Seminggu telah berlalu. Demian sudah pulang ke rumah, tak seperti apa yang Jenny katakan, lelaki itu tak mengalami patah tulang. Anisa sengaja mengarang, agar Almira kembali. Memang itu strategi Demian. Lelaki itu hanya mengalami luka-luka ringan, karna menabrak pohon yang sebenarnya tak begitu besar.
Demian pun bercerita, jika dirinya sebenarnya hanya ingin memberikan waktu agar Almira bisa menenangkan diri, oleh karna itu dirinya tak mencari keberadaan Almira. Biasanya, Almira sangat menyukai sikap pengertian Demian, namun tidak kali ini. Almira masih tak mengerti, mengapa lelaki itu tak langsung mencarinya dan mendapatkannya kembali. Ah ... mungkin memang lelaki itu terlalu menganggap rendah dirinya. Toh memang begitulah Almira.
Demian melanjutkan ceritanya, jika karna terlalu rindu dan merasa kehilangan, akhirnya Demian mengendarai mobilnya ke sana-ke mari guna mencari Almira. Almira ingin percaya penuh, namun tak mampu. Kata Demian, hujan lebat dan matanya yang lelah membuatnya menabrak pohon. Aneh, namun Almira tak merasa bahagia mendengarkan cerita lelaki itu. Ia pikir, dengan kembali, maka dirinya bisa kembali mengulang perasaan mereka, menjadi seperti dulu lagi, akan tetapi, mengulang kembali bukanlah hal yang mudah dan Almira baru menyadarinya.
Almira belajar menerima sakit di hatinya, berusaha hidup dengan menanggung rasa sakit yang akan dibawanya hingga mati. Ia pikir, cinta bisa mengalahkan semuanya, namun pemikirannya salah. Hatinya masih sering terluka, kepercayaan yang telah hancur pun membuatnya semakin tak tenang setiap kali Demian keluar kota atau pulang malam. Ia tak mau seperti ini, namun apa daya, hatinya sudah cukup hancur.
Lingkaran tangan pada perutnya, menyadarkan Almira dari lamunannya. Setelah permainan ranjang mereka yang kembali panas, Almira memutuskan menghabiskan waktunya di balkon kamar, ia tak bisa tidur, sementara Demian sudah lebih dulu pulas. Pikiran dan hatinya tak tenang, pernikahannya tak lagi seindah dulu, tak seperti sebelum semuanya ternoda. Memaafkan memang mudah, namun melupakan adalah bagian tersulitnya. Andai maaf mampu menyembuhkan luka, mungkin saja, Almira tak ‘kan semenderita ini. Dirinya tak tahu lagi, mengapa dirinya bisa memutuskan kembali dan terus meragukan hubungan mereka.
“Kenapa kamu belum tidur? Udah jam dua belas malam, kamu bakalan masuk angin kalau berdiri di luar gini, Sayang,” ucap lelaki itu seraya menenggelamkan kepalanya pada leher jenjang Almira, ia mencumbui leher yang begitu disukainya. Almira menggeliat resah.
“Kamu sendiri kenapa kebangun, Mas?” suara parau Almira membuat lelaki itu tersenyum, juniornya bahkan sudah kembali bersiap untuk bertempur.
“Aku butuh kehangatan darimu,” ucap lelaki itu sembari mengigit pelan daun telinganya. Almira tersenyum tipis. Bayangan lelaki itu bercinta dengan wanita lain kerap muncul begitu saja saat mereka bercinta, menambah luka hatinya. Apa keputusannya untuk kembali membangun istana yang telah hancur adalah kesalahan? Luka di hatinya tak bisa sembuh lagi.
Memang lelaki itu berusaha kembali seperti dulu, saat di mana mereka baru pertama kali bertemu, namun di dalam dasar hati Almira yang paling dalam, ia meragukan sikap lelaki itu padanya. Ia tak mampu mencegah dirinya untuk merasa jika semua yang lelaki itu lakukan hanyalah kepura-puraan semata. Setiap hari ia bertanya, akan bertahan selama apa semua ini?
Demian membalik tubuh Almira ke arahnya. “Mau menghangatkan tubuhku?”
Almira tersenyum tipis. “Kamu nggak capek?”
Demian menggeleng. “Bagaimana bisa capek kalau punya istri secantik dan seseksi dirimu, Mira,” ucap lelaki itu serak, “rasakanlah ... bahkan juniorku sudah sangat siap untuk kembali bertempur denganmu,” lanjut pria itu sembari mengarahkan tangan Almira untuk mengusap miliknya. Naik turun dan membuat benda itu semakin keras.
