi nggak diangkat, Za." "Lo tunggu di sini. Gue balikin buku dulu. Abis itu, gue bantu lo nyari, ya." Kaliya mengangguk sembari tak henti mengirimkan pesan kepada Gensi. Mengabarkan bahwa Tiny belum ditemukan. Gensi mengirimkan nomor kontak Kak Reno, Kakaknya Tiny. Kaliya langsung menghubunginya dan menanyakan tentang Tiny. Nihil. Ternyata Kak Reno memang sudah mengantarkan Tiny sampai disekolah. Meski pada kenyataannya, kini Tiny tidak ada dikelas. Bahkan di sekolah. Terlebih handphone-nya aktif namun tidak ada jawaban. Kaliya sudah ada di hadapan Kaliya. "Gue udah telepon Kakaknya. Katanya, Tiny emang berangkat ke sekolah," jelas Kaliya pada Teraza. "Gue juga udah ke toilet anak IPA, gudang, kantin belakang, taman belakang, bahkan sampe ruang laboratorium, tapi Tiny tetap nggak ada," lanjutnya. Teraza mengernyitkan dahi. "Gimana kalau cari di IPS?" "Hah?" "Iya. Cari di IPS." "Ngapain Tiny di sana?" "Ah, udah yuk." Teraza menggamit tangan Kaliya dan mengajaknya berjalan menuju kawasan kelas IPS. (*) Setelah satu mata pelajaran berakhir, Teraza membujuk Kaliya untuk kembali ke kelas. Dan berjanji akan menemani Kaliya untuk lapor kepada pihak Sekolah Usai bel pulang berbunyi. Akhirnya, Kaliya menurut dan kembali ke kelas diantar oleh Teraza. Begitu Kaliya masuk ke dalam kelas Teraza membalik tubuhnya untuk ke kelas. Saat akan berbelok menuju jajaran kelas IPS, Teraza bertemu dengan Angel yang baru keluar dari toilet. "Raza, Kok ada di sini?" "Nggak boleh?" "Boleh dong." Angel kegirangan. Cewek tombpi itu sudah lama menaruh hati pada Teraza. Dan tak jarang pula mengintip Teraza diam-diam jika cowok itu sedang bermain basket di lapangan samping sekolah yang sepi` " Gue duluan..." Teraza bergerak menjauh dari Angel. Angel mengangguk dan tersenyum manis. Teraza terus berjalan hingga sampai di kelasnya dan begitu dia masuk, seluruh teman sekelasnya keheranan. "Lo ke mana aja, bro?" teriak Dodi yang berpapasan dengan Teraza. Teraza hanya tersenyum dan mengangkat bahunya. Kemudian duduk di samping Tirta. Tirta menepuk bahu Teraza. "Kirain gue lo nggak berangkat, Man." "Gue abis bantuin Kaliya cari Tiny sahabatnya. Masa bisa hilang." "Hah? Maksud lo?" "Iya, Ta. Tadi gue lihat Kaliya di depan kelas XII yang di samping perpustakaan tuh. Dia lagi nyari temennya yang hilang. "Aneh." "Seluruh IPA nggak ketemu. Di IPS juga. Kemungkinan sih ada di tempat anak kelas X," jelas Teraza yang memang tidak menemukan jejak Tiny sama sekali. "Lapor ke pihak sekolah aja, man," usul Tirta. Teraza mengangguk-angguk mantap. Teraza mengeluarkan buku Matematika. Tak lama kemudian Bu Kania datang dengan buku tebalnya. Teraza menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin mengambil jurusan IPS tapi masih dihantui oleh Matematika, runtuknya dalam hati. (*) Keributan di kantin tak terbantahkan lagi. Kaliya menggebrak meja yang sedang dipakai geng Black Angel untuk makan. Angel tak mengacuhkan gebrakan meja Kaliya. Gensi mengelus pundak Kakiya. Berharap emosi Kaliya dapat diredam. Saat bel istirahat berbunyi, Sapto yang menjadi ajudan setia Gensi melaporkan bahwa Angel dan teman-teman nya lah yang menarik menarik Tiny dan entah Dibawa kemana. "Angel! Jawab pwrtanyaan gue sekarang! Atau bonyok lo!" Aancam Kaliya. "Lo jangan fitnah sembarangan dong, Kal," bantah Meva mulai terpancing emosi. "Iya lo!" dukung Deni yang agak melambai. Kaliya benar-benar kesal. "Eh, banci. Mending lo diem deh. Sekarang jawab pertanyaan gue. Di mana kalian sembunyiin Tiny? JAWAB!" Mendengar Kaliya berteriak-teriak suasana kantin menjadi sangat tegang. "Gue bakal laporin lo ke kepala sekolah," ucap Gensi mencoba menarik Kaliya untuk pergi dari kantin. Angel menatap mata Kaliya. "Punya bukti apa lo?" Gensi langsung menarik Sapto dan meminta Sapto untuk angkat bicara. "Lo mending ngakuvdeh, Angel. Lagian apa manfaatnya lo sembunyiin Tiny? Dia bahkan sangat gemuk. Kalau dia susah napas gimana?" ucap Sapto masih dengan nada ketakutan. Kaliya dan Gensi menatap Angel dengan geram. "Lo cari aja di gudang kelas X," ucap Angel cuek dan kembali menyuapkan siomay ke dalam mulut diiringi dengan tawa para sahabat. Kaliya mendengus kesal. "Lo berurusan sama gue, Angel!" Kaliya, Gensi dan Sapto langsung berlari menuju gudang kelas X. Mereka berharap Tiny benar-benar ada di sana dan ini bukan jebakan. (*) Keadaan sekolah mulai lenggang. Hampir seluruh siswa sekolah Tunas Bangsa sudah pulang. Meski ada sebagian yang masih berkutat dengan buku di perpustakan. Bahkan masih ada yang berada di ruang laboratorium. Tiny sudah dijemput oleh Kak Reno. Gensi pulang menggunakan mobil pribadinya. Kaliya masih duduk di taman belakang sekolah. Seharian ini dia kesal kepada Angel. Tapi, Kaliya berusaha mati-matian untuk menonjok cewek berambut pendek ala potongan jepang itu. Gensi sudah membujuk Kaliya untuk pulang, namun Kaliya bersikeras untuk tetap di sekokah demi meredam kekesalannya. Dia mengatakan pada Mami bahwa seperti biasa, dia menumpang di mobil Gensi. "Kal,lo di mana? Gue udah nunggu lo di parkiran." "Ah... males pulang gue." "Loh? Tadi lo SMS kalau Tiny udah ketemu. Kenapa males pulang?" "Udah ah." "Lo di mana?" "Ya udah, gue balik duluan deh. Lo jangan lupa kalau hari ini ada les balet. Tadi Mami telepon gue. Katanya gue suruh ingetin lo." "Iya Bawel!" "Entar malem gue jemput. Kita nonton. Bye." Belum sempat Kaliya menolak, Teraza sudah memutus pembicaraan. Kaliya menghela napas panjang. Senin yang melelahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN