BAB 16

1163 Kata
Hari Sabtu itu adalah waktunya untuk diri sendiri, setelah menghabiskan lima hari waktumu dalam seminggu untuk bekerja. Biasanya Andin menghabiskan Sabtunya untuk pergi bersama Putri, tetapi itu dulu sebelum saat ini Putri sudah di sibukkan dengan baby utun yang dinamainya Laskar. Jika tidak memiliki acara bersama Putri, biasanya Andin lebih memilih untuk pulang ke rumah menjenguk kedua orangtuanya, atau menghabiskan waktunya di apartment membaca novel favoritnya. Andin bisa mengulang membaca novel hingga tiga kali, bahkan lebih! Selain karena dia suka membaca, mungkin karena kehidupan novel yang seringnya happy ending, memberikan harapan-harapan bahwa suatu saat hidupnya akan bahagia. Walaupun, tentu ada novel yang sad ending, tetapi Andin tidak suka! Dia lebih menyukai novel yang memiliki akhir bahagia, karena sebagai manusia Andin menginginkan hal yang sama. Berbeda dengan hari Sabtu biasanya, siang ini Andin disibukkan dengan calon ibu mertuanya yang selalu baik dan lemah lembut kepada Andin. Hal yang sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Mamanya, walaupun dia tetap akan selalu menyayangi Mamanya, tetapi untuk saat ini dengan tegas Andin mengatakan bahwa dia sudah menyayangi Mama Anggun sama seperti Mamanya sendiri. “Naaak, kok Mama bagusan yang ini ya? Ada rumbai-rumbai gitu” Mereka sedang berada di butik langganan Mama Anggun yang berada di daerah Jakarta Barat. Pernikahan di percepat karena permintaan Ghidan dan atas persetujuan Mama Anggun, sehingga segala persiapan di proses secepat kilat. Walaupun tidak terlalu berat bagi mereka, karena tentu semuanya sudah di atur oleh wedding organizer terbaik pilihan Mama Anggun. Jangan berharap sebuah pernikahan mewah seperti keinginan Mama Suci, tetapi pernikahan Ghidan dan Andin hanya sederhana. Bahkan Ghidan meminta pernikahan hanya akad saja, yang terpenting baginya adalah SAH! Tak mau membuat pernikahan menjadi rumit, Andin dan keluarga menyetujui keinginan Ghidan. Walaupun terselip alasan-alasan menyakitkan yang mungkin bisa saja terjadi, tetapi Andin abai. Misalnya, Ghidan tidak mau pernikahan mereka diketahui teman-temannya. Sakit bukan? Tetapi Andin berusaha terlihat baik-baik saja, mengikuti saran Dirga untuk mencoba mengikuti garis takdir dari Tuhan. “Yang simpel aja Ma, jangan yang ada rumbai Andin ga suka” Mama Anggun terlihat menimang lalu mengangguk, “Yowes (Ya sudah) kan kamu yang mau pake, Nak” Andin tersenyum, berbeda dari bayangan ibu mertua yang galak dan posesif terhadap anak laki-lakinya, Andin merasa bahwa Mama Anggun sangat terbuka menerima dirinya. Padahal menurut cerita Mamanya, keduanya dulu tidak terlalu dekat, hanya sebatas teman biasa saja. “Maa, kenapa Mama mau menjodohkan Mas Ghidan sama Andin? Padahal Mama belum kenal sama Andin, dan kata Mama Suci pun dulu Mama Anggun dan Mama Suci ga terlalu dekat” Tanya Andin akhirnya, mereka sedang menunggu desainer yang sedang menyelesaikan satu kliennya di ruang ganti sebelum bergantian melayani Andin dan Mama Anggun. “Mama ga kenal kamu, tapi Mama kenal sama Mamamu” “Kata Mama, Mama Anggun dan Mama Suci dulu ga deket” Ulang Andin ketika tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. “Kita memang ga deket Nak, Tapi Mama tahu gimana Suci” Saat ini perhatian Mama Anggun sudah sepenuhnya menatap Andin, “Dulu Mama itu orang ga punya, ga ada yang mau temenan sama Mama, tetapi si Anggun walaupun dia ga kenal sama Mama, dia mau berteman sama Mama” “Suci itu dulu orangnya cerewet dan mudah bergaul, semua-semua kenal sama dia, bahkan sama Mama yang ga banyak orang tau, Suci selalu ngajak ngobrol kalau ketemu, bahkan dia pernah berbagi bekal makan siang sama Mama padahal dia cuma teman biasa” “Ohh gitu ya” Andin senang, ternyata Mamanya memang selalu ramah dengan semua orang, tidak pernah pilih-pilih. Itulah sebabnya kenapa Papanya benar-benar jatuh cinta sama Mamanya. “Mama memang sengaja bilang kalau mau nyari mantu ke Suci, karena Mama tahu kalau Suci punya anak perempuan yang sudah dewasa, dan ternyata apa? Jodoh to?” Tambah Mama Suci. Andin mengaminkan dalam hati. “Eh, Ma.. Andin boleh nanya tentang keluarga Mama?” “Tentu boleh” “Andin bukan bermaksud mau ngomongin orang, Andin cuma mau nanya” “Ngomong aja to” Andin berharap kali ini tidak salah langkah lagi, tetapi mau bagaimana? Dirinya terlalu penasaran dengan seseorang dalam keluarga Ghidan. “Tentang Sasa, itu gimana sih Ma orangnya? Soalnya kan perusahaan tempat Andin kerja mau ada kerjasama dengan perusahaan tempat kerja Sasa” “Oh si Sasa,, Dia anak budhe Yuni, budhe Yuni itu kakak kandung Almarhum Papa Ghidan” “Sepupu berarti ya, Ma?” “Mmm.. ya secara keluarga begitu, tetapi Ghidan dan Sasa itu tidak sedarah, Sasa adalah anak suami budhe Yuni yang sekarang, dengan istri pertamanya” “Maksudnya gimana, Ma? Budhe Yuni istri kedua? Di madu gitu?” “Bukan, istri pertama Pakdhe Domo sudah meninggal” Andin mengangguk-angguk, “Tapi dia baik anaknya?” “Baik kok, memang kalau ngeliatin kaya sinis gitu., ya? Tapi baik orangnya, Ndin” Tepat setelah Andin mendapatkan informasi yang ingin dia dapatkan, desainer pilihan Mama Anggun datang menemui mereka berdua. Andin berfikir bahwa desainernya adalah seorang perempuan cantik yang modis, tetapi kenyataannya berbanding terbalik dengan bayangan milik Andin. Desainer pilihan Mama Anggun bernama Mario, lelaki setengah tulen karena tangannya yang sedikit mengonde. Rambut Mario panjang dan dia ikat asal, baju yang ia kenakan cenderung baju kurang bahan yang memperlihatkan pusarnya yang kecil. Sedikit menyangsikan bagaimana nanti desain kebayanya, tetapi Andin yakin bahwa pilihan Mama Anggun tidak akan pernah salah. “Ini Jenk, calon pengantennya?” “Iyaa, Mar, dia maunya yang simpel yaa, ga usah rumbai-rumbai” Jelas Mama Anggun yang mengintepretasikan keinginan Andin. Mario memindai Andin dari atas hingga ujung kakinya, tangannya menunjuk-nunjuk bagian-bagian tubuh Andin sambil terlihat perpikir. “Nanti teteeknya harus agak dinaikin biar kelihatan berisi, tepees begini, Jenk” Ucap Mario menilai dengan bahasa yang kemayu. Mau tidak mau, ucapan Mario memaksa kepala Andin untuk menunduk untuk memastikan kalimat itu. Andin mengamati, baginya kedua aset miliknya itu tidak terlalu kecil, tetapi kenapa laki-laki itu berkata demikian? Andin membawa kedua tangannya untuk menelungkup di dua bagian itu, menekan untuk merasakan bahwa memang ada daging yang tumbuh di area sana. “Memang kecil banget ya, Mas?” “Enak aja, Mas!! Jangan ngawur kamu, panggil Mincee, ngerti?” Jawab Mario tidak terima, bahkan saking terkejutnya Andin menjauhkan tubuhnya dari Mario. “Iy.. Iyaa, Mince maksud saya” “Yaa kecil kalau bagi ukuran cewe, kamu ga pernah ya memperhatikan begituan? Makanya ga paham kalau ukuran punya ye itu memang kecil” Andin menggeleng. “Di gedein dikit lah, biar suami puas” “Sudah-sudah, Mar! Nanti Andin kepikiran terus minta operasi plastik sebelum nikah gimana?” Ucap Mama Andin menengahi perbincangan absurd antara Mario dan Andin. “Hehe, yaa ga papa Jenk, punya uang juga kok” “Dasar kamu!” Akhirnya dengan cekatan Mario memulai kegiatan mengukur dan memberikan gambaran desain kasar baju yang nanti akan di gunakan Andin saat akad nikah. Dan jauh berbeda dengan pikiran Andin sebelumnya, hanya dengan gambaran kasar tangan Mario, hasil desain kebaya yang dimintanya sungguh sangat sempurna dan cantik dalam bayangan Andin. Semoga kebayanya besuk benar-benar cantik, agar Andin tidak memalukan bersejajar dengan Ghidan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN