Berbeda dengan harapan Andin bahwa pernikahan tidak akan serta merta terjadi begitu saja, seperti yang Dirga ucapan sebelumnya. Ghidan seperti berlari secepat kilat, mengurus segala rencana pernikahan mereka berdua. Bahkan selisih waktu antara lamaran dan tanggal pernikahan hanya satu bulan. Sedangkan Andin hanya bisa menurut, seperti robot yang di atur untuk melakukan hal-hal yang sudah di rencanakan Mamanya dan Mama Anggun, plus calon suaminya yang bernama Ghidan.
Malam ini mereka memutuskan untuk makan malam bersama sepulang kerja, atau lebih tepatnya Ghidan yang memaksa untuk menjemput Andin dan mengantarkannya pulang nanti. Andin meninggalkan mobilnya di kantor, ada satpam 24 jam yang akan menjaga sehingga Andin tidak perlu khawatir terjadi sesuatu dengan mobilnya.
Ghidan membawanya ke sebuah restoran mewah yang berada tak jauh dari apartment Andin. Sebuah restaurant yang terletak di paling tinggi bangunan hotel mewah yang berisi manusia-manusia beruntung karena di berikan rezeki berlimpah dari Tuhan. Ghidan sudah melakukan reservasi, memilih tempat duduk yang berada di bagian ujung dekat dengan kaca sehingga mereka bisa melihat indahnya malam kota Jakarta dengan lampu-lampu kendaraan yang menciptakan pemandangan indah jika dilihat dari atas.
“Mau makan apa?” Tanya Ghidan, “Disini ga ada pecel lele”
Andin tersenyum, senyum yang sama yang tercetak dengan jelas di wajah Ghidan yang terlihat lelah. Lelaki itu mengeluh hari ini pekerjaannya begitu luar biasa padat, bahkan dia baru saja kembali dari Bali tadi subuh dan harus dihadapkan dengan meeting di jam delapan pagi.
“Terserah Mas Ghidan aja, Andin belum pernah makan disini”
“Oke, aku pilihkan makanan terenak di restaurant ini”
Tak menunggu waktu yang lama seperti saat mereka makan di lesehan, tak lebih dari sepuluh menit makanan sudah tersaji di meja. Ghidan memilihkan menu untuk mereka berdua ‘Japanese wagyu Rib Eye, yang jika dilihat dari harganya hampir sama dengan total uang bensin Andin dalam satu bulan. Hal yang terlalu kecil untuk di keluargan Ghidan, tetapi cukup menguras kantong bagi karyawan biasa seperti Andin.
Tak ingin berlama-lama malam ini, Andin segera melahap makan malamnya. Dia memilih untuk tidak terlalu lama menghabiskan waktunya bersama Ghidan, ia lebih senang berada di rumah dan tidur, atau menghabiskan waktunya untuk menonton film korea favoritnya. Berada di sisi Ghidan membuat Andin merasa takut, entah kenapa. Andin takut jika suatu saat Ghidan menyakitinya, karena jika dilihat secara kasat mata, laki-laki itu adalah sosok yang paling bisa menyakiti hati Andin nanti.
“Mas..”
“Heem”
“Sasa itu siapa, mas?” Tanya Andin mencoba membuka pembicaraan, walaupun sebenarnya dia juga ingin tahu tentang wanita itu.
“Sepupu, dari budhe Yuni”
“Ohh, dia orangnya gimana sih, Mas? Kemarin dia-”
“Ga usah ngomongin orang Andin, ga baik, lebih baik kita fokus sama diri masing-masing” Sela Ghidan yang entah mengapa mencubit perasaan Andin. Dia tidak ingin menilai Sasa, dia hanya ingin mencoba menceritakan apa yang wanita itu ucapkan kepadanya malam itu, tetapi Andin seperti merasa Ghidan menangkap keinginan Andin dengan pandangan yang berbeda.
Andin diam, memang lebih baik baginya untuk diam daripada salah di hadapan orang-orang yang masih begitu asing di dalam hidupnya. Seperti rencananya di awal, dia hanya akan makan malam lalu pulang.
“Gi, ga nyangka ketemu lo disini”
Seorang laki-laki yang terlihat keturunan blesteran menyapa Ghidan dengan ramah. Laki-laki itu berdiri dengan seorang wanita yang tersenyum ramah di sampingnya.
“Eh, lo disini juga? Ndin, kenalin ini Gading sahabatku” Ghidan menatap Andin lalu mengenalkan keduanya, Andin menyambut uluran tangan Gading yang kuat, tersenyum dengan hangat.
“Kenalin ini Lintang, calon istri gw” Kali ini giliran Gading yang mengenalkan sosok wanita di belakangnya, seorang wanita yang terlihat keturunan Indonesia asli, wajahnya ayu dengan senyum yang sangat manis.
“Hai aku Andin”
“Hai aku Lintang”
“Kita makan malam bareng saja kah? Biar rame” Ajak Gading.
“Boleh, tapi kita udah mau habis makanannya” Ucap Ghidan sambil menunjukan makanannya yang memang tinggal setengah porsi.
“Ga papa, biar asik aja”
Akhirnya mereka berempat makan bersama. Gading tipikal orang yang ramah dan mudah membaur dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan saat ini Andin sudah terlihat bisa mengikuti candaan Gading yang receh, ditambah dengan Lintang yang baik, Andin dengan mudah dekat dengan wanita itu.
“Lain kali Mba Andin datang ke butik Lintang, ada di dekat kantor Mas Ghidan, nanti Lintang desain dress yang cantik buat Mba Andin” Ucap Lintang hanya kepada Andin.
Kedua laki-laki itu sudah sibuk dengan pembahasan bisnis yang sama sekali tidak Andin pahami. Berbeda dengan Andin, Lintang terlihat bisa mengimbangi pembahasan Ghidan dan Gading. Mungkin karena melihat Andin tidak bisa masuk ke dalam arah pembicaraan, Lintang memilih mengajak Andin untuk membahas hal lainnya.
“Boleh, kapan-kapan pasti aku mampir kesana”
“Aku tunggu bener lho, Mba”
“Siaap”
Andin bertukar nomor dengan Lintang, Andin berharap setidaknya dia bisa masuk ke dalam circle kehidupan Ghidan dengan cara berteman baik dengan Lintang. Apalagi wanita itu terlihat sangat baik dan terbuka, walaupun anak seorang pejabat negri, Lintang terlihat humble dengan Andin yang notabennya adalah orang asing.
“Ndin, lo harus bersyukur punya laki kaya Ghidan”
Ucapan Gading yang tiba-tiba dan terdengar sangat mengejutkan bagi Andin. Memang Ghidan adalah lakinya? Andin berniat untuk mengelak, lalu memilih diam karena malas terlalu menanggapi.
“Lo tahu dia dulu adalah mantan atlet pencak silat? Dia adalah primadona kampus pada jamannya” Ucap Gading lalu tertawa bersama Ghidan.
“Wow”
Tentu fakta ini adalah fakta baru yang cukup mengejutkan, Ghidan tidak terlihat menyukai olahraga atletik. Dia memang menyukai aktivitas fisik seperti gym dan berenang, tetapi jika ternyata Ghidan adalah mantan atlet pencak silat, tentu itu adalah salah satu dari sekian banyak kelebihan Ghidan.
Apalah Andin yang hanya rempahan rengginang?
***
Pukul dua pagi Andin berlari di sepanjang lorong apartment yang sepi, berlari sambil mengenakan cardigan tebal untuk membungkus tubuhnya menghindari udara malam yang dingin. Dia memencet tombol lift dengan tergesa, berkali-kali, tetapi pintu itu tak kunjung terbuka. Dia melihat ke arah handphone miliknya, memastikan tidak ada lagi telfon dari Putri yang tiba-tiba menghubunginya karena merasa perutnya mulas-mulas dan mengeluarkan air yang cukup banyak dari kemaluaannyya.
Suaminya sedang dinas di luar kota, Putri hanya sendirian di rumah sehingga mau tidak mau wanita itu menghubungi Andin karena panik.
Andin lebih panik, ketika dia sadar bahwa mobilnya tertinggal di kantor. Memaksa Andin untuk memutar otaknya mencari cara, menggunakan taksi bukan pilihan tepat bagi seorang perempuan sendiri seperti dirinya, lalu mencoba peruntungan Andin menghubungi Dirga yang beruntungnya terbangun dan bersedia mengantarkannya ke rumah Putri. Jarak apartment Andin dan rumah Dirga tidak cukup jauh, itu sebabnya Andin sering nebeng Dirga saat dia tidak membawa mobil sendiri.
Andin langsung dapat menemukan mobil Dirga yang terparkir di depan lobby, tanpa permisi wanita itu langsung masuk dan duduk di kursi samping.
“Jalan”
Dirga mengenakan sweater tebal berwarna hitam yang entah mengapa terlihat tampan padahal wajahnya sayu karena baru saja terbangun secara paksa. Tersadar Andin jauh dari jangkauan, dia memalingkan wajahnya dan mengambil handphone untuk menghubungi Putri.
“Kita udah jalan, lo tunggu sebentar”
“...”