Demian mempertipis jarak di antara wajah mereka, melumat ganas bibir Almira, sementara tangannya sudah menyelinap ke dalam celana dalam Almira dan mengusap inti wanita itu. Tangan Almira sendiri masih memberikan kenikmatan pada juniornya. Lidah keduanya beradu dan bibir mereka saling melahap. Tubuh keduanya terasa panas dan hasrat birahi membelenggu mereka. Udara dingin seakan tak mampu mengalahkan kehangatan yang mereka bagi. Demian yang tak sabar, segera menggendong Almira, sedang wanita itu melingkarkan kakinya pada pinggang Demian, bibir keduanya saling berpagutan, mengecap dan melahap.
Demian merebahkan tubuh Almira di kasur, mengambil tempat di atas wanita itu, lalu memainkan gunung kembar wanita itu dengan tangannya, sementara lidahnya sibuk memberikan kenikmatan pada puncak gunung kembar wanita itu. Tubuh Almira menggeliat resah, desahan demi desahan memancing hasrat Demian. Lelaki itu menelusuri tubuh Almira dengan lidahnya, mengecup setiap sisi tubuh Almira, memberikan kenikmatan yang tak bisa ditolak.
Demian yang melihat jika Almira telah siap menerimanya segera memasukkan miliknya dan pinggul Almira mengimbangi permainan Demian. Almira menancapkan kukunya pada punggung Demian begitu lelaki itu mempercepat gerakannya, desahan keduanya bersahutan, dan sedetik kemudian Demian semakin mendorong masuk miliknya pada milik Almira. Desahan Demian tertahan sesaat, lalumengeluh panjang dan meneriaki nama Almira, seluruh tubuhnya bergetar hebat saat cairannya memenuhi rahim Almira.
Demian tersenyum dan mengecup bibir Almira, lalu ia kembali berbaring di samping wanita itu dan memeluknya erat. “Aku mencintaimu, Sayang,” bisik Demian. Almira tersenyum dan tak merespon pernyataan cinta lelaki itu.
Ia tak tahu, apakah hatinya bisa sembuh dari luka yang ditorehkan lelaki itu. Yang ia tahu, dirinya tak mampu melupakan semua kepahitan yang menghancurkan apa yang telah ia bangun dengan susah payah. Kita tak mungkin bisa menyatukan kepingan-kepingan hati, bukan?
“Kamu mau ke mana besok? Aku akan menuruti semua kemauanmu.” Lelaki itu mengeratkan pelukannya. Almira merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia tak lagi merasa senyaman dulu berada di pelukan lelaki itu. Tak ada rasa apa pun, seakan hatinya telah mati.
“Nggak mau ke mana-mana, Mas.”
“Ayolah, Sayang. Udah lama sekali kita nggak berkencan,” ucap Demian, “aku ingin memperbaiki hubungan ini bersamamu dan menebus semua kesalahanku,” lanjut Demian sembari mengusap-usap punggung polos Almira.
Almira tersenyum lirih di dalam dekapan lelaki itu. Mampu lelaki itu menyatukan kepingan hatinya yang telah hancur berantakan? Mampukah lelaki itu memperbaiki semuanya?
“Apa yang mau kamu lakukan besok, Mas? Aku akan mengikuti maumu.”
Almira tak mau berpikir dan lelah berusaha. Selama ini, dirinya berperang sendiri, mengatur berbagai strategi dan berharap menang dalam perangnya. Namun siapa sangka, ia kalah telak begitu melihat lelaki itu b******u dengan wanita lain. Oleh karna itu, Almira tak mau lagi memperbaiki apa yang ada di antara mereka dan berharap waktu akan menyembuhkan luka di hatinya, mendamaikan pedih yang menyayat hati.
“Kamu bosnya, Sayang. Katakan padaku dan aku akan mengikuti semuanya.”
“Gimana kalau kita memasak kue di rumah dan menghabiskan waktu dengan berbicara?”
Demian mengangguk. “Ok, apa pun yang akan membuatmu bahagia.” Demian kembali mengeratkan pelukannya, “seperti yang pernah kujanjikan, Mira. Aku akan mengulang semua step dan kembali jatuh cinta padamu. Aku akan mencari rasa itu kembali, Mira. Aku nggak akan melukaimu lagi dan itulah janjiku. Kali ini, janji itu nggak akan kuingkari. Percayalah!”
Almira tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Janji tak lagi memiliki makna. Semuanya terdengar bagai untaian kata-kata yang tak berarti, hanya sebatas omong kosong. Sebegitu parahnya hati yang telah dikhianati. Ingin kembali percaya, namun sulit. Almira tak tahu, sanggupkah ia terus menjalani pernikahan seperti ini? Berpura-pura semuanya baik-baik saja saat luka di hati tak juga mengering. Almira tahu ada yang salah dengan hati dan juga pernikahan mereka, namun anehnya, ia tak mau melepaskan. Dirinya terlalu mencintai, namun ada luka di antara cinta yang dulu begitu disukainya. Tampaknya, para pecinta memang sebodoh itu.