Pagi ini sungguh berbeda dari pagi biasanya, Andin yang baru saja terpejam terpaksa membuka mata ketika mendengar suara tangis bayi yang memenuhi ruang rawat inap Putri. Sandi –suami Putri- sudah sampai tadi pagi di penerbangan pertamanya, tetapi Andin dan Dirga memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak di rumah sakit karena takut jika harus pulang saat posisi Dirga mengantuk.
Andin menarik tangan Dirga untuk membawanya mendekat ke arah sumber suara. Melihat tubuh mungil yang sedang menangis hingga badannya memerah.
“Berani gendong ga lo? Bawa sini” Ucap Putri ke arah Andin yang masih terlihat antusias melihat bayi.
Putri dan bayi laki-lakinya lahir selamat dan sehat, sesuatu yang pantas untuk di syukuri walaupun prosesnya penuh dengan drama yang cukup mengejutkan.
“Ga berani gw” Jawab Andin.
Dirga justru yang membantu untuk menggendong bayi Putri dan mendekatkan ke arah Putri. Laki-laki itu dengan telaten dan terlihat luwes membawa bayi Putri dalam dekapannya.
“Kayanya dia laper”
“Iyaa”
“Gw nenenin dulu”
Dirga mundur menjauh dari ranjang ketika Sandi menutup tirai, laki-laki itu ikut duduk di sebelah Andin yang masih terlihat mengantuk. Tak ada skenario, Andin mendekatkan kepalanya yang mengantuk untuk di sandarkan di bahu Dirga yang terlihat sangat pelukable. Tidak seperti biasa laki-laki itu yang selalu menolak, Dirga justru tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya membuka pesan di handphone miliknya.
“Masih ngantuk?”
“Iyaa” Jawab Andin sambil menguap, ia memejamkan matanya sejenak walaupun logikanya masih sadar penuh.
“Kita pulang yuk, udah jam enam, nanti kita agak terlambat aja datangnya ga papa”
Andin mengangguk, tetapi dia seakan teringat sesuatu. Semalam Gidhan mengantarnya pulang, itu artinya dia yang akan mengantarkannya ke kantor pagi ini. Dengan kasar, Andin berlari mencari tasnya, mencari hanphone miliknya lalu membuka pesan-pesan yang diterimanya. Andin bernafas lega ketika tidak mendapatkan pesan dari Ghidan, artinya laki-laki itu mungkin tidak berniat untuk mengantarkannya pagi ini.
“Kenapa?” Tanya Dirga bingung.
“Ga papa, kita pulang sekarang” Ucap Andin sambil menggantungkan tasnya ke lengan, “Put, gw cabut yaa, mau nguli dulu”
“Yaaa, thanks Ndin, hati-hati lo di jalan, makasih juga buat Dirga”
“Sama-sama” Jawab Dirga kaku.
Mereka berjalan bersisihan ke arah parkiran, masih sama-sama cukup mengantuk tetapi bagaimanapun pekerjaan adalah tanggung jawab yang harus tetap di jalani. Mereka hidup dari perusahaan itu, terasa jahat jika mereka bekerja tetapi setengah-setengah.
“Nanti bareng gw aja ke kantornya” Ucap Dirga ketika mobil sudah berjalan membelah jalanan yang sudah cukup ramai.
“Berangkat sendiri-sendiri aja, nanti pada mikir yang enggak-enggak kalau kita telat bareng, berangkat bareng, apalagi gw sahabat lo nanti pada mikirnya gw dapat privilege lagi”
“Ya nanti lo naik dulu, baru gw”
Dalam hati Andin ingin sekali mengiyakan, karena dia mobilnya ada di kantor. Tetapi jika nanti teman-temannya yang memiliki ilmu netizen yang pandai merangkai peristiwa dengan begitu tepat, bisa-bisa habis Andin kena kejulidan teman-temannya.
“Ga usah aja deh, Ga”
“Nanti bareng gw, titik”
Andin menggeleng, kenapa banyak sekali laki-laki bossy dalam kehidupannya. Ghidan dan sekarang Dirga yang berubah menjadi suka sekali memaksa Andin untuk mengikuti keinginannya. Andin lelah hayaati!
Mobil Dirga sampai di apartment milik Andin yang masih cukup sepi. Andin mengejapkan matanya, menajamkankan penglihatannya saat matanya menangkap siluet tubuh Ghidan. Seketika tubuh Andin langsung lemas ketika jarak mereka yang semakin dekat, Andin dengan jelas melihat Ghidan yang berdiri di samping mobil miliknya sedang sibuk dengan ponselnya.
Ghidan belum mengetahui keberadaannya di dalam mobil Dirga, Andin langsung membuka tasnya dan melihat ponselnya yang sedang menampilkan layar panggilan dari Ghidan. Sialnya handphone Andin sedang dalam mode silent, sehingga dia sama sekali tidak mengetahui jika laki-laki itu menghubunginya.
“Kenapa muka lo pucet gitu?”
Andin mengedikan kepalanya ke arah Ghidan yang berada di luar, jarak mereka sudah semakin dekat. Saat ini Ghidan sudah mengunci pandangannya ke arah Andin, dalam jarak dekat pasti jelas terlihat wajah Andin walaupun tertutup kaca mobil yang tidak terlalu gelap.
“Calon suami lo?”
Andin mengangguk, “Gw keluar dulu”
Dengan pelan Andin membuka pintu di sebelahnya, kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ghidan yang memicingkan matanya melihat Andin. Laki-laki itu diam, hingga Andin mendekat ke arahnya Ghidan tetap mempertahankan kebisuannya. Laki-laki itu memperlihatkan layar handphonenya yang sedang memanggil nama Andin, tatapannya menakutkan, seperti singa lapar yang siap menerkam Andin tiba-tiba.
“Aku habis dari rumah sakit, Putri semalam melahirkan”
“...”
Ghidan masih diam, seperti sedang menunggu kalimat Andin selanjutnya.
“Terus, karena aku ga bawa mobil, aku telfon Dirga untuk nganter aku ke tempat Putri terus ke rumah sakit” Entah mengapa Andin merasa harus menjelaskan posisinya pagi ini yang sedang bersama Dirga, padahal Ghidan sama sekali tidak menanyakan hal itu.
Bunyi suara langkah di belakang Andin seakan menjelaskan bahwa ada sosok yang berdiri di belakangnya. Sosok itu mengambil perhatian Ghidan yang saat ini sepenuhnya menatap Dirga yang sedang berdiri di belakang Andin.
“Sorry, kita semalam mengantar Putri ke rumah sakit, Andin bilang mobilnya sedang tidak ada”
Dirga menjelaskan dengan suara lantang yang tegas, tidak merasa terintimidasi sedikitpun dengan penampilan dan aura Ghidan yang dingin dan berwibawa. Tidak bisa dipungkiri bahwa sosok Ghidan seperti malapetaka, laki-laki itu dingin dan irit berbicara dengan orang lain, cenderung memiliki tatapan yang bisa mengintimidasi lawannya.
Ghidan mengangguk, tidak ada sedikitpun wajah ramah yang di tunjukkan Ghidan di pertemuan pertamanya dengan Dirga. “Mobil Andin ada di kantor, semalam saya yang jemput dia”
“Oh ya, kenalkan, saya Ghidan calon suami Andin” Ghidan mengucapkan perkenalan dengan terlihat santai, padahal jika di dengar dari nada suaranya, kalimat Ghidan terdengar mutlak.
Ada jeda sejenak untuk tangan Ghidan mendapatkan balasan dari Dirga. Laki-laki itu sedikit tercengang, lalu dengan mudah mendapatkan dirinya kembali.
“Saya Dirga, sahabat Andin”
Mereka berdua saling menatap, cukup lama bagi dua orang yang hanya berkenalan sekilas. Hingga akhirnya Dirga melepaskan cekalan tangannya dan pamit untuk pulang terlebih dahulu.
“Berarti nanti ga jadi bareng ya, Ndin?” Tanya Dirga, entah mengapa dia dengan sengaja menunjukkan kedekatannya dengan Andin di hadapan calon suaminya. Ada sesuatu yang ingin ditegaskan Dirga kepada Ghidan.
Andin bisa melihat Ghidan mengeratkan rahangnya, sedangkan Dirga justru tersenyum ringan.
“Nggak, gw bareng Mas Ghidan”
“Okee Tuan Putri” Jawab Dirga kemudian memasuki mobilnya dan berlalu pergi.
Setelah menghilangnya Dirga dari pandangan, Andin kembali menatap Ghidan yang sudah kembali seperti biasa.
“Aku siap-siap dulu ya, Mas”
“Oke”
Andin berjalan memasuki apartment, namun terkejut ketika melihat Ghidan mengikutinya dari belakang.
“Loh, Mas Ghidan mau ikut masuk?”
“Kamu pikir aku harus nunggu di mobil, gitu?”
“Engg.. Enggak juga, ya udah Mas Ghidan masuk aja nunggu di dalam”
Mereka berjalan beriringan dan memasuki lift dalam diam. Ditengah perjalanan laki-laki itu disibukan dengan menerima beberapa telfon yang kemungkinan besar dari seketarisnya.
Bahkan laki-laki itu dengan mudah bilang kalau dia akan sedikit terlambat, dan meminta untuk meeting tetap sesuai jadwal. Bos memang bisa seenaknya gitu ya?
“Biarkan saja mereka menunggu, tetap jadwalkan meeting sesuai jadwal, karena pertemuan dengan Pak Anton tetap harus terlaksana jam satu! Ngerti, Ca?”
Andin membukakan pintu apartment miliknya, beruntungnya Andin bukanlah perempuan yang jorok. Apartment Andin bersih, walaupun ada beberapa buku yang berserakan dan laptop yang masih berada di ruang tengah. Tetapi overall, apartment Andin dalam kategori apartment kecil yang bersih.
Melihat Ghidan yang mendudukan tubuhnya di sofa dan masih sibuk dengan handphonenya, Andin memilih untuk langsung memasuki kamar dan mandi. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi seorang Andin untuk bersiap, dia hanya mandi secukupnya, menggunakan sabun bodyyyshop yang wangi lalu sikat gigi, itu saja. Untuk masalah make up juga simpel, Andin hanya mengenakan baby cream dan eye shadow yang tidak berlebihan dan lisptik sebagai pelengkap.
Taraaa.. Andin langsung siap dalam waktu tidak lebih dari dua puluh menit.
Andin melangkah kakinya keluar dari kamar dan melihat Ghidan yang masih dalam posisi sama, duduk di sofa dengan mata yang menatap tekun ke arah handphone miliknya.
“Udah, Mas”
“Oke”
Hanya itu interaksi keduanya, sangat minim bagi seorang calon suami istri. Ingin sekali Andin berusaha mendekatkan dirinya dengan Ghidan, misal dengan bercerita atau mengeluh tentang kerjaan, atau dengan mengirimkan pesan ringan menanyakan sudah makan atau belum. Tetapi Ghidan selalu sama, hanya menjawab sekilas sebagai bentuk pertanggung jawaban hubungannya dengan Andin.
Ghidan beranjak dan Andin berjalan mendahului laki-laki itu, “Eh, lupa”
Bruukkk..
Andin yang terlalu tiba-tiba mengambil manufer berbalik arah sedangkan Ghidan yang sedang fokus dengan handphone miliknya, membuat tragedi pertemuan tubuh keduanya untuk pertama kali. Mereka saling bersitatap, bahkan suara handphone milik Ghidan yang terjatuh sama sekali tidak mengganggu posisi mereka yang membeku.
Andin bisa melihat manik mata coklat milik Ghidan yang tajam, pahatan sempurna wajah laki-laki itu dalam jarak dekat. Lalu wajah laki-laki itu mendekat, dan Andin merasa bahwa inilah waktunya untuk melepas keperrrawanan bibirrnya. Andin memejamkan matanya, menunggu sapuan lembut bibir milik Ghidan.
Thuk..
Bukan sapuan lembut bibir merah milik Ghidan yang sudah lama Andin idam-idamkan, tetapi sentilan cukup kuat di jidatnya yang membuat Andin mengaduh.
“Aduh”
“Lain kali kalau berhenti jangan tiba-tiba” Ucap Ghidan dengan wajah tanpa penyesalan, laki-laki itu mengambil handphone miliknya yang terjatuh dan berjalan mendahului Andin.
Gagal!