POV FIRNA Aku menyukainya sejak pertama kali kami berjumpa. Meski kutahu, ia pemuda yang sudah dewasa, tapi entah kenapa, aku merasa jatuh hati. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ia yang aku kagumi ternyata sosok yang akan dijodohkan denganku. “Jika kamu mau, orang tua Danang mau ke sini untuk ya, sekadar menjalin kesepakatan di depan kalian berdua.” Begitu kata Papa suatu malam saat kami selesai makan. Hati ini berbunga dan penuh kebahagiaan. Namun, aku menyembunyikannya di hadapan Mama dan Papa, serta adik semata wayangku yang saat itu masih duduk di bangku kelas lima. Dia cowok yang jahil dan hobi menggoda. Oleh karenanya, aku tidak ingin menunjukkan senyum malu-ku di depannya. Kepala ini tertunduk seraya mengangguk. Saat mendongak, kulihat senyum Mama penuh godaan. “Mama tahu, kamu su

