Bab 13 - LAMARAN

1844 Kata
Menolak keinginan Ghidan untuk menjemputnya sore ini, Andin beralasan masih ada kerjaan yang memaksanya untuk tinggal di kantor hingga malam. Padahal jelas itu tidak mungkin terjadi bagi pekerja yang sangat memperhitungkan jam kerja seperti dirinya, dia tidak mungkin berdiam terlalu lama di kantor, ketika sudah waktunya pulang dia adalah karyawan yang paling pertama keluar dari ruangannya. Hidup terlalu indah jika kita hanya menghabiskan waktu di balik meja kerja, walaupun mungkin nanti masih membawa pekerjaan ke rumah, tetapi bagi Andin yang terpenting adalah pulang tepat waktu. Tetapi hari ini berbeda, dia bahkan mengemis pekerjaan kepada Dirga hanya demi tidak pulang tepat waktu dan menghindari Ghidan menjemputnya. Dia masih berada di kantor tepat di jam delapan malam, ditemani Dirga yang merasa kasihan jika harus meninggalkan karyawannya seorang diri, terlebih Andin adalah sahabatnya. “Lo serius masih mau di kantor?” Tanya Dirga, dia baru saja sampai setelah tadi sempat turun ke lobby untuk mengambil pesanan makan malam untuk mereka berdua. “Jam sembilan balik, nanti gw bisa pulang naik ojek, lo pulang duluan ga papa, Ga” Dirga tentu tidak setuju, dia sudah berjanji akan mengantarkan Andin pulang nanti. Dirga sedang tidak ada acara, dia memiliki waktu luang untuk menemani Andin yang sampai detik ini belum menjelaskan alasannya kenapa dia enggan untuk pulang tepat waktu. “Gw anter Ndin, tetapi kalau boleh tahu kenapa lo aneh?” Andin mendudukan tubuhnya, dia menatap Dirga sekilas lalu memalingkan wajahnya. Matanya menatap ke arah plafon kantor yang sebenarnya tidak terlalu menarik, hanya saja, pikirannya sedang kacau. “Lo tau kan kalau gw mau di jodohin? Yang dulu gw pernah cerita” Dirga mengangguk, “Inget, kenapa? Di tolak?” “Bukan, justru laki-laki itu menerima perjodohannya” “Bagus dong, kan lo memang lagi pengen cepet nikah” Andin mendudukkan dirinya tegap, mendekat ke arah Dirga yang berada di sebelahnya, “Emak gw yang pengen, gw mah santai orangnya” “Terus lo yang mau nolak? Kenapa emangnya? Kurang ganteng atau kurang kaya?” Sebuah bantal sofa tepat mengenai kepala Dirga, dia disini sebagai sahabat jadi sah-sah saja menganiaya laki-laki itu. “Terlalu tampan, terlalu kaya, terlalu sempurna buat cewe kaya gw” “Emang lo kaya apa? Lo cantik, baik, mandiri, lo ga ada kurang Andin” “Ga kurang tapi buktinya lo ga jatuh cinta sama gw, naksir juga kaga” “Ga gitu juga keles, yang jelas lo ga buruk-buruk amat untuk dijadikan istri” Dirga terlihat mengambil sebuah bungkusan steroform lontong miliknya, berusaha membuka kaitannya yang sedikit susah. Setelah itu, dia membuka bungkus sate dan menuangkan sebagian sambalnya lalu mencampur dengan bumbu kacang yang terlihat menggoda. Tanpa di perintah, laki-laki itu melakukan hal yang sama pada bungkusan milik Andin, bahkan dia menuangkan sisa sambalnya ke bumbu kacang milik Andin karena tahu wanita itu sangat suka sambal. “Coba deh Ga, lo jatuh cinta sama gw, gw yakin hidup gw ga akan sepelik sekarang” “Coba deh lo buruan makan, gw udah laper, ditambah dengerin kalimat absurd dari mulut lo bikin perut gw tambah kembung” Mengikuti saran Dirga, Andin mendekatkan sate lontong ke arahnya dan mulai memakan makanan bulat empuk yang sungguh terlihat menggoda itu. Mereka melanjutkan makan tanpa berbicara, sibuk dengan pikiran masing-masing. “Ga, kalau lo sebagai cowo, fisik itu menjadi kriteria nomor berapa?” Dirga terlihat berfikir, “Bukan nomor satu tetapi bukan berarti ga penting” Andin mengangguk, melanjutkan aktivitas mengunyah daging ayam. “Udah Ndin, mending lo jalanin aja dulu, toh melanjutkan ke jenjang pernikahan itu tidak serta merta langsung kelar dalam satu hari, masih ada beberapa proses yang harus kalian lewati, jadi jangan di jadikan beban, jalani saja dulu takdir yang sudah dituliskan dari Maha Kuasa, syukur-syukur kalau kalian jodoh, ya ga?” Jelas Dirga panjang lebar, selebar jalan tol bebas hambatan untuk membuka jalan-jalan dalam pikiran Andin yang masih buntu. “Gitu ya?” “Iyaa, sekarang kita makan, ngomong terus ga jadi daging nanti” “Ck...” Jawab Andin sebal, “Gw sebagai perempuan pengen menikah dengan orang yang bener-bener cinta dan mau gw ada dalam hidupnya, Ga! Kalau dia cinta, dia pasti jagain gw” Dirga menghentikan tangannya yang hendak menggigit daging sate, terlihat berfikir namun kemudian tetap melanjutkan kegiatannya itu. Lama hening tercipta di antara keduanya, Dirga jelas melihat Andin yang terlihat sama sekali tidak berminat dengan makan malam mereka malam ini, padahal biasanya jika tentang makanan Andin adalah panglimanya. Selalu cepat habis dan makan banyak. “Tapi kalau memang garis takdir lo ga begitu, lo mau apa? Tugas kita adalah menjalankan takdir yang sudah di tuliskan Tuhan buat kita, walaupun pasti banyak ga enaknya, kita tetep harus bisa menikmati dan menyelipkan harapan terbaik dari takdir itu” Jelas Dirga yang membuat Andin terdiam seketika. *** Ghidan memang memiliki tekad yang kuat dengan apa yang diucapkan sebelumnya. Tepat satu hari setelah pertemuan mereka, Mama Andin menghubungi Andin dengan suara kegirangan karena baru saja Mama Anggun mengabari bahwa mereka akan datang ke rumah minggu ini untuk melamar Andin secara resmi. “Ndiin, ya Tuhan Ndin, doa Mama terkabul kamu dapat jodooh, kaya, ganteng lagi Ndin! Terus ya Ndin, kamu ga usah takut dapat Mama mertua yang galak karena Mama pastikan Anggun itu baik banget orangnya” “Ndin kira-kira nanti kamu mau konsep nikahannya kaya gimana?” “Ndin mau nikahnya di gedung apa di rumah aja ya? Apa akadnya di rumah resepsinya di gedung?” “Terus Ndin, kalian mau bulan madu dimana? Ngajakin di luar negri aja Ndin” “Ndin, kamu mau punya anak berapa? Ya ampun Mama udah ga sabar pengen nimang cucu” “Ndin, besuk pas lamaran pakai MUA aja ya, Mama ada kenalan MUA yang udah terkenal banget, bagus banget hasilnya” Mamanya tidak berhenti merangkai berbagai konsep acaranya untuk Andin, sedangkan Andin masih terduduk lemas di kursi kerjanya. Duduk tanpa melakukan apapun, tanpa menanggapi setiap kalimat yang di ucapkan Mamanya. Andin masih terlalu shock dengan informasi yang di berikan Mamanya, dia tau Ghidan pasti akan melakukan apa yang sudah di ucapkannya, tetapi tidak secepat ini ketika Andin masih belum menemukan alasan yang tepat untuk mencoba menolak perjodohan konyol ini. “Maa..” “Iyaa, iyaa gimana?” Mendengar kalimat Mamanya yang antusias membuat lidah Andin kelu, kalimat yang hendak ia ucapkan tertahan di ujung lidahnya. Dia tidak mungkin mengecewakan Mamanya, seorang wanita yang sangat ingin dia bahagiakan. Apalagi ketika teringat pesan Dirgan untuk menjalani takdir yang dituliskan, Andin menyimpan kalimat penolakannya di dalam hati. Mungkin memang lebih baik di coba dulu. “Ya, Ma, Andin pulang hari Jumatnya ya” “Iyaaa, sayaaang, biar di jemput sama Arjun ya, Mama takut kamu kecapekan” “Ga usah Ma, Andin biasa pulang sendirian juga” “Ya sudah Mama ngikut aja yang penting kamu hati-hati, ya sudah kamu lanjut kerja ya Ndin” “Yaa Ma” Andin memejamkan matanya, berharap waktu bisa berjalan begitu lambat. Tetapi sayangnya, keinginanya berbanding terbalik dengan kenyataan. Andin merasa waktu begitu cepat berlalu, bekerja, tidur lalu dilanjutkan bekerja lagi, hingga hari Sabtu itu sekarang benar-benar ada di depan mata. Andin duduk di hadapan meja rias, sedang di make up seorang MUA pilihan Mamanya. Setelah semuanya siap, Andin bisa melihat bahwa pilihan Mamanya benar-benar sempurna, wajah Andin sempurna dengan polesan tipis minimalis tetapi masih memiliki guratan wajah milik Andin. Malam ini Andin mengenakan kebaya berwarna ungu muda, dengan hiasan kain ceruti yang di bentuk seperti selendang di bagian dadanya menjuntai hingga ke bawah. Rambutnya di sanggul dengan hiasan bunga lili memanjang, menambah kesan ayu dan sederhana pada diri Andin. Dia keluar di temani Mamanya, acara lamaran malam ini tidak terlalu mewah