Sepertinya Kaliya harus mengurungkan niatnya untuk menjadikan Garen alat balas dendamnya mengingat betapa berjasanya suami kontraknya itu. Ia memandangi sebotol obat perangsang itu seraya berfikir mau diapakan benda terkutuk itu. Tak lama Garen memanggilnya, Buru-buru Kaliya menyimpan obat itu di dalam tasnya. "Iya ada apa?" "Kok belum tidur?" tanyanya ketika melihat Kaliya masih duduk di sofa. "Ini baru mau tidur. Lo tidur di kamar Hera ya?" Garen menggeleng. "Gak jadi, dia mau sendirian katanya." "Heum, oke." Malam ini Kaliya terlihat begitu tenang namun tampak murung. Garen mendekati dan duduk di sampingnya. "Kenapa kamu kelihatan gak bersemangat?" "Nggak kok! Cuma capek aja." "Kalau ada yang mengganjal di hati kamu, ceritalah. Mana tau aku bisa kasih masukan." Kaliya

