8. Bukan Sampah

1093 Kata
“Saya tidak bisa bertanya pada Keysha, karena dia selalu histeris jika didekati, Mam.” bisik pria yang diberi perintah mencari jas milik tamunya. “Tapi kata wanita yang menghukum Keysha semua yang Keysha kenakan sudah lebur malam itu.” Lidya tetap tersenyum, apapun yang ia lakukan atau disituasi apapun. Lidya akan memasang mimik wajah anggun. “Maaf Tuan, jika boleh saya akan mengganti kerugian jas tersebut. Karena ternyata ada insiden hingga jas tersebut tidak bisa kami kembalikan.” Edward berdiri. “Bagaimana bisa ada insiden hingga jas saya tidak selamat?” nadanya sedikit meninggi. Lidya tetap duduk dengan anggun. “Benar, itu kesalahan kami. Sebagai bentuk permohonan maaf kami, anda bisa memilih satu Lady untuk menemani anda, juga menu yang anda pesan selama satu bulan ini akan free.” “Mami, Mami kira jas itu jas murah? Anda mungkin bisa membeli sepuluh jas seperti itu, tapi anda tidak akan pernah bisa membeli kenangannya!” Edward menyapu pesanannya yang ada di meja. Semua barang di atasnya terpecah belah, dua pengawal Lidya maju menutupi tubuh sang Mami agar tidak terluka. “Maafkan kelalaian kami Tuan, anda bebas memilih Lady untuk menemani anda. Saya pamit. Jika anda butuh sesuatu silakan panggil Lady kami.” Lidya berdiri, dan beranjak pergi meninggalkan Edward yang memasang wajah murka. “Baiklah, saya hanya mau satu Ladies untuk kompensasi. Panggilkan Keysha.” Tanpa berbalik, Lidya menyahut. “Keysha tidak bisa menemani Tuan karena sedang sakit. Tuan bisa menunggu beberapa hari jika mau.” *** Keysha meringkuk di sudut ruangan, memeluk kain gorden untuk menutup tubuhnya yang sudah memakai pakaian berlapis 3. Lidya hanya menatap datar. Sam di samping Lidya memasang wajah miris, ini kali pertama ada ladies yang dihukum hingga trauma. Biasanya dalam masa hukuman, mereka tetap memakai baju hanya saja tidak akan diberi makan juga minum. Mereka yang masuk ke sini, biasanya sudah tau tentang gemerlapnya dunia malam. Walau pun sebagian dari mereka masih virgin, tapi tidak sepolos Keysha. Mereka yang dihukum biasanya hanya dibiarkan sendirian hingga menyerah, entah menyerah karena takut kegelapan yang mencekik atau kelaparan dan kehausan. Mereka tidak dibiarkan bunuh diri. Hanya akan ada speaker yang selalu menggema setiap saat dengan kalimat yang sama. “Menyerahlah, dan jadilah budakku maka hidupmu akan berkecukupan, mewah, dan bahagia. Melawanku hanya akan membuatmu menderita. Jadilah ladies yang baik, patuhlah padaku. Jadilah ladies yang baik, patuhlah padaku.” Lambat laun kalimatnya menjadi dogma yang terpatri dalam otak. “Dia teman sekamarmu, bukan?” Lidya membuka suara. “Iya, benar, Mam.” “Harusnya dia lebih percaya sama omongan kamu, saya harap kamu bisa membujuk dia agar bisa menjadi Ladies yang berkualitas, bukan menjadi wanita jual mahal.” Lidya menatap Sam di sebelahnya. “Pastikan dia mau melayani para tamu sebagaimana ladies semestinya, jika tidak saya akan melempar dia ke bawah.” Mata Sam membola, sepertinya Lidya tahu bahwa Sam mengerti tentang pasar gelap. Dan Lidya juga tahu bahwa Sam berhati lembut dan mudah kasihan, maka dari itu dengan bodohnya Sam bisa sampai di tempat ini. “Baik, Mam,” Sam hanya mengiyakan, berusaha memantapkan hati semoga ia bisa membujuk teman sekamarnya ini. “Tapi, apa boleh Keysha dibawa ke kamar saya saja?” Lidya berdehem, “Lakukan.” Pria berbadan besar di belakangnya maju, tapi Sam merentangkan tangannya. Melarang. “Jangan, Dion. Keysha sedang trauma dengan pria, biar aku saja,” ucap Sam. Keduanya menatap Lidya meminta persetujuan, Lidya hanya mengangguk lalu menjentikkan jari. Berbalik lalu pergi bersama pengawalnya. Setelah semua orang pergi, Sam mendekati Keysha. “Key, ini aku. Samantha..." Sam berucap pelan sambil berjalan mendekati Keysha berusaha menenangkan gadis di depannya. Keysha menoleh, menatap perempuan yang ia kenali, satu-satunya orang yang baik padanya. Keysha masih sesenggukan, tapi perlahan ia melepaskan cengkeramannya pada kain putih itu. “Iya, ini aku. Sini, peluk dulu.” Sam berjongkok, menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Sam tidak tahan, air mata menggunung di pelupuk matanya. Apalagi saat Keysha merangkak pelan lalu menubruknya pelan. “Aku kotor, aku menjijikkan, aku kotor banget. Kem- kemarin, bah- bahnyak orang yang liat aku telanjang.” Keysha berbicara terbata-bata, lalu meraung dan menangis dalam pelukan Sam. Sam mengusap air matanya yang meleleh, “siapa bilang kamu kotor dan menjijikkan?” Keysha melepas pelukannya, menatap Sam dan mulai bercerita, “Dulu kata guru aku, perempuan yang gak bisa jaga diri itu sampah, kotor dan menjijikan. Gak akan ada yang mau sama perempuan sampah, bahkan sekali pun ada cowo yang mau cuma bakal dijadiin kayak keset gitu.” “Aku juga gak nyangka, Mama aku tega jual aku untuk jadi pelacur.” Keysha kembali meneteskan air mata. Sam merasa ikut hancur, melihat mata Keysha yang bengkak ia turut merasakan kesedihannya. Sam mencengkeram dua pundak gadis di depannya. “Key, dengar ya. Siapa pun itu, mau cewe atau cowo, seperti apa pun mereka. Kalian semua berharga. Aku, kamu, kita semua berharga di mata orang yang tepat. Karena mereka yang mencintai kamu, yang menyayangi kamu. Gak akan peduli sama masa lalu kamu.” “Guru kamu yang sampah,” Sam mengumpah marah. Keysha mendongak menatap Sam. “Kalau semua yang tidak bisa menjaga diri disamakan dengan sampah, gimana sama korban pelecehan? Bukan hanya ke orang dewasa bahkan anak-anak banyak yang dilecehkan, loh.” Samantha paling benci dengan pendapat seperti ini, apalagi sampai mendoktrin bahwa jika sudah virgin adalah sampah. Saat Sam belum masuk ke Narita, salah satu temannya dulu, memutuskan bunuh diri dengan meloncat dari balkon lantai 18 apartemennya dalam keadaan hamil 5 bulan karena cemoohan seperti ini. Padahal, temannya adalah korban begal yang juga diperkosa saat itu. Sam menggeleng pelan, menyadarkan otaknya bahwa ia harus meyakinkan Keysha. “Jadi apa para korban itu juga sampah, Key?” Keysha menggeleng. “Manusia itu bukan sampah, tidak ada manusia lain yang boleh memberi 'label' sampah pada sesama manusianya.” “Cuma manusia biad4b saja yang mampu menghina sesama manusia dengan sebutan sampah menjijikkan.” Sam menasehati, Keysha mengangguk. “Ingat, Keysha bukan sampah. Kamu, aku dan kita semua berharga. Oke?” Keysha kembali mengangguk, Sam memeluk Keysha. “Jadi, siapkan diri buat kerja lagi, ya? Nanti kita cari tamu yang gak b4jingan seperti tamu kamu kemarin. Yang kemarin beneran b4jingan soalnya.” Keysha menggeleng keras dan melepaskan pelukan mereka. “Enggak, mereka jahat, Sam.” “Enggak Key, nanti aku yang bilang ke Mami kalo kita gak boleh terpisah, jadi aku bisa nolongin kamu. Oke?” Keysha masih ragu-ragu, tapi saat nama sang Mami di sebut Keysha terlihat takut. “Kalau kamu gak nurut Mami, nanti kamu di hukum lagi, Key. Aku janji bakal selalu ada sama kamu.” “Janji?” Sam mengangguk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN