Pagi itu, aku kembali menyusuri jalan kenangan masa kecil. Sebelum menemui seorang teman, aku akan ke rumah Bik Sum terlebih dahulu. Dari balik helm, aku melihat lagi, ibu Firna keluar dari rumah orang tuaku. Terlihat membawa sebuah kantung plastik sampah yang ia letakkan di tempat sampah yang tersedia di depan rumah. Tuas gas aku tarik dengan cepat, menghindari wanita itu melihatku. Rumah Bik Sum terlihat sepi, tapi pintunya terbuka. Kuketuk daun pintu yang berwarna cokelat usang. Meskipun sudah terbuka, aku tidak berani masuk. “Eh, Rasti!” Tergopoh wanita itu berlari ke arahku. Menit berikutnya, kami sudah terlibat obrolan hangat. Tak ingin membuang waktu, segera kutanyakan maksdu kedatanganku ke sini. “Bagaimana, Bik, apa Bibik sudah menemui ketua RT saat itu untuk menanyakan peri

