Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari hingga satu bulan tersambut begitu cepat. Jika ditarik dalam beberapa bulan kebelakangan, mungkin tidak akan terbersit sedikitpun dalam pikiran Andin bahwa dia akan menikah terlebih dengan seorang laki-laki seperti Ghidan. Dia memang menyukai novel romance dengan peran utama laki-laki kaya dan seorang gadis biasa, tetapi tidak pernah sekalipun dia mengharapkan hal yang sama terjadi dalam hidupnya.
Hari ini adalah hari yang di tunggu semua keluarga besar Andin dan Ghidan, sebuah proses acara sakral yang sangat sederhana di langsungkan di rumah Andin yang berada di Bogor. Seperti rencana yang sudah di setujui kedua belah pihak, acara pernikahan hanya di hadiri tak lebih dari tiga puluh orang, hanya sebatas saudara. Bahkan Andin yang berniat mengundang Putri dan Dirga di tolak mentah-mentah oleh Ghidan. Dia hanya ingin pernikahan keduanya intens untuk mereka berdua, bukan untuk orang lain.
Andin menatap pantulan dirinya di sebuah cermin yang terletak di almari kamarnya. Dalam balutan kebaya hasil tangan Mario yang sangat indah membalut tubuh Andin yang ramping. Mario menepati janjinya untuk membuat bagian tubuh Andin ‘itu’ terlihat lebih besar, bahkan Andin merasa bahwa seseorang yang berada di depan cermin pagi ini bukanlah dirinya melainkan orang lain.
Tetapi bukankah jika kita sudah menikah, itu artinya kehidupan kita akan jauh berbeda dari ketika masih single?
“Sudah siap, Ndin? Mempelai laki-laki sudah datang, acara akadnya mau di mulai”
Papanya berada di balik pintu kamar Andin, menatap Andin sekilas. Akhir-akhir ini Papa terlihat sangat muram, bahkan ketika hari Akad sudah tiba, Papa tidak pernah sedikitpun menunjukan kebahagiaannya.
“Pa, masuk deh”
Papa menuruti kemauan Andin, masuk ke dalam kamar dan mendudukan tubuhnya di kasur Andin. Mereka kini bersitatap, Andin mendekatkan kursinya untuk mengikis jarak di antara Papa dan dirinya. Hanya ada dia dan Papanya di kamar Andin.
“Papa, kok kaya ga bahagia lihat Andin mau nikah?” Ucap Andin sambil mengambil genggaman tangan milik Papanya.
Papa Andin tersenyum, “Tidak akan ada seorang ayah yang bahagia melihat anak gadisnya akan di ambil oleh orang lain”
Perkataan yang keluar dari Papa terasa menyesakkan di hati Andin, ketika pernikahan nanti sudah dilakukan, Andin akan sah menjadi istri Ghidan dan mengabdikan dirinya kepada Ghidan dan keluarganya. Dulu Papa pernah berpesan, bahwa seorang istri adalah milik suami. Semua hidup Andin mulai sekarang digunakan untuk berbakti kepada Ghidan.
“Paa..” Ucap Andin tertahan, ada linangan air mata yang serta merta menggupal di pelupuk matanya.
“Pernikahanmu terlalu cepat, Papa hanya masih belum siap kehilangan kamu, Ndin” Isak Papa tertahan, Andin tidak pernah melihat Papanya menangis, tetapi di hari pernikahan Papa terlihat begitu rapuh, “Papa takut kamu ga bahagia, Pa..pa,, Papa takut kamu di sakiti”
Tak bisa lagi membendung kesedihannya, Andin bersimpuh di kaki ayahnya yang semakin renta. Bukan lagi rahasia umum, bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah kepada ayahnya, walaupun mungkin ada yang tidak seberuntung itu.
“Kamu bisa janji sama Papa, Ndin?”
Andin mengangguk.
“Berjanjilah untuk tetap bahagia walaupun mungkin kehidupan kamu kedepannya begitu tidak adil”
Andin mengangguk sekali lagi, dia bisa merasakan usapan tangan di kepalanya yang terasa lembut. Papa mengambil wajah Andin untuk di tatapnya, menyalurkan semua perasaan yang selama ini lebih suka Papa simpan seorang diri.
“Andin anak Papa yang kuat, mandiri, dan akan selalu ceria! Bukankah Papa selalu mengajarkan Andin untuk bisa menari di sela-sela hujan yang deras? Andin akan selalu menikmati setiap fase yang sedang di ujikan kepada Andin, tugas Papa hanya satu, jangan pernah memutus doa untuk Andin walaupun Andin sudah menikah nanti”
Saat ini giliran Papa Andin yang mengangguk, laki-laki tua itu membawa tangan Andin untuk berdiri, menghapus sisa-sisa air mata yang beruntungnya sama sekali tidak menghapus make up Andin. Papa Andin melingkarkan tangan Andin di lengannya, menggenggam tangan yang dulu terlihat mungil tetapi sekarang Papa Andin sadar bahwa putrinya sudah beranjak dewasa.
“Sudah siap? Yuk”
Papa Andin berjalan menuntun Andin keluar kamar, melewati ruang keluarga hingga sampai di ruang tamu rumahnya yang cukup ramai. Andin bisa melihat Ghidan yang duduk memunggunginya di meja kecil di hadapan penghulu. Papa membawa Andin duduk di samping Ghidan yang muram, walaupun ada senyum di sela-sela wajah Ghidan tetapi Andin yakin itu hanya demi menutupi kegusaran yang besar di dalam hatinya.
Jika dia belum siap dengan pernikahan ini, kenapa Ghidan memaksa untuk menikah?
Beribu pertanyaan yang dalam sebulan terakhir ini sama sekali tak menemukan jawaban membuat Andin tersiksa dengan pemikirannya sendiri. Saat Andin duduk di sebelah Ghidan, tak satu kalipun laki-laki itu menyapa Andin. Pernikahan hari ini sangat jauh dari bayangan Andin selama ini, bahkan genggaman tangan untuk saling menguatkan tak sedikitpun Andin dapat. Justru laki-laki itu tidak berkenan untuk hanya menatap Andin.
“Kita mulai ya pak, bu” Tanya Pak Penghulu yang duduk di hadapan Andin dan Ghidan.
Andin membayangkan bagaimana jika dia menggagalkan acara akad, bagaimanapun pernikahan adalah sesuatu yang sakral bagi seorang perempuan seperti Andin. Dia sangat menghormati prosesi ini dan agamanya.
“Gimana, Mba Andin?” Tanyanya sekali lagi tetapi bibir Andin masih terkunci.
Sebuah usapan ringan di tangannya mengambil perhatian Andin, Andin bisa merasakan jari-jari Ghidan yang mengambil ruang di sela-sela jarinya dan memenuhi, menggenggam tangan Andin untuk saling memberikan kekuatan. Tatapan mereka bertemu, dan seperti berulang kali Andin kembali jatuh cinta kepada Ghidan yang hatinya entah kemana.
Andin mengangguk dengan mantap, dia memilih untuk memperjuangkan cinta dan rumah tangganya.
Ucapan akad terucap dengan lantang dan tanpa jeda dalam satu tarikan nafas. Dan ketika kalimat, ‘SAH” menggema di seluruh ruangan ini, sebuah cerita akan di mulai. Andin yakin bahwa mulai detik ini, hidupnya akan jauh berbeda dengan kehidupannya sebelumnya.
***
Di hari pertama pernikahannya, Ghidan langsung membawa Andin ke Jakarta. Setelah menginap satu hari di rumah Andin hanya demi bersikap sopan kepada kedua orangtua Andin. Jangan di tanya bagaimana malam pertama Andin, gagal total. Ghidan justru terlelap lebih dulu meninggalkan Andin yang jantungnya berdetak terlalu hebat. Sebagai seorang perempuan tentu Andin sudah mempersiapkan malam pertamanya, dia pergi ke salon untuk melakukan berbagai macam perawatan tubuh agar suaminya tidak kecewa. Tetapi justru Andin yang harus gigit jari, karena dia di tinggalkan tidur begitu saja oleh suaminya.
Dalam tidurnya, Andin menatap punggung Ghidan yang terasa jauh darinya padahal mereka sedang tidur di dalam ranjang yang sama. Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Andin memilih untuk ikut melelapkan tubuhnya yang sudah sangat butuh istrahat. Terbuang sia-sia uangnya yang cukup besar hanya demi membuat tubuhnya wangi malam ini.
Pagi harinya, Andin terbangun dengan Ghidan yang sudah tidak berada di sisinya, padahal hari masih sangat pagi, mungkin laki-laki itu memang terbiasa bangun pagi karena harus disibukan dengan urusan kantor. Andin mendudukan tubuhnya, menatap ke samping sisinya yang kosong, menyisakan selimut yang berantakan. Semalam Ghidan tidur di sana, laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.
Andin memutuskan untuk mandi dan keramas, bukan karena baru saja melakukan ‘itu’ dengan suaminya, tetapi karena seharian kemarin rambutnya di semprot dengan berbagai macam hairspray yang membuatnya kaku dan berbau aneh.
“Eh, pagi-pagi anak gadis Mama udah keramas, eh bukan gadis lagi ding ya, ya kan Mas Ghi?” Tanya Mama menggoda Andin di hadapan Ghidan, yang semakin membuat canggung keduanya.
Ghidan sedang duduk di meja tv bersama Papa, mereka sedang membahas apa yang entah Andin pun juga tidak terlalu paham. Andin memilih untuk membantu Mamanya yang sedang memasak di dapur, pagi ini Mama memasak opor ayam yang kata Mama Anggun adalah kesukaan Ghidan.
“Kata Mamamu Ghidan suka opor, makanya Mama masakin opor untuk sarapan sama nanti di bawa ke Jakarta ya, Ndin”
“Iya, Ma” Andin ikut membantu Mamanya yang sedang mempersiapkan piring, dia bangun agak siang sehingga semua masakan Mamanya sudah matang, tinggal di siapkan di meja.
“Kemarin gimana Ghidan? Pasti langsung satu kali percobaan langsung bisa, Ndin?” Tanya Mamanya masih dengan nada yang usil dan mata yang beliau naik turunkan untuk menggoda Andin.
“Mamaa! Ih” Jawab Andin, dia tidak ingin membahas tentang semalam yang tidak terjadi apa-apa, dan tidak mungkin juga Andin menceritakan hal itu kepada Mamanya.
“Yaa namanya pernikahan ya kaya gitu Ndin, harus terbiasa sama porrno”
“Kayanya Mama pagi-pagi udah ngeres deh, Andin bawa opornya ke meja makan ya” Akhirnya Andin lebih memilih untuk melarikan diri.
Dia mendudukan tubuhnya di meja makan ketika Ghidan dan Papanya datang dari balik tubuhnya.
“Kita sarapan terus langsung balik ya, Ndin” Ucap Ghidan.
“Iyaa, mas”
Mereka menghabiskan sarapannya dengan berbagai percakapan yang cukup hidup. Andin bersyukur Ghidan dengan mudah masuk ke dalam keluarganya, bahkan laki-laki itu sudah terlihat sangat nyambung menanggapi kalimat-kalimat absurd bapaknya yang berniat untuk menjadi seorang youtuber.
“Kapan-kapan main kesini lagi, Nak Ghi” Ucap Papanya ketika mengantarkan mereka berdua ke mobil.
“Siap, Pa! Ghidan dan Andin akan sering main ke Bogor”
“Alhamdulillah, ga ada yang lebih bahagia selain di jenguk anak yang jauh”
Andin dan Ghidan tersenyum kemudian berpamitan dengan Papa Ghidan. Ghidan mencium tangan Papa, membuat hati Andin menghangat.
“Mama mana ya? Bukannya udah tau kalau kita mau pamit?”
“Bentaar.. bentarrr ini lho lagi bungkusin opor biar di bawa ke Jakarta, nanti masukin kulkas terus kalau mau di makan di angetin dulu ya Ndin”
Mama Andin berjakan dengan tergopoh-gopoh dari dalam rumah, menenteng kresek hitam yang berisi opor ayam.
“Yaa, Ma”
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, minus Arjun yang masih bergelung dalam mimpinya, Andin dan Ghidan memulai perjalanan mereka untuk kembali ke Jakarta sebagai seorang suami istri. Mereka masih terdiam selama perjalanan, hanya di temani musik-musik indie di mobil Ghidan.
“Nanti kita tinggalnya dimana, Mas?’ Tanya Andin memulai percakapan, dia harus mulai untuk mendekatkan dirinya dengan suaminya. Ghidan mungkin tipikal laki-laki yang pendiam, itu artinya dia sebagai istri harus bisa mengimbangi agar mereka semakin dekat.
“Rumah, aku sudah siapkan rumah di pondok indah, agak jauh sih dari kantormu, gimana?”