“Gimana masih mules ga? Airnya masih ngerembes?”
“...”
“Oke, rileks Put, kaya yang lo sering pelajari waktu yoga hamil ya”
Beruntungnya mobil Dirga datang tepat waktu, sehingga Putri bisa secepatnya di bawa ke rumah sakit. Putri adalah seorang perantauan, keluarganya ada di Jawa Timur, dia adalah seorang anak yatim yang ditinggal ayahnya sebulan sebelum pernikahannya dengan Sandi. Begitupun Sandi yang hanya tinggal di Jakarta seorang diri, sehingga mereka berdua hanya hidup sendiri tanpa keluarga dan sanak saudara.
“Ndin, lo temeni gw di dalam ya”
“Hah?”
“Ya kali masa Dirga yang suruh nemenin gw, dia cowo”
“Tapi, ta-pi, gw takut Put”
“Ya gw lebih takut Ndin, lo mau nyuruh gw berjuang seorang diri?”
Putri berbicara dengan meringis menahan sakit. Andin merasa kasihan melihat Putri jika harus berjuang seorang diri, tetapi jika menemani di dalam, melihat proses persalinan yang konon katanya mengerikan, Andin pun takut. Ia melihat ke arah Dirga, laki-laki itu mengangguk untuk menguatkan Andin yang sedang bimbang.
“Lo pasti bisa Ndin, Putri butuh lo di dalam” Ucap Dirga yang semakin membuat Andin takut.
“Tapi, “
“Gw tunggu di luar, semuanya akan baik-baik saja, oke?”
Andin mengangguk, memang tidak ada pilihan selain dirinya yang menemani Putri di dalam ruang bersalin. Bagaimanapun dia juga tidak akan tega jika membiarkan Putri berjuang seorang diri, mereka adalah sahabat sejati sampai maut memisahkan, setidaknya mereka pernah mengikrarkan janji itu dulu.
Putri dan Andin masuk kedalam ruang bersalin, menyisakan Dirga sendirian yang mengantuk. Naluri lelakiannya tidak akan mungkin membiarkan dua wanita yang kebingungan karena menghadapi persalinan, tetapi jika boleh memilih dia ingin berada di dalam kasurnya yang nyaman karena besuk mereka masih harus bekerja.
Hampir tiga jam lamanya mereka berada di dalam, dan saat pintu terbuka Dirga terkejut dalam tidur lelapnya di sofa khusus penunggu yang cukup nyaman untuk ditiduri. Apalagi ketika dia dalam posisi benar-benar mengantuk.
Dirga melihat tatapan kosong Andin yang keluar dari dalam ruang persalinan. Rambutnya acak-acakan dengan tangannya yang gemetar. Tatapan Andin kosong, seperti baru saja melihat hantu di malam hari. Merasa khawatir, Dirga mendekat ke arah Andin yang sama sekali tidak terganggu dengan kedatangannya.
“Ndin” Dirga mengguncang tubuh Andin yang masih membeku, namun wanita itu tetap bergeming, “Ndiiinm!”
Sentakan Dirga mendapat perhatian dari Andin. Mata Andin merah seperti sedang menahan tangis, membuat Dirga semakin khawatir dengan apa yang terjadi di dalam, dengan Putri, dengan bayinya?
“Ndin, jangan bikin gw khawatir, gimana keadaan Putri dan bayinya?”
“Ba.. baik” Jawab Andin yang membuat Dirga lega.
“Terus kenapa lo kaya gini?”
Andin menangis, air matanya tak terbendung lagi, “Ga, gw baru tahu ternyata perjuangan ibu itu begitu luar biasa, hikz..hikzz.. gw bisa melihat sendiri perjuangan Putri, darah, dan..”
Mata Andin menatap ke arah wajah Dirga, tetapi bukannya sedih justru laki-laki itu tersenyum karena merasa Andin yang terlihat sangat menggemaskan ketika panik dan sedih seperti sekarang. Dirga menarik tubuh Andin untuk mendekat ke arahnya, kemudian memberikan pelukan hangat kepada Andin yang terlihat masih shock dengan apa yang di lihatnya.
“It’s okey, Andin, perjuangan ibu memang sehebat itu, makanya lo jangan suka ngelawan orangtua terutama ibu” Jelas Dirga.
Andin masih terisak dalam pelukan Dirga yang terasa nyaman, bau wangi tubuh Dirga seperti menghipnotis Andin dan membuatnya terlihat lebih tenang. Andin ikut melingkarkan tangannya pada tubuh Dirga, dan seperti tak mau kalah, Dirga melakukan hal yang sama.