Paginya Garen dibuat terkesima dengan kopi buatan Kaliya, baru kali ini ia merasa nikmat saat menyeruput kopi di pagi hari. Maklum saja Hera sudah kaya raya sejak nenek moyangnya, wajar jika ia tidak tahu menahu tentang urusan rumah bahkan ia tidak pernah mengizinkan Garen minum kopi dengan alasan itu tidak baik buat lambungnya. Padahal kopi adalah minuman favoritnya sebagai teman ngerokok.
"Kamu gak protes aku ngerokok?"
"Ngapain protes?"
"Ya mana tau kamu gak suka," jawab Garen seraya menghisap dalam rokoknya.
"Gue udah terbiasa mencium asap rokok."
Garen kembali menyeruput kopi hangat itu dengan perasaan berbunga. Ia tak menyangka gadis sombong dan terkesan sok cantik itu pandai membuat kopi. Sambil kembali menghisap rokoknya, Garen berkata, "Kalau di rumah aku harus merokok di halaman belakang bahkan Hera gak ngizinin aku ngerokok di balkon."
"Itu karena dia sayang suami," cetus Kaliya cuek. Dia bicara sambil membalas pesan dari kakaknya.
"Kadang kala terlalu banyak aturan membuat aku merasa seperti anaknya."
"Bagus dong! Karena hidup tanpa aturan ibarat kapal tanpa Kapten."
"Seharusnya akulah Kapten itu."
"Adakalanya Kapten juga harus mendengarkan ucapan awak kapalnya karena gak semua rancangan sang Kapten berjalan sesuai rencana. Kalau Kapten mengarahkan ke jalur yang salah masa awak kapal harus ikuti arahan Kapten?"
"Kenapa jadi bahas kapal, dah!"
"Itu cuma perumpamaan," jawab Kaliya seraya beranjak dan menyambar handuk yang tergantung di tempat khusus.
"Kamu mau mandi?"
"Heum," jawab Kaliya datar.
"Bukannya masih lama bukanya?"
"Gue biasa mandi pagi, kalau sudah siang hawanya sudah gak enak." Kaliya masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan ucapan Garen.
Selagi Kaliya mandi, Garen menjawab panggilan yang kesekian kalinya dari Hera.
"Kamu dimana sih, Ren?"
"Aku lagi ada urusan," jawab Garen datar.
"Kok gak bilang sih? Aku udah denger ceritanya dari Viona, jadi kamu dimana sekarang?"
"Mau bertemu dengan orang mabuk itu."
"Ya udah, aku kesana sekarang!"
"Gak usah! Aku bisa selesaikan sendiri," tolak Garen. Dia tahu Hera pasti merasa khawatir namun sejak wanita itu memaksanya menikahi Viona— Garen merasa hatinya sedikit hampa kepada Hera. Saking terobsesi untuk menjadi satu-satunya di hati Garen, ia sampai mengabaikan perasaan terdalam pria itu.
Garen mematikan teleponnya ketika Hera tetap memaksa untuk menyusulnya. Ia hanya ingin bernegosiasi dengan pelaku sesuai kemauan para korban. Setelah diamankan lelaki itu baru menyadari kesalahannya. Dia meminta Garen agar menempuh jalur damai, dia berjanji akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada Kaliya dan Komar.
***
Siang ini Garen meminta Pelaku untuk datang ke sebuah restoran Jepang dimana terdapat ruangan khusus yang nyaman untuk berbicara.
Komar hanya bisa melongo melihat hidangan yang ada di depannya. "Ini bisa dimakan?" tanyanya melirik pada Kaliya yang sibuk dengan ponselnya.
"Lo pikir?"
"Kok gak dimasak?"
"Memang bentuknya kayak gitu, Komar!" dengus Kaliya kesal.
"Santai sih! Gue cuma nanya ini, sewot amat!"
"Cih!"
Selagi menunggu, Garen menanyakan apa yang mereka mau untuk menempuh jalur damai ini. Secara mengejutkan Kaliya menjawab, "Penawaran yang setimpal untuk keloid yang bakal gue tanggung seumur hidup!"
Garen bergidik ngeri mendengarnya. Apalagi yang dimaksud Kaliya kalau bukan uang dengan jumlah fantastis pastinya. Garen berkata, "Denger ya … apa kamu pikir semua yang datang ke karaoke itu kaum berduit?"
"Mangkanya kalau kere jangan bertingkah!"