dan ramai, hanya di hadiri beberapa saudara dan tetangga sekitar rumah Andin, tidak jauh berbeda dengan keluarga dari pihak Ghidan yang hanya dihadiri beberapa orang terdekat. Andin bisa menemukan Sasa, sepupu Ghidan yang malam ini tampil mempesona. Tersenyum sinis melihat penampilan Andin dari atas sampai kebawah yang membuat Andin risih. Andin di dudukan di sebelah Ghidan yang seperti biasa, tampil sempurna dalam balutan batik yang melilit badannya yang bagus, Andin bisa melihat kumis tipis-tipis yang sebelumnya ada menghilang malam ini menyisakan wajah putih bersih tanpa cacat. Andin melihat Ghidan yang menatapnya sekilas, kemudian kembali berbincang dengan Papanya. Semakin berjalan menjauh, Andin semakin diselimuti kebimbangan, bagaimanapun dia hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya. Jika Ghidan menjadi suaminya, dia akan mempertahankan pernikahannya apapun yang terjadi di depan. Acara lamaran berlangsung begitu khidmat, Andin memasukkan cincin ke jari manis milik Andin begitupun sebaliknya. Sebuah usapan lembut di kepala Andin semakin membuat hati Andin tak menentu, dia semakin jatuh ke dalam pesona Ghidan. Selama menjadi dewasa, tidak pernah ada satu lelakipun yang bisa menyentuh relung hatinya. Dan saat ini, nama Ghidan dengan mudah masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam. “Cium kening Mas” Bisik Mama Anggun yang dengan jelas terdengar hingga ke telinga Andin. Seperti sebuah robot, Ghidan mencium kening Andin sekilas, kemudian kembali terlepas. Menyisakan ruang kosong di dalam hati Andin. Berbagai harapan sengaja Andin ucap kuat-kuat di dalam hatinya, dia tidak boleh menyerah dengan takdir yang sudah Tuhan ciptakan untuk dirinya. *** “Selamat yaa calon kakak ipar” Ucap Sasa yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Semua keluarga sedang berada di ruang keluarga rumah Andin ketika acara sudah selesai, menikmati makan malam yang keluarga Andin jamukan. Andin memilih untuk masuk ke dalam kamar dengan beralasan ingin ke kamar mandi, padahal dia hanya ingin menghindar sejenak dari semuanya. “Thank’s, Sa” “Kalau di lihat dari interaksi kalian berdua, Sasa yakin kalau Mba Andin dan Mas Ghidan tidak sedekat itu untuk menjadi suami istri” Andin hanya tersenyum menanggapi Sasa, dia masih belum terlalu mengenal anggota keluarga Ghidan, jadi lebih baik untuk tidak menilai di awal, dia hanya akan bersikap baik itu saja. Sasa mendudukan tubuhnya ke ranjang tempat tidur di kamar Andin, mengusap sprei dengan tangannya perlahan seperti sedang menimang kalimat yang ingin ia ucapkan selanjutnya. “Mba Andin yakin mau nikah sama Mas Ghidan? Seseorang yang belum Mba Andin kenal dengan baik” Bagaimana Andin melihat Sasa? Sebagai keluarga calon suaminya? Sebagai teman? Atau sebagai seseorang yang membencinya karena tiba-tiba masuk ke dalam keluarganya. Andin belum memilih, tetapi ada sisi hatinya yang mengatakan untuk lebih berhati-hati dengan wanita yang sedang berada di hadapannya. Senyum yang Sasa tunjukkan sangat manis, tetapi entah mengapa Andin tafsirkan menjadi sesuatu yang berbeda. “Mungkin dengan berjalannya waktu kita bisa saling mengenal, doakan saja, Sa” Sasa tersenyum, lebih lebar dari sebelumnya, “Ya kalau semakin mengenal, justru semakin menakutkan gimana?” “Aku ga mau memikirkan terlalu jauh Sa, pernikahan saja masih jauh berada di depan, terlalu dini jika berfikir sejauh itu” Sasa berdiri, berniat untuk beranjak keluar kamar Andin dengan langkah pelan. Namun sebelum mencapai daun pintu, Sasa berhenti dan kembali memusatkan perhatiannya kepada Andin. “Lebih baik bersiap diri, karena tidak akan selamanya segala sesuatu terjadi seperti yang Mba Andin harapkan” Ucap wanita itu kemudian berlalu pergi. Andin memeganghi hatinya yang semakin goyah, ucapan Sasa seperti kalimat ancaman bahwa kehidupan Ghidan dan Andin kedepan itu tidak akan mudah. Ya Tuhan, lindungilah aku.. Doa Andin dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN