Garen membanting pintu sampai suaranya menyentakkan seisi rumah. Viona segera berlari menghampiri sumber suara. Dia berdiri terpaku di hadapan Garen yang sedang memejam lekat seperti tengah menahan sesuatu yang siap meledak. Keberanian Viona mendadak datang begitu saja. Dia mendekati Garen dan berkata, "Emosi hanya akan melukai satu sama lain, Pak! Mending Bapak tenangin diri dulu." "Saya sudah tenang," ujar Garen pelan. Viona tertegun, dalam hatinya menyergap kecamuk pertanyaan. Bagaimana bisa hanya dengan sebaris kalimat itu sudah bisa menenangkan hatinya. Tanpa sadar ia tersenyum lebar, binar matanya tampak memancar. Saking terbawa perasaan Viona sampai mengikuti langkah Garen sampai ke halaman rumah. Merasa aneh Garen menoleh. "Apa kamu mau ikut saya ke rumah Kaliya?" Viona t

