“Apa yang kamu lakukan, Firna?” teriak Rasti kesal. “Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua. Aku merasa, kamu terlalu egois, Mbak. Kita posisinya sama. Sama-sama menantu. Tidakkah kamu berpikir, bahwa aku juga kamu memiliki kewajiban yang sama? Membahagiakan Ibu. Mas Danang satu-satunya anak yang tersisa. Tidak mudah untuk Ibu memutuskan semua ini. Ada banyak hal yang beliau pertimbangkan. Aku juga menantunya sama seperti kamu, Mbak. Yasmin pun memiliki posisi yang sama dengan anak-anakmu. Jadi, jangan pernah menekan ataupun memaksa Mas Danang menjadi seorang pembangkang. Dan kamu, Mas, bila kamu menuruti apa yang dikatakan Mbak Rasti, maka tidak menutup kemungkinan kalau kita akan kembali kehilangan orang yang kita sayangi.” Ucapan Firna seperti sudah direncanakan. Ia meng

