Edward mendudukan diri di sofa hitam Adnan yang di hak milik secara sepihak oleh Edward.
Ya. Sofa hitam tunggal itu di hak milik sejak pertama kali Edward datang ke apartemen milik sahabatnya itu.
Jadi, siapa pun yang menduduki sofa itu akan pindah saat tahu kalau Edward akan datang.
“Jadi, tumben muke lu jauh eh kusut maksudnya tumben lu mau kita ajak kumpul di apart gini?” Nathan bertanya sambil meletakkan botol-botol minuman yang dibawanya.
“Lagi galau dia, dari kemaren-kemaren dia main mulu di tempat Mami," Adnan menimpali sambil mengerling pada Edward.
“Ecieee, tumbenan nih anak main di sana gak ngajak. Udah ada yang bikin ‘anu’ lo bangun?”
Edward hanya memutar mata bosan, dia bukan Nathan yang suka bergonta-ganti wanita. Bukan seperti Adnan juga yang jarang terlihat bersama wanita.
“Mana ada, kan Reina udah meninggoy kalau Maura kan...,”
Mata Edward memicing tajam, menatap Adnan yang ceplas-ceplos. Tahu ia ditatap dengan tatapan buas Adnan dan Nathan mengangkat kedua tangan.
“Peace lah bro, canda doang.” Adnan menutup tiga jarinya, menyisakan dua jari membentuk huruf V.
“Lu sih, pake disebut-sebut segala.” Nathan menyenggol bahu Adnan menyalahkan. Pria bermata sipit itu hanya balas menatap Nathan sengit.
Edward hanya menghela nafas panjang.
“Gak usah sebut nama perempuan itu lagi, gue males dengernya. Lo semua tau, jadi gak usah bawa-bawa nama dia."
Kedua sahabatnya mengangguk-angguk antusias. Edward kembali bersandar pada sofa Adnan. Memijat pangkal hidungnya.
Reina, dan Maura, ya?
Maura satu-satunya wanita yang paling Edward percaya setelah ibunya. Satu-satunya dan wanita pertama yang mengajarkan Edward apa itu cinta.
Wanita pertama yang pernah menyentuh Edward dengan bebas dan sesuka hati.
Wanita pertama yang membuat Edward candu akan hadirnya.
Sayangnya, Maura memilih pergi tanpa alasan yang jelas. Tanpa kabar, tanpa salam perpisahan tanpa ada kata yang jelas.
Sesaat Edward berpikir bahwa ini ulah Bryan -Ayahnya.
Tapi menurut informasi, Maura pergi ke Los Angeles. Tinggal bersama keluarga yang tidak pernah Edward kenal, juga konon kabarnya mereka sudah menikah dan memiliki seorang puteri cantik.
Percakapan masa lalu mereka kembali teringat.
"Jangan pernah tinggalin aku, Ra." Edward menatap wajah Mauara dari bawah.
Entah dari sisi mana pun, wajah gadisnya memang sangat nyaman untuk dipandang. Tidak membuat bosan.
"Siapa yang bisa ninggalin kamu, Ed? My first love, my first kiss, my first touch, my first segs." Maura meraba d**a bidang Edward dengan jari telunjuknya.
Dari d**a, turun menyusuri perut kotak-kotak Edward, pelan tapi menimbulkan sensasi aneh pada tubuh Edward, apalagi pada benda di antara kakinya.
Edward menggenggam tangan nakal Maura pelan agar tidak menyakiti tangan kecil nan rapuh itu, seolah dalam sekali genggaman tangan itu akan patah.
Edward mengecup satu persatu jari tangan beraroma Vanilla itu, menghirup nafas panjang lalu tersenyum.
Begitu perhatian.
Begitu hati-hati.
Sangat dicintai dan dihargai bukan.
"Kalau kamu kayak gitu nanti aku gak tahan." Edward menatap Maura. "Jangan nakal."
Maura tersenyum, matanya begitu indah. Tidak besar, tidak kecil. Iris kelabunya sangat terang, seolah selalu bahagia.
Ya, Edward selaluberusaha membahagiakannya. Melawan siapa saja yang menentang hubungan mereka.
"Kan ada aku, kamu gak mau lagi sama aku, ya?" Maura menunduk memasang ekspresi sedih dan terluka.
Spontan Edward bangun dengan wajah panik yang lucu. Diam-diam Maura tersenyum kecil.
"Kapan aku bilang gak mau sama kamu, hm?" Edward mengelus puncak kepala Maura pelan. "Justru karena aku terlalu sayang sama kamu, makanya aku menahan diri."
"Aku gak mau kamu mikir kalau aku cinta sama kamu cuma berdasarkan nafsu."
"Aku juga gak mau nyakitin perempuan yang paling aku cinta selain Mama."
"Kamu yang pertama dan kamu satu-satunya, Ra."
Maura yang awalnya hanya ingin menggoda Edward, kini benar-benar meneteskkan air mata bahagia.