Andin bernah dengar dari Mama Anggun bahwa Ghidan ingin memiliki seorang istri yang tidak bekerja. Dia menginginkan istri yang akan menyambut dan melayaninya di rumah, laki-laki itu tipikal pria posesif. Andin bahkan sudah bersiap membuat jawaban jika laki-laki itu menginginkannya untuk tinggal di rumah, berdalih bahwa editor itu bisa dilakukan dengan bekerja di rumah sebagai freelancer, tidak apa-apa Andin di rumah tetapi dia tetap ingin memiliki pendapatan.
Tetapi mendengar kalimat Ghidan baru saja, sepertinya laki-laki itu tidak berniat untuk meminta Andin tinggal di rumah. Dia lebih suka Andin yang bekerja!
“Oh, iya gak papa”
Andin mencoba berfikir positif, setidaknya dengan bekerja dia masih bisa bertemu dengan Putri dan Dirga, dan tentunya Tari yang selalu membuat hidupnya jumpalitan.
“Nanti biar di antar sopir kalau kerja”
“Ga usah, Mas! Andin kan bisa bawa mobil sendiri”
“Bahaya Ndin, perempuan bawa mobil sendiri”
“Tapi Andin sudah terbiasa, Mas”
“Kamu nurut ga sama suami?” Tanya Ghidan dengan wajah kaku.
“Iya nurut, Mas”
“Ya sudah, artinya mulai sekarang kamu berangkat dan pulang di antar sopir”
Ada sedikit kehangatan menjalar di dalam hati Andin, apakah Ghidan mengkhawatirkannya? Memikirkannya saja sudah membuat Andin senyum-senyum sendiri.
Setelah perjalanan beberapa jam, mereka akhirnya sampai di sebuah kawasan hunian mewah yang berada di pondok indah. Rumah minimalis dua lantai dengan taman yang luas dan ornamen kayu sebagai aksesorisnya menambah kesan adem dan nyaman di rumah yang terletak di kawasan padat penduduk ini. Andin merasa seperti di hipnotis dengan rumah pilihan Ghidan yang terlihat sangat nyaman, dinding yang di d******i kaca tentu akan membuat mereka lebih berhemat karena tidak perlu lampu di siang hari.
Ghidan membawa Andin untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan beberapa barangnya sudah di bawakan oleh dua pembantunya.
“Sudah disiapin semua bik?” Tanya Ghidan kepada dua wanita itu.
“Sudah Den, kamar Nyonya di bawah, kamar Tuan di atas”
Eh, eh, bentar-bentar, maksudnya apa?
Andin menajamkan pendengarannya, senyum yang ada tiba-tiba menghilang dari wajahnya. Dia masih menunggu interaksi Ghidan dan bik Inah selesai, tidak mungkin dia menuntut penjelasan di hadapan orang lain.
“Maksudnya gimana, Mas?” Tanya Andin menuntut penjelasan ketika bik Inah sudah menghilang dari pandangan mereka.
Ghidan terlihat menarik nafasnya lemah, kemudian menghela dengan pelan, “Kita sama-sama tahu pernikahan ini terlalu cepat Andin, kita masih harus saling beradaptasi dengan semua ini, saya hanya ingin semua terjadi tidak terlalu di paksakan”
Andin hanya menatap laki-laki itu ketika penjelasan Ghidan sama sekali tidak memberikan pencerahan kepadanya sedikitpun.
“Kita pelan-pelan aja ya jalani pernikahannya?” Tanya Ghidan kepada Andin yang terlihat terkejut.
“Dengan kamar terpisah, gitu?” Tatar Andin.
Ghidan mengangguk lemah, memaksa Andin untuk berjuang sekuat tenaga menutupi rasa sakit hatinya yang datang tanpa permisi. Jika memang ingin melangkah perlahan, kenapa mereka harus memaksakan untuk menikah secepatnya? Kenapa Ghidan menyetujui perjodohan ini? Bukankah sebenarnya mereka bisa saling mengenal terlebih dahulu sebelum mengambil langkah besar yaitu sebuah pernikahan.
“Oh, oke, Andin ngikut Mas Ghidan aja” Ada sesuatu yang tidak bisa Andin tutupi, yaitu kekecewaan, “Kamar Andin yang mana, Mas?” Tanya Andin dengan senyum yang di paksakan.
Tangan Ghidan menunjuk ke arah kamar yang berada di dekat taman samping, dengan pintu berwarna coklat yang besar.
Tanpa permisi, Andin melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sudah di siapkan Ghidan untuknya. Ketika pintu tertutup, Andin mengunci dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ada isakan yang sengaja dia tahan, berharap segalanya akan berjalan dengan baik-baik saja.