Semakin ngeri saja Garen mendengar seruan Kaliya. Sudah bisa dipastikan Kaliya memikirkan apa yang ditakutkan oleh Garen; dia ingin memeras pelaku.
"Namanya mabuk mana sadar apa yang dilakukannya."
Belum sempat Kaliya menjawab, seorang pelayan datang membawa tamu yang mereka tunggu. Setelah menerima uang tip, pelayan itu pergi.
"Maaf saya terlambat, maklum kerjaan kantor gak bisa ditunda."
"Gapapa, kami juga baru datang." Garen menjawab setelah mempersilahkan lelaki itu duduk.
Lelaki itu memperkenalkan diri, "Nama saya Dendi, maaf sudah membuat kekacauan tadi malam."
Garen menjawab, "Sebagai Owner— saya mungkin saja bisa memaafkan kamu, tapi balik lagi ke Karyawan saya."
Kaliya hanya duduk tenang seraya menyilangkan tangan di dadanya. Tatapannya datar memperhatikan pemuda bernama Dendi tersebut.
"Baik, silahkan kalau mau berbicara dengan mereka. Saya hanya menengahi saja," ucap Garen.
Dendi melihat Kaliya dan Komar. Hatinya gentar mendapati tatapan Kaliya bak pembunuh berdarah dingin. "Anu, saya dengan segala penyesalan meminta maaf Sebesar-besarnya kepada kalian. Tadi malam saya benar-benar gak sadar.
Kaliya mencondongkan tubuh lebih mendekat ke Dendi. "Berapa yang lo tawarkan untuk jalur damai ini?"
"Berapapun saya siap menyanggupinya."
"Lima puluh juta, no tawar!"
Garen mendelik mendengar tuntutan Kaliya, nominal fantastis untuk dibagi dua dengan Komar. Dia berusaha memberi kode Kaliya agar menurunkan tuntutannya, namun bukan Kaliya namanya kalau mau mengikuti perintah Garen.
"Oke, saya sanggup!"
"Good! Kamu mau berapa, Mar!"
Lagi-lagi Garen mendelik, ternyata nominal yang disebutkan Kaliya bukan untuk dibagi dua. "Ini gila!!!" raung Garen dalam hati.
"Gu-gue?" Sedari tadi Komar gemetar begitu mendengar nominal yang disebutkan Kaliya. Tak pernah terlintas dalam hatinya bisa memegang uang sebanyak itu.
"Iya! Luka lo lebih parah daripada gue!"
"Anu, tapi gapapa kok. Berapapun yang diberikan gue terima."
"Dasar bodoh!" batin Kaliya mengumpat kepolosan Komar.
"Begini saja, saya samakan aja untuk kalian berdua dengan begitu urusan kita selesai. Tolong jangan ungkit lagi perkara ini karena saya tidak mau ada masalah di kemudian hari."
"Oke, no problem. Setelah hitam di atas putih selesai maka urusan kita juga selesai!" ungkap Kaliya dengan tegas.
Garen tertegun melihat aksi damai tersebut. Dia kemudian berkata, "Silahkan buat surat perjanjiannya. Nanti kita bertemu lagi besok di tempat ini."
"Gak perlu tunggu besok. Hari ini juga saya akan membuat surat perjanjian itu dan saya akan membawanya ke Vein Karaoke dalam dua jam ke depan."
Entah kenapa pemuda itu terkesan begitu ketakutan sampai-sampai ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tentu saja hal itu sangat menguntungkan bagi Kaliya karena bisa melunasi sangkutannya kepada Garen.
Selama perjalanan menuju Mess Komar tak hentinya meremas tangannya. Pemuda itu bingung harus mendefinisikan perasaannya saat ini. Kecamuk emosi meledak-ledak dalam hatinya; bahagia, penasaran, tidak sabaran serta perasaan lain yang menyertainya. Membayangkan uang segitu banyak membuat dunianya seakan terbalik.
"Haruskah gue berterimakasih ke Kaliya? Berkat dia gue bisa memegang uang sebanyak itu. Ibu pasti jantungan kalau aku kirim semua ke kampung lumayan bisa buat modal Tatik Kuliah."
Kaliya mengernyit heran melihat Komar menatap haru ke arahnya yang duduk di belakang. "Kenapa lo?" tanyanya judes.
Komar tersipu. "Gapapa kok! Cuma pengen bilang makasih aja sama lo."
Kaliya meringis heran, tanpa ia sadari perbuatannya hari ini memicu kebaperan seorang pria yang sedang menyetir. Garen benar-benar memverifikasi bahwa Kaliya memang pemain handal.