"Ra, Sayang, jangan nangis. Maaf, aku salah. Maafin aku. Jangan nangis, lebih baik kamu pukul aku aja dari pada kamu nangis."
Mata Maura membola saat Edward menganyunkan tangan Maura ke arah pipi Edward berulang kali.
Air matanya bercucuran kian deras. Lendir transparan keluar dari hidungnya, tapi tanpa jijik Edward menghapus ingus Maura dengan lengan kemeja hitamnya.
Maura menahan tangannya sekuat tenaga saat Edward akan mengayunkannya lagi.
"Gak apa-apa, kalau aku salah pukul aja, tapi tolong jangan pernah nangis."
Maura berusaha berhenti menangis, menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
Mengulangi beberapa kali sampai ia merasa benar-benar tenang. Edward juga tidak hanya diam, saat Maura menenangkan diri, pria itu terus saja mengusap helaian rambut, juga membersihkan lelehan air matanya.
"Siapa pun yang dicintai kamu, pasti adalah wanita yang sangat beruntung, Ed. Dan aku bahagia. Sangat bahagia."
"Kamu ngomong gitu, tapi sambil mewek. Jangan, sedih atau pun bahagia tolong jangan pernah menangis."
Maura mengangguk, ia menatap langit-langit kamarnya agar air matanya tidak menetes.
Edward berganti posisi, ia duduk di belakang Maura dan memeluk tubuh kecil itu dari belakang dengan posesif, seolah tidak membiarkan orang lain bahkan dunia merebutnya.
Namun ternyata bukan orang lain atau dunia yang merebutnya melainkan Maura sendiri yang memilih pergi menjauh dari Edward.
Meski dulu ia tahu di mana Maura, Edward memilih untuk tidak menemuinya.
Tidak lagi mencari tahu tentangnya.
Edward adalah tipe bucin sejati, saat mencintai wanita itu akan menjadi ratu. Bahkan saat wanita itu pergi, Edward masih tidak bisa move on.
Tapi Edward bukan pengemis, dia tidak akan mengemis cinta selama ia tidak merasa bersalah. Harga diri Edward terlalu tinggi.
Sedangkan Reina hanyalah gadis di Narita Club yang kebetulan mampu menggodanya.
Membuatnya merasakan sensasi seperti saat ia dengan Maura.
Mungkin karena bentuk wajah mereka mirip.
Atau karena bentuk bibir mereka sama?
Bisa juga karena bentuk tubuh Reina dari belakang sekilas mirip dengan Maura., apalagi jika rambut Reina sedang diurai.
Sangat sexy, dan mirip dengan Maura.
Maura. Maura. Maura..
Tapi meski begitu, sejauh ini Reina hanya mampu membuatnya 'turn on' namun saat akan memulai permainan, Edward tidak bisa.
Tidak berhasrat.
Entahlah, mungkin karena Reina hanya mirip tapi bukanlah Maura.
Bayangan Maura kembali menghantui pikiran Edward.
"s**t!" Edward mengumpat, pria itu berdiri menuju wastafel. Mencuci wajahnya berkali-kali.
Berusaha mengeyahkan bayangan Maura.
***
"Gara-gara lu sebut-sebut Maura tuh, sensi kan dia."
Adnan menaik turunkan bahunya. "Ya, gue keceplosan tadi."
"Tapi emangnya Ed main ke Narita mulu? Serius?" Nathan berbisik kepo sambil melirik ke arah ruang dapur, memastikan Edward belum keluar dan tidak tahu jika sedang digosipkan.
"Iye, mana pernah sih gue salah info. Kabarnya sih Edward nyari cewe barunya Mami yang dia tolongin."
"Anjir!"
Tangan ringan Adnna menggeplak bibir Nathan yang tidak bisa dikecilkan volumenya.
"Congor lu jangan kenceng-kenceng kutu!"
Nathan hanya mengusapi bibirnya pelan, sambil merenggut. "Suka jahat gitu deh sama dede emesh ini."
"Najis."
"Tapi, emang anjir si Edward. Si anak barunya Mami kan inceran gue."
"Kabarnya Edward nyari jas-nya dia yang dibawa sama tuh cewe," jelas Adnan sambil mengambil sebatang rokok.
Marlboro biru, favoritnya.
"Jas yang dari Maura?"
Adnan mengangguk.
"bener-bener yang dari Maura"
Adnan mengangguk lagi.
"Pantes dicariin, pantes juga Edward sensian macem cewe bunting."
Nathan mengaduh ketika kpalanya ditoyor dengan kejam.
"Pale lu noh buting," ucap Edward sambil mengambil sebotol Soju.
"Ed, kalo pala gue bunting. Ntar beranak ters pal gue ada dua kan seyeeeeem."
"Najis." Edward dan Adnan serempak berucap, membuat Nathan kesal krena tidak ada yang membelanya.